NovelToon NovelToon
The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: DinaRyu

Up setiap hari

Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.

Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.

Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.

Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.

Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 5: Jejak yang Hilang

System Glitch

Waktu: 07:45 AM

Udara pagi London tidak pernah bersahabat bagi siapa pun yang berdiri tanpa alas kaki di atas aspal basah. Angin musim gugur berhembus kasar, menusuk menembus kemeja putih kebesaran yang Stella kenakan, membuat tubuhnya menggigil hebat.

Stella menyandarkan punggungnya ke dinding bata merah yang dingin di gang belakang The Grand Savoy London.

Ia menatap kakinya yang telanjang, memerah, dan kotor karena cipratan genangan air hujan.

Di tangannya, ia menggenggam erat botol kaca kecil berukiran elegan yang baru saja diberikan oleh sistem.

"Jadi," suara sarkas Vix memecah suara rintik hujan dan deru mesin truk pembuangan sampah dari kejauhan.

Rubah ekor sembilan mini itu melayang turun, bertengger dengan anggun di atas tumpukan palet kayu kosong yang tak jauh dari Stella.

"Apa rencanamu sekarang, Nona Rosewood? Berdiri di gang becek ini sampai kau mati membeku dan membuatku harus mencari host baru yang lebih kompeten?"

Stella mendelik tajam ke arah rubah cerewet itu. "Berhentilah mengomel, Vix. Otakku sedang bekerja. Aku tidak punya uang, tidak punya ponsel, dan aku baru saja lolos dari jebakan yang dirancang sempurna oleh saudari tiriku."

Stella berjalan tertatih menuju sebuah keran air tua yang menempel di dinding bata, tempat para pekerja biasanya mencuci sepatu bot mereka.

Ia memutar keran besi berkarat itu. Air sedingin es mengalir keluar. Tanpa ragu, Stella menangkupkan air ke wajahnya, menggosok sisa-sisa eyeliner hitam dan lipstik merah menor yang sedari tadi membuatnya terlihat seperti badut sirkus yang putus asa.

Ia mencuci wajahnya berulang kali sampai kulit aslinya yang bersih dan pucat terlihat. Rasa dingin yang menusuk tulang justru membantu menjernihkan pikirannya.

Setelah memastikan wajahnya bersih dari riasan mengerikan itu, Stella membuka tutup botol parfum di tangannya.

Semprotan pertama langsung menyebar di udara. Aroma White Tea yang tenang, elegan, dan menjernihkan pikiran, berpadu sempurna dengan kelembutan bunga Peony yang segar.

Aroma itu langsung menempel di kulitnya, menghapus sisa-sisa bau alkohol murahan dan parfum sintetik yang memuakkan dari tubuh aslinya.

Aroma ini... ini adalah dirinya. Stella memejamkan mata, menghirup dalam-dalam wangi White Tea & Peony tersebut.

Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tubuh ini, ia merasa menjadi dirinya sendiri.

Vix yang memperhatikan dari atas palet kayu mengibaskan kesembilan ekornya. Mata birunya berkilat penuh penilaian.

"Harus kuakui, tanpa riasan mengerikan dan bau menyengat itu, kau sebenarnya terlihat seperti manusia yang punya masa depan. Sekarang, berhentilah mengagumi dirimu sendiri. Kita harus bergerak sebelum Neo Hayes Blake menyadari kau sudah kabur."

Mendengar nama pria itu, dada Stella berdesir tidak nyaman. Sorot mata obsidian yang memandangnya dengan penuh rasa muak tadi masih terbayang jelas di benaknya.

Waktu: 08:00 AM

Lantai VIP - The Grand Savoy London

Di dalam Presidential Suite Barat, suasana berbanding terbalik dengan gang becek tempat Stella berada.

Ruangan itu hangat, sunyi, dan beraroma dominan perpaduan kuat antara Dark Musk, Leather premium, dan sedikit sentuhan Bergamot yang maskulin dan segar.

Aroma itu adalah milik Neo Hayes Blake, menguar secara natural dan mengintimidasi siapa pun yang berani melangkah masuk ke wilayahnya.

Neo duduk dengan postur tegap sempurna di meja makan marmer dekat jendela, menikmati sarapan paginya.

Di atas piring porselen putih, hanya ada potongan steak daging sapi Wagyu tingkat kematangan medium-rare dan telur mata sapi. Tidak ada makanan laut sedikit pun di atas mejanya.

Neo membenci aroma amis dan tekstur seafood, sebuah preferensi mutlak yang harus dipatuhi oleh seluruh koki bintang Michelin yang melayaninya, atau mereka akan langsung dipecat hari itu juga.

Ia baru saja mengiris dagingnya dengan tenang ketika Liam, asisten kepercayaannya, melangkah masuk dengan langkah cepat namun berhati-hati.

"Tuan Blake," Liam menunduk hormat. Wajah pria berkacamata itu terlihat sedikit tegang.

"Bicaralah," sahut Neo tanpa mengalihkan pandangannya dari piring, suaranya berat dan datar.

"Kami telah membereskan para wartawan di bawah. Manajer hotel juga sudah naik ke Suite Timur bersama pihak keamanan untuk mengusir Nona Rosewood sesuai perintah Anda."

Liam menelan ludah sebelum melanjutkan. "Namun... kamar itu kosong, Tuan."

Pisau di tangan Neo berhenti bergerak. Ia mendongak, menatap asistennya dengan sorot mata yang bisa membekukan air terjun.

"Kosong?"

"Benar, Tuan. Kami sudah memeriksa setiap sudut kamar mandi, balkon, hingga lemari. Nona Rosewood tidak ada di sana. Pakaian, tas tangan, dan sepatunya masih ada di dalam kamar, tapi Nona Rosewood benar-benar menghilang. Pihak keamanan memeriksa rekaman CCTV di seluruh lantai VIP, dan tidak ada satu pun kamera yang menangkap sosoknya keluar dari kamar setelah Anda meninggalkannya."

Alis tegas Neo bertaut. Ia meletakkan garpu dan pisaunya di atas meja dengan bunyi denting pelan yang entah kenapa terdengar mengancam.

"Jelaskan padaku, Liam," suara Neo turun satu oktaf, serak dan berbahaya.

"Bagaimana mungkin seorang wanita yang sedang mabuk berat, nyaris telanjang, dan terkepung oleh wartawan bisa menguap begitu saja dari lantai teratas hotel dengan pengamanan ketat ini?"

"I-itu yang sedang kami selidiki, Tuan," Liam sedikit berkeringat dingin, meskipun pendingin ruangan menyala maksimal.

"Satu-satunya aktivitas di lorong tersebut setelah kita pergi adalah seorang staf kebersihan dengan kereta dorongnya yang turun menggunakan elevator servis menuju lantai dasar. Tapi kami sudah menanyai staf tersebut, dan dia bersumpah tidak melihat Nona Rosewood."

Neo menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya yang gelap menatap rintik hujan di kaca jendela, pikirannya berputar cepat.

Instingnya, yang telah membawanya menjadi penguasa di dunia bisnis yang kejam, berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat janggal di sini.

Stella Rosewood yang ia kenal adalah wanita bodoh, histeris, dan gila perhatian.

Jika Stella benar-benar menjebaknya pagi ini, wanita itu seharusnya tetap berada di kamar, menangis, mencari pembelaan, atau bahkan melompat ke arahnya untuk memohon ampun.

Stella tidak punya otak untuk merencanakan rute pelarian layaknya agen rahasia.

Lalu, memori dari lima belas menit yang lalu kembali berkelebat di benak Neo.

Ia ingat tatapan wanita itu. Biasanya, Stella menatapnya dengan obsesi menjijikkan atau ketakutan yang dibuat-buat.

Tapi pagi ini... mata monolid itu menatapnya dengan kemarahan murni. Kepanikan yang nyata. Dan yang paling mengganggu pikiran Neo adalah postur tubuh wanita itu.

Stella tidak membusungkan dadanya untuk menggoda seperti biasa, melainkan merapatkan jubah mandinya seolah ia jijik disentuh oleh udara sekalipun.

Dan aromanya.

Neo memiliki indra penciuman yang sangat sensitif alasan utama mengapa ia membenci seafood.

Biasanya, berada dalam radius lima meter dari Stella berarti ia harus menahan napas untuk menghindari bau parfum sintetik manis yang selalu membuat perutnya mual.

Namun pagi ini, meski ruangan itu berbau alkohol murahan, Neo bersumpah ia tidak mencium parfum menor itu pada diri Stella.

Saat Stella membalas teriakannya tadi, Neo samar-samar menangkap aroma yang sangat bersih. Seperti embun... atau teh putih.

Tidak masuk akal, batin Neo. Wanita itu jelas-jelas baru saja berpesta semalaman.

"Liam," panggil Neo. Sorot matanya kembali menajam.

"Ya, Tuan?"

"Cari tahu siapa yang memanggil wartawan-wartawan itu ke lobi pagi ini. Aku ingin tahu dari mana mereka mendapatkan informasi bahwa Stella Rosewood ada di hotel ini."

Neo berdiri, merapikan kancing jasnya dengan satu gerakan elegan.

Aura gelap dan mematikannya kembali menguar, membungkus ruangan itu.

"Dan perintahkan orang-orang kita untuk mencari tahu keberadaan wanita itu. Periksa rekaman kamera jalanan di sekitar hotel."

Liam sedikit terkejut, namun segera menyembunyikannya. "Anda... ingin kami melacak Nona Rosewood? Apakah Anda khawatir dia merencanakan skandal lain yang melibatkan nama Anda, Tuan?"

"Khawatir?" Neo mendengus sinis.

"Aku tidak peduli jika wanita bodoh itu melompat dari jembatan London. Tapi seseorang sengaja mengirim sirkus ke depan pintuku pagi ini. Entah itu Stella sendiri, atau ada hama lain yang sedang bermain api. Dan aku tidak suka wilayahku diusik."

Pria itu melangkah pergi, meninggalkan sarapannya yang baru dimakan setengah.

Di dalam hatinya, Neo tidak menyadari bahwa keputusan kecilnya untuk "melacak" Stella adalah langkah pertama yang akan mengubah seluruh hidupnya yang dingin dan terkendali.

To be Continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!