"Kakak gak boleh sama perempuan lain, karena aku yang akan menjadi pengantin wanita untuk kakak," kalimat itu selalu terngiang di benak Arsen.
"Aku mencintai dia yang sejak kecil selalu menolong dan rela berkorban untuk ku dan ternyata itu bukan kamu yang selama ini ku cintai ..."
"Apakah aku mencintai orang yang salah?
Pada siapa kah sesungguhnya hati ini pantas berlabuh?"
"Pada dia ataukah dirimu ?"
"Apakah cinta bisa datang karena terbiasa ataukah karena terpaksa ??"
Semua pertanyaan itu kini berkecimpung di benak Rezfatih Arsenal Harfi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Nu Yayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 Centimeter
Setelah perdebatan perebutan lampu tidur, Raline akhirnya mengalah. Ia mengambil bantal yang satunya lagi lalu berbaring menyamping dan menyembunyikan kepalanya di balik bantal tersebut sembari memeluk guling. Ia pun memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
“Heh, apa yang kau lakukan?” tanya Arsen dengan ketus.
“Tidur.” Raline hanya menjawab dengan satu kata. Nampaknya ia tak ingin berdebat lagi dengan suaminya itu.
“Enak saja … jangan tidur disini! Semalam saja aku tidur sofa.” Arsen malah mengusir Raline.
“Memangnya siapa yang menyuruh mu tidur di sofa?” Raline seolah mengolok-olok Arsen.
“Heh kalau bicara itu lihat kemari! jangan membelakangiku!!” Arsen merasa kesal seolah ia dianggap hantu yang sedang bicara hingga Raline tak memperdulikan keberadaannya sama sekali, dan malah bersembunyi di balik bantal.
“Aku ngantuk," ucapnya tak mengubah posisi uenaknya.
Arsen mendengus kesal. “Menyingkir dari ranjang ku! atau aku akan melempar mu!!" bentaknya dengan menahan suaranya agar tidak terlalu keras namun penuh penekanan supaya tidak terdengar keluar.
“Lempar saja dan lupakan kalau di dalam perut ku ini ada anak mu.” Raline malah menantang.
“Kau pikir aku percaya kalau itu anakku, hah!!”
Raline membuka matanya lebar- lebar. Ia bangkit dan duduk menghadap ke arah suaminya.
“Apa kau bilang?” tanyanya dengan memberi tatapan tajam dengan perasaan nyesek.
”Heh, siapa yang tahu kalau setelah kau tidur dengan ku, kau tidur dengan pria lain.” Arsen tersenyum kecut.
Raline tercengang mendengar ucapan Arsen yang mengingatkan dirinya pada perkataan Mira yang dulu diperkosa oleh Syarief dalam keadaan mengandung dirinya.
“Kau … kau benar- benar tidak berperasaan.” Raline memukul dada Arsen dengan bantal hingga ia memundurkan tubuhnya hampir ke ujung ranjang.
Raline menahan diri agar tidak menangis di depan suaminya, walau hatinya terasa dicabik- cabik.
“Kau pikir aku menikahi mu karena perasaan, hah? Aku menikahi mu hanya karena bunda, hanya demi kesehatan bunda. Jadi kau tidak usah terlalu percaya diri!” ucapnya dengan penuh penekanan.
Raline tak hentinya menatap Arsen dengan tatapan tajam dan marah. Ucapannya benar- benar sangat menusuk ke dasar hati yang terdalam. Ia kembali memukul Arsen dengan bantal untuk meluapkan kemarahannya.
buk buk ...
Gedebuk …
“Argh … kurang ajar kau!”
Arsen hilang keseimbangan hingga ia jatuh tersungkur ke lantai. Raline memalingkan wajahnya dan kembali berbaring memeluk guling dengan selimutan. Raline pun menutup telinganya dengan bantal dan tak memperdulikan suaminya yang meringis kesakitan.
“Argh... bokong ku ….”Arsen mengusap bokongnya yang terasa sakit.
Cetrek …
Raline kembali memencet tombol stop kontak untuk mematikan lampu tidurnya.
“Raline !!” bentaknya kesal.
Raline tak menghiraukan bentakan Arsen. Ia mengusap- usap dadanya yang terasa begitu sakit dan sesak diiringi kucuran air mata yang membasahi pipinya. Ia lalu membekap mulutnya sendiri dengan sekuat tenaga menahan agar suara isakan nya tak terdengar oleh pria tak berperasaan itu.
Arsen berusaha berdiri dengan mengusap bokongnya yang masih terasa sakit. Ia meraba- raba ranjangnya untuk mencari stop kontak paralel lampu tidurnya di kamar yang gelap itu.
Cetrek…
Ia pun berhasil menyalakan lampunya kembali.
Arsen melap keringat dingin yang tiba- tiba mengucur begitu saja dengan telapak tangannya. Padahal AC di kamarnya menyemburkan hawa sejuk yang justru malam ini terasa sangat dingin. Namun itu timbul karena perasaan takutnya terhadap ruangan gelap.
Ia menatap kesal wanita yang tidur membelakangi dirinya itu. Ingin rasanya ia menyeret dan melempar wanita yang baru dinikahinya satu hari yang lalu itu dan mengusirnya dari kamar tersebut.
Namun, pikiran waras nya masih berfungsi yang tak ingin membuat keributan yang akan berdampak pada kesehatan bunda nya, Anita.
Arsen hanya bisa mendengus kesal karena ketidakberdayaan nya.
“Lebih baik aku tidur di luar,” decih nya merasa kesal.
Arsen pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar. Namun sayang, saat tangannya menekan pegangan pintu ia tak bisa membuka pintunya.
“Loh, kenapa dengan pintunya?” Arsen kembali menekannya beberapa kali, namun masih tidak bisa dibuka. Yang membuatnya semakin heran, kunci pintunya pun tidak menancap di lubang kunci seperti biasanya.
“Kenapa tetap tidak bisa dibuka, kuncinya_____ “
“Astaga … ini pasti kelakuan bunda.” Arsen mengepalkan kedua tangannya, ia merasa geram dengan ulah Anita yang pastinya sengaja melakukan hal itu.
Ingin rasanya ia memukul pintu atau pun tembok, namun mengingat ini sudah malam ia tak mau sampai membuat kehebohan yang bisa membangunkan semua orang. Apalagi keluarga Anita dari Bandung, sebagian masih menginap disana.
“Argh … sial!!” Arsen hanya bisa melayangkan pukulan terhadap angin saja.
“Pasti bunda juga yang sudah mengambil karpet dan badcover serta selimut ku dari lemari.” Arsen tak hentinya menggerutu dengan suara pelan, karena takut terdengar oleh Raline.
Ia mencari kunci cadangan di lemari dan di laci- laci, dan akhirnya ia menemukan satu kunci cadangan. Arsen pun kembali ke depan pintu dan segera memasukan kunci ke dalam lubangnya.
Cek cek cek …
Arsen beberapa kali memutar kuncinya, namun tak bisa. Bahkan kuncinya pun tak menancap sempurna seperti biasanya.
“Hah, kenapa tidak bisa? Perasaan ini bener kunci kamar ku.” Arsen merasa heran.
“Argh … bunda benar- benar licik. Pasti kuncinya masih tertanam dari pintu luar.” Arsen kembali kesal karena ia benar- benar sudah dikurung di dalamnya sendiri bersama Raline.
Kletrak ….
Arsen melempar kuncinya ke sembarang arah. Rasa kesal dan marah serasa menggendok di hatinya. Ingin rasanya ia mendobrak pintu itu, namun beruntung pikiran waras nya masih berfungsi.
Akhirnya mau tidak mau ia tak punya pilihan lain selain tidur di kamar yang sama dengan Raline yang sudah sah menjadi istrinya. Ia kembali melangkahkan kakinya mendekati ranjang tempat tidurnya.
Arsen menatap Raline dengan raut wajah kesal. Bagaimana tidak, dua bantal dan satu guling nya sudah dikuasai oleh Raline. Ditambah Raline tidur di tengah- tengah dengan posisi miring dan tidur menyamping, seolah sengaja tidak memberinya tempat.
"Kapan dia mengganti posisi tidurnya seperti itu, breng**sek!!" makinya semakin kesal.
Arsen sudah mengantuk, namun ia tak ingin tidur bersama Raline.Jika pun ia tidur di kasur, maka ia harus tidur berdempetan alias begitu dekat dengan Raline. Tak sudi, pikirnya.
“Heh, bangun!” Arsen membangunkan Raline, namun ia tak bergeming.
“Raline, bangun kau! Aku tahu kau hanya pura- pura tidur, cepat bangun!”
Raline masih tak bergeming. Arsen menggoyangkan tubuh Raline, namun tetap saja tidak bangun entah sengaja tidak mau bangun.
“Argh, dasar wanita menyebalkan!! Baru tidur saja sudah seperti kebo!” ucapnya mendengus kesal.
Arsen hanya punya dua pilihan, ia tidur seranjang dengan Raline atau tidur di lantai. Dan akhirnya ia memilih opsi kedua. Ia duduk di sebelah ranjangnya dan dengan terpaksa ia pun berbaring di lantai tanpa alas apa pun juga tanpa bantal, karena dua bantal satu guling dan selimut badcover-nya sudah dikuasai oleh Raline.
Ia berbaring menyamping dengan menggunakan lengan sebagai bantalannya. Perlahan matanya mulai terpejam hingga deru nafasnya terdengar beraturan yang menandakan ia sudah tertidur.
Sesekali ia terusik karena merasa kedinginan dan lengannya terasa pegal. Ia mengubah posisinya miring ke kiri, beberapa saat ia mengubah lagi miring ke kanan.
Sepertinya ia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.
**
Azan subuh telah berkumandang, Anita yang baru saja dari kamar mandi langsung melaksanakan shalat subuh. Dan setelah itu ia pergi keluar dari kamarnya dengan membawa ponsel di tanganya. Ia turun ke lantai dasar dengan tersenyum dan rasa penasaran dalam benaknya.
Saat usai menuruni tangga, ia melihat kunci yang masih terpasang di pintu kamar Arsen. Anita tertawa geli dengan memelankan suaranya. Ia lalu mendekat dan memutar kunci tersebut.
Ceklek….
Anita membuka pintunya perlahan, dan betapa bahagianya ia melihat pemandangan di dalam sana. Ia segera mengabadikan moment itu dengan kamera ponselnya beberapa kali mengambil potert mereka.
Anita mencabut kuncinya dan memindahkannya ke lubang kunci pintu bagian dalam kamar. Ia pun menutup pintunya kembali dengan pelan lalu bergegas pergi ke dapur sembari cekikikan sendiri.
“Emh … “ Raline terusik dari tidurnya, saat ia merasakan ada sesuatu yang menimpa perutnya.
Perlahan ia membuka matanya lalu mengerjapkan matanya karena merasa silau dengan sinar lampu tidur yang berwarna kuning itu. namun ia kembali membuka matanya dan mengumpuklan kesadarannya.
Ia merasa heran saat melihat ada tangan melingkar di perutnya. Raline menoleh ke arah sampingnya yang mampu mengejutkannya. Ia membuka matanya lebar- lebar, lalu mengucek matanya karena merasa tak percaya.
“Hah, jadi ini beneran … bukan mimpi?” gumamnya dalam hati.
Ia tersenyum dengan perasaan bahagia, karena disaat bangun tidur dan membuka matanya, wajah suaminya lah yang pertama dilihatnya. Wajah yang nampak polos seperti bayi, jauh dari sikap keras dan arogan seperti biasanya.
Ia tak menyangka jika orang yang semalam berusaha mengusirnya dari kamar, kini justru malah tidur dengannya. Begitu dekat, sangat dekat malah. Bagaimana tidak, Arsen ternyata tidur dengan posisi miring dan tangannya memeluk Raline.
“KaChen… seandainya kau melakukan hal ini secara sadar dengan penuh cinta, aku pasti akan menjadi wanita paling bahagia tidur dalam pelukan mu,” lirihnya dalam hati.
Raline tak hentinya memandangi wajah tampan pria yang telah mengambil hatinya semenjak masa kanak- kanak itu. ia tak menyangka bisa memandanginya dengan sedekat ini. Begitu dekat hanya dengan jarak 5 centimeter.
Senyumnya seketika lenyap saat Arsen tiba- tiba membuka matanya. Raline pun kembali menutup matanya dan berpura- pura seolah ia masih tertidur.
Mata Arsen terbelak saat ia melihat Raline yang begitu dekat dengannya dan ia tidur dalam posisis memeluk wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Arsen langsung menjauh dari Raline dan bangkit dari tidurnya.
“Apa- apan ini? Bagaimana bisa aku tidur dengannya? Bukannya semalam aku_____” Arsen menggerutuki dirinya sendiri.
“Argh, jangan- jangan semalam aku melindur ….”
“Ck, sudah lah lebih baik aku keluar … Untung dia masih tidur, jika tidak … bisa- bisa dia kege-eran,” ucapnya pelan sembari bergidik ngeri membayangkan Raline mengejek dirinya yang sudah tidur bersamanya apalagi dengan memeluknya.
Arsen pun melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari kamarnya.
Ceklek …
“Loh, bukannya semalam pintunya terkunci? Apa semalam aku sedang bermimpi?”
Arsen keluar dari kamarnya dengan perasaan heran dan bertanya- tanya. Sementara Raline kembali membuka matanya dan tersenyum bahagia, karena ternyata semalaman ia tidur dipelukan suaminya, walau orangnya sendiri tak menyadarinya.
“Ternyata kamu punya kebiasaan melindur ya suamiku,” gumanya lalu senyam senyum sendiri.
----------- TBC -------------
**********************
Happy Reading ,,, 😉
Jangan luva tinggalkan jejakmu … 😘😉
Ayapyu all …😘😘
kumaha atau teh ngegantung gitu.
aku suka ceritanya
udah makin menarik ceritanya....😀😀😀
tth othor yg baik hati dan tidak sombong kalo bisa masa kecilnya jangan terlalu panjang, cukup ambil garis besar pas masa masa tertentu aja soalnya di novel nya naz udah banyak cerita tentang masa kecil mereka, kalo bisa langsung masa sekarangnya aja tentang masa saling perjuangin cinta mereka yg memang blom terungkap d novelnya naz arfin, ya aku tau emang setiap cerita pasti ada proses perjalanannya cmn secara garis besar semua pembaca cahaya sang anas udah tau garis besar jalan cerita tentang olin arsen...😊
maaf ya tth othor ini cuman pendapatku aja kok bukan untuk menjatuhkan samasekali apalagi buat ngerusak alur ceritanya nggak samasekali, aku tetap menikmatinya kok....😀
dan sebagai masukan tth coba bikin pemberitahuan di novelnya cahaya sang anas kalo novel ini udah rilis, aku yakin blom banyak yg tau kalo tth udah bikin novelnya arsen buktinya aku aja telat tau kalo novel ini udah mulai up...😊
semangat dan selamat berkarya tth othor aku mendukungmu,.....💪😉😊😊😊
Ama arsen...
duh bpk2 tu emang ya kalau udah emosi...
kan kasian anaknya atuh sampai demam gitu...
kesian arsen, senakal nakalnya anak gak seharusnya d hukum dengan kekerasan atau sesuatu yg bikin anak trauma karna itu akan mempengaruhi mental anak itu sendiri....😇😇😇
tititnya kenapa atuh?