NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Sahabat Pertama

Selesai interogasi panjang di pos senior yang membosankan, Gavin berjalan menuju area parkir belakang yang sepi. Matahari siang itu terasa membakar kulit, membuat aspal tempat parkir memancarkan gelombang panas yang semu. Gavin hanya ingin segera sampai ke motor Astrea Grand-nya, menyalakan sebatang rokok, dan kembali ke kosan untuk tidur siang.

Namun, langkah kakinya terhenti ketika indra pendengarannya menangkap suara bentakan kasar dari balik deretan pohon angsana di pojok parkiran.

Gavin melirik tipis. Di sana, seorang mahasiswa bertubuh kurus dengan kacamata tebal dan kemeja putih yang terlalu besar sedang dikerubungi oleh dua pria berjaket kulit sintetis hitam. Dari penampilannya, kedua pria itu jelas bukan mahasiswa, melainkan penampang calo liar atau preman terminal yang biasa berkeliaran di sekitar kampus mencari mangsa empuk.

"Jangan banyak alasan lu! Semua anak baru yang parkir di area sini harus bayar uang keamanan kos dan parkir tahunan. Lima ratus ribu sekarang, atau tas lu gua tahan!" bentak salah satu preman yang bertubuh gempal dengan tato naga murahan di lengannya.

Mahasiswa berkacamata itu—Rian—gemetar ketakutan. Kedua tangannya memeluk erat dompet lipat tipisnya di depan dada. "T-tapi Bang, saya kos di tempat Bu Broto, bukan di area sini. Duit saya cuma tinggal segini buat makan sebulan..."

Preman kedua yang bertubuh kurus tinggi langsung menjambret tas ransel Rian hingga talinya hampir putus. Rian terdorong ke belakang, jatuh terduduk di atas pembatas jalan semen dengan mata berkaca-kaca.

Gavin menghela napas pendek. Sikap slengeannya tidak berubah, namun tatapan matanya mengeras. Ia berjalan mendekat tanpa suara, lalu dengan sengaja menendang standar tengah motor bebek tua miliknya yang terparkir di dekat sana hingga menimbulkan suara dentingan besi yang sangat keras dan bergema.

KRETEK! BLANG!

Dua preman itu langsung berbalik, menatap Gavin dengan pandangan terganggu.

"Heh, bocah! Ngapain lu liat-liat? Mau cari penyakit?" gertak si preman gempal.

Gavin berjalan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jins robeknya. Ia berhenti tepat di samping Rian yang masih terduduk lemas. Gavin melirik Rian sekilas, lalu beralih menatap kedua preman itu sambil tersenyum miring.

"Bang, kalau mau cari komisi atau uang keamanan, kerja di dealer atau bank resmi. Jangan malakin anak perantauan yang kacamata aja masih minjem duit emaknya," ucap Gavin enteng, nadanya terdengar sangat meremehkan.

"Kurang ajar nih anak baru!"

Preman kurus tinggi langsung maju, melepaskan tas Rian, dan melayangkan pukulan mentah menggunakan tangan kanannya lurus ke arah wajah Gavin. Pukulan itu cepat, tapi di mata Gavin yang sudah terlatih menghadapi petarung jalanan Jakarta, gerakan itu lambat dan penuh celah.

Gavin tidak mundur. Dengan refleks yang sangat presisi, ia memiringkan kepalanya setipis rambut ke kiri, membiarkan tinju preman itu lewat di samping telinganya. Bersamaan dengan itu, tangan kanan Gavin bergerak kilat menangkap pergelangan tangan si preman, menariknya ke depan untuk merusak keseimbangan lawan, sementara kaki kirinya menyapu bagian belakang lutut pria itu.

BRAKK!

Hanya dalam satu gerakan mengalir yang efisien, preman kurus tinggi itu terbanting keras ke aspal, mengerang kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang terkunci oleh cengkeraman Gavin. Itu adalah teknik kuncian sendi praktis—tidak estetik seperti di film-film karate, tapi sangat mematikan di jalanan.

Preman gempal yang melihat temannya dilumpuhkan dalam hitungan detik langsung tertegun. Nyalinya menciut saat melihat mata Gavin. Mata slengean cowok itu telah hilang, berganti dengan tatapan dingin dan tajam seorang predator yang siap menerkam.

"Mau lanjut, Bang? Atau mau saya bantuin patahin tangan temen Abang dulu?" bisik Gavin pelan, namun penuh penekanan.

Preman gempal itu menelan ludah. Ia buru-buru menarik temannya yang masih merangkak di aspal. "A-awas lu ya! Urusan kita belum selesai!" teriaknya sambil memapah temannya kabur meninggalkan area parkiran.

Gavin kembali memasang wajah santainya, melepaskan cengkeramannya, dan mengibaskan debu dari tangan. Ia mengulurkan tangan kanan ke arah Rian yang masih melongo dengan mulut terbuka lebar.

"Lu gak apa-apa, kacamata? Bangun, aspalnya panas. Nanti celana lu bolong kayak punya gue," kata Gavin sambil terkekeh.

Rian menerima uluran tangan Gavin dengan gemetar, lalu berdiri sambil membetulkan letak kacamata tebalnya yang melorot. "K-kamu... hebat banget. Makasih banyak ya. Namaku Rian, dari Teknik Informatika."

"Gavin. Teknik Kimia," sahut Gavin pendek sambil memungut tas Rian yang tergeletak lalu melemparkannya ke pemiliknya. "Lu bilang tadi kos di tempat Bu Broto?"

"Iya, baru pindah kemarin lusa," jawab Rian cepat.

Gavin langsung merangkul pundak Rian dengan akrab, menyeret cowok kurus itu berjalan menuju motor Astrea-nya. "Lah, searah dong! Kebetulan gue laper. Sebagai upah gue udah menyelamatkan dompet tipis lu, tunjukin tempat makan yang paling murah dan enak di dekat kosan. Gimana?"

Rian mengangguk penuh semangat. Sejak siang itu, di bawah terik matahari parkiran kampus, Rian bersumpah di dalam hati akan menjadi pengikut dan sahabat setia Gavin. Pria ugal-ugalan yang baru saja menyelamatkannya dari preman dengan teknik bela diri yang menakutkan, tanpa pernah tahu bahwa tangan yang baru saja membanting preman itu adalah tangan yang sama yang ditakdirkan memegang kendali atas aset triliunan rupiah di negeri ini.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!