Dendam seorang adik kepada gadis yang dia cintai atas kematian kakaknya. Asmara, gadis sederhana, penyanyi dangdut hajatan yang sedang naik daun, berubah nasibnya saat sebuah tuduhan pembunuhan dia terima tanpa dia bisa membuktikan kebenarannya.
Nasib apa itu.?
sepahit apakah nasibnya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rcancer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Dukung Takdir..
"Kak Ang kenapa sih Om.? aneh gitu.? tumben banget minta foto orang lain. foto cewek yang pernah dia hina lagi.."
"Hina gimana Zi..?" dan Zia pun menceritakan kejadian beberapa hari lalu saat dia ngobrol berdua dengan Angkasa.
"Aneh kan Tan, sekarang minta foto mereka, kemarin ngantar mba Mara, apa jangan jangan kak Ang suka ya Tan sama mba Mara..?" Ranti yang ditanya hanya menyungingkan senyum, begitu juga dengan Rajasa. namun tiba tiba..
"Bukan suka lagi Zi, cewek itu cinta pertamanya Angkasa.." ucapan Doni membuat semua yang ada disitu terkejut.
"Yang benar kak Don..?"
"Iya, dan itu kan anak anak Angkasa, perhatikan aja wajahnya, mirip kan..?" Zia langsung kembali mengecek ponselnya dan memperhatikan lebih seksama wajah si kembar. sesaat kemudian, seperti menemukan sesuatu, Zia langsung membungkam mulutnya dan seketika menatap tante Ranti.
"Jadi kak Ang yang.." Ranti langsung mengangguk
"Ya ampun, kok kang Ang jahat banget sih tante.?"
"Itu semua gara gara kak Bara Zi.."
"Apa.? kak Bara.? kok bisa.? gimana ceritanya tan..?" dan Ranti pun menceritakan semuanya.
"Aztaga ya Allah, kok kak Bara jahat banget. berarti sampai sekarang kak Ang. ? pantesan dia nggak pernah mau deket sama cewek mana pun."
"Makanya Zi, kamu kan deket sama keluarga Asmara, bantu kak Ang yah..?"
"Baik tante, Zi akan bantu semampu Zi.."
"Makasih Zi.."
###
Sementara di pinggir jalan, Wajah Asmara nampak mulai memucat dan panik melihat siapa pria yang ada di hadapnya. Hingga dia melepaskan motornya berniat mau lari tapi naas, motor itu jatuh dan menimpa kaki nya..
"Aagghhh..!!!'
"Asmara..!!" Teriak Angkasa melihat tubuh asmara ambruk. dia langsung mengangkat motor dan menjatuhkannya ke arah lain. Angkasa pun tak kalah panik.
"Tuan, aku.."
"Jangan banyak bicara dulu, kita ke rumah sakit yah, kakimu lecet itu.."
"Tapi...."
Tanpa menunggu persetujuan Asmara, Angkasa langsung membopong tubuh Asmara dan memasukkanya ke dalam monbil.
"Jangan takut. aku nggak akan ngapa ngapain kamu.." Ucap angkasa lembut, seakan mengerti dengan wajah yang ditunjukan Asmara. Perempuan itu terdiam dan tak berani memandang pria yang membawanya dengan mobil.
Tak lama kemudian mobil Angkasa sampai disebuah rumah sakit. Dia langsung keluar. Asmara juga hendak keluar, tapi saat dia mau meletangkahkan kakinya
"Aduhh.." Angkasa tersentak dan bergegas kesisi pintu dimana Asmara berada.
"Jangan dibawa gerak, sepertinya kakimu mau bengkak.."
"Tapi.." Lagi lagi tanpa menjawab, dia merengkuh tubuh Asmara dan membopongnya ala bridal. Dia mencari kursi roda dann setelah menemukannya, dia menurunkan tubuh Asmara dikursi roda itu kemudian mendorongnya ke unit gawat darurat agar cepat ditangani.
Seorang perawat menyuruh Asmara berbaring. Dia bingung karena kaki satu yang tertimpa motor terasa sakit saat mau menapak. Dia mencoba berdiri, namun lagi lagi, Angkasa merengkuh tubuh itu dan memindahkannya ke brangkar. entah sadar atau tidak, Asmara menggenggam erat pergelangan tangan Angkasa. dan pria itu tersenyum.
"Aku akan tetap disini, ngga akan pergi."
Angkasa menarik kursi yang tak jauh dari sana dan meletakkannya disisi brangkar lalu mendudukinya.
Matanya tak lepas dari wajah wanita yang terbaring dan meringis kesakitan. senyum Angkasa terkembang, Dia menganggap Tuhan memberi dia jalan seperti ini agar bisa dekat dengan Asmara.
Tak lama kemudian, seorang dokter dan dua perawaat datang. mereka langsung memeriksa kondisi kaki yang terluka. beruntung, kaki Asmara hanya memar dan bisa sembuh sekitar satu minggu. Setelah lukanya di bersihkan dan kaki diperban, Angkasa kembali memindahkan tubuh Asmara ke kursi roda dan mendorongnya ke apotik rumah sakit untuk menebus obat yang diresepkan dokter tadi.
Setelah mendapat obat, mereka pun kembali ke tempat parkir mobil.
"Kamu mau pulang atau mau kemana.?" Asmara tertegun dengan sikap lembut pria itu. Dari tadi sikapnya tak terlihat kasar sama sekali. Tidak seperti dulu saat pria itu menculiknya.
"Aku.." jawab Asmara ragu.
"Ngomong saja, akan aku antar.."
"Maaf tuan, aku nggak mau merepotkan anda, aku.." tiba tiba Angkasa berjongkok dihadapan Asmara hingga ucapannya terhenti.
"Aku nggak merasa di repotkan," Asmara nampak gugup dipandang lekat oleh pria itu, dia tak berani membalaas tatapan Angkasa, dan pria itu hanya tersenyum.
"Baiklah, kamu mau kemana.?"
"Pulang saja, tapi motor aku.."
"Biar saja, nanti biar aku suruh orang untuk ngambil motor kamu.."
"Tapi kunci motornya masih ada di motor.."
"Ya sudah nanti kalau hilang aku yang ganti, kita pulang yah.." akhirnya Asmarapun pasrah.
Dalam perjalanan hanya ada kesunyian diantara dua orang itu. yang satu arah pandangnya keluar kaca mobil dengan perasaan takut dan yang satu lurus kedepan sesekali melirik ke sebelahnya dengan perasaan berbunga.
Tak lama kemudian mobil sampai di depan rumah Asmara. Ririn yang nampak hendak berangkat kerja dengan seorang laki laki yang sepertinya sedang menunggunya nampak tercengang.
"Loh Tuan Angkasa.?" Tanya Ririn begitu melihat atasannya keluar dari mobil dan dia lebih terkejut lagi saat pintu sebelahnya juga terbuka dan muncul Asmara yang diangkat tubuhnya oleh atasannya.
"Mba Mara kenapa.? kok bisa.....?"
"Ceritanya nanti saja. tolong antar saya ke kamarnya.."
"Baik pak.."
Begitu hendak masuk, Bu Lastri yang sepertinya sedang menerima tamu nampak terkejut. terlebih melihat kaki Asmara.
"Loh ini, Asmara kenapa.? kok bisa sama..?"
"Nanti biar saya ceritain bu.." Bu Lastri hanya mengangguk kemudian dia kembali duduk menemani tamu meski matanya terus menatap Angkasa dan Asmara.
"duduk disana saja tuan.?" Tunjuk Asmara ke arah kursi panjang yang tak jauh dari tv dan Angkasa pun nurut.
Setelah mendudukkan Asmara, Angkasa juga ikut duduk di sebelahnya. Semua mata yang ada disitu menatap heran, terutama Ririn.
"Tuan Angkasa, ini gimana..."
"Kamu belum berangkat.? bukankah ini sudah jam kantor.?" Ririn langsung gelagepan.
"Maat tuan, tadi saya nunggu teman saya yang saya ceritakan wàktu ada masalah kantor, ini orangnya tuan.."
"Kamu berangkat dulu nanti bilang sama sekretaris saya kalau saya terlambat dan tanya posisi yang saya berikan buat dia.." Ucap Angkasa sambil menunjuk laki laki disebelah Ririn.
Ririn yang masih penasaran apa yang terjadi hanya mengangguk saja.
"Asmara, Ririn, nih pak Roso mau pamit.." Ucap Bu Lastri.
"Jadi pindah hari ini pak.?" Tanya Ririn. Ternyata tamu itu adalah keluarga yang rumahnya mau dijual. Rumahnya terletak di seberang rumah Asmara.
"Jadi Rin. hehhe."
"Sayang banget ya pak, padahal rumahnya udah bagus gitu loh.."
"Ya terpaksa Rin.."
"Udah ada yang minat apa pak rumahnya.?"
"Ya belum lah, Kamu minat apa Rin.? Kalau minat nanti aku ngomong sama pihak bank nya."
"Yang minat sih mba Mara pak, katanya rumahnya bagus. sayang gitu.."
"Wah, Mara mau rumah saya.?"
"Hehhee belum ada duit pak.." Jawab Asmara.
Namun diluar dugaan tiba tiba..
"Biar saya yang beli pak. Bilang sama pihak Bank, berapapun harganya, saya yang akan bayar.."
Ucapan Angkasa sontak saja membuat semua yang ada di sana terkejut bukan main.
@@@@@@
author ttp konsisten...
hidup bollywood..💪
1 server qitahh...😉👄👄👄
jadi angkasa bisa melihat apa yg terjadi .... kau akan sangat2 menyesal telah memperkosa .. mempermalukan dan menyakiti hati wanita yg kau cintai angkasa ...