Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.
Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.
Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."
Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.
Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
"Tapi ini baru awal."
Malam itu, Arka tidak tidur di kost-kostan lagi.
Ia berdiri di kamar utama Villa WD8 Bukit Menteng, menatap koper murah yang tergeletak di lantai marmer. Semua barang lamanya bisa masuk ke satu koper itu: beberapa kaus, celana olahraga, laptop tua, charger, buku kuliah, dan ponsel retak yang sudah terlalu sering membuatnya malu saat diletakkan di meja kantin UNUSA.
Rumah sebesar ini tidak langsung terasa seperti miliknya.
Terlalu sunyi.
Terlalu bersih.
Terlalu jauh dari gang Depok yang setiap malam dipenuhi suara motor dan tawa mahasiswa.
Ponselnya bergetar.
Steven Wibisana mengirim pesan singkat.
Bos, stok makanan dan alat yang tadi diminta sudah sampai gerbang. Security bingung kenapa beli senter, pisau serbaguna, sarung tangan, tali, dan makanan kaleng sebanyak itu. Mau saya jelaskan untuk camping?
Arka membalas singkat.
Bilang untuk gudang darurat.
Beberapa detik kemudian, Steven menjawab.
Siap, Bos. Orang kaya memang kadang punya hobi aneh. Yang penting bayar tunai.
Arka hampir tersenyum.
Steven tidak perlu tahu bahwa gudang darurat itu berada di planet lain.
Ia turun ke lantai bawah. Petugas pengantar menunggu di garasi bersama beberapa kardus besar. Security villa berdiri di sampingnya, tampak ragu karena pemilik baru rumah mahal ini masih memakai kaus biasa dan sandal murah.
"Paket untuk Pak Arka?" tanya petugas itu.
"Iya. Taruh di garasi."
"Banyak sekali, Pak. Mau dibantu susun?"
"Tidak perlu."
Arka menandatangani tanda terima. Begitu petugas dan security keluar, pintu garasi tertutup. Satu demi satu kardus masuk ke ruang Dimensi. Makanan kaleng, air mineral, tali, sarung tangan, pisau pendek, powerbank, obat luka, semua tersusun rapi dalam ruang sebelas meter kubik.
Dulu, ia masuk Planet Biru dengan setengah botol air dan golok dapur tumpul.
Malam ini, ia masuk dengan persediaan yang cukup untuk membuat penyintas mana pun kehilangan kata-kata.
Pukul 21.30, Arka berbaring di kasur besar Villa WD8.
Matanya menatap langit-langit tinggi.
Di dunia ini, ia sudah punya 128 properti.
Di dunia sana, ia masih harus mengejar Kristal satu per satu.
Gelap turun.
Ketika membuka mata lagi, ia berada di ruang kantor kecil di Planet Biru. Tempat itu masih terkunci, debunya belum berubah, dan udara dingin segera menyentuh wajahnya. Arka tidak langsung keluar. Ia makan dua biskuit, minum air, lalu memeriksa pisau pendek yang ia bawa dari Villa WD8.
Lebih ringan dari golok dapur.
Lebih mudah dikendalikan.
Itu saja sudah cukup.
Arka tidak mencari pertarungan. Ia mencari hasil.
Selama beberapa jam berikutnya, ia bergerak di area yang sudah ia hafal dan mengambil Kristal dari zombi biasa dengan cara paling aman. Tidak gagah, tidak ramai, tapi efektif.
Tidak ada gerakan indah.
Tidak ada gaya pahlawan.
Hanya perhitungan kecil yang diulang sampai berhasil.
Satu Kristal.
Dua.
Lima.
Pada sore Planet Biru, Arka sudah mendapatkan sembilan Kristal tingkat satu dan satu Kristal yang sedikit lebih jernih dari zombi yang bergeraknya lebih cepat. Ia tidak terluka parah, hanya telapak tangan lecet dan napas yang berat.
Itu kemajuan.
Dua hari lalu, satu zombi membuatnya hampir kehilangan kendali.
Sekarang, ia mulai memahami pola dunia ini.
Arka kembali ke kantor kecil, mengunci pintu, lalu menutup celah dengan lemari. Ia tidak langsung menelan semua Kristal. Rasa sakit dari tiga Kristal sebelumnya masih ia ingat jelas. Tubuhnya bisa diperkuat, tapi kalau ia pingsan terlalu lama di tempat yang salah, uang sebanyak apa pun tidak akan menolong.
Ia menelan dua Kristal lebih dulu.
Panas menyebar dari dada ke seluruh tubuh. Arka duduk bersandar ke dinding, menggenggam kain handuk di antara gigi. Tubuhnya bergetar, tetapi kali ini ia tidak panik. Ia membiarkan energi itu bekerja.
Lemak di tubuhnya seperti dibakar perlahan.
Lemak itu tidak lenyap dalam satu napas. Kristal mengolahnya menjadi tenaga. Bahunya terasa lebih ringan. Napasnya lebih panjang. Jantungnya memukul lebih stabil.
Satu jam kemudian, ia menelan dua lagi.
Lalu dua lagi.
Setiap gelombang membuat tubuhnya sakit, tetapi sakit itu punya arah. Seperti besi yang dipanaskan dan ditempa ulang, bukan dihancurkan sembarangan.
Arka tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Ketika akhirnya membuka mata, keringat membasahi pakaiannya. Namun tubuhnya terasa berbeda.
Ia berdiri.
Gerakan itu terlalu mudah.
Biasanya, lututnya selalu protes setelah jongkok terlalu lama. Sekarang, ia berdiri dalam satu dorongan ringan. Jaketnya longgar di perut. Lengan bajunya tidak lagi menekan seketat kemarin.
Arka menatap telapak tangannya.
Ruang Dimensi masih sekitar sebelas meter kubik, tetapi batasnya terasa lebih jelas. Ia bisa menyusun barang di dalamnya tanpa harus berpikir terlalu keras. Botol air, makanan, obat, Kristal sisa, Gelang Giok Imperial, semua seperti berada di rak yang ia pahami dengan mata tertutup.
Ia belum mencapai tingkat tiga.
Tapi ia sudah mendekatinya.
Saat pergantian dua belas jam semakin dekat, Arka tidak memaksakan diri mencari Kristal lagi. Ia memilih kantor yang pintunya kuat, menyiapkan barikade sederhana, dan memastikan tubuhnya tidak terlihat dari koridor.
Ini aturan baru yang tidak boleh ia lupakan.
Kuat tetap harus tahu kapan berhenti.
Gelap menariknya pulang.
Arka membuka mata di Villa WD8.
Hal pertama yang ia rasakan adalah kasur itu seperti terlalu empuk. Hal kedua adalah pakaiannya longgar.
Ia duduk.
Kaus yang kemarin menempel di perut kini menggantung. Celana olahraganya turun sedikit dari pinggang. Arka menatap tubuhnya, diam beberapa detik, lalu berjalan cepat ke kamar mandi.
Lampu menyala.
Cermin besar di depan wastafel memantulkan seorang pria yang hampir ia kenal.
Hampir.
Pipi yang dulu terlalu penuh mulai menyusut. Garis rahang samar muncul di bawah kulit. Bahunya terlihat lebih lebar karena lemak di sekitar leher berkurang. Perutnya belum rata, tetapi tidak lagi menonjol seperti dulu.
Arka mengambil timbangan digital yang dibelinya bersama peralatan lain.
Angka muncul.
85,4 kg.
Ia menatap angka itu lama.
Dari nyaris seratus kilo menjadi delapan puluh lima kilo.
Sekitar lima belas kilo hilang dalam beberapa siklus.
Bagi orang biasa, itu tidak masuk akal. Bagi Arka, itu hanya bukti bahwa Kristal tidak sekadar memberi tenaga. Ia sedang membangun ulang tubuhnya, bagian demi bagian.
Ponselnya menyala di meja kamar mandi.
Ada pesan lama dari grup kampus yang belum ia buka. Seseorang mengirim foto Revano bersandar di Porsche 718 di depan gerbang UNUSA. Di bawahnya, beberapa komentar muncul.
Gila, keren banget.
Pantas Viona pilih dia.
Cowok kalau gak punya masa depan ya susah.
Arka membaca komentar itu tanpa ekspresi.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin membuat dadanya panas. Sekarang, ia berdiri di kamar mandi Villa WD8, dengan 128 properti atas namanya, ruang Dimensi di kepalanya, dan tubuh yang mulai berubah di depan cermin.
Ia menghapus notifikasi itu.
Belum waktunya menjawab.
Pagi itu, Steven datang membawa beberapa dokumen sisa. Begitu Arka membuka pintu, pria itu berhenti di ambang masuk.
"Bos?"
"Apa?"
Steven mengamati wajahnya, lalu perutnya yang tidak lagi menonjol seperti pertama kali bertemu. "Maaf, ini agak aneh. Bos kelihatan... beda. Lebih segar."
"Tidur cukup."
"Kalau tidur cukup bisa turun belasan kilo, saya mau beli kasurnya sekarang juga."
Arka mengambil map dari tangannya. "Dokumennya?"
Steven mengangkat kedua tangan, menyerah. "Oke, oke. Bisnis dulu. Tapi serius, Bos. Kalau besok kita lihat mobil, sales Rolls-Royce mungkin masih meremehkan pakaian Bos. Tapi kalau muka Bos berubah begini terus, sebentar lagi mereka yang akan berebut bukakan pintu."
Rolls-Royce.
Arka melihat pantulan dirinya di kaca dekat ruang tamu.
Belum tampan sempurna. Belum tubuh ideal. Namun pria di kaca itu sudah jauh dari sosok yang dulu Viona buang dengan mudah.
Ia mengencangkan genggaman pada map dokumen.
"Besok kita lihat mobil," katanya.
Steven langsung tersenyum lebar. "Akhirnya. Villa WD8 butuh pasangan yang pantas."
Arka tidak menjawab.
Di kaca, garis rahangnya terlihat semakin nyata ketika ia sedikit mengangkat dagu.
Pria di sana masih menyimpan luka lama.
Tapi ia tidak lagi terlihat seperti korban.