Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UTANG AYAH DIBAYAR PAKAI ANAK
"Kunci semua akses kamera ke server luar. Sekarang."
Suara Adrian menggema di ruang keamanan, jauh berbeda dari nada dinginnya yang biasa terdengar santai di meja makan. Alena berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana pria yang katanya lumpuh itu justru mengambil alih seluruh situasi dengan ketenangan seorang komandan, bukan korban.
"Sudah, Tuan Muda. Orang yang tertangkap sudah kami serahkan ke pihak berwenang, tapi dia menolak bicara lebih jauh soal siapa yang menyuruhnya."
"Cari tahu ke mana file itu terkirim. Jangan sampai bocor ke media sebelum kita tahu apa isinya."
Alena mengamati dari kejauhan, dadanya masih berdebar memikirkan satu kata yang tadi terlontar—Om W. Ia tahu betul siapa yang dimaksud, walau tidak ada yang berani mengucapkannya lantang.
Setelah semua staf keluar ruangan, tinggal mereka berdua. Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi roda, tampak lelah untuk pertama kalinya sejak Alena mengenalnya.
"Kamu nggak kaget?" tanya Adrian tiba-tiba.
"Kaget kenapa?"
"Aku baru saja memerintah semua orang seperti bos besar, bukan pewaris lumpuh yang biasanya cuma duduk manis dengar laporan."
Alena menyilangkan tangan, menatapnya lurus. "Aku udah curiga dari malam pertama aku di sini, Adrian. Jadi enggak, aku nggak kaget. Cuma nunggu kamu jujur aja."
Adrian menatapnya lama, seolah menimbang apakah harus membuka sedikit lebih banyak atau tetap menutup rapat semuanya seperti biasa.
"Belum saatnya," katanya akhirnya, pelan. "Tapi terima kasih. Karena nggak lari, atau teriak-teriak ke semua orang soal ini."
"Aku bukan tipe yang suka bikin masalah orang lain jadi konsumsi publik," jawab Alena. "Lagipula... kalau aku buka mulut, otomatis aku juga kena getahnya, kan? Aku juga bagian dari skandal ini sekarang."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Adrian sedikit terangkat—bukan senyum penuh, tapi cukup untuk membuat jantung Alena berdegup aneh sesaat.
Sore harinya, saat Alena baru saja duduk di taman belakang mencoba menenangkan pikiran, ponselnya bergetar. Nomor ayahnya lagi.
"Na, Pak Halim udah nagih lagi. Dia kasih waktu sampai akhir minggu."
"Yah, aku baru dua hari resmi jadi bagian keluarga ini. Aku belum bisa langsung minta uang segitu."
"Kamu kan istrinya Adrian sekarang. Masa nggak bisa minta bantuan sedikit aja?"
Kalimat itu menohok telak. Alena memejamkan mata, menahan diri agar tidak membentak balik.
"Yah, ini bukan soal bisa atau enggak. Ini soal pantas atau enggak. Aku baru menikah karena terpaksa, bukan karena mereka utang budi ke kita."
"Kalau kamu nggak mau bantu, gimana nasib Ayah, Na? Gimana nasib adikmu yang lagi butuh biaya kuliah?"
Suara di ujung telepon itu bergetar, entah karena benar-benar putus asa atau karena tahu persis cara membuat Alena merasa bersalah. Alena tidak pernah bisa membedakan keduanya, dan itu yang paling menyakitkan.
"Aku... coba pikirkan, Yah. Tapi jangan telepon aku tiap hari soal ini. Aku juga lagi berusaha bertahan di sini."
Setelah telepon ditutup, Alena duduk diam, menatap kolam kecil di taman yang airnya bergerak pelan tertiup angin sore. Ia merasa seperti berdiri di antara dua dunia—satu dunia lama yang terus menariknya turun dengan tuntutan, dan satu dunia baru yang penuh rahasia yang belum sepenuhnya ia pahami.
"Kamu kelihatan sedih."
Alena menoleh, kaget mendapati Adrian sudah berada beberapa meter darinya, didorong oleh salah satu perawatnya yang kemudian pamit undur diri atas isyarat kecil dari Adrian.
"Nggak apa-apa," jawab Alena cepat, mencoba tersenyum meski gagal total.
"Kamu jelek banget kalau bohong," ujar Adrian datar.
Alena tertawa kecil, meski matanya masih basah. "Wah, makasih banget pujiannya."
"Aku serius. Wajahmu langsung kelihatan kayak mau nangis tapi dipaksa senyum. Nggak natural."
"Kamu ini nyindir atau ngajak berantem, sih?"
"Dua-duanya, mungkin." Untuk pertama kalinya, Adrian benar-benar tersenyum, meski kecil. "Cerita aja. Aku nggak akan nyebar ke mana-mana. Toh, siapa juga yang mau dengar curhatan dari suami yang katanya lumpuh."
Kalimat itu, meski dibungkus candaan, membuat Alena tergerak untuk sedikit membuka diri. "Ayahku... minta bantuan lagi. Katanya masih ada utang yang harus dibayar minggu ini."
"Berapa?"
"Dua ratus juta."
Adrian terdiam sejenak, matanya menerawang seolah sedang menghitung sesuatu di kepalanya. "Kenapa nggak bilang dari awal?"
"Karena ini bukan bagian dari kesepakatan kita, Adrian. Aku nggak mau kelihatan kayak lagi manfaatin pernikahan ini buat kepentingan pribadi."
"Justru itu yang bikin aku respek sama kamu." Adrian menatapnya lurus. "Kebanyakan orang di posisimu bakal langsung minta bantuan tanpa mikir dua kali."
"Aku bukan kebanyakan orang."
"Aku tahu," jawabnya pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Malam itu, saat makan malam bersama keluarga besar, suasana mendadak berubah tegang ketika Wirawan muncul tanpa pemberitahuan, membawa map berisi dokumen yang langsung ia letakkan di meja.
"Maaf mengganggu makan malam kalian," katanya dengan senyum khasnya yang terlalu ramah, "tapi ada laporan keuangan yang harus segera ditandatangani Adrian. Soal pengalihan sebagian saham anak perusahaan."
"Kenapa harus malam ini, Om?" tanya Adrian, matanya menatap tajam ke arah map itu.
"Karena investor menekan kita untuk segera menyelesaikannya. Kamu tahu sendiri, kondisi kesehatanmu yang belakangan jadi bahan gosip bikin mereka jadi ragu, Adrian. Kalau kita lambat sedikit saja, mereka bisa menarik semua investasi."
Alena memperhatikan bagaimana Wirawan berbicara—terlalu lancar, terlalu siap dengan alasan, seolah semua ini sudah direncanakan jauh sebelum ia datang malam itu.
"Aku akan baca dulu isinya sebelum tanda tangan," kata Adrian tegas.
"Tentu saja," jawab Wirawan cepat, "tapi jangan terlalu lama. Waktu kita sempit."
Setelah Wirawan pergi, Ratna menatap suaminya dengan raut wajah cemas. "Wisnu, kamu yakin dokumen itu aman?"
Wisnu, yang sejak awal makan malam lebih banyak diam, akhirnya angkat bicara. "Wirawan memang selalu punya cara membuat semuanya terdengar mendesak. Tapi aku percaya adikku sendiri."
Kalimat itu membuat Adrian dan Alena bertukar pandang sekilas—keduanya sama-sama tahu, kepercayaan buta seperti itulah yang justru bisa jadi celah paling berbahaya.
"Ayah," Adrian akhirnya buka suara, nada hormat tapi tegas, "boleh aku tanya sesuatu? Sejak kapan Om Wirawan mulai sering bawa dokumen mendadak begini? Setahuku dulu semua keputusan besar selalu lewat rapat dewan dulu, baru sampai ke meja kita."
Wisnu terdiam sejenak, seperti baru menyadari pola yang selama ini luput dari perhatiannya. "Sejak... kecelakaanmu, sebenarnya. Dia bilang supaya prosesnya lebih cepat, biar perusahaan nggak kehilangan momentum di tengah masa pemulihanmu."
"Dan Ayah percaya begitu saja?"
"Dia adikku, Adrian." Suara Wisnu meninggi sedikit, defensif. "Kamu pikir aku nggak pernah curiga? Tapi aku juga nggak punya bukti apa pun untuk menuduhnya macam-macam."
Ratna meletakkan sendoknya, mencoba meredakan suasana yang mulai memanas. "Sudah, sudah. Kita bahas ini nanti saja, jangan di depan makan malam. Alena baru dua hari di sini, jangan bikin dia canggung."
Alena hanya tersenyum kecil, meski di dalam hati ia justru merasa berterima kasih karena percakapan barusan—setidaknya sekarang ia tahu, kecurigaannya terhadap Wirawan bukan sekadar perasaan berlebihan seorang menantu baru yang belum kenal siapa-siapa.
Setelah makan malam berakhir, Adrian memanggil Alena ke ruang kerjanya, kali ini dengan pintu terbuka lebar, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak lagi menyembunyikan apa pun darinya—setidaknya untuk malam itu.
"Soal utang ayahmu tadi," katanya, menyerahkan sebuah amplop cokelat, "ini dua ratus juta. Anggap saja pinjaman pribadi dariku, bukan dari keluarga Mahardika. Nggak perlu masuk laporan mana pun."
Alena menatap amplop itu, campur aduk antara lega dan bingung. "Kenapa kamu mau bantu? Ini bukan bagian dari kontrak kita."
"Karena aku nggak suka lihat orang dipaksa milih antara harga diri atau keluarganya sendiri," jawab Adrian, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Aku pernah ada di posisi itu."
"Maksudnya?"
Wajah Adrian sedikit berubah, seolah baru sadar sudah mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak keluar begitu saja. "Bukan apa-apa. Ambil saja uangnya."
Alena menerima amplop itu dengan tangan gemetar, bukan karena jumlahnya, tapi karena menyadari betapa cepat pandangannya terhadap pria ini mulai berubah—dari sekadar suami kontrak menjadi seseorang yang perlahan ia mulai pedulikan sungguhan.
"Terima kasih, Adrian. Aku janji akan kembalikan ini."
"Nggak perlu."
"Aku serius. Aku nggak mau utang budi ke kamu jadi alasan lain buat aku ngerasa nggak bebas di rumah ini."
Adrian menatapnya lama, sudut bibirnya sedikit terangkat—ekspresi yang mulai Alena kenali sebagai caranya menahan diri agar tidak terlihat terlalu terkesan. "Keras kepala, ya."
"Belajar dari yang terbaik," balas Alena, melirik jenaka ke arah pria di depannya.
Untuk sesaat, tawa kecil lolos dari bibir Adrian—suara yang terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri, seolah sudah lama sekali ia tidak benar-benar tertawa tanpa beban di baliknya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Alena melanjutkan, memberanikan diri. "Kenapa kamu segitu keras nutupin soal kamu bisa berdiri? Maksudku, kalau memang buat mancing Om Wirawan, kenapa nggak langsung aja buka semuanya ke ayahmu sendiri?"
Senyum di wajah Adrian perlahan menghilang. "Karena Ayah nggak akan percaya tanpa bukti yang benar-benar kuat. Dan kalau aku buka semuanya sekarang, sementara buktiku belum cukup, aku cuma akan kelihatan seperti anak yang paranoid, iri sama pamannya sendiri."
"Jadi kamu nunggu waktu yang tepat."
"Aku nunggu bukti yang cukup buat bikin dia nggak punya celah buat kabur," jawab Adrian, suaranya kembali dingin dan penuh perhitungan seperti biasanya. "Kalau aku gerak sekarang, terus dia lolos, dia cuma akan lebih hati-hati lain kali. Aku cuma dapat satu kesempatan buat ini, Alena. Nggak boleh gagal."
Alena mengangguk pelan, mulai memahami betapa berat beban yang dipikul pria di depannya selama dua tahun terakhir—sendirian, tanpa siapa pun yang benar-benar tahu kebenarannya, termasuk keluarganya sendiri.
"Kalau begitu," katanya pelan, "kamu nggak perlu nanggung semuanya sendirian terus. Aku mungkin nggak bisa bantu banyak soal bisnis atau hukum. Tapi kalau kamu butuh orang buat diajak bicara, aku ada."
Adrian menatapnya lama, terlalu lama hingga Alena mulai merasa canggung sendiri. "Kenapa kamu baik banget sama aku? Kita bahkan baru kenal beberapa hari."
"Karena kupikir," jawab Alena jujur, "kamu orang pertama di sini yang nganggap aku bukan cuma solusi keuangan buat keluargaku. Jadi anggap aja ini balasannya."
Ketika Alena hendak keluar dari ruang kerja itu, ponsel Adrian yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar, layarnya menyala terang menampilkan nama penelepon yang membuat langkah Alena terhenti seketika di ambang pintu.
Dhea Anastasya.
Adrian melihat nama itu, wajahnya seketika berubah tegang, tangannya buru-buru meraih ponsel dan mematikan panggilan tanpa menjawabnya.
"Siapa itu?" tanya Alena, mencoba terdengar biasa saja meski ada sesuatu yang aneh berdenyut di dadanya—rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya terhadap pria yang secara teknis baru dua hari menjadi suaminya.
Adrian menatapnya sekilas, lalu memalingkan wajah ke arah jendela.
"Bukan siapa-siapa," jawabnya cepat, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan.
"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa kamu langsung matiin telepon secepat itu?" Alena mencoba menahan nada suaranya tetap datar, meski dadanya sendiri diam-diam bergejolak aneh, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelum ini—cemburu, mungkin, meski ia buru-buru menepis pikiran itu jauh-jauh. Mereka bahkan bukan pasangan sungguhan.
"Alena." Suara Adrian melembut, tapi matanya tetap menghindar. "Ada beberapa hal dari masa laluku yang belum siap aku ceritain. Bukan cuma ke kamu. Ke siapa pun."
"Oke," jawab Alena pelan, mencoba terdengar mengerti, meski dalam hati ia bertanya-tanya kenapa satu nama sederhana bisa membuat pria sekuat Adrian tiba-tiba terlihat serapuh itu.
Tapi cara Adrian menghindari tatapannya justru membuat satu hal semakin jelas—nama itu bukan sekadar "bukan siapa-siapa", dan Alena tahu, cepat atau lambat, ia harus tahu siapa Dhea Anastasya sebenarnya, dan apa hubungannya dengan masa lalu Adrian yang selama ini tertutup rapat.