Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Irlandia
“Irlandia? Aku belum pernah ke Irlandia,” ucap Alethea. “Aku baru ke Swiss dan Jerman.”
Jennifer mengangguk. “Justru karena itu aku punya rencana, Thea. Ngomong-ngomong kamu punya air minum?”
Alethea berdiri dan berjalan ke dapur lalu membuka kulkasnya. Dia mengambil dua botol air mineral dingin dan kembali jalan ke sofa. Alethea memberikan satu botol air mineral ke Jennifer. Bossnya itu langsung menenggaknya hingga separuh.
“Lalu … kamu akan pergi kesana Jen?” tanya Alethea.
“Bukan aku. Tapi kamu.” Jennifer menatap serius ke Alethea.
Wanita itu melongo. “Jennifer!”
“Tenang. Aku sudah urus semuanya termasuk visa ke Irlandia. Kamu nanti akan ke kota … tunggu kota Cedliff. Aku dan Nina sudah melihat kotanya via google,” ucap Jennifer mengacuhkan wajah panik Alethea.
“Jenny ….”
“Eh, bukan kota tapi desa dan tempatnya agak terpencil,” ralat Jennifer.
“Desa?” beo Alethea.
“Ih aku kebayang desa modelan gambar novel-novel fantasi yang pemandangannya indah,” gumam Jennifer yang tampak membayangkan buku dongeng waktu kecil.
“Jen, kenapa bukan kamu saja yang kesana?”
Jennifer menatap datar ke Alethea. “Yang dilukis wajah siapa?”
“Aku.”
“Jadi?”
Alethea menghela napas panjang. “Aku yang harus kesana.”
“Nah, itu!” senyum Jennifer.
Alethea tersenyum sumbang. “Kapan aku harus berangkat?”
“Minggu depan!”
Alethea melongo. “Minggu depan?”
***
Alethea termenung di dalam kamarnya usai Jennifer pulang. Dia meraih foto pernikahan dirinya dengan Toshiro. Alethea mengelus foto itu.
“Apakah aku harus pergi Toshiro? Aku penasaran sebenarnya,” tanya Alethea.
Entah kenapa, Alethea merasa Toshiro seperti mendorong dirinya untuk pergi. Wanita itu tersenyum.
“Baiklah sayang … aku pergi,” senyum Alethea.
Dia kembali tidur sambil memeluk pigura foto dirinya dan Toshiro. Alethea merasa bahwa dirinya sudah waktunya selesai masa berkabungnya.
“Tidak ada salahnya liburan,” gumamnya sebelum terlelap.
***
Tokyo, Jepang
“Mau liburan?”
Satoru Shinoda menoleh ke arah ibunya, Alaska Al Jordan Shinoda. Pria yang dominan darah Jepang dibandingkan darah bule ibunya itu tersenyum.
“Iya. Aku ingin refreshing, Mom. Lima bulan promosi karyaku kemana-mana, cukup membuat energiku habis,” jawab Satoru.
Alaska mengelus rambut putranya. “Jadi, kamu mau kemana?”
Satoru yang duduk di pinggir tempat tidur sambil melipat pakaian dalamnya, tampak berpikir. “Belum tahu.”
Alaska terbahak. “Pokoknya pergi refreshing ya, Toru?”
Satoru tersenyum sambil mengangguk. “Bukankah lebih seru spontanitas? Visa aku masih banyak buat ke negara-negara di Eropa. Bisa jadi aku kesana atau ke timur tengah.”
Alaska duduk di samping Satoru. “Pesan Mommy, jangan aneh-aneh ya dan jaga diri. Oke?”
Satoru mencium pipi Alaska. “Selalu, Mommy sayang. Aku kan tidak pernah neko-neko, tidak pernah ikutan para sepupuku kalau gegeran ….”
Alaska memajukan bibirnya. “Ampun deh orang-orang panasan itu!”
“Mom, justru dari sana mereka merasa tersalurkan jiwa panasannya.” Satoru tersenyum ke Alaska. “Yang penting, kita semua akur, tidak rebutan kekuasaan dan hal-hal negatif lainnya.”
“Iya sih. Hanya saja, Mommy khawatir kalau berpengaruh ke karier dan bisnis mereka. Bahkan jabatan mereka! Ya ampun … mereka itu penguasa beberapa negara lho!” keluh Alaska.
“Mom, sabar. Mereka tidak masalah tapi yah … kadang-kadang mereka terlalu … menikmati,” kekeh Satoru.
“Bersenang-senanglah Toru. Kamu sudah bekerja keras hampir setengah tahun ini,” ucap Alaska.
Satoru meletakkan pakaiannya di dalam koper dan memeluk ibunya. “Thanks Mom.”
***
Dublin Irlandia
Satoru terbang ke Irlandia untuk menikmati liburan singkat. Setelah mendarat, dia langsung memesan mobil sewaan menuju desa Cedliff, tempat yang pernah membuatnya jatuh hati.
Satoru sedang mengisi formulir sewa mobil ketika melihat sosok wanita yang sedikit membuatnya penasaran. Meskipun hanya punggungnya, tapi entah mengapa jantung Satoru berdesir.
Pria itu mencari-cari wanita itu tapi dia tidak menemukannya di antara banyak orang yang datang ke Dublin. Wajahnya tampak gusar.
“Are you okay, Mate?” tanya petugas penyewaan mobil.
“Oh. I'm fine.” Satoru tersenyum.
“Ini kunci mobilnya dan selamat berlibur di Irlandia,” ucap petugas itu dengan wajah ramah.
“Thank you.” Satoru pun berjalan ke area parkir dimana mobil yang disewanya berada.
Tak lama Alethea datang ke tempat penyewaan mobil. Petugas yang berada di sana, menyapanya ramah.
“Hai. Apa yang bisa aku bantu?” tanya pria itu.
“Aku mau sewa mobil tidak terlalu besar,” jawab Alethea.
“Anda mau kemana?”
“Cedliff. Apakah jauh dari Dublin?” Alethea menatap pria itu.
“Sekitar tiga setengah jam,” jawab pria itu. “Tenang, dengan GPS keluaran terbaru, Anda bisa lancar jalannya dan tidak tersesat.”
“Ah terima kasih,” senyum Alethea.
“Americans?” Petugas itu memeriksa paspor Alethea.
“Benar.”
“Mau berapa lama Anda di Irlandia?” tanya petugas itu lagi.
“Visa berliburku ada satu bulan tapi aku sekitar dua Minggu disini,” jawab Alethea.
“Semoga liburan Anda menyenangkan,” kekeh pria itu. “Tolong isi formulir ini.”
Sementara itu, Satoru menemukan mobilnya, sebuah Land Rover keluaran tahun lalu. Dia memang membutuhkan mobil besar untuk peralatan melukisnya. Meskipun dia memilih membeli di Dublin. Tak lama Satoru pergi keluar parkiran penyewaan mobil di airport.
Sepuluh menit Satoru pergi, Alethea ke area parkir mobil yang disewanya dan dia menemukan mobilnya. Setelah memasukkan tas-tasnya, Alethea masuk ke dalam mobil dan keluar dari parkiran.
***
Cedliff Irlandia
Begitu tiba, Satoru tersenyum melihat jalan-jalan kecil, rumah batu, bukit hijau, dan udara sejuk khas pedesaan Irlandia.
“Ah… masih sama,” gumamnya puas.
Dia kemudian berjalan santai menyusuri desa sambil membawa secangkir kopi hangat. Tidak ada jadwal padat, tidak ada urusan pekerjaan, hanya dirinya, pemandangan indah, dan suasana tenang Clifden yang selalu berhasil membuat pikirannya rileks.
Satoru bahkan sudah bertekad, kali ini dia akan tinggal lebih lama. Dia ingin liburan yang cukup lama hingga membuatnya mendapatkan ide-ide baru untuk karyanya ke depannya.
“Kira-kira akan ada petualangan apa ya kali ini?” gumam Satoru dengan penuh semangat 45.
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia