Peringatan! Novel coming of age.
Terinspirasi dari kisah nyata.
Kehidupan remaja tidak hanya di isi masa-masa manis, tetapi juga pahit. Di sini kita akan mengulik sisi berandal dari kehidupan anak SMA. Cerita ini mengangkat tema tentang kenakalan remaja.
Raffi Hannes merupakan remaja yang populer tampan, supel dan punya segudang prestasi. Seperti remaja pada umumnya, Raffi penasaran akan banyak hal. Dia merupakan anak baik-baik yang lambat laun berubah karena rasa penasarannya itu.
Dari mulai ketidaksengajaan mengkonsumsi obat terlarang, membully, hingga pergaulan bebas. Semuanya pernah dilakukan Raffi karena berada di lingkaran pertemanan yang super toxic. Apakah Raffi mampu mengendalikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Pernyataan Cinta
...༻☆༺...
Raffi sudah bersiap untuk pergi les. Dia mengenakan kemeja motif kotak-kotak dan celana jeans. Raffi melengkapi penampilannya dengan sebuah topi berwarna hitam.
Pesan dari Putri kembali diterima Raffi. Padahal tadi Raffi sudah membalas pesan tersebut. Mungkin penolakannya yang tidak ingin bertemu, membuat Putri merasa gusar. Cewek itu menanyakan dimana Raffi berada sekarang.
Akibat tidak sanggup lagi menghadapi kecerewetan Putri, Raffi akhirnya memberitahu kalau dirinya harus pergi les. Putri lantas tidak membalas lagi. Kini Raffi dapat mendengus lega.
Les yang dilalui Raffi memakan waktu sekitar tiga jam. Raffi selalu pulang jam tujuh malam. Tepat ketika jalur transportasi berada di titik terpadat.
"Duduk dulu, Raf. Kalau macet begini bikin malas pulang ya," seru Sandika. Ia merupakan teman dekat Raffi di tempat les.
"Huhh... capek banget gue hari ini." Raffi menghela nafas panjang. Saat itulah dia melihat cewek yang melambaikan tangan ke arahnya. Cewek yang sedari tadi sore terus mengirim pesan kepadanya.
'Astaga nih cewek kebangetan. Jangan bilang dia ke sini cuman mau ketemu gue?' batin Raffi sembari merekahkan senyuman canggung. Ia terpaksa membalas sapaan cewek yang tidak lain adalah Putri.
"Siapa? Pacar lo ya?" tanya Sandika. Ia terpaku memandang Putri yang sibuk berjalan mendekat. "Gila, cowok ganteng emang pasangannya harus sama cewek cantik. Dia cantik banget, Raf. Mirip artis Kimberly Ryder. Hehe..." sambung Sandika. Cengengesan dengan pipi yang memerah. Dia jatuh pada pesona kecantikan Putri.
"Bukan pacar gue kok. Lo mau? Nanti gue kasih nomornya." Raffi membalas dengan nada berbisik.
"Yang bener lo?" Sandika mengangkat dua alis penuh semangat.
"Kalau lo mau sih..." goda Raffi.
"Tentu mau dong. Tapi--" Sandika lekas berhenti bicara. Bertepatan dengan kedatangan Putri.
"Raf, gue nungguin lo sejak jam enam sore. Kita ke cafe dekat sini yuk. Lagian jalan lagi macet," ajak Putri seraya memegangi lengan kemeja Raffi. Sepertinya Putri tipe cewek yang blak-blakkan. Kemungkinan dia sedang berusaha menarik perhatian Raffi. Gaya pakaiannya hari ini bahkan tampak begitu modis.
"Oke, tapi temen gue ikut ya," sahut Raffi. Menyebabkan Putri langsung mengukir raut wajah cemberut. Namun gadis itu terpaksa setuju karena merasa tidak enak menolak keinginan Raffi.
...***...
Saat di cafe, Putri sengaja memilih duduk di samping Raffi. Dia menampakkan rasa sukanya lewat bahasa tubuh. Semuanya bisa terlihat jelas dari cara Putri menatap Raffi. Cewek tersebut menopang dagu sambil memperhatikan Raffi yang sibuk bermain ponsel.
Sandika memasang ekspresi canggung. Keterpesonaannya terhadap Putri menjadi berkurang. Dari pengamatannya, sudah jelas Putri menyukai Raffi. Sandika tidak punya pemikiran lain selain ingin pulang ke rumah.
"Eh, Raf. Gue mending pulang aja ya. Bokap gue nelepon terus nih." Sandika bangkit dari tempat duduk.
"Lah kok gitu. Minuman lo aja belum datang. Minum dulu lah, Dik." Raffi mengerutkan dahi. Dia tidak terima Sandika meninggalkannya bersama Putri.
"Nggak papa deh. Kalian aja yang minum. Bye!" Sandika beranjak begitu saja. Membuat Raffi terperangah tak percaya. Sekarang hanya tinggal dia dan Putri duduk bersebelahan.
"Lo mau ngomongin apa sih? Kayaknya penting banget. Gue suruh ngomong di telepon nggak mau." Raffi meraih minuman yang baru di antarkan pelayan. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyedot minuman yang berupa capuccino dingin tersebut.
Putri menghembuskan nafas dari mulut. Lalu duduk dengan tegak menghadap Raffi. Dia bahkan merapikan rambut terlebih dahulu sebelum bicara. Raffi hanya bisa menautkan kening kala melihat gelagat Putri.
"Maaf ya, gue gangguin elo mulu dari kemarin. Gue cuman mau ngomongin perasaan. Sebenarnya gue udah suka sama lo sejak kelas sepuluh. Cuman baru sekarang gue berani deketin lo. Itupun karena kebetulan kita sama-sama jadi kandidat ketua osis." Putri memainkan jari-jemarinya. Dia sebenarnya merasa gugup bukan kepalang. Bagaimana tidak? Menyatakan cinta bukan perkara mudah untuk seorang perempuan.
Raffi mengedipkan matanya dengan pelan. Dia tersenyum hambar. Raffi berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menolak.
"Gue denger lo belum punya pacar. Makanya sebelum keduluan orang, gue maju aja gitu. Lo itu semakin menarik perhatian semenjak raih prestasi di olimpiade tahu." Putri mengaitkan helaian rambut ke daun telinga. Menampakkan bentuk rahangnya yang menonjol. Dalam ilmu Psikologi, begitulah sikap seorang perempuan ketika berada di depan lelaki yang disukainya.
Raffi memilih bungkam sampai Putri berhenti bicara. Akan tetapi cewek itu terus saja berceloteh penuh semangat. Nampaknya dia merasa percaya diri kalau Raffi tidak akan menolak. Apalagi Putri merupakan salah satu cewek pintar dan cantik di sekolah. Intinya dia mempunyai pesona yang hampir mirip seperti Raffi.
"Lo mau kan jadiin gue pacar lo?" Putri memberanikan diri menyentuh jari-jemari Raffi. Telapak tangannya yang lembut otomatis dirasakan oleh Raffi.
Raffi tersenyum kecut. Ia perlahan melepaskan tangan Putri darinya. Raffi yang sejak tadi bersandar di kursi, segera menegakkan badan.
"Sebelumnya gue mau ngucapin terima kasih atas perhatian lo. Terutama tentang... perasaan lo ke gue." Raffi bicara dengan canggung. Lalu meneruskan, "tapi... maaf banget ya. Gue udah punya seseorang sekarang. Dan gue sukanya sama orang itu."
Senyuman yang tadinya mengembang di wajah Putri, memudar begitu saja. Dia mendadak diserang rasa rendah diri. Hening terjadi selang beberapa saat. Raffi kebetulan merasa tidak tega meninggalkan Putri sendirian.
"Kalau boleh tahu... emang siapa cewek yang lo suka itu? Murid sekolah kita juga?" Putri bertanya dengan nada pelan.
Raffi lantas mengangguk. Ia sejujurnya sangat ingin mengatakan kalau gadis itu adalah Elsa. Namun mengingat Elsa ingin hubungannya dirahasiakan, maka Raffi memutuskan tetap tutup mulut.
"Namanya? Apa gue kenal sama dia?" Putri kembali bertanya.
Raffi menggaruk kepala yang tidak gatal. Kemudian berkata, "Maaf ya, Put. Gue sama dia emang sengaja pacaran diam-diaman. Soalnya keluarga cewek yang gue suka itu, cukup protektif sama sesuatu kayak pacaran."
"Oh..." Putri menanggapi dengan malas. Dia kembali membisu. Menutupi wajahnya dengan rambut hitamnya yang panjang.
Tiba-tiba terdengar suara isakan tangis dari Putri. Raffi sontak khawatir. Apalagi dia dan Putri tengah berada di tempat umum. Beberapa pasang mata mulai tertuju ke arah mereka.
"Put, lo nggak papa? Kenapa lo mendadak nangis?" tanya Raffi panik.
"Hiks... hiks... gimana gue nggak nangis coba. Ini pertama kalinya gue nembak cowok... hiks... dan langsung ditolak..." rengek Putri. Kini dia menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Ya udah kita pulang aja ya. Lo tadi bawa mobil?" Raffi mengajak Putri berdiri. Lalu mengambil beberapa tisu.
Putri menggeleng. "Gue tadi naik taksi..." Dia memperlihatkan wajahnya kembali. Saat itulah Raffi memberikan tisu untuknya.
"Lo duluan aja ke mobil ya. Nanti gue antar pulang. Gue mau bayar dulu," saran Raffi seraya pergi menuju meja kasir.
Saat berdiri di depan meja kasir, ponsel Raffi tiba-tiba bergetar. Dia mengangkat panggilan itu ketika baru saja melakukan pembayaran ke kasir.
"Ya?" respon Raffi.
"Raf, lo dimana? Masih di tempat les? Gue buatin vanilla cake kesukaan lo. Baru aja mateng." Terdengar suara Elsa dari seberang telepon. Dia memang memiliki hobi dan berbakat dalam memasak.
"Iya, El. Gue masih di tempat les. Nanti gue mampir deh ke rumah lo!" balas Raffi.
"Oke. Kita nonton bareng ya! Kebetulan di rumah cuman ada gue, Vina, sama Restu. Mereka pada di kamar mulu."
"Ya udah, kalau gitu." Raffi mematikan panggilan lebih dulu. Atensinya langsung tertuju ke arah Putri yang terlihat sudah berhenti menangis.