Seorang istri yang dijadikan hanya sebagai pemuas nafsu oleh suaminya. Dia adalah Sinta seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta. Kesulitan ekonomi membuat dia menjadi istri simpanan
dosennya.
Hingga Sinta hamil, suaminya menolak kehamilan Sinta dan menceraikannya di saat Sinta hamil muda.
Sinta tetap mempertahankan kehamilannya. Dengan perut membuncit, Sinta harus bekerja dan kuliah. Beruntung, Sinta mempunyai sahabat yang mendukungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curahan hati Sinta
Andre memarkirkan mobilnya di garasi. Keluar dari mobil berjalan gontai masuk ke rumah. Wajah sangat lesu seperti tidak ada gairah hidup, bukanya senang akan menjadi ayah yang ada kebimbangan di hatinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia dan Cindy sudah bergoyang nikmat, yang membuatnya ragu Cindy tidak orisinal lagi.
Jika memungkinkan tes DNA bisa dilakukan sekarang maka Andre ingin melakukannya secepat mungkin, memikirkan jika benar benih yang di rahim Cindy adalah miliknya itu yang membuatnya tidak bisa berkutik.
Cinta memang buta, mengetahui bahwa bukan dirinya yang pertama bagi Cindy, cintanya tetap tidak berkurang. Bagi Andre tidak ada manusia yang sempurna. Di satu sisi Andre tidak memikirkan perasaan Sinta, baginya masih tetap. Sinta adalah simpanan. Bodoh sekali.
Andre melangkahkan kakinya ke kamar, merasa badannya gerah Andre langsung mandi. Setelah membersihkan dirinya Andre mencari Sinta. Dicari ke dapur, ruang tamu dan kamar tamu Sinta tidak ada. Andre menelepon Sinta, dering ponsel Sinta terdengar dari kamar. Setelah melihat Sinta tidak ada di kamar, Andre melangkahkan kakinya ke teras rumah. Duduk di bangku sambil memainkan ponsel.
"Sinta ternyata kamu disini, dicari di segala sudut rumah rupanya kamu enak enak di sini makan buah," kata Andre setelah melihat Sinta duduk di bawah pohon mangga dan pisau ada di tangannya.
"Ealah,,,, Dari tadi di sini kog. Mas aja yang ga lihat. Turun dari mobil masuk rumah dengan wajah kusut kayak mie keriting." Dengan santai Sinta menjawab sambil memasukkan potongan buah ke mulutnya.
"Jadi dari tadi kamu di situ, suami pulang bukannya disambut malah dicuekin."
"Sini mas, sekarang aja penyambutannya." Sinta melambaikan tangannya ke Andre menyuruh duduk di sampingnya. Andre berdiri dan duduk di samping Sinta.
"Yeah ternyata suamiku ingin juga disambut istri simpanannya." Cup. Sinta mencium pipi Andre kemudian menyodorkan potongan buah ke mulut Andre. Ada perasaan tak enak di hati Andre ketika mendengar Sinta berkata seperti itu.
"Jangan menggodaku, masih sore."
"Kan ga salah mas, menggoda suami sendiri. Kita halal. Mau sore, pagi, siang kalau mas mau. Tancap terus!" kata Sinta semakin menggoda Andre.
"Ya udah, Tancap Sekarang yuk!. Disini sepertinya pasti lebih hot," jawab Andre sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ih ngawur, Nih makan dulu," kata Sinta lagi, Andre terkekeh merasa menang menggoda Sinta.
"Manis juga ya mangganya," kata Andre sambil mengunyah buah mangga sedangkan Sinta sibuk mengupas mangga.
"Iya mas, Lebih manis mana mas, mangga itu atau aku."
"Ya kamu lah," kata Andre spontan
"Yea, makasih mas. Menurut mas, aku cantik ga?.
"Cantik pake banget." Sinta tersenyum
"Tapi sayang ya mas, cantik cantik begini hanya jadi simpanan."
Deg
Andre berhenti mengunyah dan menatap Sinta. Mata indah itu sudah berkaca kaca. Dan sebentar lagi mungkin akan menangis. Andre merasakan denyut nyeri di hatinya. Tidak tega melihat Sinta menangis. Andre merasa bersalah, nafsu yang tidak bisa ditahan untuk merasakan kenikmatan duniawi menyeret Sinta menjadi simpanannya. Andre meraih bahu Sinta dan memeluknya. Bahu itu bergetar mencoba menahan suara tangisan.
"Percayalah, pasti akan ada laki laki yang akan mencintaimu dengan tulus," kata Andre sambil membelai rambut Sinta. Sinta jelas kecewa mendengar perkataan Andre. Dia hanya ingin menjadi istri selamanya untuk Andre.
"Mas, aku tidak pernah membayangkan kehidupanku seperti ini. Sejak kamu menjadikanku simpanan mu, aku tidak kekurangan materi dan beban orangtuaku berkurang. Tapi tahu kah kamu mas?, hidupku penuh dengan kebohongan, aku membohongi orangtuaku, para sahabatku. Dulu aku membayangkan hidupku di kota penuh dengan perjuangan asal bisa tetap melanjutkan studi. Tapi takdir berkata lain, kamu hadir mas. Aku juga pernah membayangkan menikah dengan orang yang kucintai dan mencintaiku. Dan hanya sekali pernikahan dalam hidup. Lagi lagi takdir tidak mendukungku. Aku memang sudah menikah dan aku mencintaimu tapi cintaku tidak berbalas. Aku hanya simpanan supaya bisa bertahan hidup di kota." Andre hanya diam mendengar curhatan Sinta. Semua yang dikatakan Sinta dibenarkan Andre dalam hatinya.
"Sinta, tidak semua yang kita bayangkan dan impikan sesuai dengan kenyataan, kita harus bisa menerima dengan ikhlas apa yang kita jalani sekarang," kata Andre sok bijak.
"Mas apa kamu tidak mau membuka hatimu sedikit saja untukku?" tanya Sinta penuh harap.
"Aku tidak mau dia tersakiti mengetahui tentang kita Sinta, aku sangat mencintainya. Aku pernah hancur ketika dia menolak ku. Aku tidak mau hancur untuk kedua kalinya. Ku harap kamu mengerti. Biarlah tetap kita seperti ini."
"Aku hargai kejujuran mu mas, tetaplah jaga hatimu untuknya. Aku akan tetap di posisi ini jika kamu masih menginginkannya. Dan aku juga siap kalau mas mau mengakhirinya. Aku akan mencari kerja untuk menopang hidupku," kata Sinta pasrah dan Andre menggeleng.
"Tidak Sinta, aku sudah pernah berjanji akan membiayai hidupmu dan kuliahmu sampai kamu bisa mandiri. Kalau aku mengakhirinya kamu pasti tidak mau menerima pemberianku."
"Terima kasih mas atas semua keperdulian mu. Ya udah masuk yuk! dah gerah mau mandi," kata Sinta seperti tidak terjadi apa apa dan masuk ke rumah. Sinta masuk ke kamar mandi dan Andre duduk di ruang tamu.
Di kamar mandi, Sinta menumpahkan tangisannya. Untuk yang kedua kalinya,Sinta di tolak oleh suami yang dia cintai. Sakit perih campur aduk sudah yang dirasakan Sinta.
"Kamu yang pertama menyentuh hatiku dan tubuhku mas. Sesakit ini mencintaimu," batin Sinta masih terus menangis. Sementara Andre berdiri mematung di depan pintu kamar mandi. Andre bisa mendengar suara tangisan Sinta walaupun Sinta menyalakan kran wastafel.
Andre kembali duduk di ruang tamu, mendengar tangisan Sinta, Andre tahu betapa sakit hatinya Sinta. Dia pernah di posisi itu ketika Cindy menolaknya. Andre memijit pelipisnya, Andre akui Sinta gadis yang baik dan juga cantik. Bila dibandingkan dengan Cindy, Sinta lebih cantik baik dari wajah dan tubuh. Tapi yang namanya cinta tidak tergantung pada fisik. Andre mencintai Cindy dengan semua kekurangannya. Sedangkan untuk Sinta Yang di rasa Andre hanya merasa kasihan niat untuk membantu.
Sinta terlihat lebih segar, walau sembab di matanya masih terlihat sedikit. Melewati Andre di ruang tamu Sinta ke dapur berniat mempersiapkan makan malam. Sinta mengeluarkan bahan bahan dari kulkas.
"Sin, ga usah repot. Kita order online aja. Kamu mau makan apa?"
"Samain aja mas dengan punyamu," jawab Sinta sambil memasukkan kembali bahan bahan ke dalam kulkas. Andre terlihat mengetik di ponselnya kemudian kembali duduk di sofa.
"Sinta."
"Apa mas?"
"Sini!. Sinta ke ruang tamu.
"Duduk sini!" kata Andre menepuk sofa di sebelahnya. Sejak penolakan Andre tadi, Sinta sebenarnya malu dekat Andre. Sinta duduk di sebelah Andre.
"Tunggu makanannya datang, kita pemanasan dulu,' kata Andre kemudian mencium bibir Sinta dengan rakus.
.huuuuu dasar pellet lele