NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Jabat Tangan

"Pohon ini juga kembali."

Kian tidak menjawab.

Daun ketapang bergerak pelan di atas kepalanya. Bau tanah basah masih tajam. Di ujung sepatu Kevin, lumpur mengering tipis, bukti bahwa laki-laki itu tidak hanya memberi perintah dari ruang kerja.

Kian memandangi batang pohon itu, lalu suara mesin mobil yang tadi mengantarnya pulang kembali terngiang di kepalanya.

Satu jam sebelumnya, di depan gerbang JEIS, Kian hampir tidak mengenali Bentley hitam yang berhenti di jalur penjemputan.

Biasanya Pak Liu yang datang.

Hari itu, kaca mobil turun, dan Kevin duduk di balik kemudi.

Beberapa siswa langsung menoleh. Ada yang berbisik karena mengenali wajah Kevin dari berita bisnis. Kian membuka pintu penumpang dengan wajah datar, lalu masuk tanpa menyapa.

Mobil bergerak keluar dari area sekolah.

Lima menit pertama, tidak ada yang bicara.

Kian menatap keluar jendela. Seragam JEIS-nya masih rapi, tetapi dasinya sudah longgar. Di pangkuannya, ponsel bergetar beberapa kali karena pesan Felix, tetapi ia tidak membukanya.

"Ning tidur," kata Kevin akhirnya.

Kian tetap menatap jendela. "Aku tahu. Ci Yenni kirim foto."

"Dokter sudah memberi hasil evaluasi."

Kian menoleh sedikit.

"Kakinya?"

"Kaki membaik sesuai perkiraan. Tapi psikiater mendiagnosis gangguan kecemasan tingkat sedang."

Wajah Kian berubah. "Karena gudang?"

"Sebagian."

"Sebagian lagi?"

Kevin menahan setir lebih kuat. "Karena kita."

Kian diam.

Kevin tidak melihatnya, matanya tetap ke jalan. "Ning takut kalau dia tidak ada, hubungan kita kembali hancur. Dia merasa harus menjaga kita berdua tetap utuh."

"Itu bukan salah Mama."

"Aku tahu."

"Jadi jangan bikin dia merasa begitu."

"Itu yang sedang aku coba."

Kian tertawa pendek, kering. "Dengan menjemput aku?"

"Dengan mulai dari hal yang bisa kulakukan hari ini."

Mobil berhenti di lampu merah. Kevin akhirnya menoleh.

"Aku bisa menghasilkan uang. Aku bisa mengatur perusahaan. Aku bisa memastikan kamu tidak kekurangan apa pun." Suaranya rendah. "Tapi selama enam belas tahun, aku memakai uang untuk mengganti semua hal yang tidak bisa kuberikan."

Kian tidak berkata apa-apa.

"Kamu ingin sekolah terbaik, aku beri. Kamu butuh supir, aku beri. Kamu berkelahi, aku bayar kerusakan. Kamu kabur kelas, aku kirim orang mencari, tapi aku tidak datang sendiri."

Lampu berubah hijau. Kevin menjalankan mobil lagi.

"Aku pikir itu cukup."

"Itu memang cukup untuk orang lain," kata Kian pelan.

Kevin mengangguk. "Tapi bukan untukmu."

Lama sekali hanya suara jalan yang mengisi mobil.

Kian menatap tangannya sendiri.

"Menurut Pak Kevin, apa yang paling aku butuhkan?"

Kevin menarik napas.

"Seseorang yang datang sendiri saat kamu dipanggil sekolah. Seseorang yang marah ketika kamu berkelahi, bukan karena reputasi, tapi karena tanganmu bisa terluka. Seseorang yang panik saat kamu demam. Seseorang yang ingat membeli cake kesukaanmu di hari ulang tahun, bukan hanya mentransfer uang ke rekening."

Kian menelan ludah.

"Waktu kelas delapan, aku pernah sengaja bikin masalah di lab," kata Kian tiba-tiba. "Aku pikir kalau kerusakannya mahal, Pak Kevin bakal datang."

Kevin menatap jalan, tetapi matanya berubah.

"Aku tahu."

"Pak Kevin kirim orang finance."

"Aku sedang rapat komisaris."

"Aku tahu." Kian tertawa pendek. "Aku juga tahu biaya alatnya dibayar hari itu juga. Semua guru bilang aku beruntung punya keluarga mampu. Padahal yang aku mau cuma dimarahin langsung."

Kevin tidak bisa membela diri.

"Dan cake ulang tahun," lanjut Kian. "Setiap tahun ada. Mahal. Cantik. Tapi rasanya sering beda. Aku pernah suka cokelat hazelnut satu kali, besoknya rumah beli semua varian dari toko itu. Tapi tahun berikutnya tetap salah."

"Aku menyerahkan ke staf."

"Iya. Itu masalahnya."

"Seseorang yang bisa duduk di sampingmu saat kamu menonton video Ning, meski sama-sama tidak tahu harus bicara apa."

Jari Kian mencengkeram tali tas.

"Terlambat banget sadarnya."

"Iya."

Jawaban itu terlalu cepat. Tidak membela diri. Tidak mencari alasan.

Kian justru kehilangan kalimat berikutnya.

Kevin melanjutkan, "Aku bukan mesin ATM. Tapi selama ini aku membuat diriku sendiri seperti itu, karena menjadi mesin lebih mudah daripada menjadi orang yang bisa gagal di depan anaknya."

Mobil memasuki gerbang Menteng Enclave.

Security menunduk. Kevin membalas dengan anggukan singkat, lalu menghentikan mobil sebelum garasi, tepat di depan halaman.

Saat itulah Kian melihat pohon ketapang.

Sekarang, berdiri di hadapannya, semua percakapan di mobil seperti menyatu dengan daun yang bergerak di atas kepala.

"Dulu aku pikir Pak Kevin sengaja buang pohon ini," kata Kian akhirnya.

"Aku memindahkannya."

"Sama saja."

"Tidak sama. Tapi sakitnya mungkin sama."

Kian menoleh.

Kevin berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya tenang, tetapi tidak lagi dingin seperti dulu. Lebih lelah. Lebih manusia.

"Aku minta maaf."

Kian menatap pohon lagi. "Mama tahu pohon ini balik?"

"Belum. Aku ingin kamu lihat dulu."

"Kenapa?"

"Karena ini pohonmu."

Kalimat itu membuat mata Kian panas.

Ia berjalan mendekat dan meletakkan telapak tangan di batang ketapang. Kulit batangnya kasar, lembap, nyata. Pohon itu lebih kecil dari ingatannya, tetapi tetap hidup.

"Aku marah waktu itu," katanya.

"Aku tahu."

"Aku bilang Pak Kevin bahkan gak bisa biarin pohon Mama tinggal."

"Aku ingat."

"Aku sebenarnya mau bilang..." Kian berhenti. Tenggorokannya naik turun. "Kalau pohon aja dipindah, berarti semua yang Mama tinggalkan bisa dipindah. Bisa hilang."

Kevin tidak bergerak.

Kian menekan telapak tangannya lebih kuat ke batang pohon. "Aku benci rumah ini waktu itu."

"Aku juga."

Kian menoleh tajam.

Kevin menatap halaman yang selama bertahun-tahun ia pertahankan seperti museum. "Rumah ini terlalu penuh dengan Ning, tapi tidak ada Ning. Aku tidak tahu harus hidup di dalamnya atau menjaganya agar tidak berubah. Jadi aku membuat keputusan bodoh."

Angin lewat.

Daun ketapang bergesek pelan.

Kevin mengulurkan tangan.

Kian melihat tangan itu.

"Jabat tangan," kata Kevin. "Bukan karena semuanya sudah selesai. Karena kita mulai lagi. Untuk Ning. Dan untuk kita."

Kian menatap tangan itu selama tiga detik.

Lalu ia mengulurkan tangannya.

Genggaman itu singkat.

Keras.

Tidak hangat seperti pelukan, tidak lembut seperti maaf yang sempurna. Tetapi untuk dua orang yang selama bertahun-tahun bicara lewat pintu tertutup dan supir pribadi, genggaman itu sudah seperti jembatan pertama.

Kevin tidak menahan terlalu lama.

Ia melepas saat Kian mulai menarik tangan.

Kian kembali menghadap pohon. Telapak tangannya menyentuh batang ketapang lagi. Ia berdiri di sana sangat lama.

Kevin tidak mendesaknya.

Beberapa menit kemudian, Kian menoleh. Mulutnya terbuka sedikit.

Ada satu kata yang hampir sampai.

Namun ia menutupnya lagi.

"Aku mau ke rumah sakit," katanya.

Kevin melihat cahaya basah di sudut mata Kian.

Ia mengangguk.

"Aku antar."

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!