NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dunia Zei tadinya hanya sebatas sawah berlumpur dan beratnya cangkul di pundak. Sampai akhirnya, Turnamen Musim Semi mengubah segalanya. Di atas arena, Zei melihat Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih bertarung. Gerakannya bukan sekadar bela diri, melainkan tarian maut yang terlampau indah untuk disaksikan oleh mata seorang petani miskin.

​Sejak detik itu, Zei menolak takdir lahirnya. Ia tak butuh pedang pusaka; dengan Qi elemen tanah yang brutal dan alat tani yang ia tempa menjadi senjata, Zei menantang dunia persilatan. Ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen, menghancurkan cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya tak lebih dari sampah yang bermimpi menyentuh bintang.

​Di saat para pendekar lain bertarung demi kekuasaan dan keabadian, alasan Zei mengayunkan senjatanya sangat sederhana dan naif: ia hanya ingin membuktikan diri pantas berdiri di panggung yang sama, dan melihat sang bulan menari di hadapannya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

BUMMM!

​Hantaman tinju Zei bersarang telak di tengah dada Lin Feng. Gelombang kejut dari Qi tanah yang padat meledak mendesing, menciptakan riak udara yang kasat mata. Tubuh Lin Feng terpental lurus ke belakang, melintasi batas arena kuarsa putih, sebelum akhirnya jatuh berdebam menghantam tanah di luar ring. Sepasang pedang pendeknya terlepas, berdenting bergulir di lantai batu. Pemuda kota yang semula lincah laksana bayangan angin itu kini tergeletak bisu, pingsan seketika dengan mata mendelik putih.

​Stadion raksasa yang tadinya riuh oleh sorak-sorai ejekan mendadak senyap bak kuburan. Puluhan ribu pasang mata penonton membeku, tak sanggup mencerna apa yang baru saja mereka saksikan. Seorang murid kebanggaan kota berelemen angin ditumbangkan hanya dalam satu kedipan mata oleh kepalan tangan anak desa berjubah rami.

​Wasit turnamen butuh waktu beberapa detik untuk menelan ludah sebelum melangkah maju. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menggemakan suaranya melalui formasi batu pengeras. "Pemenang pertandingan pembuka Kelompok E... Zei dari Desa Danau Keruh!"

​Gemuruh pelan perlahan merayap dari bangku penonton; bukan lagi sorakan ejekan, melainkan bisik-bisik sarat kepanikan dan rasa ingin tahu. Zei menarik napas panjang, merasakan sisa resonansi Qi planetnya perlahan surut, kembali mengendap ke dasar dantian-nya. Ia menunduk sejenak, meraba jubah rami cokelatnya yang kini robek di beberapa bagian akibat sabetan Lin Feng. Dadanya bergemuruh kencang, bukan karena sisa adrenalin pertarungan, melainkan oleh sebuah pencerahan yang mendadak mekar di kepalanya.

​Di tribun VIP yang melayang angkuh di atas awan buatan, suasana tak kalah bergejolak. Para tetua sekte besar mulai saling berbisik sambil mengelus janggut. Menemukan petarung liar dengan fondasi kultivasi jasmani tingkat bumi semurni itu adalah anomali langka di turnamen tahun ini.

​Di singgasana paling depan, Qian Yue’er masih menatap lurus ke arah arena. Sepasang matanya yang sedingin es abadi tak lagi memancarkan kebosanan. Gadis itu menyadari kejanggalan gaya bertarung Zei. Anak lumpur itu tidak sekadar membakar Qi untuk menebalkan kulit layaknya kultivator fisik bodoh; energinya berakar menyatu dengan panggung kuarsa, menarik kekuatan dari gravitasi bumi dengan cara yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.

​Tepat sebelum melangkah turun dari arena, Zei mendongak. Di antara lautan manusia yang menjejali koloseum itu, tatapannya secara ajaib terkunci pada sosok jubah sutra putih Sekte Cendrawasih. Untuk satu tarikan napas, melintasi jarak yang begitu jauh, mata mereka bertubrukan. Jantung Zei berdegup liar. Kerdilnya kasta masih tersisa, namun kini dibalut oleh pelat baja tekad yang kian menebal. Jaraknya dengan sang dewi penjaga awan terasa menyusut satu langkah kecil hari ini.

​Begitu tubuh Zei tertelan bayang-bayang lorong ruang tunggu, ia langsung diterjang pelukan cekikikan. "Kau gila, Zei! Kau benar-benar meremukkan tulang rusuknya dalam satu hantaman!" pekik A-Lang heboh, wajahnya memerah kesetanan. "Semua bandar judi dunia persilatan di luar sedang kelabakan melacak asal-usulmu!"

​Zei tersenyum tipis, menjatuhkan diri ke atas bangku batu demi mengistirahatkan urat lengannya yang berdenyut kaku. Namun, tawa A-Lang mendadak lenyap. Pemuda kurus itu celingukan ke kanan dan kiri, lalu membungkuk membisikkan sesuatu di telinga Zei.

​"Tapi kita tertimpa sial besar, Kawan," desis A-Lang dengan wajah sepucat mayat. "Aku baru saja menyadap obrolan panitia pendaftaran. Tetua Sekte Taring Besi menolak menelan ludah setelah kau permalukan murid mereka di kedai. Mereka menggelontorkan koin emas untuk menyuap penyelenggara turnamen."

​Alis Zei bertaut tajam. "Apa yang mereka lakukan?"

​"Mereka merombak jadwal secara sepihak!" A-Lang menggeram frustrasi. "Kau tidak diberi jeda istirahat untuk memulihkan meridianmu. Babak penyisihan kedua untuk Kelompok E dimajukan dalam hitungan jam, mulai hari ini juga. Dan lawanmu... mereka sengaja menukarnya dengan Gao sang Jagal."

​Mendengar nama itu, rahang Zei mengeras. Gao adalah jagal bayaran berdarah dingin dari wilayah perbatasan; momok mematikan di kalangan petarung mandiri. Ia memanipulasi elemen logam secara brutal dan tak pernah segan mencacatkan lawan demi melipatgandakan uang taruhan. Melempar Zei untuk melawan Gao saat Qi tanahnya baru saja terkuras adalah vonis mati tanpa pengadilan. Para bangsawan kota itu rupanya benar-benar tak sudi melihat seorang petani menginjak panggung suci mereka lebih lama.

​Zei menatap kedua telapak tangannya yang masih bergetar menahan lelah. Rasa frustrasi mulai merayap mencekik dadanya. Apakah sabetan takdirnya harus terputus di sini, hanya karena kelicikan tikus-tikus kota?

​"Jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu, Bocah. Kau membuat arakku terasa hambar."

​Suara serak itu bergema dari relung lorong yang paling pekat. Tetua Gu melangkah keluar dengan gaya sempoyongan andalannya, memeluk kendi tanah liat tuanya. Pria pemabuk itu mendekati Zei, lalu melemparkan sebuah botol keramik hitam kecil yang langsung ditangkap sang pemuda.

​"Tenggak itu. Rasanya persis seperti kencing kuda pacu, tapi ramuan itu sanggup memulihkan meridian tanahmu dalam waktu setengah batang dupa," ketus Tetua Gu.

​Zei tak membuang waktu. Ia mencabut sumbat gabus itu dan menenggak habis isinya. Cairan pekat itu membakar tenggorokannya seperti bara api, namun sedetik kemudian, ledakan energi hangat menyapu seluruh pembuluh darahnya, menambal kekosongan di dalam dantian-nya dengan kecepatan tak masuk akal.

​Tetua Gu menatap Zei, mata sayunya mendadak berkilat setajam belati. "Para penguasa kota membenci bau lumpur yang mengotori langit mereka, Zei. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk menghapus eksistensimu dari arena ini. Pertarunganmu berikutnya bukan lagi sekadar kompetisi, ini adalah gelanggang pembantaian."

​Pria tua itu mencengkeram bahu Zei, genggamannya begitu bertenaga hingga sendi Zei berderak. "Ukir kata-kataku ini di otakmu. Melawan elemen logam yang menusuk, teknik Sisik Nagamu yang pasif akan hancur lebur jika terus dihujam. Jangan lagi membodohi dirimu dengan menjadikan tanah sekadar tameng daging. Gunakan tarikan gravitasi planet ini sebagai penjara bagi senjata mereka. Serap momentum mematikan itu, telan bulat-bulat ke dalam inti bumi di bawah tumitmu!"

​DUMMM! DUMMM! DUMMM!

​Rentetan genderang perang kembali membelah angkasa dari arah arena utama, bergaung menggoyang lorong batu yang dingin. Waktu istirahat paksa telah hangus. Suara wasit kembali memecah udara, meneriakkan vonis bagi petarung berikutnya.

​"Pertandingan babak penyisihan kedua Kelompok E: Zei dari Desa Danau Keruh menantang Gao dari Kota Perbatasan!"

​Zei bangkit berdiri, tulang punggungnya tegak lurus menantang maut. Dari celah jubah raminya yang terkoyak, otot-otot lengannya yang legam terbakar matahari tampak menegang saat ia mengencangkan sabuk pinggangnya. Ia menatap A-Lang dan Tetua Gu bergantian dalam diam, lalu mengayunkan langkah berat nan absolut menuju cahaya benderang di ujung lorong. Di tengah panggung kuarsa sana, sosok raksasa Gao yang dibalut zirah berduri dan memanggul sepasang kapak jagal logam telah menanti, memuarkan aura pembunuh yang mencekik udara. Konspirasi langit telah ditabuh, dan sang anak petani kini bersiap menancapkan kembali kakinya ke jantung bumi.

1
yulius hans
kok ngak tamat sich
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor 💪💪💪
Danzo28: aminnn
terimakasih ya
selanjutnya
sehat selalu 🥳🥳
total 1 replies
Mamat Stone
🤔
Mamat Stone
/Determined//Determined//Determined/
Mamat Stone
/Angry//Angry//Angry/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
😈/Determined/😈
Mamat Stone
😈/Angry/😈
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
buktikan merah Mu Jagoan Neon 😈
Mamat Stone
waktunya Jagoan Neon beraksi 😈
Mamat Stone
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!