NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Rumah yang Kembali Menjadi Rumah

Matahari mulai terbit perlahan, menyebarkan cahaya keemasan di atas aspal jalan yang masih basah oleh embun pagi. Mobil Arga melaju pelan, membelah jalanan yang masih sepi. Di kursi belakang, Ibu Arga duduk di sampingku, tangannya yang keriput namun tetap lembut menggenggam tanganku erat, seakan takut aku akan menghilang di balik kabut pagi.

Arga menyetir dengan tenang, tapi aku bisa melihat jari-jarinya yang mencengkeram setir sedikit terlalu kuat — tanda ia masih menahan getaran di dadanya. Sesekali ia melirikku lewat kaca spion, dan setiap kali mata kami bertemu, sudut bibirnya terangkat sedikit, senyum yang lega namun belum sepenuhnya tenang.

"Kita hampir sampai," ucapnya pelan, suaranya terdengar lembut di keheningan kabin mobil.

Ibu Arga menghela napas panjang, matanya menatap keluar jendela, melihat deretan pohon dan bangunan yang mulai dikenalnya. "Sudah... begitu lama," bisiknya, suaranya penuh kerinduan yang menyakitkan. "Aku pikir aku takkan pernah melihat gerbang rumah itu lagi."

Mobil berbelok masuk ke gerbang besar rumah keluarga Pratama — rumah yang dulu terasa dingin dan megah, bagaikan istana tanpa jiwa. Kini, di bawah sinar matahari pagi, halamannya yang luas tampak segar. Rumput hijau tertata rapi, bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan setapak. Tapi yang membuat dadaku sesak bukan pemandangan itu — melainkan rasa hangat yang perlahan menyelimuti hati. Ini bukan sekadar rumah lagi. Ini rumah kami.

Arga mematikan mesin, lalu turun dan membukakan pintu untuk ibunya terlebih dahulu. "Ibu," panggilnya lembut, mengulurkan tangan.

Ibu Arga turun perlahan, kakinya sedikit gemetar — entah karena lama tak berjalan bebas, atau karena terharu. Ia berdiri mematung di depan pintu utama, menatap pintu kayu besar itu dengan mata berkaca-kaca. Tangan kanannya terangkat perlahan, menyentuh permukaan pintu seakan memastikan ia tidak sedang bermimpi.

"Aku pulang..." bisiknya, air mata mulai menetes di pipinya yang pucat.

Arga melangkah mendekat, memeluk ibunya dari samping. "Ya, Bu. Ibu pulang. Dan tidak ada yang akan memisahkan kita lagi." Ia menoleh padaku, mengulurkan tangan lainnya. "Freya, mari masuk."

Kami bertiga melangkah masuk bersama-sama. Suasana di dalam rumah terasa berbeda — lebih terang, lebih hidup. Pelayan yang menyambut kami tampak terkejut sekaligus bahagia melihat Ibu Arga kembali. Semua orang tersenyum, menyambut sang Nyonya rumah dengan tulus.

Sarapan pagi itu adalah momen yang takkan pernah kulupakan. Meja makan panjang yang biasanya hanya berisi dua piring — milikku dan Arga — kini penuh. Ibu Arga duduk di ujung meja, tempat yang dulu kosong dan sunyi. Cahaya matahari masuk lewat jendela besar, jatuh tepat di wajahnya, membuat wajahnya tampak bercahaya.

"Freya," panggil Ibu Arga pelan, sambil menuangkan teh hangat ke gelasku. "Terima kasih. Jika bukan karena kau, Arga mungkin takkan pernah berani melangkah sejauh itu. Dan aku... mungkin sudah lama menyerah pada harapan."

Aku menggeleng cepat, merasakan pipiku memanas. "Bukan aku, Bu. Itu semua karena cinta Arga pada Ibu. Aku hanya mendampinginya."

"Tapi kau ada di sana saat ia paling butuh," potong Arga lembut, tangannya mencari tanganku di bawah meja, menggenggamnya erat. "Tanpamu, aku takkan sanggup melaluinya sendirian. Kau adalah kekuatanku, Freya."

Jantungku berdebu kencang. Kata-katanya begitu sederhana, namun terasa begitu dalam, menembus hingga ke dasar jiwaku. Di dunia asliku, aku tak pernah merasakan kehangatan seperti ini — keluarga, cinta, rasa dimiliki dan diterima sepenuhnya. Dan kini, di dunia yang awalnya hanya sebuah cerita bagiku, aku menemukan segalanya.

Setelah sarapan, aku berdiri di balkon lantai dua, memandang ke arah taman belakang yang luas. Angin pagi berhembus lembut, menerbangkan helai rambutku. Pikiranku melayang — tentang Surya, tentang ancaman yang ia ucapkan sebelum dibawa pergi polisi. "Dunia ini takkan pernah benar-benar damai untuk kalian." Kata-kata itu terus bergaung di telingaku, seperti bisikan yang tak ingin hilang.

"Memikirkan sesuatu?"

Arga muncul di sampingku, menyandarkan bahunya ke bahuku. Ia melingkarkan lengannya di pinggangku, menarikku lebih dekat ke arahnya.

"Tentang apa yang dikatakan Surya," jawabku jujur, menatap matanya. "Kau pikir... masih ada bahaya lain?"

Arga terdiam sejenak, menatap ke arah taman yang mulai disinari matahari terang. "Aku tak tahu," akunya pelan. "Surya punya banyak koneksi, dan kebenciannya pada keluarga Pratama sudah berakar lama. Tapi apa pun yang terjadi, Freya — aku takkan membiarkan siapa pun menyakiti kau atau Ibu. Kali ini, aku siap sepenuhnya."

Ia memutar tubuhku hingga kami berhadapan. Kedua tangannya menyentuh pipiku, menatapku dalam-dalam, seakan ingin menghafal setiap inci wajahku.

"Dan satu hal lagi," tambahnya, suaranya berubah lebih lembut namun tegas. "Aku akan mencari cara — apa pun caranya — agar kau bisa tetap di sini. Bersamaku. Selamanya."

Dadaku terasa sesak oleh rasa haru. Aku menangkup tanganku di atas tangannya yang ada di pipiku. "Arga... kau tahu aku bukan dari dunia ini. Suatu hari... mungkin aku harus kembali."

"Takkan kubiarkan itu terjadi," potongnya cepat, matanya menyala penuh keyakinan. "Kau bukan sekadar karakter dalam cerita bagiku, Freya. Kau nyata. Kau ada. Dan kau milikku. Kita akan mencari jalan keluar. Bersama-sama. Seperti yang selalu kita lakukan."

Ia menunduk, mencium keningku dengan lembut, penuh janji yang tak terucap. Di pelukannya, di rumah ini, di samping orang-orang yang kucintai — untuk pertama kalinya sejak aku terjatuh ke dunia ini, aku berani berharap. Berani membayangkan masa depan yang panjang, penuh cahaya, di sampingnya.

Hari itu berakhir dengan damai. Malamnya, Ibu Arga bercerita banyak hal — tentang masa lalu, tentang ayah Arga, tentang hari-hari yang bahagia sebelum semuanya hancur. Kami tertawa bersama, makan malam bersama, seperti keluarga yang sudah utuh sejak lama.

Namun, saat aku berbaring di samping Arga nanti malam, mataku sulit terpejam. Sesuatu di dalam diriku berbisik pelan — damai ini terlalu indah, terlalu sempurna. Dan di dunia yang penuh takdir berputar seperti ini, keindahan sering kali hanya pembuka bagi badai yang lebih besar.

Tapi saat Arga memelukku lebih erat dalam tidurnya, aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Apa pun yang datang esok hari, aku takkan menghadapinya sendirian. Kami berdua — dan kini, dengan Ibu Arga juga.

 

Mau lanjut ke Bab 22 sekarang? 📖✨

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!