NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Kehangatan di Balik Sisi Dingin

​Malam semakin larut, namun Han Ji-an belum bisa memejamkan mata. Kata-kata Min Chae-rin di Hotel Shinhwa terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. “Kau tidak tahu apa-apa tentang kegelapan di dalam keluarga Cha.”

​Ji-an menghela napas panjang, berjalan menuju balkon kamar utama mereka yang luas. Angin malam Hannam-dong yang berembus dari arah Sungai Han menerpa helai-helai rambut hitamnya. Ia merapatkan piyama sutra hitamnya, mencoba mengusir rasa dingin yang tiba-tiba merayapi hatinya. Bukan karena takut, melainkan karena ia tidak ingin kebahagiaan kecil yang baru ia bangun bersama Jin-wook terusik sedikit pun.

​Tiba-tiba, sebuah kehangatan yang familier mendekapnya dari belakang.

​Sepasang lengan kokoh melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuh ramping Ji-an agar menempel sempurna pada dada bidang yang selalu menjadi tempat teramannya. Aroma maskulin perpaduan kayu cendana dan sisa sabun mandi langsung menyerbu indra penciuman Ji-an.

​"Mengapa belum tidur, hmm?" Suara berat dan serak khas bangun tidur milik Cha Jin-wook berbisik tepat di ceruk leher Ji-an, mengirimkan sensasi getaran halus yang membuat jantung Ji-an berdesir.

​Ji-an menyandarkan kepalanya ke belakang, bertumpu pada bahu tegap suaminya. "Hanya sedang berpikir. Angin malam ini sangat segar."

​Jin-wook tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh Ji-an dengan gerakan lembut namun pasti, memaksa istrinya untuk menghadap ke arahnya. Di bawah pendar cahaya bulan yang menembus kaca balkon, mata elang Jin-wook yang biasanya menatap dunia dengan dingin, kini memancarkan binar protektif dan penuh gairah yang pekat.

​"Kau berbohong, Han Ji-an," ujar Jin-wook lembut. Jemari besarnya yang hangat naik menyentuh pipi Ji-an, mengusapnya perlahan dengan ibu jari. "Matamu tidak bisa berbohong padaku. Ini tentang Min Chae-rin, bukan?"

​Ji-an tertegun. Pria ini selalu tahu segalanya tentang dirinya, bahkan sebelum ia sempat bersuara. "Dia... mengatakan sesuatu yang aneh di pesta tadi. Tentang kegelapan di keluarga Cha."

​Tatapan Jin-wook meredup sejenak, kilatan luka masa lalu melintas di matanya, namun dengan cepat digantikan oleh intensitas rasa cinta yang mendalam saat menatap Ji-an.

​"Keluargaku memang bukan tempat yang suci, Ji-an ah. Perebutan takhta, pengkhianatan... aku tumbuh di lingkungan seperti itu setelah orang tuaku tiada. Paman-pamanku seperti serigala berbulu domba," Jin-wook mendekatkan wajahnya, dahi mereka kini saling bersentuhan, membuat Ji-an bisa merasakan napas hangat Jin-wook yang memburu. "Tapi dengarkan aku baik-baik. Aku tidak peduli seberapa gelap masa laluku atau seberapa besar badai yang akan mereka bawa. Aku memilihmu bukan untuk menjadikanku tameng, tapi karena kau adalah satu-satunya cahayaku. Aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba meredupkan cahaya itu."

​Kata-kata yang sarat akan komitmen itu membuat mata Ji-an berkaca-kaca. Tiga tahun lalu, ia memohon pada pria lain untuk tidak membuangnya. Namun malam ini, pria paling berkuasa di Seoul justru berbisik seolah-olah dirinyalah yang tidak bisa hidup tanpa Ji-an.

​"Jin-wook ya..."

​Sebelum Ji-an sempat menyelesaikan kalimatnya, Jin-wook membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang intens dan penuh tuntutan. Ciuman itu tidak lagi lembut seperti biasanya; ada rasa kepemilikan yang posesif, rasa takut kehilangan, dan gairah yang membara di dalamnya.

​Ji-an mengalungkan lengannya di leher Jin-wook, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, menyalurkan seluruh rasa percaya dan cintanya yang mendalam. Jin-wook mengerang rendah, memperdalam ciuman mereka sembari mengangkat tubuh Ji-an dengan mudah, membawanya masuk kembali ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang king-size yang empuk.

​Di bawah remang lampu tidur, Jin-wook menatap Ji-an dari atas, jemarinya mengunci jemari lentik Ji-an di atas kasur.

​"Kau milikku, Han Ji-an. Selamanya," bisik Jin-wook parau, sebelum kembali menenggelamkan mereka berdua dalam malam yang penuh kehangatan romantis, mengusir semua bayang-bayang musuh dari pikiran mereka untuk sementara waktu.

​Keesokan harinya, di sebuah kafe VIP tersembunyi di kawasan Gangnam.

​Aroma kopi yang mahal tidak mampu meredakan ketegangan di ruangan itu. Min Chae-rin duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya sembari menatap pria di hadapannya dengan pandangan muak yang kentara.

​Pria itu adalah Kang Min-woo. Penampilannya hari ini sedikit lebih rapi dengan kemeja yang dipinjamkan oleh orang suruhan Cha Tae-sung, namun gurat kemiskinan dan keputusasaan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.

​"Jadi, kau adalah mantan suami Han Ji-an yang tidak berguna itu?" Chae-rin membuka suara, nadanya penuh penghinaan.

​Min-woo mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menahan emosi. "Saya datang ke sini atas perintah Wakil Presdir Eksekutif Cha Tae-sung, Direktur Min. Kita memiliki tujuan yang sama—menjatuhkan Cha Jin-wook dan merebut apa yang seharusnya menjadi milik kita."

​Chae-rin mendengus sinis, menyesap tehnya. "Jangan samakan levelku denganmu, Kang Min-woo. Kau dihancurkan karena kebodohanmu sendiri. Tapi harus kuakui... kau memegang satu kartu as yang sangat menarik."

​Chae-rin mengeluarkan sebuah dokumen foto dari tasnya, melemparkannya ke hadapan Min-woo. Itu adalah foto Cha Jin-wook lima tahun lalu, sedang menggendong seorang bayi di sebuah rumah sakit terpencil di Swiss—jauh sebelum ia bertemu Han Ji-an.

​"Cha Jin-wook selalu mengklaim bahwa anak pertamanya, Cha Hyun-woo, adalah anak kandungnya dari hasil 'pernikahan rahasia' masa lalu yang tidak pernah terdaftar," Chae-rin tersenyum licik, matanya berkilat penuh kemenangan. "Tapi pamannya, Cha Tae-sung, menemukan bukti bahwa anak itu adalah anak adopsi ilegal. Ibu kandung asli dari anak itu... masih hidup. Dan dia adalah mantan narapidana yang butuh uang."

​Min-woo menatap foto itu, otaknya yang licik segera bekerja. "Jika publik dan dewan direksi tahu bahwa pewaris utama Cha Group bukanlah darah daging asli Jin-wook, dan dia telah memalsukan dokumen keluarga..."

​"Posisi Jin-wook sebagai CEO akan digugat atas dasar pelanggaran moralitas dan hukum," potong Chae-rin dengan tawa kecil yang kejam. "Dan Han Ji-an? Dia akan dikenal sebagai wanita malang yang membesarkan anak haram orang lain. Skenario yang sangat romantis untuk menghancurkan kebahagiaan mereka, bukan?"

​Min-woo tersenyum miring. Rasa dendamnya pada Ji-an yang telah membuatnya merangkak di aspal waktu itu kembali berkobar. "Apa yang harus saya lakukan, Direktur Min?"

​Chae-rin mendekatkan tubuhnya, menatap Min-woo dengan pandangan mematikan. "Bawa ibu kandung asli anak itu ke Seoul. Buat keributan di depan kediaman Hannam-dong saat Jin-wook tidak ada di tempat. Kita lihat... seberapa kuat Han Ji-an bertahan ketika 'anak kesayangannya' terancam direbut."

​Sore itu, Jin-wook pulang lebih awal dari kantor. Ia sengaja mengosongkan jadwal rapatnya demi menghabiskan waktu bersama sang istri.

​Saat Ji-an sedang membaca buku di ruang tengah, Jin-wook tiba-tiba datang dari belakang dan menjatuhkan tubuhnya di samping Ji-an, menyandarkan kepalanya di pangkuan istrinya seperti seorang anak kecil yang manja—sisi yang tidak akan pernah dipercayai oleh seluruh karyawan Cha Group jika mereka melihatnya.

​Ji-an tersenyum lembut, jemarinya bergerak menyisir rambut hitam legam suaminya. "Kau terlihat sangat lelah, Yeobo. Ada masalah di kantor?"

​Jin-wook memejamkan matanya, menikmati usapan lembut Ji-an yang selalu berhasil menghilangkan seluruh stresnya dalam sekejap. "Hanya merindukanmu. Berada di dekatmu adalah satu-satunya cara mengembalikan energiku."

​Ji-an terkekeh geli, menunduk untuk mengecup dahi Jin-wook. "Kau pandai sekali merayu sekarang."

​Jin-wook membuka matanya, menatap Ji-an dengan tatapan yang mendalam dan penuh komitmen. Ia meraih tangan Ji-an yang bebas, mengecup telapak tangannya dengan lembut. "Ini bukan rayuan, Ji-an ah. Ini janji. Apa pun yang terjadi di depan nanti... tetaplah menggenggam tanganku seperti ini."

​Ji-an mengangguk pasti, merasakan getaran cinta yang begitu kuat di antara mereka. Namun, di luar jendela penthouse mereka yang megah, bayang-bayang Kang Min-woo dan rencana busuk Min Chae-rin sudah mulai bergerak mendekat, siap menguji seberapa besar kekuatan cinta sang Nyonya Cha.

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!