Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Semakin Mencurigakan
Semakin hari, Desi semakin yakin kalau suaminya mempunyai wanita idaman lain. Tanda-tandanya semakin jelas. Membuat Desi berpikir apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan semua ini. Tapi, Desi belum menemukan solusi yang tepat. Desi tidak ingin bertindak gegabah.
Hari ini awal bulan, biasanya Ridwan menerima gaji setiap tanggal 5, sedangkan Desi tanggal 10 an.
'Semoga saja, mas Ridwan memberi lebih gajinya dari bulan-bulan kemarin.', gumam Desi dalam hati.
Semenjak Bagas sembuh, Desi kembali berjualan es mambo yang dia titipkan di kantin sekolahnya, dia juga sesekali berjualan pulsa atau makanan bila ada temannya yang memesan. Semua itu dia lakukan demi menambah pemasukkan.
Malam pun tiba, setelah makan malam seperti biasa, Desi menemani anak-anaknya belajar sambil menunggu kepulangan suaminya. Akhir-akhir ini suaminya semakin mencurigakan. Kadang Desi penasaran, disaat suaminya tidur, dia mengecek hp suaminya. Hp nya diisi kata sandi, Desi mencoba memasukkan tanggal lahir suaminya, ternyata bisa.
"Mama, ayah kok pulangnya malam terus, aku kan nggak bisa main sama ayah lagi." , tanya Rafi.
"Iya sayang, ayah lagi sibuk di kantornya. Jadi sering lembur deh. Nanti kalau ayah nggak sibuk, pasti pulang cepat." , jawab Desi menghibur anaknya.
"Iya ma. Kalau ayah pulang bilangin aku kangen, pingin main sama ayah." , jawab Rafi.
"Iya sayang pasti mama bilangin." , jawab Desi.
Desi kasihan dengan anak-anaknya, suami nya tidak perduli lagi. Selain sibuk bekerja, juga sibuk dengan perempuan lain. Desi bingung harus bagaimana, dia hanya bisa pasrah. Desi sangat mengenal watak suaminya yang temperamen, jika ditegur pasti malah marah dan menyalahkan Desi. Desi jadi serba salah. Padahal dulu sebelum menikah, Ridwan bersikap baik dan perhatian pada Desi. Tidak seperti sekarang.
Sudah pukul sepuluh malam, Ridwan belum juga pulang. Desi masih setia menunggu Ridwan pulang. Akhirnya, tidak lama yang ditunggu pun tiba. Desi merasa lega. Setelah Ridwan masuk, Desi langsung bertanya.
"Baru pulang mas ? Kok nggak ngasih kabar kalau pulang telat. Tadi Rafi nanyain ayah." , ucap Desi.
"Iya, ada urusan. Kok belum tidur? Tumben. Biasanya sudah tidur." , jawab Ridwan ketus.
"Iya mas, sengaja nunggu mas pulang." , balas Desi.
"Mau apa? Minta gaji? Nih..." , jawab Ridwan sambil menyerahkan sejumlah uang seratus ribuan.
"Iya mas, makasih." , jawab Desi.
Kemudian Desi segera menerima dan menghitung uang yang diberikan suaminya. Namun, Desi kaget, suaminya hanya memberi uang sebesar 1 juta rupiah, hanya cukup untuk membayar kontrakan rumah.
"Maaf mas, nggak salah ini? Kok cuma 1 juta mas? " , tanya Desi.
"Adanya cuma segitu. Sudah terima aja. Kalau nggak mau ya sudah sini kembalikan." , jawab Ridwan marah.
"Jangan mas, ini aja kurang." , jawab Desi sambil menitikkan air mata.
Desi bingung, bagaimana caranya dia memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Suaminya seolah tutup mata dengan semua itu. Kalau dia tidak mempekerjakan mbok Muna, bagaimana dengan anak-anak nya saat dia bekerja. Kecuali anak-anaknya sudah SD semua, mungkin bisa Desi ajak ke sekolah semua. Pusing kepala Desi memikirkannya. Desi hanya bisa menangis dalam diam. Suaminya tidak suka jika melihat dia menangis. Bukannya mendiamkan pasti malah marah. Desi pernah begitu sebelumnya. Makanya, saat ini dia hanya bisa menangis dalam hati tanpa bersuara dan menahan air matanya.
'Tega kamu mas. Lebih mementingkan perempuan itu daripada anak dan istri. Ya Allah kuatkan hamba.' , bathin Desi.
Keesokkan hari, Desi melanjutkan aktifitas seperti biasanya. Dia sengaja bangun pagi-pagi sekali dan berangkat sekolah lebih awal. Dia sengaja tidak membangunkan suaminya dan meminta mbok Muna untuk membangunkannya. Desi tidak perduli suaminya mau marah atau apa. Dia kesal dengan sikap suaminya yang semakin hari semakin tidak jelas. Selama ini, dia mencoba bertahan tapi suaminya semakin semaunya sendiri. Desi berencana pindah kontrakan yang lebih dekat dengan sekolah dan mungkin dia akan memberhentikan mbok Muna.
Desi mulai mencari-cari kotrakan yang lebih dekat dengan sekolah. Kebetulan Rafi sebentar lagi lulus TK dan mau sekolah SD.
Keesokkan harinya, dia berbicara dengan Ridwan tentang niat nya pindah kontrakan dan memberhentikan mbok Muna.
"Mas, mama mau ngomong. Rasanya mama sudah nggak sanggup lagi tetap bertahan ngontrak disini, mama mau pindah ke kontrakan yang lebih dekat dengan sekolah dan memberhentikan mbok Muna. Kebetulan Rafi sudah mau sekolah SD juga." , ucap Desi.
"Terserah, memang ada? Sudah dapat apa belum rumah kontrakannya?" , jawab Ridwan.
"Sudah mas. Uang sewanya cuma 500 rb per bulan cuma rumahnya lebih kecil dari disini. Tapi kan barang-barang kita juga sedikit tidak banyak." , jawab Desi.
"Ya sudah, kapan mau pindah?" , tanya Ridwan.
"Mungkin besok mas, kebetulan hari minggu." , jawab Desi.
"Jangan besok, mas ada urusan besok." , jawab Ridwan.
"Tapi mas, besok kan hari minggu." , tanya Desi.
"Iya, justru hari minggu, makanya mas mau pergi." , jawab Ridwan.
"Pergi kemana mas?" , tanya Desi lagi.
"Bukan urusan kamu. Terserah saya mau kemana." , jawab Ridwan agak marah.
'Astagfirullah hal 'adzhim.' , bathin Desi sambil mengusap dada.
Kenapa mas, tega sekali berbuat seperti ini? Pertanyaan ini yang selalu ada di hati Desi. Bahkan semakin kesini Ridwan semakin jarang pulang apalagi memperhatikan anak-anaknya.
'Kalau tidak hari minggu, kapan lagi. Aku tidak bisa ijin sembarangan. Lagipula, mas Ridwan juga belum tentu mau membantu walaupun di hari lain.' , gumam Desi seorang diri.
Akhirnya, Desi putuskan akan tetap pindah besok karena dia sudah ngomong juga dengan pemilik rumah yang baru. Dia tinggal nyewa mobil pick up untuk mengangkut barang-barang nya dibantu dengan mbok Muna dan sopir dan knek mobil pick up nya.
Esok pun tiba. Desi kemarin sudah bilang dengan mbok Muna akan pindahan. Mbok Muna membantu Desi merapikan pakaian dan piring-piring supaya mudah membawanya.
Selesai sarapan, Desi mulai merapikan barang-barang nya yang tidak terlalu banyak karena selama ini, dia jarang membeli perabot rumah, bahkan kursi pun dia tidak punya. Lemari pakaian juga yang kecil yang olimpic jadi tidak terlalu berat. Setelah mobil pick up yang dipesan Desi datang, dia juga mbok Muna segera memasukkan barang-barang ke mobil dibantu pak sopir dan knek nya. Mobil mengangkut barang-barang Desi bolak balik sampai 3x. Syukur jarak rumah kontrakan yang baru tidak terlalu dengan rumah kontrakan yang lama.
"Pak, terima kasih banyak ya sudah membantu saya mengangkat barang-barang saya. Ini uang sewa mobilnya pak juga ada sedikt tambahan buat bapak dan pak knek karena sudah membantu saya mengangkat barang-barang saya." , ucap Desi panjang lebar.
"O iya bu, sama-sama. Terima kasih juga sudah memakai jasa kami." , jawab pak sopir.
"Iya pak, sama-sama." , jawab Desi lega.
Setelah itu, dia meminta mbok Muna untuk membantunya merapikan barang-barang.
"Mbok, ayok kita kerja. Kita rapikan ya mbok pelan-pelan aja sekuatnya, jangan dipaksa." , pinta Desi pada mbok Muna.
"Siap bu, berees...." , jawab mbok Muna.
Akhirnya, mereka semua tertawa bersama.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.