Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 — Memilih Pergi
Kinara mengepalkan surat cerai hingga kusut. Dadanya terasa sesak. Tetapi di tengah rasa sakit itu, sebuah pertanyaan perlahan muncul di benaknya.
Jika Rashid sudah lama menjalin hubungan dengan Marissa. Lalu sejak kapan semua itu dimulai? Dan apakah selama ini ada orang yang mengetahui pengkhianatan itu, sementara hanya dirinya yang hidup dalam kebohongan?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, menjadi awal dari kenyataan yang jauh lebih pahit daripada yang mampu dibayangkan Kinara.
“Betapa bodohnya aku selama ini,” gumam Kinara tersenyum pahit. Ia menatap Rashid dengan nanar, lalu berganti menatap Marissa dengan marah. Ingin sekali rasanya ia mencabik wajah wanita itu, namun Kinara cukup tahu diri untuk tidak mengotori tangannya.
“Tanda tangani surat itu, Ra. Sebagai kompensasinya, aku akan memberimu harta gono-gini yang cukup,” kata Rashid dengan percaya diri sambil menyodorkan sebuah pulpen kepada Kinara.
Kinara menggeleng, tanpa pikir panjang ia meraih pulpen itu dan membubuhkan tandatangannya di atas kertas. Dengan menandatangani surat perceraian itu, maka Kinara sepenuhnya akan kehilangan Rashid.
“Aku tidak membutuhkan uang recehanmu itu, simpan saja untuk membiayai persalinan wanita ini,” jawabnya dengan tajam sambil menyerahkan dokumen itu dan melemparkan pulpennya secara asal.
“Jangan seperti itu, Mbak. Aku tahu Mbak pasti kecewa, tapi jangan menolak uang pemberian Mas Rashid.” Marissa bersuara, setengah memohon.
Namun dari nada suaranya, Kinara tahu wanita itu tengah mengejeknya. Kinara tersenyum tipis, lalu menatap wajah Marissa lekat-lekat. “Aku penasaran, apa yang istimewa dari Rashid hingga kau begitu mudahnya menyerahkan tubuhmu pada laki-laki yang bahkan kau tahu sudah memiliki istri? Apakah kau tidak bisa menemukan laki-laki lain?”
Marissa menahan kesal, namun ia memilih menahan diri di hadapan Rashid. Ia tidak boleh membuat Rashid iba pada Kinara.
“Mas Rashid … aku takut. Sepertinya Mbak Kinara tidak menyukaiku,” bisiknya sambil bersembunyi di belakang Rashid.
“Sudah cukup. Hentikan ini, Kinara, kau membuatnya takut.” Rashid menyela sambil memasang badan untuk Marissa. Ia takut Kinara akan menjambak atau menampar wanita itu.
Kinara tak menjawab, ia memilih berjalan ke arah kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya.
“Aku akan tetap memberimu harta gono-gini, Ra. Gunakanlah uang itu untuk memulai kehidupan baru!” Rashid setengah berteriak, menghentikan langkah Kinara yang sudah menaiki anak tangga kelima.
Kinara berhenti lalu menoleh. “Kau ingin memberiku uang seolah-olah semua yang kau miliki sekarang adalah milikmu. Ingatlah, Rashid, kau mendapatkan semua ini karena aku. Saat aku pergi dari rumah ini, maka kau juga akan kehilangan semuanya.”
Tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Ia berbalik dan menaiki tangga dengan langkah cepat. Setiap pijakan yang ia ambil terasa begitu berat, tetapi ia memaksa dirinya untuk terus bergerak. Ia tidak ingin menangis di hadapan mereka, apalagi memberikan kepuasan kepada Marissa untuk melihat betapa hancurnya dirinya setelah diceraikan.
Begitu memasuki kamar, Kinara langsung membuka lemari dan mengambil pakaian sebanyak yang mampu ia bawa. Tangannya bergerak tergesa-gesa memasukkan pakaian ke dalam koper. Beberapa helai bahkan hanya dilipat seadanya karena malam itu Kinara tidak lagi peduli pada kerapian.
Tidak ada waktu untuk berpikir ataupun alasan baginya untuk tetap tinggal.
Setiap sudut kamar itu menyimpan terlalu banyak kenangan. Tempat ia pernah tertawa bersama Rashid, tempat ia menunggu suaminya pulang hingga tertidur, hingga tempat mereka dahulu membicarakan rumah impian, anak-anak, dan masa depan yang mereka yakini akan dijalani bersama. Namun kini, semuanya hanya basa-basi yang pernah mereka bicarakan.
Kinara mengusap wajahnya kasar ketika air mata kembali menggenang. "Berhenti menangis," gumamnya pada diri sendiri. "Jangan menangis untuk laki-laki sepertinya, Kinara."
Setelah memastikan beberapa barang penting telah masuk ke dalam koper, Kinara menutupnya dengan gerakan kasar. Namun ketika hendak meninggalkan kamar, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah bingkai foto di atas nakas.
Selama beberapa detik, Kinara terdiam. Dalam foto itu, dirinya tersenyum bahagia dengan tangan menggenggam tangan Rashid. Mereka terlihat begitu yakin bahwa tidak akan ada apa pun yang mampu memisahkan mereka. Kinara masih ingat bagaimana dulu ia percaya bahwa keputusan meninggalkan keluarganya demi pria itu adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Perlahan, Kinara mengambil bingkai tersebut. Ia menatap foto itu cukup lama, seolah sedang berusaha menemukan sosok Rashid yang pernah dikenalnya di balik wajah pria yang baru saja menceraikannya. Namun yang ia temukan hanyalah kenangan.
Kinara akhirnya membanting keras foto itu ke lantai hingga bingkainya hancur berantakan lalu menginjak-injaknya dengan keras demi melampiaskan kekecewaannya pada Rashid. “Foto ini harus hancur seperti hancurnya hubungan kita.”
Kemudian, ia menarik koper dan keluar dari kamar. Saat Kinara menuruni tangga, Rashid masih berdiri di ruang tamu bersama Marissa. Tatapan mereka bertemu. Mata Rashid langsung tertuju pada koper yang dibawa Kinara.
"Ra, ayo kita bicarakan dulu semuanya."
Langkah Kinara terhenti. Ia menoleh perlahan. "Apa lagi yang ingin kau katakan? Kau ingin aku tinggal di sini bersama wanita jalang ini?”
Rashid mengerutkan kening. Kinara menatapnya dengan wajah yang jauh lebih tenang daripada beberapa menit sebelumnya. Ada kesedihan yang begitu dalam di matanya, tetapi tidak ada lagi keinginan untuk memohon.
"Dan mulai malam ini, jangan panggil aku dengan panggilan yang dulu kau gunakan ketika kita masih menjadi suami istri."
Rashid terdiam sementara Kinara kembali berjalan menuju pintu. Namun sebelum membukanya, ia berhenti dan menoleh untuk terakhir kalinya. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, dari sofa yang pernah mereka beli bersama, meja makan tempat mereka biasa sarapan, hingga rak kecil tempat ia menyimpan foto-foto pernikahan mereka.
Rumah sederhana itu pernah menjadi tempat yang paling ia cintai. Ia tidak pernah merasa malu tinggal di sana, bahkan ketika orang-orang mengingatkannya bahwa dirinya sebenarnya bisa mendapatkan kehidupan yang jauh lebih mewah. Bagi Kinara, rumah itu istimewa karena ia membangunnya bersama orang yang dicintai. Namun malam ini, tempat tersebut bukan lagi rumahnya.
"Satu hal lagi."
"Apa?" Rashid menengadah, menatap wanita yang kini menjadi mantan istrinya itu.
Kinara tersenyum tipis. "Jaga baik-baik rumah ini."
Rashid menatapnya bingung.
"Karena setelah aku pergi, kau mungkin baru sadar bahwa betapa banyak hal di dalam rumah ini yang sebenarnya tidak pernah kau beli dengan kemampuanmu sendiri."
Wajah Rashid langsung berubah. "Kinara—"
Namun Kinara sudah membuka pintu. Ia menarik kopernya keluar dan melangkah meninggalkan rumah tersebut. Tidak ada pelukan terakhir, tidak ada permintaan agar Rashid berubah pikiran, dan tidak ada tangisan memohon supaya pernikahan mereka dipertahankan. Kinara hanya berjalan pergi dengan kepala tegak, meskipun hatinya terasa seperti telah dihancurkan berkeping-keping.