Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Cangkir giok di tangan Yu Tian sudah dingin sejak tiga ratus tahun lalu. Ia baru menyadarinya ketika ujung jarinya menyentuh dasar cangkir dan menemukan tehnya telah mengeras menjadi kristal bening.
Di bawah paviliunya, lautan awan bergulung tanpa suara, dan bintang-bintang menggantung begitu rendah sampai retak halus di permukaannya terlihat jelas. Ia sudah menghitung retakan itu berkali-kali, dan jumlahnya tidak pernah berubah.
'Raja Dao. Gelar yang membuat ribuan sekte bersujud, dan aku memakainya seperti jubah lusuh.'
Ia membuka telapak tangan, dan hukum Dao berputar di atasnya seperti kunang-kunang jinak: pedang, api, ruang, waktu. Semuanya patuh, semuanya sudah ia kenal sampai ke serat terkecil.
Ia mengepalkan jari, dan cahaya itu padam tanpa perlawanan. 'Dan dinding itu masih di sana.'
Ia berdiri, lalu menekan seluruh kesadarannya ke atas, ke arah batas yang sudah ia dorong sejak gunung-gunung di bawahnya belum punya nama. Udara mengerang dan paviliun bergetar, genteng gioknya retak satu per satu. Dinding itu tidak bergeser sehelai rambut pun, dan Yu Tian melepaskan tekanannya dengan tawa pendek yang kering.
'Seribu cara sudah kucoba. Yang keseribu satu pasti bukan cara yang kukenal.'
Ia berjalan ke aula dalam, tempat semua yang pernah ia kumpulkan tergeletak berdebu: pedang yang pernah memenggal bintang, tungku alkimia berukir sembilan naga, dan tumpukan gulungan yang tintanya masih hangat. Ia menatapnya sebentar, seperti orang menatap barang di loteng rumah lama. Kemudian ia melangkah melewatinya tanpa menoleh sekali pun.
Di tengah aula, ia duduk bersila dan menarik satu tetes darah emas dari dadanya. Tetes itu mengambang, berdenyut pelan seperti jantung kecil yang belum memutuskan mau hidup atau tidak. Dari tubuhnya sendiri ia memisahkan sebagian kecil sel, sehalus debu, lalu membiarkan ribuan sel baru tumbuh mengelilinginya, menyusun urat, menyambung tulang, dan menganyam otot.
Setelah itu ia menghancurkan tubuh lamanya.
Rasanya bukan seperti dibakar, melainkan seperti dikupas. Kulitnya merekah dari tengkuk hingga tumit, dan dagingnya terlepas dalam lembar-lembar basah yang menetes ke lantai batu. Tulang rusuknya patah dari dalam satu demi satu, serpihannya berdenting seperti pecahan porselen. Bau besi dan abu memenuhi aula, sementara Yu Tian hanya menggertakkan gigi sampai rahangnya berderak, dan tersenyum dengan bibir yang sudah separuh terkelupas.
'Pergilah. Semuanya, pergilah.'
Jiwanya ditarik keluar, lalu dijatuhkan ke dalam wadah baru yang masih hangat dan basah. Kelopak matanya terbuka dan ia menarik napas pertama, yang terasa seperti menelan pecahan kaca.
Hampa.
Aliran kekuatan yang dulu mengalir di pembuluhnya seperti sungai kini lenyap tanpa bekas, menyisakan ruang kosong di bawah pusar yang sempit dan sunyi. Ia menekan perutnya dengan telapak tangan dan menunggu gelombang itu datang, tetapi tidak ada apa pun yang menjawab. Ranah Raja Dao telah runtuh sampai ke dasar, dan ia berdiri di atas puing-puingnya dengan kaki gemetar seperti anak rusa yang baru lahir.
'Penempaan Tubuh tingkat pertama. Hah.'
Ia mencoba membelah ruang di depannya dengan satu jari, dan ruang itu menolaknya mentah-mentah. Percobaan kedua hanya merobek kulit jarinya, meneteskan darah merah yang biasa saja.
Lantai aula runtuh di bawah kakinya. Jalur yang ia buka ke dunia manusia menelannya dalam satu hentakan, dan langit berputar liar. Angin menampar wajahnya, awan mengoyak bahunya, lalu sebuah gunung muncul dari bawah seperti telapak tangan raksasa yang siap menangkap.
Brak!
Benturannya menggema ke seluruh lembah. Batu pecah, pinus-pinus tumbang, dan burung-burung terbang ke segala arah dengan jeritan marah.
Yu Tian terbaring di dasar kawah kecil, menatap langit yang pucat sementara telinganya berdenging. Mulutnya penuh rasa darah dan tanah, dan bau getah pinus bercampur tanah basah naik pelan bersama debu.
'Sakit. Aku masih ingat rasanya sakit.'
Tawa itu pecah begitu saja, parau dan tak terkendali, sampai dadanya nyeri. Ia mengangkat tangan dan memandangi telapaknya yang lecet dan kotor, tangan yang tidak bisa lagi menggoyang gunung atau membelah langit. Tangan itu hanya tangan, dan entah kenapa ia merasa itu hal paling menarik yang pernah ia lihat.
Ia bangkit dengan lutut yang goyah, lalu memaksanya lurus. Di kaki lereng, jauh di bawah sana, selembar asap tipis menggantung di atas lembah.
'Di mana ada asap, di situ ada manusia. Di mana ada manusia, pasti ada sekte.' Ia menepuk debu dari jubah kelabu polosnya dan mulai menuruni gunung.