NovelToon NovelToon
Hamil Tak Sengaja, Bayi Sang Don Mafia

Hamil Tak Sengaja, Bayi Sang Don Mafia

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:403
Nilai: 5
Nama Author: Carolis

Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.

Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.

Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.

Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.

Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.

Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Ane Salvatore

Lucu dan ironis bagaimana iblis seperti Tuan Salvatore bisa memikat seseorang hanya dengan beberapa gestur lembut dan sebuah senyum. Tapi entah kenapa, aku masih takut padanya.

Aku berbaring di brankar sialan di ruang kandungan. Kata dokter, untuk menyelesaikan perawatan dia hanya perlu memasukkan obat ke saluran vagina. Sejujurnya aku mati malu dilihat orang dalam keadaan terbuka begini. Dan ya, aku tahu ini sepenuhnya normal bagi seorang wanita pergi ke dokter kandungan. Tapi maafkan aku. Itu bukan keadaanku. Ini kali kedua aku datang dan tetap saja sama anehnya.

"Sekarang diam, Nyonya Salvatore. Saya selesaikan sebentar lagi... Nah... Anda boleh berbaring di sini lima menit lagi, setelah itu Anda boleh pulang, ya?"

"Baik."

"Obat-obat yang saya resepkan sudah diminum?"

"Ya, saya minum dengan disiplin."

"Bagus, kesuburan Anda pasti sedang tinggi sekarang."

"Maksud Anda?"

"Untuk inseminasi yang diminta suami Anda. Katanya Anda tidak kunjung hamil secara alami, jadi dia memutuskan mempercepat prosesnya."

"A-ap...?" Suaraku hilang. Aku tak bisa menyusun satu kalimat utuh.

Aku mencoba bangun, tapi tampak jelas aku gugup. Gemetar hebat. Aku tidak boleh punya anak. Aku bahkan belum menikah. Dan aku akan mengandung anak suami kakakku? Itu menjijikkan, kan? Kurasa begitu, entahlah. Kuusap wajahku. Ya Tuhan. Aku tidak mau bayi ini. Aku tidak mau hamil.

"Nyonya, minum air ini. Saya kira Anda ingin punya anak."

"Itu karena..." Kataku terisak. Aku mengurungkan niat memberitahunya aku bukan Isabela, karena dia pasti akan memberi tahu Salvatore. Dia akan membunuhku? Pasti membunuhku. Aku sendiri yang setuju menipunya.

"Nyonya?"

"Aku harus pergi. Di mana kakakku?" Aku bangun dari brankar tanpa peduli dia melihat siapa diriku.

"Kakak Anda sudah keluar, Nyonya."

"Baiklah. Dengar, jangan ceritakan ini pada suamiku. Bilang saja aku sangat senang. Tadi hanya kaget saja, ya?"

"Jangan khawatir, Nyonya Salvatore. Silakan pulang dengan tenang."

Aku keluar nyaris berlari saking putus asanya. Aku tak akan menceritakan ini pada siapa pun, toh belum ada bayi, setidaknya belum.

Aku tiba di rumah beberapa menit kemudian bersama para pengawal Tuan Salvatore. Kulihat sofa, dan di sana Isabela duduk seakan tak ada hal lebih penting yang harus dikerjakan, mengikir kukunya.

"Kenapa kamu meninggalkanku sendirian di sana?"

"Astaga. Kalau hanya pemeriksaan ginekologi saja sudah begini, aku tak mau ada di dekatmu saat kau kehilangan keperawananmu." Dia tertawa terbahak-bahak.

"Itu tidak lucu. Aku butuh kamu hari ini." Kulihat sekeliling. "Kita harus bicara."

"Kenapa kau butuh aku?" Katanya meremehkan, mengangkat alisnya yang sangat tegas.

"Bagaimana kalau Tuan Salvatore muncul di sana? Dan para anak buahnya, Isabela?"

"Ya ampun, tenanglah. Jangan cerewet. Suamiku sedang bepergian dan kubilang ke para penjaga bahwa aku sudah selesai dan kau juga sedang menjalani beberapa pemeriksaan."

"Itu inseminasi! Kenapa kamu tidak bilang apa-apa?"

Matanya membelalak. "Oh, itu masuk akal."

Kupicingkan mataku. "Kamu sudah gila?" Dengan telunjuk kudorong kacamataku yang melorot dari hidung.

Tapi dia tak peduli betapa aku marah. Dia bertepuk tangan dua kali dengan gembira sambil tersenyum. "Tapi ini sempurna. Kau jadi ibu penggantiku bahkan lebih baik dari yang kubayangkan."

"Apa?" Aku mondar-mandir. "Kamu tidak mungkin serius."

"Ya, aku tahu, Ane... kau ketakutan sekarang, tapi nanti akan baik-baik saja. Kau lihat saja."

"Tidak! Aku tidak mau menipu siapa pun."

Dia menunjuk jarinya padaku. "Kau akan melakukannya, mau tidak mau!"

"Kalau aku hamil, Isabela. Bayi ini tidak akan pernah jadi milikmu!"

Matanya yang dipoles riasan gelap membelalak. "Apa yang barusan kaukatakan?"

"Kamu belum siap mengurus anak mana pun."

"Aku sudah mengurusmu! Bagaimana kau bisa bilang begitu padaku?" Dia melipat tangan.

"Justru itu. Itulah masalahnya. Aku tahu betul seperti apa kamu."

"Tunggu! Apa katamu? Kau tidak tahu terima kasih. Kenapa tiba-tiba kau pamer taring?"

"Ini anakku. Dan aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya!"

Isabela tertawa. "Kau menghancurkan seluruh cintaku padamu demi seorang anak yang bahkan belum tentu ada?"

"Cinta? Kadang aku merasa kamu membenciku..."

"Tidak, tidak, tidak. Sayangku, tentu saja aku mencintaimu." Dia menyentuh bahuku. "Aku butuh kau percaya semua yang kulakukan demi kebaikanmu."

"Mungkin. Tapi kamu tidak akan melakukan 'kebaikan' itu pada bayi ini!"

Wajahnya berubah mengerikan dengan cepat. "Kau akan melakukan apa yang kuperintahkan!" Dia mencengkeram pergelanganku sekuat tenaga. "Kuhabisi kau!"

Kutarik lenganku. Aku ketakutan sekarang. Tatapan itu menunjukkan dia pasti rela melakukan apa saja demi membalasku. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tidak akan membiarkan dia menyakitiku lagi.

Aku berlari menaiki tangga sambil berharap terpeleset dan menghantam lantai, karena itu pasti akan mencegahku hamil, kurasa. Tapi karena tak terjadi, aku tiba di kamar dan mengunci diri. Seharian aku akan mendengarkan musik dan membaca buku, terkurung di sini. Aku ingin melupakan dua orang itu.

1
MelaniWrites
tolong mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!