NovelToon NovelToon
Mekanik Sang Ustadz

Mekanik Sang Ustadz

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di bawah lampu jalan

​Malam itu, langit seolah menyimpan napasnya, membiarkan gerimis tipis membasahi aspal yang lelah. Farhan baru saja memutar kunci bengkelnya, melepas aroma oli yang melekat di jemari dengan napas lega. Namun, ketenangan itu terusik saat ia melintas di sebuah trotoar yang remang, disinari lampu jalan yang berpendar kuning pucat seperti kunang-kunang yang sekarat.

​Di sana, ia melihat seorang gadis berjalan sempoyongan. Langkahnya tak tentu arah, bagai daun kering yang dipermainkan angin badai, nyaris jatuh mencium aspal yang dingin. Napasnya terdengar berat, memburu di antara isak tangis yang tertahan, menciptakan melodi kesedihan yang asing di tengah sunyinya malam. Refleks, Farhan menghentikan mobilnya. Ia segera turun, bergegas menghampiri dengan kekhawatiran yang memilin hati. Saat ia semakin dekat, jantungnya seakan berhenti berdetak, tertahan oleh kejutan yang getir.

​Itu adalah wajah yang sama dengan gadis yang ia temui di ruang tamu tempo hari. Wajah Alya. Namun, pemandangan ini jauh dari kata sholehah yang selama ini ia bayangkan. Gadis itu tidak mengenakan kerudung, mahkota kepalanya yang pirang tergerai berantakan, menutupi sebagian wajah yang sembab. Aroma alkohol yang menyengat tertiup angin, menyengat penciuman Farhan dan menampar realitasnya dengan kasar. Dunia seakan berputar di depan mata Farhan; kehormatan dan keanggunan yang ia bayangkan selama ini luruh seketika, menyisakan sesosok jiwa yang tampak begitu tersesat.

​"Alika?" panggil Farhan ragu, suaranya parau tertelan gemuruh mesin kendaraan yang lewat.

​Alika mendongak, matanya yang sayu kehilangan pendar kebahagiaan. Begitu melihat sosok yang ia kenal melalui layar ponsel beberapa hari terakhir—sosok yang seringkali membicarakan kebaikan dan masa depan melalui pesan singkat—tangisnya pecah seketika. Tanpa aba-aba, ia menubruk Farhan, memeluknya dengan erat seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang sedang bergejolak hebat.

​Tubuh Farhan membeku seperti batu karang yang dihantam ombak. Seumur hidupnya, ia adalah pria yang menjaga batasan dengan ketat; ia belum pernah bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya. Ia selalu menundukkan pandangan, menjaga jarak sejauh mungkin dari fitnah, menghormati kesucian diri dengan sepenuh jiwa. Namun sekarang, ia bisa merasakan isak tangis Alika yang mengguncang dadanya, dan kulit lengan gadis itu yang sedingin es menyentuh permukaan kemejanya. Ada konflik batin yang hebat antara nurani yang ingin menolong dan prinsip yang menuntutnya untuk melepaskan diri. Namun, kelembutan hatinya menang; ia tidak bisa membiarkan gadis sekecil ini hancur sendirian di bawah lampu jalan yang temaram.

​"Bawa aku pergi... Ayah nggak mau lihat aku lagi..." racau Alika, suaranya putus-putus sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar terkubur dalam kegelapan dan ia pingsan di pelukan Farhan.

​Farhan berdiri mematung di pinggir jalan, membiarkan rintik hujan mulai membasahi bahunya. Pikirannya kalut bagai benang kusut yang tak berujung. Ia baru saja melihat aurat gadis yang bukan istrinya secara langsung, bahkan menyentuhnya dalam kondisi yang sangat rapuh. Baginya, ini bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan sebuah pertarungan moral yang menyentuh relung jiwanya yang terdalam. Bagi orang lain, ini mungkin hanya sebuah kecelakaan biasa di malam hari, tapi bagi Farhan yang memegang teguh syariat, ini adalah beban moral yang sangat berat—sebuah ujian yang datang layaknya badai di tengah malam sunyi.

​Keesokan harinya, Farhan duduk di meja kerjanya dengan pandangan kosong. Suara riuh bengkel di luar sana terdengar sayup, seolah jarak antara dirinya dan dunia nyata semakin menjauh. Ia sudah mengantar Alika pulang secara diam-diam melalui pintu belakang atas bantuan Alya yang panik setengah mati malam itu. Namun, bayangan Alika yang rapuh, yang tampak begitu terluka oleh dunianya sendiri, terus menghantui kepalanya seperti kabut yang enggan beranjak.

​Ia teringat pesannya sendiri kepada Alika—pesan yang ia kirim dengan penuh kesadaran—bahwa ia tidak ingin bicara banyak dengan Alya karena takut belum halal. Sekarang, kenyataan justru menamparnya dengan ironi yang pedih. Ia justru sudah melampaui batas itu dengan Alika, gadis yang selama ini dianggap sebagai bayang-bayang dari kakaknya yang sempurna.

​Farhan mengambil ponselnya, jemarinya gemetar saat hendak menghubungi sang ayah. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

​"Ada apa, Farhan? Jadi kapan kita mau tentukan tanggal khitbah untuk Alya?" tanya Pak Ridwan di seberang telepon dengan nada suara yang penuh harapan.

​Farhan terdiam cukup lama. Ia menatap ke luar jendela, di mana pohon-pohon menunduk seolah turut bersimpati pada keputusan yang akan ia ambil. "Ayah... sepertinya saya tidak bisa melanjutkan rencana dengan Alya," jawabnya dengan suara rendah, nyaris berbisik.

​"Lho, kenapa? Kamu sudah setuju kemarin. Bukankah Alya adalah gadis yang kita impi-impikan untuk mendampingimu?"

​"Saya sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya saya lihat. Dan saya merasa bertanggung jawab atas itu," Farhan menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Bukan Alya yang ingin saya khitbah, Yah. Tapi adiknya, Alika."

​Di ujung telepon, Pak Ridwan terdiam cukup lama, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka. Farhan tahu keputusannya ini akan dianggap gila oleh semua orang. Memilih gadis yang sering disebut "bermasalah" daripada gadis yang dipuja bak bidadari oleh seluruh penduduk. Namun di kedalaman hatinya, Farhan menemukan sebuah kebenaran baru: Mungkin Alya adalah cermin kesempurnaan yang diinginkan dunia, tapi Alika adalah jiwa yang retak dan perlu untuk disembuhkan. Mungkin Alya sudah punya jalan yang terang, dikelilingi oleh cahaya yang menyokongnya. Tapi Alika... mungkin dia butuh seseorang untuk menuntunnya keluar dari rimba kegelapan, dan secara takdir, Farhan merasa ia sudah telanjur masuk ke dalam labirin dunia gadis itu. Kini, ia hanya bisa berserah, berharap langkahnya adalah bagian dari rencana Sang Pencipta yang lebih besar.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NN
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!