NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Adira

Areksa turun dari kamarnya.

Di ruang keluarga, masih ada Soraya, Bayu, dan Felicia. Sementara itu, Sisil dan Bara sudah tidak terlihat. Mungkin keduanya telah pulang terlebih dahulu.

Areksa menghampiri ibunya. “Ma, aku titip Aretha. Dia ada di kamar.”

Soraya langsung menatap putranya. “Kamu mau ke mana?”

“Mama bilang aku harus mencari pendonor ASI untuk Aretha kan?”

“Iya. Tapi kamu mau mencari ke mana?”

“Aku sudah menemukan orangnya."

Soraya mengerutkan kening. "Siapa?"

Areksa terdiam sejenak. “Namanya Adira.”

Soraya tampak bingung. “Adira?”

“Iya.”

“Kamu kenal dia?”

“Belum.”

Jawaban itu membuat Soraya semakin heran. “Lalu kamu tau dari mana kalau dia bisa memberikan asinya?"

“Nanti aku ceritakan, Ma. Sekarang aku harus memastikan semuanya terlebih dahulu.”

Felicia yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut bersuara. “Kak Reksa, tapi kita nggak boleh sembarangan mencari ibu yang mau menjadi pendonor ASI untuk Aretha.”

Areksa menoleh kepadanya. “Saya tau.” Nada suaranya tegas. "Aku akan memastikan semuanya aman untuk Aretha.”

Bayu yang sejak tadi diam memperhatikan putranya akhirnya berdiri. “Kalau begitu, Papa ikut.”

Areksa mengangguk. “Ayo, Pa.”

Sebelum keduanya pergi, Soraya berpesan, “Kalian hati-hati di jalan.”

“Iya, Ma.”

Areksa dan Bayu kemudian meninggalkan rumah.

Begitu suara mobil mereka terdengar menjauh, suasana ruang keluarga kembali sunyi.

Soraya menghela napas panjang. “Kasihan sekali Aretha.”

Felicia mendekat dan mengusap punggung Soraya dengan lembut. “Sabar ya, Tante.”

“Iya, Feli.” Soraya menatap ke arah tangga menuju kamar Aretha. “Malang sekali nasib Aretha. Dia harus kehilangan ibunya bahkan saat baru saja lahir.”

Felicia mengangguk. “Iya, Tante. Aku juga kasihan sama Aretha.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Mungkin... suatu hari nanti Aretha akan membutuhkan kasih sayang seorang ibu.”

Soraya tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada lantai atas.

Ia sama sekali tidak menyadari perubahan kecil pada ekspresi Felicia.

Sudut bibir gadis itu perlahan terangkat. Senyuman tipis yang penuh keyakinan.

Dalam hati, Felicia berbisik, "Benar, Tante. Aretha memang membutuhkan seorang ibu."

Tatapannya mengarah ke tangga. "Dan tentu saja... ibu yang akan menggantikan Aruna adalah aku."

***

Di dalam mobil, suasana terasa hening.

Areksa duduk di kursi pengemudi dengan tatapan lurus ke depan. Sementara Bayu yang duduk di sampingnya masih memikirkan perkataan putranya sejak mereka meninggalkan rumah.

Akhirnya, Bayu membuka suara. “Apa maksud kamu perempuan bernama Adira itu bisa membantu Aretha? Kamu kenal dengannya?”

Areksa menggeleng. “Nggak, Pa.”

“Lalu kenapa kamu bisa berpikir dia bisa membantu Aretha?”

Areksa menarik napas panjang. “Aruna yang mengenalnya, Pa.”

Bayu menoleh. “Reksa, bisa nggak kamu ceritakan semuanya? Jangan setengah-setengah seperti ini. Papa jadi nggak mengerti.”

Areksa terdiam beberapa saat.

“Pa, aku juga nggak tau siapa Adira sebenarnya.”

Bayu mengerutkan kening. “Kamu nggak tau?”

“Aku baru tau namanya tadi.”

“Dari mana?”

“Dari Aruna.”

Bayu semakin bingung. “Maksud kamu?”

Areksa menggenggam kemudi lebih erat. “Sebelum Aruna pergi, dia meninggalkan sebuah pesan untukku. Dia bilang kalau suatu saat anak kami membutuhkan ASI, aku harus meminta bantuan Adira.”

Bayu terdiam.

“Dia juga bilang kalau selain aku dan keluarga kita, dia hanya percaya Adira untuk merawat Aretha.”

Bayu tampak tidak percaya. “Aruna mengatakan itu?”

Areksa mengangguk. “Iya.”

Bayu menghela napas. “Kalau begitu, sepertinya mereka cukup dekat.”

“Aku juga berpikir begitu.”

“Makanya aku sendiri bingung, Pa. Selama satu tahun menikah dengan Aruna, aku nggak pernah tau dia punya sahabat bernama Adira.”

“Lalu bagaimana kamu bisa menemukan orang itu?”

“Aku periksa laptop dan beberapa berkas pekerjaan Aruna.”

Areksa membuka salah satu folder di ponselnya. “Aruna pernah menjadi pengacara. Sebelum berhenti karena kandungannya memasuki tujuh bulan, dia masih menangani beberapa kasus.”

Bayu mengangguk pelan. “Terus?”

“Aku menemukan satu berkas yang mencantumkan nama Adira.”

Bayu menatap putranya. “Jadi Adira adalah salah satu klien Aruna?”

“Iya.” Areksa mengangguk.

“Aku menemukan nama lengkap dan alamatnya dari berkas itu.”

Bayu masih terlihat terkejut. “Tapi tetap saja aneh.”

“Apa yang aneh, Pa?”

“Kalau dia memang hanya klien Aruna, kenapa Aruna bisa mempercayainya sampai sebesar itu?”

Areksa tidak langsung menjawab. Pertanyaan yang sama sebenarnya terus berputar di kepalanya sejak membaca pesan terakhir Aruna.

“Aku juga nggak tau.”

Areksa kembali menatap jalan di depannya. “Itulah alasan aku ingin menemui dia. Setidaknya aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.”

Areksa menggenggam ponselnya. “Karena sekarang, satu-satunya petunjuk yang Aruna tinggalkan untukku hanyalah nama itu.”

Bayu menatap putranya dalam diam.

Adira. Satu nama yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya.

Dan kini, nama itu menjadi satu-satunya petunjuk Areksa untuk memahami pesan terakhir istrinya.

***

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Areksa menghentikan mobil di depan sebuah gang sempit.

Ia memeriksa kembali alamat yang tersimpan di ponselnya.

“Ini benar alamatnya?” tanya Bayu, masih terlihat ragu.

Areksa mengangguk. “Iya, Pa. Alamat yang tertera di berkas Aruna memang di sini.”

Bayu memandang ke sekitar.

Gang itu sempit. Jalanannya tidak terlalu bagus, sementara rumah-rumah di kiri dan kanannya berdiri cukup rapat. Kondisinya juga jauh dari kata mewah.

Bayu kembali menatap putranya. “Kamu yakin nggak salah alamat?”

“Sepertinya nggak.”

Areksa kembali mencocokkan nomor rumah dengan alamat yang diberikan.

Keduanya memang berasal dari keluarga Dirgantara, salah satu keluarga konglomerat yang namanya sudah cukup dikenal. Karena itu, kondisi tempat tersebut tentu terasa sangat berbeda dengan lingkungan tempat mereka biasa tinggal.

Namun Areksa tidak terlalu memedulikannya. Ia hanya ingin menemukan Adira.

Mereka turun dari mobil dan berjalan menyusuri gang sambil mencari nomor rumah yang tertera.

“Sebelah sini, Pa.”

Areksa berhenti di depan sebuah rumah sederhana.

Ia memeriksa nomor rumah sekali lagi. “Ini.”

Bayu mengangguk.

Areksa kemudian mengetuk pintu.

Tok! Tok! Tok!

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk sekali lagi.

“Permisi.”

Tetap tidak ada jawaban.

Areksa menunggu beberapa saat.

Hingga akhirnya, dari rumah sebelah, seorang wanita paruh baya keluar dan menghampiri mereka.

“Nyari siapa, Pak?”

Areksa menoleh. “Saya mencari perempuan bernama Adira. Apa benar dia tinggal di sini?”

Wanita itu mengerutkan kening, lalu seolah baru memahami siapa yang dimaksud. “Oh... si janda itu?”

Areksa terdiam. “Janda?”

“Iya. Adira yang anaknya baru meninggal itu?”

Bayu dan Areksa saling berpandangan. Keduanya sama-sama tidak tau harus menjawab apa.

Areksa bahkan baru mendengar hal tersebut. “Maaf, Bu. Kami...”

Belum sempat Areksa menyelesaikan ucapannya, wanita itu kembali berbicara dengan wajah cemas.

“Kalau kalian kenal sama Adira, cepat tolongin dia!”

Areksa langsung menegang. “Memangnya ada apa dengan Adira?”

“Dia dibawa orang-orangnya Pak Germo.”

“Apa?”

“Katanya mau dijadikan istri ke empatnya."

Wajah Areksa seketika berubah.

Bayu juga tampak terkejut. “Maksud Ibu, Adira dibawa secara paksa?”

Wanita itu mengangguk cepat. “Iya. Kasihan sekali dia.”

“Sekarang dia di mana, Bu?”

Wanita itu menunjuk ke arah ujung gang. “Rumahnya ada di sana. Lurus saja, nanti belok kiri.”

Areksa mengikuti arah yang ditunjukkan. “Rumah yang mana?”

“Nah, nanti kalian akan lihat rumah yang paling besar di sana.”

Wanita itu kembali memperingatkan mereka. “Buruan, Pak. Kalau terlambat, saya takut terjadi apa-apa sama Neng Adira.”

Areksa tidak menunggu lebih lama. “Terima kasih, Bu.”

Ia langsung berbalik dan berjalan cepat.

Bayu menyusul di belakangnya.

Namun sebelum masuk ke dalam mobil, Areksa berhenti sejenak.

Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.

Siapa sebenarnya Adira?

Mengapa seorang wanita yang begitu dipercaya Aruna ternyata hidup dalam kondisi seperti ini?

Dan siapa Pak Germo yang disebut oleh wanita tadi?

Yang paling membuat Areksa gelisah adalah satu hal.

Aruna meminta dirinya mencari Adira. Namun saat akhirnya menemukan alamat wanita itu, Adira justru sedang berada dalam bahaya.

“Pa, kita harus cepat.”

Bayu mengangguk. “Ayo.”

Keduanya segera menuju tempat yang ditunjukkan warga tersebut.

Tanpa mereka sadari, pertemuan pertama dengan Adira akan membawa mereka pada sebuah kenyataan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan.

***

Di sebuah rumah besar yang berdiri di ujung gang, suasana terasa begitu mencekam.

Adira duduk di salah satu kursi dengan wajah pucat. Kedua tangannya mengepal erat di atas pangkuan.

Beberapa orang anak buah Tuan Germo berdiri mengelilinginya, membuat wanita itu tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.

Di hadapannya, seorang pria paruh baya tertawa lebar. “Hahaha!”

Ia berjalan mendekati Adira. “Ayolah, Adira. Jangan sok jual mahal.”

Adira menggeleng dengan mata berkaca-kaca. “Saya mohon, Tuan. Tolong lepaskan saya.”

“Enak saja.” Tuan Germo terkekeh. “Kalau kamu jadi istri saya, hidupmu akan berubah. Kamu akan punya banyak uang, pakaian bagus, rumah besar. Kamu juga pasti akan terlihat semakin cantik.”

“Saya tidak mau!”

“Kenapa?”

“Saya tidak mencintai Tuan.”

Senyum Tuan Germo seketika menghilang. “Cinta?”

Ia tertawa sinis. “Jangan banyak memilih. Suami kamu sendiri yang sudah menjual kamu kepada saya.”

Adira menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Itu hutang mantan suami saya, Pak. Bukan hutang saya.”

“Tapi kamu adalah istrinya.”

“Mantan istri,” koreksi Adira dengan suara bergetar.

Tuan Germo mendengus. “Bagi saya sama saja. Dia meminjam saat kalian masih terikat pernikahan."

Ia kemudian menoleh kepada salah seorang anak buahnya. “Panggil penghulu.”

Adira langsung membelalak. “Tidak!”

“Segera.”

“Tuan, saya mohon. Jangan lakukan ini!”

“Kalau perlu, malam ini juga kita menikah.”

Adira mulai menangis. “Tolong...”

Namun tidak ada yang peduli.

Salah seorang anak buah Tuan Germo bahkan sudah beranjak pergi untuk melaksanakan perintah tersebut.

Hingga tiba-tiba—

“Hentikan!” Suara keras terdengar dari arah pintu.

Semua orang langsung menoleh.

Areksa berdiri di sana bersama Bayu. Wajah Areksa terlihat dingin. Tatapannya langsung tertuju kepada Adira yang berada di tengah ruangan.

Adira menatap pria asing tersebut. Entah mengapa, di tengah keadaan yang membuatnya sudah hampir kehilangan harapan, kehadiran Areksa terasa seperti cahaya yang tiba-tiba muncul di ujung kegelapan.

“Siapa lo?” bentak Tuan Germo.

Areksa melangkah masuk. “Tolong lepaskan wanita itu.”

Tuan Germo dan beberapa anak buahnya justru tertawa.

“Lepaskan?” Ia terkekeh. “Hahaha! Enak saja!”

Tuan Germo menunjuk Adira. “Dia akan menjadi istri keempat saya.”

Areksa mendecih. “Dasar tua bangka tidak tau diri.”

Senyum Tuan Germo menghilang. “Heh!”

Ia maju beberapa langkah. “Asal lo tau, mantan suami wanita ini sudah menjual istrinya kepada saya karena dia nggak mampu membayar utangnya.”

Areksa menatapnya tajam. “Berapa?”

Tuan Germo mengerutkan kening. “Apa?”

“Berapa jumlah utangnya?”

"1 Milyar termasuk bunganya."

Areksa bahkan tidak terlihat terkejut.

Ia hanya mengangguk kecil. “Baiklah.”

Tatapannya kembali tertuju kepada Tuan Germo.

“Saya yang akan membayar hutangnya.”

Deg!

1
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!