NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Melihat kemesraan yang ditunjukkan Fatma, kecurigaan di wajah Abah perlahan menyurut, meski ganjalan di hatinya tidak sepenuhnya hilang.

Abah dan Umi akhirnya melanjutkan makan siang mereka yang sempat tertunda dengan tenang.

Setelah selesai makan, Umi mengajak Fatma ke area dapur.

Dengan senyum keibuan yang hangat, Umi mengeluarkan beberapa wadah bekal yang sengaja dibawa jauh-jauh dari pesantren.

"Ini, Nduk. Umi bawakan abon sapi buatan santri, pisang goreng kesukaanmu yang tadi subuh Umi goreng sendiri, sama ayam suwir pedas kemangi. Biar kamu tidak repot masak kalau sedang lelah," ucap Umi lembut seraya mengusap kepala Fatma yang terbalut jilbab.

Fatma hanya bisa mengangguk pasrah, menahan tenggorokannya yang menyempit karena ingin menangis haru.

Mereka kemudian kembali ke ruang tamu untuk berpamitan karena travel yang menjemput Abah dan Umi sudah menunggu di depan gerbang.

Sebelum melangkah keluar, Abah berbalik dan menatap Adrian dengan pandangan yang sangat dalam dan teduh.

"Adrian, Abah titip dan jaga putri kami. Fatma adalah putri yang sangat patuh, tidak pernah membantah orang tua sejak kecil. Sekarang, baktinya sudah berpindah sepenuhnya kepadamu. Bimbing dia dengan kasih sayang," pesan Abah penuh ketulusan.

"Pasti, Abah. Adrian akan menjaga Fatma dengan seluruh jiwa Adrian," jawab Adrian, tersenyum santun dengan rapi di depan mertuanya.

Mendengar janji palsu yang keluar dari mulut manis Adrian, darah Hakam seketika mendidih.

Di sudut ruangan, Hakam mencengkeram erat kepalan tangannya hingga kuku-kukunya memutih.

Amarahnya sudah berada di ubun-ubun. Rasa tidak tega melihat kakak iparnya disiksa membuat Hakam ingin egois; ia ingin berteriak detik itu juga, membongkar semua kebiadaban Adrian dan menunjukkan bekas luka di balik baju Fatma kepada Abah dan Umi.

Hakam mengambil napas dalam-dalam, bersiap membuka mulutnya. Namun, sebelum sepatah kata pun lolos, mata Fatma bergerak menatapnya.

Dari jarak beberapa meter, Fatma menggelengkan kepalanya dengan sangat kecil, hampir tak terlihat oleh orang lain.

Tatapan mata Fatma penuh dengan permohonan yang teramat sangat—sebuah isyarat mutlak agar Hakam tetap diam demi keselamatan Abah dan pesantren.

Hakam tertegun. Ia terpaksa menelan kembali kata-katanya dengan rasa sesak yang menghimpit dada.

Setelah momen yang menegangkan itu, Abah dan Umi melangkah keluar rumah, diikuti oleh Fatma, Adrian, dan Hakam yang mengantar sampai ke depan halaman.

Abah dan Umi kemudian berpamitan dengan hangat kepada mereka bertiga, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil yang perlahan bergerak menjauh, meninggalkan kepulan debu tipis dan menyisakan badai yang siap meletus kembali di dalam rumah mewah tersebut.

Bugh!

Sesaat setelah mobil Abah dan Umi hilang dari pandangan, Adrian berbalik dan langsung melayangkan pukulan mentah yang sangat keras ke rahang Hakam.

Pukulan itu begitu mendadak hingga membuat Hakam terhuyung dan menabrak pilar teras.

"Pria tak tahu diri! Berani-beraninya kamu mengancamku di rumahku sendiri?!" geram Adrian dengan mata merah menyala.

Hakam yang sejak tadi malam menahan amarah yang membakar dada, tidak tinggal diam lagi. Kesabarannya sudah habis.

Ia menyeka darah segar di sudut bibirnya, lalu merangsek maju dan membalas pukulan kakaknya dengan hantaman telak ke wajah Adrian.

Bugh!

Plak!

"Kamu yang binatang, Mas! Kamu menyiksa Mbak Fatma!" teriak Hakam kalap. Keduanya bergulat di halaman rumah, saling hantam tanpa memedulikan lagi ikatan darah di antara mereka.

"Hentikan... tolong hentikan!!" jerit Fatma histeris dari ambang pintu.

Tubuhnya yang lemas bergetar hebat. Rasa sakit fisik dan tekanan batin yang bertubi-tubi membuat kepalanya terasa ingin pecah.

"DIAM KAMU, BRENGSEK!!" teriak Adrian berbalik membentak Fatma sekilas, sebelum kembali mencengkeram kerah baju Hakam dan mendaratkan pukulan beruntun.

Mendengar makian kasar dari suaminya, dunia di sekitar Fatma mendadak hening.

Kata ‘brengsek’ itu berdengung di telinganya, memutus sisa utas kewarasan dan kekuatannya. Fatma merasa sudah sangat lelah.

Lelah dengan siksaan, lelah dengan ancaman, dan lelah dengan kepura-puraan yang meremukkan jiwanya.

Rumah tangga yang ia harapkan menjadi surga, kini telah benar-benar berubah menjadi neraka yang paling jahanam.

Dengan pandangan kosong dan langkah yang tak lagi merasakan perih, Fatma berbalik masuk ke dalam rumah.

Sebelum melangkah menjauh, jemarinya yang bergetar meraih sebuah pisau dapur kecil—yang sempat ia selipkan di balik saku bajunya saat Adrian berteriak memandangnya penuh kebencian tadi.

Fatma berjalan lurus menuju kamar mandi di lantai bawah, masuk ke dalam, dan memutar anak kunci dari dalam.

Ceklek.

Suasana kamar mandi begitu dingin. Fatma menyalakan shower, membiarkan air dingin mengucur deras membasahi keramik.

Ia duduk bersandar di bawah pancuran air, membiarkan jilbab dan pakaiannya basah kuyup.

"Abah... Umi... maafkan Fatma," bisik Fatma, air matanya menyatu dengan air shower yang mengalir di wajah pucatnya.

Suaranya terdengar sangat tenang, ketenangan yang mengerikan dari seseorang yang telah menyerah pada hidup.

"Semoga setelah kematian Fatma... Abah, Umi, dan pondok, akan bebas dari ancaman Mas Adrian..."

Fatma mengangkat tangan kirinya. Tangan kanannya memegang erat gagang pisau.

Dengan satu gerakan mantap yang didorong oleh rasa putus asa yang teramat dalam, ia langsung menggoreskan mata pisau yang tajam itu, memotong pergelangan tangan kirinya sendiri.

Darah segar berwarna merah pekat seketika memancar, mengalir deras di atas kulitnya yang putih, lalu bercampur dengan air shower di lantai kamar mandi.

Di dalam riak air yang kian memerah, Fatma memejamkan matanya rapat-rapat.

Kesadarannya perlahan-lahan mulai mengikis, melayang menjauh.

Di detik-detik terakhirnya, ia hanya ingin melupakan semua rasa sakit yang menghimpit dadanya.

Mulai dari rasa dikhianati oleh Jamie—kekasih yang begitu ia percayai, hingga perlakuan Adrian, suaminya sendiri, yang memperlakukannya lebih rendah daripada seekor binatang.

Fatma membiarkan tubuhnya perlahan melemas, bersiap pergi membawa seluruh luka yang tak sempat ia ceritakan kepada dunia.

Perkelahian antara Adrian dan Hakam di halaman rumah berlangsung semakin brutal.

Pukulan demi pukulan mendarat telak, menyisakan luka lebam dan darah di wajah kedua bersaudara itu. Namun, di tengah amarah yang membakar, Hakam tiba-tiba menghentikan pukulannya yang sudah melayang di udara.

Langkahnya terpaku. Ia mendadak menyadari adanya keheningan yang sangat janggal dan mencekam dari dalam rumah.

Fikiran Hakam langsung melayang pada tatapan mata Fatma beberapa menit lalu—tatapan yang begitu kosong, redup, dan kehilangan separuh nyawanya sebelum wanita itu berbalik masuk.

Firasat buruk seketika menghantam dada Hakam.

Dengan sisa tenaganya, Hakam mendorong tubuh Adrian hingga terjengkang, lalu berbalik dan berlari kencang masuk ke dalam rumah.

"Hakam! Mau lari ke mana kamu, keparat?!" teriak Adrian bersungut-sungut.

Dengan napas memburu dan emosi yang masih meluap-luap, Adrian menyusul mengejar adiknya, mengira Hakam hanya sedang mencari alasan untuk kabur dari perkelahian.

Hakam menyusuri setiap ruangan dengan panik, berteriak memanggil nama kakak iparnya.

"Mbak Fatma?! Mbak, di mana?!"

Langkah kaki Hakam terhenti tepat di depan kamar mandi lantai bawah.

Pintu kayu jati itu tertutup rapat. Saat ia mencoba memutar knopnya, pintu itu terkunci kokoh dari dalam.

Dari balik dinding, suara kucuran air shower terdengar samar bertalu-talu. Namun, bukan itu yang membuat jantung Hakam seolah berhenti berdetak.

Matanya membelalak sempurna saat melihat aliran air berwarna merah muda pekat—darah yang melarut—mulai merembes keluar melewati celah bawah pintu.

Kepanikan Hakam memuncak hingga ke ubun-ubun.

"Mbak Fatma!!! Buka pintunya, Mbak!!! Jangan nekat, Mbak!!!" teriah Hakam histeris sembari menggedor-gedor pintu dengan brutal.

Adrian yang baru saja tiba di lorong itu siap melayangkan makian, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan.

Tatapannya jatuh pada rembesan air darah di bawah kaki Hakam.

Detik itu juga, Adrian membeku. Seluruh amarah laknat yang menguasai dirinya sejak semalam mendadak runtuh tak berbekas, digantikan oleh rasa takut dan ngeri yang luar biasa luar biasa saat akal sehatnya menyadari apa yang telah diperbuat oleh istrinya.

"Fatma..." bisik Adrian, wajahnya mendadak pias, kehilangan seluruh keangkuhannya.

"Mas! Jangan diam saja! Bantu aku dobrak pintunya!!" bentak Hakam dengan air mata yang mulai menetes karena ketakutan.

Tanpa memedulikan lagi perseteruan di antara mereka, Hakam dan Adrian bahu-membahu menghantamkan tubuh mereka ke pintu kamar mandi.

Mereka mendobraknya dengan brutal berulang kali, menggunakan seluruh sisa kekuatan yang mereka miliki hingga terdengar bunyi prakkk! yang keras. Pintu kayu itu hancur dan terbuka paksa.

Pemandangan di dalam kamar mandi seketika menyayat hati siapa pun yang melihatnya.

Di bawah guyuran dingin air shower, Fatma sudah terkulai lemas di atas lantai keramik yang dingin.

Wajah mulianya tampak seputih kertas, bibirnya membiru, dan kelopak matanya terpejam rapat.

Di sekeliling tubuhnya yang basah kuyup, genangan darah pekat mengalir deras dari pergelangan tangan kirinya, mengubah seluruh lantai kamar mandi menjadi merah mengerikan.

"Mbak Fatma!!!"

Hakam berlutut di atas genangan air bercampur darah itu, mengabaikan pakaiannya yang ikut basah.

Ia segera menarik tubuh Fatma ke tempat yang agak kering.

Dengan tangan gemetar, Hakam memeriksa napas dan meletakkan dua jarinya di leher Fatma.

Tidak ada debaran. Denyut nadinya seolah menghilang.

Tanpa membuang waktu, Hakam langsung meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada Fatma, memberikan tindakan CPR dengan ritme yang cepat dan penuh keputusasaan.

"Mbak, bangun!! Jangan menyerah karena Mas Adrian!! Tolong bangun, Mbak!! Ingat Abah sama Umi, Mbak... Bangun!!" teriak Hakam histeris.

Air matanya luruh bercampur dengan air yang membasahi wajahnya.

Ia terus menekan dada Fatma, mencoba mengembalikan detak kehidupan wanita suci itu.

Sementara itu, Adrian berdiri limbung di dekat pintu.

Tubuhnya gemetar hebat, lututnya lemas hingga ia jatuh bersimpuh di lantai.

Dengan tangan yang gemetar, Adrian mencoba merangkak maju dan memegang pergelangan tangan kiri Fatma, berusaha menekan luka sayatan itu untuk menghentikan darah yang terus keluar. Namun, darah itu justru melumuri seluruh telapak tangannya.

Adrian menatap tangannya yang memerah, lalu menatap wajah tak berdaya istrinya.

Penyesalan yang teramat terlambat datang menghantam dadanya seperti godam besar.

Dialah yang telah mendorong istrinya ke dalam sumur kematian ini.

"Napasnya... napasnya ada, tapi sangat lemah! Denyut nadinya kembali sedikit!" seru Hakam setelah merasakan ada getaran halus di leher Fatma pasca CPR.

Tanpa menunggu instruksi dari Adrian yang sudah kehilangan fungsi berpikirnya, Hakam dengan cekatan langsung menyusupkan lengannya di bawah tubuh Fatma.

Ia mengangkat dan menggendong tubuh ringkih yang basah kuyup dan berlumuran darah itu dengan pelukan erat, lalu berlari kencang keluar rumah menuju mobil, berpacu dengan waktu yang kian menipis demi menyelamatkan nyawa Fatma.

1
ahs@
sakit jiwa,c adrian....
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!