Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival Sekolah
Suasana sekolah berubah total begitu pengumuman festival tahunan ditempel di mading.
Semua kelas mendapat tugas membuat stan masing-masing, lengkap dengan dekorasi dan permainan untuk para pengunjung.
Begitu bel pulang berbunyi, wali kelas langsung mengumpulkan semua murid.
“Festival tinggal tiga minggu lagi. Mulai hari ini, kita akan rapat setiap selesai jam pelajaran.”
Keluhan langsung terdengar dari berbagai sudut kelas.
“Bu, pulangnya jadi sore terus dong…”
“Kalau mau hasilnya bagus, ya harus kerja sama,” jawab wali kelas sambil tersenyum.
Alya hanya mengangguk. Baginya tidak masalah, selama tugas dibagi dengan jelas.
Rapat pertama dimulai dengan pembagian divisi.
Ada yang mengurus dekorasi, konsumsi, permainan, promosi, dan dokumentasi.
Saat guru bertanya siapa yang mau menjadi tim dokumentasi, beberapa siswa langsung menunjuk Alya.
“Bu, Alya aja. Dia jago motret.”
“Iya, Bu. Hasil fotonya keren.”
Alya sempat ingin menolak, tapi akhirnya mengangguk.
“Baik, saya bantu dokumentasi.”
Di sisi lain kelas, Raka mengangkat tangan.
“Saya bagian dekorasi aja, Bu.”
Dion langsung menoleh.
“Lo? Dekorasi?”
“Kenapa? Nggak percaya?”
“Takut hasilnya abstrak.”
Satu kelas tertawa.
---
Sore harinya, mereka mulai menghias stan yang masih berupa rangka kayu kosong.
Alya sibuk memotret proses persiapan, sementara Raka dan beberapa siswa laki-laki mengecat papan.
“Eh, hati-hati catnya!” teriak Nadya.
Belum sempat ada yang menjawab, terdengar suara kecil.
“Eh… eh…”
Plak!
Kuas di tangan Raka tidak sengaja menyentuh lengan seragam Alya dan meninggalkan bekas cat biru.
Semua langsung diam.
Raka membeku.
Alya menatap noda itu beberapa detik.
“Raka…”
“Iya?”
“Ini seragam gue.”
“Iya…”
“Baru dicuci.”
“Iya juga…”
Dion pelan-pelan mundur.
“Nah, gue cabut dulu.”
Nadya menahan tawa sambil pura-pura sibuk.
Raka buru-buru mengambil tisu basah dari tasnya.
“Maaf, maaf. Gue bantu bersihin.”
Alya menghela napas.
“Udah, nanti aja di rumah.”
“Serius maaf ya.”
Melihat ekspresi bersalah di wajah Raka, rasa kesal Alya perlahan hilang.
“Lain kali lebih hati-hati.”
“Siap.”
---
Menjelang magrib, dekorasi mulai terlihat bentuknya.
Stan kelas mereka mengusung tema pasar malam dengan lampu gantung warna-warni dan papan kayu yang dicat sendiri.
Alya mengambil beberapa foto terakhir sebelum menyimpan kameranya.
Saat sedang mengecek hasil jepretan, Raka menghampiri.
“Boleh lihat?”
“Boleh.”
Raka berdiri di sampingnya dan memperhatikan satu per satu foto di layar kamera.
“Bagus semua.”
“Masih banyak yang harus diedit.”
“Tapi yang ini paling bagus.”
Ia menunjuk foto yang memperlihatkan teman-teman sekelas sedang tertawa saat mengecat papan bersama.
Di pojok kanan bawah, tanpa sengaja Raka ikut tertangkap kamera sedang melihat ke arah Alya.
Tatapan itu terlihat jelas.
Seolah-olah ia sama sekali tidak memperhatikan pekerjaan di depannya.
Alya langsung mengganti foto.
“Yang lain aja.”
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Padahal pipinya mulai terasa hangat.
---
Saat semua orang bersiap pulang, wali kelas meminta mereka berfoto bersama sebagai dokumentasi.
Seorang guru membantu mengambil gambar.
“Yang tinggi di belakang!”
“Yang depan jongkok!”
“Semua lihat kamera!”
Raka yang awalnya berdiri di ujung perlahan bergeser hingga berada tepat di samping Alya.
Alya melirik sekilas.
“Ngapain pindah?”
“Biar masuk frame.”
“Kan dari sana juga masuk.”
“Iya sih.”
“Tapi?”
“Lebih enak di sini.”
Alya hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
Klik!
Foto berhasil diambil.
Beberapa teman langsung meminta salinannya.
Malam harinya, foto itu diunggah ke grup kelas.
Komentar pun bermunculan.
> Nadya:
Seru banget hari ini.
> Dion:
Besok lanjut lagi ya.
Lalu muncul pesan dari salah satu teman.
> “Eh, Raka sama Alya kebetulan sebelahan terus ya?”
Grup langsung ramai dengan emoji tertawa.
Alya yang membaca dari rumah langsung menaruh ponselnya di kasur.
Beberapa detik kemudian muncul chat pribadi dari Raka.
> Raka:
Bener juga ya.
> Alya:
Kebetulan.
> Raka:
Semoga besok kebetulan lagi.
Alya tersenyum sendiri sebelum membalas.
> Alya:
Jangan berharap terlalu banyak.
> Raka:
Oke. Berarti berharap secukupnya aja.
Ia menutup layar ponselnya, tapi senyum itu belum hilang.
Di luar jendela, hujan rintik-rintik mulai turun.
Sementara di dalam kamar, Alya menyadari bahwa momen-momen sederhana bersama Raka kini menjadi bagian yang paling ia tunggu setiap hari.