Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
Kehilangan dua orang yang sangat dekat dalam waktu singkat menghancurkan seluruh hidup Adista. Kematian Ronald, kakak kandungnya, dan Bram, sepupu yang berniat baik menemaninya, meninggalkan luka yang sangat dalam. Dua kematian itu terjadi dengan cara yang sama: sangat sadis, tidak masuk akal, dan penuh dengan darah.
Polisi kembali datang ke rumah Adista. Mereka melakukan olah tempat kejadian perkara di kamar tamu, membawa jenazah Bram, dan mengajukan banyak pertanyaan kepada Adista. Namun, sama seperti kasus Ronald, polisi tidak menemukan bukti kekerasan dari manusia atau jejak orang asing yang masuk ke dalam rumah. Kasus ini kembali menjadi teka-teki besar bagi para penegak hukum.
Setelah semua urusan pemakaman Bram selesai, Adista pulang ke rumahnya dengan tubuh yang sangat lemas. Kini, ia benar-benar sendirian di dalam rumah yang begitu besar dan megah itu. Setiap kali melangkah, suara langkah kakinya sendiri yang terdengar di koridor rumah, menciptakan rasa sunyi yang mencekam.
Adista tidak berani lagi menginjakkan kaki ke kamar tamu tempat Bram mengembuskan napas terakhir. Pintu kamar itu ia kunci rapat dari luar. Namun, pandangan matanya selalu tertuju ke ruang tengah, tempat lukisan perempuan menangis darah itu masih tergantung dengan kokoh di dinding.
Di dalam kesendiriannya, Adista masih terus bertanya-tanya di dalam hati. Pikirannya dipenuhi dengan keraguan dan ketakutan yang luar biasa. Apakah benar lukisan itu yang menjadi sumber bencana selama ini? Apakah benda mati yang ia menangkan di tempat lelang dengan harga mahal itu yang sudah menjadi awal dari segala teror dan kematian tragis saudara-saudaranya?
Logikanya sebagai orang modern mencoba menolak pikiran mistis itu. Namun, semua bukti di depan matanya terlalu nyata untuk diabaikan. Cerita Bram tentang soto yang berubah menjadi potongan tubuh manusia, sisa darah busuk yang ia cium sendiri di dalam gelas kamar Bram, hingga kondisi mayat Ronald dan Bram yang sama-sama kehilangan jantung dan kemaluan, semuanya mengarah pada satu hal: teror ghaib yang muncul tepat setelah lukisan itu masuk ke dalam rumahnya.
"Kenapa aku harus membeli lukisan itu? Kalau benar benda itu sumber kutukannya, aku sudah membawa maut untuk kakak dan sepupuku," ratap Adista dalam hati dengan rasa penyesalan yang teramat sangat.
Hari-hari berlalu, dan kondisi mental Adista semakin memburuk. Ia tidak bisa tidur nyenyak karena terus dihantui pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Ketakutan dan kesepian berkumpul menjadi satu, membuat Adista hampir kehilangan akal sehatnya. Ia menyadari bahwa ia membutuhkan kehadiran orang lain di rumah ini agar ada suara manusia hidup selain dirinya.
Keesokan harinya, Adista memutuskan untuk mencari seorang pembantu rumah tangga. Ia menghubungi sebuah agen penyalur tenaga kerja dan meminta seorang pembantu wanita yang mau tinggal di dalam rumahnya dengan iming-iming gaji tiga kali lipat dari standar biasanya. Adista sengaja merahasiakan tentang dua kematian sadis yang baru saja terjadi, karena ia tahu tidak akan ada satu orang pun yang sudi bekerja di rumahnya jika mendengar cerita horor tersebut.
Dua hari kemudian, datanglah Bik Sumi, seorang wanita paruh baya asal desa terpencil yang polos dan pekerja keras. Adista menyambut kedatangannya di teras depan dengan perasaan yang campur aduk antara lega dan bersalah.
"Mari masuk, Bik Sumi. Ini rumah saya," kata Adista sambil membukakan pintu kayu yang besar.
Bik Sumi melangkah masuk sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan yang luas dan mewah. "Wah, rumahnya besar sekali ya, Non Adista. Tapi... kok sepi sekali? Non cuma tinggal sendiri?" tanya Bik Sumi dengan sopan.
"Iya, Bik. Kakak saya baru saja meninggal, jadi sekarang saya tinggal sendiri. Karena itulah saya butuh bantuan Bibik untuk mengurus rumah ini," jawab Adista mencoba tersenyum, menyembunyikan getaran ketakutan di suaranya.
Saat mereka berjalan melewati ruang tengah menuju ke arah dapur, Bik Sumi mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di depan lukisan perempuan menangis darah. Wanita tua itu menatap lekat-lekat ke arah kanvas yang bergambar sosok wanita misterius tersebut.
Jantung Adista seketika berdegup kencang melihat reaksi Bik Sumi. Pertanyaan di dalam kepalanya kembali bergaung tajam: Apakah lukisan itu akan mencari korban lagi?
"Ada apa, Bik? Kenapa berhenti?" tanya Adista waswas.
Bik Sumi mengusap tengkuknya perlahan. "Nggak apa-apa, Non. Cuma... lukisan ini bagus ya, tapi kok kalau dilihat-lihat agak bikin merinding. Hawa di ruangan ini juga mendadak jadi dingin sekali waktu saya berdiri di sini."
Adista menelan ludah dengan susah payah. Jawaban dari pertanyaannya kini semakin jelas. Makhluk di dalam lukisan itu tampaknya mulai bangkit kembali, menyambut kehadiran mangsa baru di rumah tersebut.
"Ah, itu cuma perasaan Bibik saja karena mungkin lelah setelah perjalanan jauh. Ayo, saya antar ke kamar Bibik di bagian belakang dekat dapur," kata Adista cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, menarik lengan Bik Sumi agar segera menjauh dari area ruang tengah.
Bik Sumi hanya mengangguk dan mengikuti langkah Adista. Namun, saat mereka berdua berjalan membelakangi ruang tengah, setetes cairan merah kental kembali meluncur pelan dari bingkai emas lukisan itu, jatuh ke lantai kayu tanpa suara. Bencana di rumah Adista belum berakhir, dan misteri tentang lukisan pembawa maut itu akan kah memakan korban berikutnya.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya