NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Sore itu, pukul tiga lebih lima menit, langit di atas SMAN 1 berubah warna menjadi abu-abu gelap yang pekat. 

Suara gemuruh pelan—Grummm—bergulir dari arah utara. 

Regina berdiri di bawah naungan atap selasar depan gerbang sekolah, memegang kedua tali ranselnya erat-erat. 

Di sekelilingnya, puluhan siswa berdesak-desakan menanti jemputan atau sekadar menunggu gerimis yang mulai menumpahkan titik-titik air pertama ke tanah.

​Tuk. Tuk. Tuk.

​Tetesan air hujan menghantam lantai semen di depan ujung sepatu hitam Regina. 

Ia tidak bergeser sedikit pun, meskipun beberapa siswa di sampingnya mulai mundur menghindari cipratan.

​"Regina!"

​Shinta berlari kecil mendekatinya sambil merapatkan jaket parasut merah mudanya.

​"Mama kamu belum sampai ya, Gin?" tanya Shinta, nafasnya sedikit tersengal.

​"Belum. Katanya terjebak macet di daerah Cihampelas," sahut Regina tanpa menoleh. 

Matanya menatap deretan mobil yang merayap lambat di jalan raya depan sekolah.

​"Aku duluan ya! Itu papaku sudah membunyikan klakson dari tadi," kata Shinta sambil menunjuk sebuah mobil MPV hitam yang berhenti melintang di pinggir jalan.

​"Hati-hati," ujar Regina pendek.

Shinta melambaikan tangan lalu menerobos hujan ringan. 

Regina menarik napas dalam-dalam. 

​Brummm!

​Suara derum mesin motor yang keras memotong deru hujan. 

Sebuah motor sport hitam—dengan bodi samping yang tergores kasar—berhenti hanya setengah meter di depan selasar tempat Regina berdiri. 

Air genangan di tepi jalan terpercik sedikit, tetapi berhenti tepat sebelum menyentuh sol sepatu Regina.

Pengendara motor itu mengenakan jaket jins belel yang bagian pinggirannya basah kuyup. 

Ia mematikan mesin, memutar kunci, lalu melepas helmnya dengan gerakan santai. 

Rambut hitamnya yang agak panjang dan sedikit berantakan tampak lepek menempel di dahi.

​Itu laki-laki yang sama dengan yang hampir menabrak mobil ibunya tadi pagi. 

Laki-laki yang juga melempar kaleng minuman ke arah Andreas di tangga siang tadi.

​Laki-laki itu menepi ke bawah selasar, mengibaskan air dari bahu jaket jinsnya. 

Ffsssh. 

Ia menoleh ke kanan, tempat Regina berdiri membatu.

Laki-laki itu berkedip dua kali, menatap seragam Regina dari atas ke bawah, lalu menatap matanya. 

Ia tidak tersenyum. Tatapannya datar, sedikit lelah.

​"Belum pulang?" tanyanya. Suaranya sedikit serak, nyaris tenggelam oleh suara hujan yang makin deras menimpa atap seng selasar.

​Thok. Thok. Thok.

​Regina tidak langsung menjawab. 

Ia memperhatikan titik-titik air yang menetes dari ujung rambut laki-laki itu ke kerah bajunya.

​"Menunggu jemputan," jawab Regina dingin.

​Laki-laki itu mengangguk pelan. 

Ia menyandarkan punggungnya ke tiang beton selasar, menyilangkan kedua kakinya yang terbungkus celana abu-abu basah.

​"Macet total di bawah," kata laki-laki itu sambil mengeluarkan sebuah dompet kulit kusam dari saku belakangnya, mengecek isinya sekejap, lalu memasukkannya kembali. 

"Mobil susah lewat."

"Saya tahu," balas Regina.

​"Kaca depan mobil ibumu tadi pagi tidak apa-apa?"

​Regina melirik laki-laki itu. "Tidak."

​"Baguslah," gumam laki-laki itu pendek. 

Ia meraih helm hitamnya yang ditaruh di atas stang motor, meraba bagian kaca bawahnya yang retak tipis. 

"Gua cuma malas kalau harus urusan sama polisi lalu lintas di hari pertama sekolah.”

Regina menarik napas pendek, lalu membuka ritsleting depan tasnya. 

Ia mengambil selembar tisu kering yang tersisa dari kantong plastik kecil, menyapu bercak air tipis yang menempel di tali tasnya, lalu meremas tisu itu hingga membentuk bola kecil di dalam genggaman tangannya.

​"Kamu anak IPS?" tanya Regina, suaranya tetap tanpa ritme naik-turun.

​Laki-laki itu menoleh lagi, alis kirinya terangkat sedikit. 

"Kelihatan banget, ya?"

​"Kamu kenal Andreas."

​"Satu kelas," jawabnya singkat. 

Ia lalu menyodorkan tangan kanannya yang sedikit basah ke arah Regina, tanpa mempedulikan tatapan heran dari beberapa siswa lain yang masih bertahan di selasar. 

"Gua Helga."

​Regina menatap telapak tangan itu selama dua detik penuh. 

Ia tidak membalas uluran tangan tersebut, melainkan hanya menganggukkan kepala sangat tipis.

​"Regina," ucapnya.

​Helga menahan tangannya di udara sejenak, lalu terkekeh pelan tanpa suara sebelum menarik tangannya kembali dan memasukkannya ke dalam saku jaket.

​"Kaku banget," gumam Helga pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Dari belokan jalan depan sekolah, lampu utama sebuah kendaraan berwarna abu-abu menembus tirai hujan. 

Honda HR-V milik Ratna merayap mendekati selasar, membunyikan klakson dua kali secara halus.

​Tin. Tin.

​Regina merapikan tali tasnya. 

Ia melangkah satu pijakan keluar dari bawah selasar, bersiap menerobos hujan tipis sejauh dua meter menuju pintu penumpang depan.

​"Regina," panggil Helga.

​Regina menghentikan langkahnya, menoleh setengah badan.

​Helga melepaskan helm hitamnya yang retak, lalu mengulurkannya ke depan. 

"Pakai ini. Hujan di luar makin deras."

​Regina menatap helm itu, lalu menatap Helga. 

"Jarak ke mobil cuma dua meter."

​"Rambutmu bakal basah," kata Helga datar. 

"Ibumu pasti ngomel kalau jok mobilnya kena air."

"Tidak perlu," jawab Regina tegas. 

Ia berbalik dan langsung melangkah cepat menembus hujan, membuka pintu mobil ibunya, lalu masuk ke dalam kabin yang hangat.

​Bleb.

​Pintu mobil tertutup rapat. Ratna langsung menoleh dari kursi kemudi. 

"Aduh, Regina, bajumu agak basah kan? Itu siapa cowok di selasar yang ngobrol sama kamu tadi?"

​Regina menarik sabuk pengaman, menguncinya dengan suara klik yang keras.

​"Bukan siapa-siapa, Ma. Cuma teman seangkatan," jawab Regina datar. 

Matanya menatap lurus ke kaca depan. 

​Ratna menginjak pedal gas, memutar setir untuk kembali ke jalan raya.

Di dalam mobil yang mulai bergerak lambat, Regina memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat ke arah spion samping.

​Melalui pantulan kaca spion yang tertutup titik-titik air hujan, ia melihat Helga masih berdiri di tempat yang sama di bawah selasar. Namun, laki-laki itu tidak sedang memegang helmnya sendiri. 

Di atas jok motor sport hitamnya yang basah, tergeletak sebuah tempat pensil kain berwarna biru tua milik Regina yang biasanya terselip di kantong samping ranselnya—tertinggal di atas tempat duduk semen saat ia berdiri tadi.

​Helga memungut tempat pensil itu, memutarnya di dalam genggaman tangannya yang basah, lalu memasukkannya ke dalam saku dalam jaket jeans belelnya sebelum mengenakan helmnya kembali.

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!