NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 - Mansion Mewah Max

Ruangan jaga malam ini terasa lebih lengang dari biasanya. Tidak ada teriakan panik keluarga pasien, hanya suara detak mesin EKG yang berdetak pelan dan stabil, seperti denting waktu yang tak bisa dihentikan.

Ponselnya bergetar pelan di saku. Ia hampir tak mendengarnya karena terlalu terbiasa dengan bunyi alarm medis. Ketika ia melihat layar, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Nama yang muncul bukan dari pasien atau rekan sejawat, tapi Max.

Kau jadi datang malam ini? Ibuku sudah menyiapkan semuanya. Jangan telat.

Nami membaca pesan itu dua kali. Jarinya diam di atas layar. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan kesunyian membungkusnya.

Bayangan meja makan panjang dengan taplak renda mahal terlintas di kepalanya. Kursi ukiran, cahaya lampu gantung kristal, dan senyum wanita yang tampaknya hanya tahu satu jenis rasa—superioritas.

Setelah beberapa detik menimbang, ia akhirnya mengetik balasan pelan.

Sehabis bekerja, aku akan bersiap.

Balasan datang hanya beberapa detik kemudian.

Aku akan menjemputmu.

***

Kos Nami terletak di gang sempit kawasan Tebet, diapit oleh rumah makan sederhana yang aromanya menyeruak setiap malam dan sebuah toko kelontong yang setia membuka hingga tengah malam.

Dinding bangunannya mulai lembap, bercak jamur merayap seperti lukisan abstrak yang tak pernah selesai. Tapi bagi Nami, ini adalah rumah—satu-satunya tempat yang menyambutnya saat ia pulang dengan tubuh penuh peluh dan mata berat.

Kilau lampu mobil Max menerangi gang sempit itu seperti sinar asing dari dunia lain. Mobil hitamnya terlihat sangat tidak layak pada tempatnya.

Max turun dari mobil. Wajahnya tampan seperti biasa, rambut disisir rapi, meski hanya memakai kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam. Tetap terlihat seperti seseorang yang lebih sering berada di rapat direksi daripada berurusan dengan nyamuk dan kipas rusak.

Matanya menyapu sekeliling lingkungan itu. Tidak ada nada mengejek, tidak ada komentar. Tapi keheningan itu menyimpan sesuatu yang membuat Nami merasa kecil. Apalagi saat Max menatapnya dengan ekspresi datar.

"Kau harus ubah penampilan mu."

"Memangnya kenapa?" tanya Nami, menatap dirinya sendiri. Ia mengenakan blus putih polos dan celana bahan abu-abu. Rapi, bersih dan nampak sederhana.

Max menatapnya dengan tenang. "Kau tidak bisa datang seperti itu."

Nada suaranya datar. Bukan marah, tapi juga bukan sekadar saran. Lebih seperti perintah yang dibungkus dalam kesopanan.

Nami menyilangkan tangan. "Maksudmu?"

"Bukannya aku mengejek, tapi penampilanmu tidak masuk standarku."

"Hm." Senyumnya sinis, "Kau juga bukan tipeku."

Max mendesah, seperti seseorang yang sudah terlalu lelah menjelaskan logika pada orang yang tidak mau mengerti.

"Ini bukan tentang dirimu. Ini tentang kesepakatan kita. Malam ini, kita hanya perlu bermain peran. Kau tahu itu."

"Aku tahu, tapi apakah aku harus menjadi bonekamu?"

Max menatapnya tajam. "Aku tidak bilang begitu."

"Tapi maksudmu begitu."

Untuk beberapa detik, hanya suara klakson jauh dan bunyi air dari got yang terdengar. Max menggeser kacamata hitamnya ke atas kepala dan membuka pintu mobil.

"Ayo. Kita ke butik dulu. Kita tak punya banyak waktu."

Nami berdiri diam beberapa detik. Ada ledakan kecil dalam dadanya—bukan kemarahan, tapi semacam kelelahan akut karena harus berpura-pura menjadi seseorang yang pantas, bukan menjadi dirinya sendiri. Tapi ia tahu, ia butuh semua ini.

Tanpa sepatah kata, ia masuk ke mobil.

***

Butik tempat mereka berhenti seolah bukan hanya dari kelas sosial berbeda, tetapi dari semesta yang sama sekali lain. Dari luar, bangunannya terlihat seperti galeri seni dengan kaca tinggi dan pencahayaan lembut.

Begitu kaki Nami melangkah masuk, ia nyaris lupa aroma khas rumah sakit yang masih melekat di bajunya. Lantai marmernya memantulkan bayangan lampu gantung kristal, dan setiap gerakan staf butik seakan terlatih seperti penari balet yang tersenyum ramah, suara lembut, dan gestur yang sopan.

"Selamat datang kembali, Tuan Max," ucap seorang wanita berseragam hitam dengan aksen perak. Ia membungkuk sedikit, menyambut pria itu seperti ia sedang menyambut bangsawan.

Pandangannya hanya sekilas ke arah Nami, cukup untuk membuat gadis itu merasa seperti tamu tak diundang di pesta pribadi.

Nami melangkah pelan di belakang Max. Setiap langkahnya terasa berat, seolah lantai butik bukan terbuat dari marmer, tapi dari harga dirinya yang mulai retak. Matanya menyapu ruangan, dan ia terkejut melihat label-label harga yang tergantung pada baju-baju yang disusun rapi.

Max berdiri di dekat salah satu rak dan menarik keluar sebuah gaun. Warnanya putih tulang, potongannya sederhana namun elegan, dengan lekuk leher rendah dan garis pinggang yang tegas. Ia mengulurkannya pada Nami.

"Pakai ini."

Nami menatap gaun itu sekilas. Ia mengangkat alis. "Kau ingin aku terlihat cantik, agar Ibumu menganggapku cukup layak untuk duduk di meja makan yang sama?"

 "Aku ingin malam ini berlalu tanpa masalah."

Hening sejenak. Nami tahu, hidupnya tidak pernah memberi banyak pilihan. Ia tahu apa rasanya lapar. Ia tahu bagaimana rasanya duduk berjam-jam di ruang tunggu rumah sakit karena tak mampu membayar kamar rawat. Dan ia tahu, bahwa dalam dunia seperti ini, harga diri kadang harus ditaruh dulu di laci terkunci.

"Baik," katanya pelan, hampir seperti gumaman.

Di ruang ganti. Nami mengenakan gaun itu perlahan, bahkan takut jika ia tak sengaja merusak detailnya.

Ketika ia keluar dari ruang ganti, langkahnya mantap meski dadanya terasa sesak. Max sedang berdiri sambil mengecek ponselnya, tapi begitu melihatnya, ia diam. Beberapa detik penuh keheningan. Tidak ada pujian, tidak kekaguman. Hanya diam.

Gaun itu jatuh anggun di tubuh Nami. Rambut yang tadi diikat asal-asalan, kini ditata oleh staf butik menjadi sanggul rendah sederhana. Wajahnya hanya disentuh sedikit oleh riasan, tapi cukup untuk menonjolkan garis rahangnya.

"Aku merasa seperti bukan diriku," bisiknya, nyaris pada bayangan di cermin, bukan pada Max.

Max masih diam beberapa saat sebelum akhirnya bersuara pelan. "Tapi kau terlihat seperti seseorang yang layak berada di sebelahku."

Dan hembusan napas kesal keluar dari mulutnya, perkataan Max terus menusuknya meski itu keluar dengan suara kecil dan lembut.

***

Mobil berhenti perlahan di depan sebuah gerbang besi setinggi hampir dua lantai.

Seorang satpam berseragam biru tua membuka gerbang tanpa diminta, mengenali mobil Max dari jauh, dan membungkuk singkat ketika mereka melintas masuk.

Nami menelan ludah saat pandangannya naik mengikuti lekuk atap rumah di depannya.

Atau lebih tepatnya—mansion.

Bangunan itu berdiri megah dalam diam, pilar-pilar tinggi menopang balkon atas, dindingnya dilapisi marmer putih yang seolah tidak mengenal debu.

Nami pernah melihat rumah-rumah seperti ini. Di majalah gaya hidup, di acara talkshow yang memperlihatkan gaya hidup para sukses muda.

Tapi sekarang ia berdiri di depannya. Langsung, nyata, dan tak ada jarak layar yang bisa melindunginya dari rasa asing yang merayap pelan-pelan.

Max membukakan pintu mobil untuknya. Ia melangkah keluar, hak sepatunya menjejak lantai batu yang dipoles begitu halus hingga hampir tidak terdengar.

Ia merapikan gaunnya, lalu menatap bangunan itu sekali lagi, seolah memastikan dirinya memang sedang di sana.

"Siap?" tanya Max singkat.

Nami tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.

Pintu utama dibuka sebelum mereka sempat mengetuk. Seorang wanita setengah baya berdiri di ambang, mengenakan kebaya modern berwarna pastel, rambut disanggul rapi, dan sepasang anting mutiara menggantung anggun di telinganya.

Senyumnya manis, hangat—senyum yang sering Nami lihat ketika wanita itu dirawat sebagai pasien VIP di rumah sakit tempatnya bekerja. Tapi malam ini, senyum itu terasa berbeda.

"Selamat malam, Dokter Nami," sapanya. "Akhirnya kau datang juga, kita biasanya bertemu di rumah sakit. Masuklah. Jangan berdiri di luar, angin malam tidak baik untuk kulit."

Nada suaranya lembut. Tidak tinggi, tidak tajam. Tapi cukup membuat jantung Nami berdetak lebih cepat dari biasanya.

Nami membungkuk sopan. "Selamat malam, Ibu. Terima kasih sudah mengundang saya."

Ia melangkah masuk, dan langsung disambut lantai marmer berkilau, langit-langit tinggi dengan lukisan mural lembut, serta aroma ruangan yang harum oleh campuran bunga segar dan lilin aromaterapi mahal.

Setiap detail di ruangan itu seolah dirancang untuk membuat siapa pun yang bukan berasal dari dunia itu merasa salah tempat.

Nami memeluk tas kecilnya erat-erat, berusaha menahan gemetar halus di tangannya. Napasnya dangkal, tapi ia melangkah maju—karena mundur bukan lagi pilihan.

Ibu Max—Nyonya Sofia melangkah mendekat, menyentuh lengannya sebentar. "Kau terlihat cantik sekali malam ini. Gaunnya cocok untukmu."

Nami tersenyum kaku. "Terima kasih, Bu."

Mereka berkumpul di ruang makan. Meja makan panjang dengan delapan kursi sudah disiapkan. Ada lilin kecil di tengah, piring-piring porselen putih berlapis emas, dan tiga pelayan berdiri di sisi ruangan, siap kapan saja.

Seseorang seperti Nyonya Sofia mungkin menyebutnya makan malam sederhana, bagi Nami, ini lebih mewah dari pesta pernikahan kebanyakan kenalannya.

Ia duduk di sebelah Max, dan melihat betapa alami laki-laki itu dalam suasana ini. Ia berbicara dengan ibunya dengan bahasa yang penuh kehati-hatian, penuh kode yang tak terucap, penuh sandi yang tak bisa dimengerti oleh mereka yang tidak lahir dalam percakapan sejenis.

Sesekali, mata Sofia beralih ke arah Nami. "Sungguh kebetulan, aku ingin memperkenalkan Max denganmu. tapi ternyata kalian sudah lama berpacaran?"

Max mengangguk pelan, "Kami akan segera menikah."

Sofia menutup mulutnya tidak percaya, aura bahagia langsung terpancar di matanya.

"Nami, kau setuju?"

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!