Dinikahi karena ingin membalaskan dendam kematian sang kakak yang meninggal karena bunuh diri.
Mahendra Addison Wijaya, duda anak satu yang tampan, kaya dan berkuasa. Menyimpan dendam pada seorang gadis muda cantik bernama Alisia.
Kakaknya, Brahmana. Ditemukan meninggal di apartemennya gantung diri. Dan semua bukti yang ada mengarah pada Alisia sebagai penyebabnya.
Akankah cinta bersemi di hati Mahendra yang sudah terlampau benci pada Alisia, dan apakah cinta Alisia tetap singgah dalam hati setelah menerima kekejaman demi kekejaman dari Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYELINAP
Diary.
Teringat dulu aku yang selalu mengatakan tidak saat kamu memintaku tuk jadi istrimu, kau berjuang berulang kali hingga akhirnya aku pun luluh lalu mengatakan, Ya. Aku mau.
Ku kira, aku telah menyerahkan hidupku pada orang yang tepat. Karena perjuanganmu begitu kukuh. Tapi nyatanya. Kau hanya menjadikanku layaknya budak nafsumu.
Jika orang lain mendapatkan jutaan kebahagiaan di atas ranjang pengantinnya, maka disini diriku, mendapat jutaan penghinaan dan penyiksaan yang lara tiada tara.
Daksaku lelah. Batinku luka. Cintaku layaknya daun kering yang terombang-ambing angin hingga pada akhirnya akan jatuh tak berharga di tanah. Lalu hancur begitu saja. Tanpa sisa.
Siya menoleh pada Mahend yang sudah terlelap, dengkuran halus terdengar merdu di telinga Siya seandainya saja pria itu bukanlah baj!ngan yang sudah menghancurkan diri Siya tanpa perasaan.
Siya menutup kembali buku tulis biasa yang ia gunakan sebagai curahan hatinya. Ia masukkan buku itu ke dalam sebuah laci nakas yang berada di dekat ranjangnya.
Malam semakin larut, kantuk mulai menyapa. Siya pun berbaring di samping Mahend, memposisikan diri agar lebih nyaman, namun saat matanya terpejam. Ia teringat sesuatu.
Seketika mata Siya kembali terbuka. Ia lantas menoleh pada Mahend. Menggerak-gerakkan tangannya di depan mata sang suami yang terpejam. Memastikan jika dia benar masih terlelap.
Siya buru-buru turun dari ranjang, namun dengan gerakan pelan. Ia lantas melangkah menuju pintu dan membukanya. Sangat hati-hati, jangan sampai suaranya membangunkan Mahendra. Dan Siya menutupnya kembali.
Kondisi rumah sangat lengang dan sepi, lampu-lampu dipadamkan. Hanya ada beberapa lampu warna oranye yang memberi penerangan remang-remang.
Siya melangkah cepat menuju pintu menyerupai dinding untuk masuk ke ruang kerja Mahendra. Sesekali ia kembali menoleh ke belakang dengan gugup, takut jika ada yang melihatnya.
Nekat, iya. Itulah kata yang tepat menggambarkan apa yang sedang Siya lakukan saat ini.
Jantungnya berpacu begitu cepat. Gugup. Panik. Takut, semua rasa bercampur lebur menjadi satu.
Saat pintu menyerupai dinding itu terbuka. Siya lekas masuk, menuju pintu ruang kerja Mahend. Dan suasana di dalam sana lebih gelap dari tadi.
Sial, Siya baru menyadari jika pintu ruang kerja Mahend itu menggunakan sandi angka sebagai kunci. Dan Siya tak tahu apa sandinya.
Ia mulai berpikir. Bibir bawahnya ia gigit sendiri dengan jari-jari tangannya yang terus bergerak tremor pada bibir dan dagunya.
Lalu Siya mulai bergerak menekan tombol. Ia menggunakan angka kelahiran Mahend. '*Nit not*?' gagal.
Siya kembali menekan sederet angka, kali ini tanggal ulang tahun Al, '*Nit not*?' sama halnya. Gagal.
"Aaahh? Sial. Kalau keduanya tidak bisa. Terus dia pakai angka apa sebagai sandi?" Siya semakin cemas. "Apa mungkin ulang tahun mantan istrinya? Aaahh? Mana aku tahu itu. Haaah?" Siya sangat cemas. Seharusnya ini bisa menjadi kesempatannya untuk mencari tahu sesuatu.
Siya menoleh kesana kemari. Masih ada dua ruang lagi selain ruang kerja Mahendra disana.
"Jika disini ruang kerja Mas Mahend. Berarti dua ruang lagi? Milik Papah dan Kak Bram." tebak Siya penuh keyakinan.
Siya pun menuju pintu ruang sebelahnya. Sama. Menggunakan sandi angka sebagi kunci.
"Jika salah satunya adalah ruang kerja Kak Bram, mungkinkah dia menggunakan tanggal lahirku?" Bukan ke ge-eran jika Siya berpikir seperti itu, Mereka semua mengatakan Bram bunuh diri karena dirinya. Itu artinya, Bram begitu sangat mencintainya. Dan mungkin saja Bram menggunakan tanggal lahir Siya sebagi kode-kode di kehidupannya.
'*Nit not*?' gagal. Pintu ruang sebelah yang Siya coba pakai sandi tanggal lahirnya gagal dibuka.
Siya menoleh ke belakang dimana sekitar 5 meter darinya berdiri ada satu ruang lagi.
Tanpa pikir panjang, Siya langsung berlari menuju pintu ruang itu.
"Dua, lima, enol, empat\_" Siya mengeja angka tanggal kelahirannya pada sandi kunci ruangan Bram.
'*Ting?' 'Sslleekk*' pintu terbuka.
Siya kaget sampai mundur. Jantungnya serasa mau lompat keluar. Matanya membulat sempurna.
'*Kak Bram*?' lirih Siya dalam hati menyadari betapa besarnya cinta Bram pada dirinya.
Siya pun mulai melangkah pelan kedalam ruangan yang sangat gelap itu, tak terlihat apa-apa.
"*Uhuk uhuk uhuk*."
Siya terbatuk, ia lalu menutup hidung dan mulutnya dengan bajunya dari bagian atas yang ia tarik.
Siya meraba pada dinding dekat pintu mencari Saklar lampu. '*Tek*' lampu menyala.
Sebuah ruang bernuansa putih dengan berbagai pernak-pernik menyerupai berlian membuat ruangan ini terlihat begitu mewah dan elegan. Hanya saja debu-debu yang berterbangan cukup mengganggu, sepertinya ruangan ini sudah lama tak pernah dibuka apalagi dibersihkan.
Beberapa lukisan indah rancangan perhiasan terpajang mewah di dinding dengan pigura yang berukirkan hurus A dan S pada setiap piguranya.
Alisia melangkah pelan mengamati setiap benda yang ada didalam ruang itu. Ia mulai terbiasa dengan hawa pengap karena debu. Siya sudah tak lagi menutup mulut dan hidungnya.
Kini ia langsung fokus tertuju pada meja kerja.
Ada foto dirinya yang tertawa sangat cantik terbingkai dalam pigura kecil di atas meja kerja.
Siya meraih foto dirinya sendiri itu, ia mengelusnya haru. Ada pria yang benar-benar sangat mencintainya dan dia justru membuatnya terluka dengan kata. Ia tak mencintainya. '*Bodoh*' Siya merutuk dirinya sendiri. Ada penyesalan atas tindakannya duku yang menolak cinta tulus seorang Brahmana.
Siya menaruh kembali fotonya. Ia terus bergerak memeriksa tumpukan berkas dengan map-map hitam. Siya membukanya satu persatu. Hanya data-data pekerjaan.
Ia lantas membuka laci. Hanya beberapa barang yang berhubungan dengan pekerjaan.
Siya tak menemukan apapun di meja kerja Bram. Ia lantas berpindah pada sebuah lemari berwarna putih gading di belakang meja kerja itu.
Hampir semuanya berkas pekerjaan, buku-buku semasa kuliah. Tak ada yang terlihat aneh. Hingga netranya tertuju pada sebuah kotak navy yang terbuka, ada sebuah jam tangan di dalamnya.
Siya lekas meraih kotak itu. Ia ingat, jam itu yang dulu sering Kak Bram pakai.
Flash Back On.
Siya dan Bram tengah jalan-jalan di sebuah taman menikmati waktu santai sore hari Minggu. Seharian ini mereka jalan-jalan berdua menghabiskan weekend.
Hingga ada pengamen badut yang tengah menghibur para anak-anak sambil memberikan balon-balon yang juga badut itu jual.
"Kak Bram? Siya mau beli balon?" Siya sudah berlari terlebih dulu menuju badut itu. Ia memang sering bertingkah layaknya gadis kecil yang manja saat bersama Bram, karena Siya merasa begitu nyaman, Ia anak perempuan pertama yang harus kuat dan tegar saat di rumah. Bisa bertingkah manja layaknya anak kecil ketika di luar bersama Bram. Siya menganggap Bram seperti sosok Kakak laki-laki yang selalu diimpikannya.
"Kakak Badut? Minta foto ya?" Siya merogoh tasnya mengambil hape.
"Yah? Lowbat?" Siya manyun. Ponsel yang ingin ia gunakan untuk mengambil gambar malah mati karena baterainya habis.
Bram yang melihatnya tersenyum manis, ekspresi Siya sangat imut, gadis yang sangat dicintainya.
"Kak Bram? Pakai ponselmu ya?"
"Kan tadi Kak Bram udah bilang kalau Kakak gak bawa ponsel. Ingin menikmati hari sama kamu tanpa gangguan siapapun." jawab Bram jujur. Siya mendengus kecewa.
"Okay, okay? Cepat berpose, aku ambil gambar yang terbaik." ucap Bram yang membuat Siya membulatkan mata.
"Kak Bram bawa kamera?"
Bram menggeleng, lalu mengangguk. Siya juga bisa melihat jika seharian Bram bersamanya tak membawa apa-apa. Hanya sebuah dompet di saku celana.
"Ini?" Bram mengangkat tangannya yang mengenakan sebuah jam.
Itu adalah jam tangan yang mewah nan canggih, terbuat dari emas murni dan di dalamnya semuanya berlian sebagai penunjuk jam.
Dan yang lebih canggih lagi. Jam itu dilengkapi oleh kamera. Sebuah benda mahal yang hanya diproduksi beberapa biji saja di seluruh dunia. Dan salah satu pemiliknya adalah Brahmana Addison Wijaya.
Flash Back Off.
Siya lekas mengambil jam tangan itu mengamatinya dengan seksama. Air mata Siya berdesakan setiap teringat kembali kenangan-kenangannya yang indah bersama Brahmana.
"Ini adalah jam Kak Bram yang memiliki kamera dan memory card. Mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu dari sini."
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
tng ca w bla'in
anjirr... anjirr... w bnci otak w sndri 🤦🏻♀️
🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻💨