NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Menembus Halimun Getih

Matahari baru saja tenggelam, namun kegelapan yang datang kali ini terasa tidak wajar. Langit di atas Leuweung Larangan tampak kelabu pekat, dengan semburat warna merah yang perlahan mulai menggerogoti pinggiran bulan. Atmosfer mencekam langsung menyergap Cepot dan Dawala begitu mereka melangkah keluar dari pekarangan rumah Aki Sasmita.

"Kang, parunten... ini bulannya kok mirip jengkol balado ya? Beureum-beureum matak muringkar," bisik Dawala sambil merapatkan kain sarungnya. Lehernya yang panjang bergidik ngeri.

"Mikir teh kadaharan waé manéh mah! Cepot melotot, walau sebenarnya jantungnya juga berdegup kencang seperti tabuhan kendang pencak. "Ingat kata Aki, usap abu pamusnahna!"

Keduanya segera mengoleskan bubuk abu abu-hijau pemberian Aki Sasmita ke hidung dan leher. Bau menyengat abu itu seketika membuat mata mereka berair, namun rasa kantuk dan ketakutan mereka sedikit terangkat.

Tepat di kaki Bukit Tengkorak, langkah mereka terhenti. Di hadapan mereka, sebuah dinding kabut tebal berwarna kemerahan menggantung statis. Kabut itu bergulung-gulung lambat, mengeluarkan suara mendesis tipis dan aroma anyir yang menusuk sukma. Inilah Halimun Getih, pagar gaib milik Ki Burak.

"Waduh, Kang. Ieu mah kabutna siga kuah soto padang, kandel pisan!" Dawala ragu untuk melangkah.

"Ulah loba tatanya, tempo Golek Pancasona!" Perintah Cepot.

Ajaib, boneka kayu yang terikat di pinggang Cepot mendadak bergerak sendiri. Kepalanya patah-patah menoleh ke arah kanan, lalu sepasang mata kayunya memancarkan pendaran cahaya emas yang redup namun konsisten. Cahaya itu menembus pekatnya kabut merah, membuka sebuah jalan setapak kecil yang bersih dari asap beracun.

"Tah, bener ceuk Aki! Hayu tuturkeun, ulah jauh ti uing!" seru Cepot.

Mereka mulai mendaki. Langkah kaki mereka memecah kesunyian malam, menginjak ranting kering dan dedaunan busuk. Di kanan kiri jalan setapak yang dilindungi cahaya golek, kabut merah tampak bergolak marah, seolah-olah ada tangan-tangan tak terlihat yang mencoba menggapai dan menarik mereka masuk ke dalam kegelapan.

Tiba-tiba, telinga panjang Dawala menangkap suara aneh.Srek... srek... hihihi...

"Kang... dangu teu? Ada nu seuri, Kang..." Dawala mencengkeram pundak Cepot dari belakang, membuat Cepot hampir tersedak ludah sendiri.

"Kéjép, Dawala! Tong nyepengan waé, uing lain kabogoh manéh!" gertak Cepot, meski bulu kuduk di leher jidatnya sendiri sudah berdiri tegak.

Suara tawa melengking itu makin mendekat. Dari dalam kabut merah di depan mereka, muncul sebuah bayangan setinggi pohon pisang. Sosok itu melangkah keluar, menembus batas cahaya Golek Pancasona tanpa terluka.

Ia adalah seorang wanita dengan pakaian serba hitam yang robek-robek. Wajahnya pucat pasi, namun yang mengerikan adalah mulutnya yang robek hingga ke telinga, memperlihatkan deretan gigi taring yang hitam dan runcing. Matanya merah menyala, menatap lapar ke arah dua bersaudara tersebut.

"Hihihi... tumbal segar untuk Guru Burak... Golek Pancasona tidak akan bisa melindungi kalian dari amukan siluman!" desis wanita itu. Suaranya bergema, membuat pepohonan di sekitar mereka bergetar.

"Sia sabari?! Eh, maksud uing, manéh saha?!" Cepot memasang kuda-kuda, tangannya langsung memegang gagang Golek Pancasona di pinggangnya, siap siaga.

"Panggil aku... Nyi Ronggeng Getih! Murid pertama Ki Burak yang akan mencabut nyawa kalian!" Pekik wanita itu sambil melesat maju, kuku-kuku jarinya memanjang hitam bak belati, siap merobek dada Cepot!

Nyi Ronggeng Getih berdiri di atas batu besar. Selendang merahnya melambai-lambai ditiup angin malam yang dingin. Wajahnya cantik, tetapi matanya merah menyala tanpa putih mata. Bau anyir darah mendadak menyengat hidung."

Walah, Dawala! Itu ronggeng atau kuntilanak modifikasi? Serem amat, euy!" bisik Cepot. Tubuhnya gemetar, tetapi tangannya tetap memegang Golek Pancasona erat-erat.

"Jangan banyak tanya, Kang! Siapep... eh, siap-siap! Dia mulai nari!" seru Dawala panik.

Nyi Ronggeng Getih tertawa melengking. Suaranya membuat bulu kuduk berdiri. Dia mulai melesat maju sambil mengibaskan selendangnya. Gerakannya gemulai namun sangat cepat. Selendang kain itu mengeras seperti besi saat menebas pohon-pohon di sekitarnya hingga tumbang.

Cepet, Kang! Pakai abunya!" teriak Dawala sambil melompat menghindar.

Cepot langsung merogoh kantong ikat pinggangnya. Dia mengambil segenggam awu pamunah pemberian Aki Sasmita."

Aya-aya wae si taring maut! Nih, rasakan bedak anti kolesterol!" teriak Cepot. Dia melemparkan abu itu tepat ke arah selendang merah yang menerjangnya.

Blas!

Abu pamunah langsung bereaksi saat bersentuhan dengan sihir gelap Nyi Ronggeng. Selendang merah yang tadinya sekeras besi mendadak lemas. Kain itu langsung terbakar oleh api hijau gaib."

Aaaaaah! Kurang ajar! Berani kalian merusak selendang keramatku!" jerit Nyi Ronggeng Getih murka.

Wajah cantiknya langsung berubah keriput dan membusuk. Murid pertama Ki Burak itu melompat tinggi. Kuku-kukunya memanjang, siap merobek dada Cepot."

Dawala, bagian bawah! Tewak, Lala!" seru Cepot.

Dawala yang gesit langsung tiarap. Dia menjegal kaki Nyi Ronggeng menggunakan tongkat kayunya. Gubrak! Dukun wanita itu jatuh tersungkur ke tanah.

Cepot tidak menyia-nyiakan peluang emas ini. Dia mengangkat Golek Pancasona tinggi-tinggi ke udara."

Pancasona! Pancén tugasna! Tembak, bray!" teriak Cepot memberikan perintah.

Golek kayu itu merespons seketika. Mata golek memancarkan sinar emas yang sangat menyilaukan. Cahaya suci itu menghantam dada Nyi Ronggeng Getih yang baru saja hendak bangkit berdiri.

Blar!

Nyi Ronggeng Getih menjerit histeris saat tubuhnya tersapu cahaya emas. Perlahan, wujudnya hancur menjadi abu hitam yang terbang ditiup angin malam. Penjaga pertama lereng Bukit Tengkorak akhirnya berhasil dikalahkan."

Alhamdulillah, hancur juga itu setan joget," ujar Dawala sambil mengusap keringat di hidung panjangnya.

Jangan senang dulu, Lala. Perjalanan masih jauh. Gerhana merah di atas langit sudah mulai menutupi bulan," kata Cepot. Dia menunjuk ke langit malam yang kian mencekam.

Mereka berdua kembali melangkah mendaki jalan setapak yang semakin terjal. Mereka harus bersiap menghadapi dua murid Ki Burak lainnya yang masih bersembunyi di kegelapan.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!