Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Lu Heng menerjang lebih dulu. Telapak apinya membelah udara, dan di belakangnya sepasang tangan hantu berwarna perak mencakar dari kiri dan kanan, setengah napas lebih lambat daripada tubuhnya.
Yu Tian memiringkan badan, bilah putihnya menepis tangan hantu sebelah kanan, dan serpihan perak berhamburan ke lantai. Tendangan Lu Heng menghantam rusuknya. Tulangnya berderak, dan ia terpental tiga langkah dengan napas tersangkut di tenggorokan.
Ia tidak sempat berdiri tegak. Telapak api menyambar wajahnya, dan ia merunduk sampai ujung rambutnya hangus berasap. Pedangnya menyayat paha Lu Heng, dan kain merah tua robek bersama kulit di bawahnya. Lu Heng membalas dengan siku ke pelipis.
Dunia di mata Yu Tian berputar putih, dan darah dari garis merah di lehernya merembes keluar karena sambungan itu belum sepenuhnya menutup. 'Qi-ku tinggal seujung kuku. Sambungan di leher ini bisa terbuka lagi kalau aku ceroboh.'
"Kau memasang kepalamu lagi tadi, kan?" Lu Heng menyeka darah dari hidungnya dengan lengan, dan napasnya terdengar kasar. Dantiannya yang retak membuat setiap embusan terdengar basah. "Aku akan memenggalnya seratus kali, sampai kau tidak punya apa pun untuk dipasang."
"Hitung sampai dua dulu, Bocah." Yu Tian meludahkan darah ke lantai perak. Pedang putihnya berat di tangannya, dan jari-jarinya licin oleh keringat dan darah miliknya sendiri. Mereka berputar perlahan, saling mengukur, dan api di telapak Lu Heng berkedip-kedip lemah. 'Dia sama habisnya denganku. Tapi bahu kanannya masih turun setengah jengkal sebelum setiap serangan.'
Lu Heng menerjang lagi, tidak sehebat tadi, dan bahu kanannya turun. Yu Tian melihatnya dengan jelas. Ia menebas, melompat mundur, menebas lagi, dan setiap benturan membuat lengannya terasa lepas dari engselnya. Di dinding perak, bekas telapak api dan sayatan pedang bertumpuk-tumpuk. Satu hantaman menembus pertahanannya, menghantam dada, dan ia batuk darah segar sambil berlutut dengan satu kaki.
Pada saat itulah Yu Tian melemparkan pedangnya. Jari telunjuknya berkedut ketika bilah itu terlepas, dan sehelai cahaya emas setipis rambut ikut meluncur di belakangnya.
Pedang putih itu melesat menyambar telinga Lu Heng, meleset sejari, dan menancap dalam di dinding perak jauh di belakang pemuda itu. Hening sesaat. Lu Heng menoleh ke arah pedang yang bergetar itu, lalu tertawa keras sampai bahunya terguncang.
"Itu saja?" Ia merentangkan kedua tangan dengan darah menetes dari dagunya. "Kau melempar senjata satu-satunya, Yu Tian? Aku sudah menunggu sejak tadi untuk melihat saat kau kehabisan akal."
Yu Tian tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya dan menarik. Pedang putih itu terlepas dari dinding dengan jeritan logam, berputar sekali di udara, dan menembus punggung Lu Heng sampai ujungnya menyembul dari tulang dadanya. Tawa itu berhenti seketika. Lu Heng menunduk, menatap bilah putih yang berlumur darahnya sendiri, dan mulutnya terbuka tanpa suara selain gelembung merah yang pecah di bibirnya.
Yu Tian sudah bergerak. Ia melesat melewati sisi Lu Heng, mencengkeram gagang pedang di punggung pemuda itu, dan menariknya naik dengan seluruh sisa tenaga.
Srrrt!
Bilah itu membelah tulang belikat, tengkuk, dan batok kepala, dan tubuh Lu Heng terbelah dua dari punggung sampai ke ubun-ubun. Dua belahan itu roboh ke kiri dan ke kanan dengan usus dan darah yang tumpah ke lantai perak. Cincin di jari tangan kanan menggelinding dan berhenti dengan batu biru yang sudah padam.
Yu Tian berdiri dengan dada naik turun dan pedang yang meneteskan darah. Kubah di sudut ruangan memudar pelan-pelan karena Qi penopangnya habis, dan Lan Shuang berdiri di baliknya. Matanya terbuka lebar menatap dua belahan tubuh di lantai.
'Dia melihat semuanya.' Tangan Yu Tian mengencang di gagang pedang. 'Gadis itu pasti mengamuk. Kalau ia menyerang, aku harus melawan lagi, dan Qi-ku hampir tidak tersisa.'
Lan Shuang melangkah keluar dari kubah dan berjalan perlahan ke arahnya. Ia melangkahi darah di lantai tanpa menurunkan pandangan, berhenti di depan dua belahan itu, dan menatapnya lama. Kemudian ia mengangkat wajah. "Terima kasih."
Yu Tian mengerjap.
"Terima kasih sudah membunuhnya."
Suaranya dingin dan rata, tetapi jemarinya yang menggenggam lengan jubah tidak lagi gemetar. "Dia mengajakku menikah setiap hari. Setiap hari, sampai aku hafal wajahnya ketika menunggu jawabanku." Ia menendang pelan ujung jubah merah itu dengan sepatunya. "Dan ketika aku berkultivasi, Qi-ku yang diambil untuk lelaki sialan itu. Kau pasti sudah menebaknya."
Yu Tian mengangguk sedikit tanpa menjawab. 'Sudah kutebak sejak di lorong kanal.'
Lan Shuang menarik napas dan menegakkan punggung.
"Aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Tidak sekarang, tidak kapan pun. Yang kucintai hanya satu orang." Matanya yang jernih naik, bertemu dengan mata Yu Tian di balik topeng itu. "Kau, Yu Tian. Orang yang sangat menarik. Walaupun kau pernah hampir membuatku kehilangan kultivasiku di panggung batu itu."
Yu Tian menatapnya datar. Ia ingin bertanya sejak kapan gadis itu tahu namanya, tetapi jawabannya sudah tertulis di sudut bibir Lan Shuang yang terkatup menahan sesuatu.
'Tian Yu, Yu Tian. Ternyata gadis ini sudah tahu sejak lama.' Pengungkapan itu tidak mengubah apa pun baginya. Ia sudah terlalu terbiasa berjalan sendiri, dan masa lalunya masih terlalu berat untuk dilepaskan.
"Kalau begitu, kenapa kau menempel padaku sejak tadi?" Yu Tian menyarungkan pedangnya dengan satu gerakan datar. "Berlagak mesra di depan orang itu."
Lan Shuang memalingkan wajah dan merapikan pita putih di rambutnya dengan jari yang bergerak lebih cepat daripada biasanya.
"Aku hanya ingin membuat Lu Heng cemburu. Aku berharap dia menjauh."
Yu Tian mengangguk paham, dan tidak bertanya lebih jauh. Ia berbalik ke tengah ruangan bundar itu.
Sebuah kunci perak muncul dari kehampaan, melayang setinggi dada, dan berputar pelan dengan cahaya lembut. Yu Tian mengulurkan tangan dan menggenggamnya, dan logam dingin itu langsung hangat di telapaknya. 'Hadiah dari jiwa si pembangun menara. Sebuah kunci.'
Dinding perak mulai memudar menjadi butiran cahaya yang melayang naik, dan lantai di bawah kaki mereka bergetar pelan. Menara itu lenyap lapis demi lapis dari bawah ke atas.
Yu Tian mencabut pedang putihnya sekali lagi dan melemparkannya ke udara, dan bilah itu berhenti melayang sejajar dengan lututnya, berdengung menunggu. Ia menoleh ke Lan Shuang. "Naik."
Gadis itu tidak sempat membantah. Yu Tian menyelipkan satu lengan di bawah lututnya dan satu lagi di punggungnya, mengangkatnya ke gendongan, dan melompat ke atas pedang tepat ketika lantai di belakang mereka runtuh menjadi cahaya. Lengan Lan Shuang melingkar kaku di lehernya, dan wajahnya ia sembunyikan di bahu Yu Tian. Pedang itu melesat naik menembus langit-langit yang menghilang, dan sisa Qi di dantiannya terkuras habis untuk menopang terbangnya.
Di luar, sore telah mencapai ujungnya. Matahari jingga dan bulan pucat berdiri di langit yang sama, dan di bawah mereka lapangan batu itu penuh dengan wajah yang mendongak. Menara hitam itu menguap menjadi debu perak yang berhamburan ke arah angin. Ribuan orang menahan napas, lalu pecah menjadi teriakan dan siulan yang menggetarkan tanah. Mereka berbondong-bondong menunjuk ke langit, ke pemuda bertopeng yang melayang dengan gadis di gendongannya dan kunci perak di tangan.
Lambat laun, sorakan itu mereda. Seorang lelaki di barisan depan mengangkat tangan dan menghitung dengan jarinya, dan sebuah suara yang makin banyak menyusul dari kerumunan itu, ragu dan rendah. "Tadi ada tiga yang masuk."
Seorang perempuan menyahut dari belakang dengan alis berkerut. "Mana yang satunya lagi? Di mana Lu Heng?"
Pertanyaan itu menyebar dari mulut ke mulut sampai menjadi gumam yang memenuhi lapangan, dan Yu Tian yang melayang di atas mereka tidak menjawab satu pun.