Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Suasana di dalam butik Griya Kencana mendadak berubah drastis sejak kedatangan dua sejoli beda alam ini. Butik yang biasanya tenang dengan alunan musik klasik dan aroma melati itu sekarang penuh dengan suara perdebatan yang bikin pusing kepala para pegawainya.
Zyan berdiri di depan cermin besar, sedang mencoba sebuah jas tuxedo hitam dengan potongan slim fit yang mempertegas bahunya yang tegap. Ia terlihat seperti model majalah kelas atas—sempurna, dingin, dan mahal. Namun, ekspresi wajahnya masih tetap sama: seperti orang yang sedang dipaksa menandatangani surat kebangkrutan perusahaan.
"Zyan, coba pakai dasi yang ini. Lebih cocok dengan warna kulit kamu," ujar Bu Ratna sambil menyodorkan dasi sutra berwarna silver.
"Terserah Mama saja," jawab Zyan pendek. Matanya melirik ke arah tirai ruang ganti di seberangnya, tempat Alexa sedang "berperang" dengan gaun pengantinya.
Dari balik tirai, terdengar suara gerutu yang cukup keras. "Aduh! Mbak, ini talinya kenapa banyak banget sih? Gue berasa kayak mau dibungkus jadi lemper tahu nggak!"
"Sabar ya, Non Alexa. Ini memang modelnya corset back, jadi harus ditarik supaya pas di badan," sahut suara pelayan butik yang terdengar kewalahan.
"Ditarik gimana?! Ini napas gue udah di tenggorokan, Mbak! Kalau gue pingsan, jangan lupa kasih napas buatan pake oksigen motor gue ya!"
Zyan mendengus mendengar ocehan itu. "Berisik sekali dia," gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian, tirai itu tersingkap. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zyan Arsalan merasa dunianya seolah berhenti berputar selama beberapa detik.
Alexa keluar dengan gaun pengantin model A-line berwarna putih tulang dengan detail brokat halus di bagian dada. Potongan gaun itu memperlihatkan lehernya yang jenjang dan bahunya yang kokoh namun feminim. Tapi yang paling kontras adalah rambut wolfcut-nya yang dibiarkan acak-acakan, serta wajahnya yang cemberut tanpa polesan bedak sedikit pun.
"Wah! Cantik banget menantu Mama!" seru Bu Ratna histeris sambil bertepuk tangan.
Alexa berjalan dengan kaku, seolah ia sedang memakai baju zirah perang daripada gaun pengantin. Ia berdiri di samping Zyan, menatap bayangan mereka berdua di cermin.
"Gimana, Om? Puas lo liat gue menderita pake daster mahal ini?" ketus Alexa sambil mencoba melonggarkan kerah gaunnya yang mencekik.
Zyan berdehem, mencoba menormalkan detak jantungnya yang mendadak aneh. "Kamu terlihat... lebih baik daripada biasanya. Setidaknya tidak seperti pengangguran yang hobi nongkrong di bengkel."
"Heh! Bengkel itu tempat suci ya! Daripada lo, rapi-rapi tapi hatinya hampa kayak dompet mahasiswa akhir bulan," balas Alexa telak.
"Alexa, jaga bicara kamu. Zyan ini calon suamimu," tegur Pak Surya yang baru saja kembali dari area kopi.
"Pa, liat deh. Kita kayak angka sepuluh. Dia kaku kayak angka satu, gue bulat-bulat cantik kayak angka nol. Nggak cocok banget!" Alexa protes sambil mengangkat rok gaunnya yang berat, memperlihatkan sepatu Converse-nya yang masih ia pakai di balik gaun tersebut.
Mata Zyan membelalak. "Kamu memakai sepatu itu dengan gaun pengantin?!"
"Kenapa? Nyaman tahu! Gue nggak mau ya pake high heels terus ntar pas acara malah kesrimpet terus jatuh nyungsep ke pelaminan. Bisa jatuh harga diri gue sebagai anak motor!"
"Lepas sepatunya, Alexa. Itu menghina estetika gaunnya," perintah Zyan dengan nada otoriter khas direkturnya.
"Nggak mau! Perintah lo nggak berlaku di sini, Pak Bos. Di sini gue yang berkuasa atas kaki gue sendiri."
Zyan mendekat, memberikan aura intimidasi yang biasanya bikin bawahannya gemetar. "Pakai sepatu yang sudah disediakan, atau saya suruh asisten saya untuk menderek motor ZX kamu ke tempat penghancuran besi tua sore ini juga."
Alexa membelalak. Napasnya memburu. "Lo... lo bener-bener ya! Duda kejam! Tega banget lo sama motor gue!"
"Pilihan ada di tanganmu, Calon Istri." Zyan memberikan senyum tipis yang sangat menyebalkan—senyum kemenangan yang dingin.
Dengan hentakan kaki yang keras, Alexa akhirnya melepas sepatunya dan menggantinya dengan sepatu hak tinggi berwarna perak yang sudah disiapkan. Begitu memakainya, tinggi badan Alexa jadi hampir menyamai pundak Zyan. Karena belum terbiasa, keseimbangan Alexa goyah. Ia hampir jatuh ke belakang kalau saja tangan besar Zyan tidak dengan sigap menangkap pinggangnya.
Untuk beberapa saat, mereka saling tatap. Jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Alexa bisa mencium aroma parfum sandalwood yang maskulin dari tubuh Zyan, sementara Zyan bisa melihat dengan jelas binar kemarahan sekaligus kebingungan di mata cokelat Alexa.
"Lepasin!" bisik Alexa sambil meronta pelan, wajahnya mendadak memerah.
"Jangan banyak gerak kalau tidak mau jatuh dan mempermalukan diri sendiri," balas Zyan tetap dengan suara baritonnya yang tenang, namun tangannya masih melingkar protektif di pinggang Alexa.
Bu Ratna dan Pak Surya yang melihat kejadian itu dari jauh hanya bisa senyum-senyum sendiri. "Tuh kan, Jeng, mereka sebenarnya serasi. Cuma butuh waktu aja buat luluh," bisik Bu Ratna.
Setelah sesi fitting yang penuh drama itu selesai, mereka semua keluar dari butik. Orang tua mereka memutuskan untuk pergi makan siang bersama lagi, tapi Zyan menolak.
"Ma, aku ada meeting darurat dengan investor dari Jepang setengah jam lagi. Aku harus kembali ke kantor."
"Terus Alexa gimana? Dia kan tadi ke sini bareng kamu naik motor," tanya Pak Surya.
Zyan melirik motor Ninja hitam yang terparkir angkuh di depan butik. "Dia bisa bawa motornya sendiri, kan? Dia kan 'ahli mesin'."
Alexa mendengus. "Gue juga nggak sudi dibonceng lo lagi. Bau jas lo bikin gue pengen bersin!"
Namun, saat Alexa hendak menghampiri motornya, ia baru menyadari sesuatu yang horor. Ban belakang motor ZX-nya kempes total. Ada sebuah paku besar yang menancap di sana.
"Sial! Paku darimana coba?!" teriak Alexa frustasi.
Zyan yang hendak masuk ke mobil Rolls Royce-nya berhenti sejenak. Ia melihat kondisi motor Alexa lalu beralih menatap gadis itu yang tampak ingin menangis tapi tertahan gengsi.
"Sepertinya 'belahan jiwa' kamu sedang butuh bantuan medis," ujar Zyan datar, meskipun ada nada mengejek di suaranya.
"Diem lo! Ini gara-gara lo tadi bawa gue lewat jalan pintas yang banyak proyeknya!" tuduh Alexa asal.
"Jangan menyalahkan rute, salahkan keberuntunganmu yang buruk. Masuk ke mobil. Saya akan minta orang bengkel langganan saya untuk menjemput motor ini nanti."
"Nggak! Gue mau nungguin motor gue di sini!"
Zyan berjalan mendekat, menarik tangan Alexa dengan lembut tapi tegas menuju mobilnya. "Jangan keras kepala. Cuaca panas, dan saya tidak punya waktu untuk drama di pinggir jalan. Masuk, atau saya tinggal dan kamu silakan dorong motor ini sampai ke kampus."
Alexa akhirnya menyerah. Dengan wajah ditekuk, ia masuk ke dalam mobil mewah Zyan. Di dalam mobil, suasananya sangat berbeda dengan saat mereka naik motor tadi. AC yang dingin, jok kulit yang empuk, dan kesunyian yang mencekam.
Zyan sibuk dengan tabletnya, memeriksa email-email pekerjaan seolah Alexa tidak ada di sana. Alexa yang bosan mulai usil. Ia menekan-nekan tombol di dasbor mobil.
"Jangan sembarangan menekan tombol, Alexa. Itu bisa mengaktifkan mode darurat."
"Pelit amat sih! Om, lo beneran nggak punya hobi lain selain kerja ya? Hidup lo datar banget kayak penggaris."
Zyan mengalihkan pandangannya dari tablet. "Kerja adalah cara saya menjaga stabilitas hidup. Sesuatu yang mungkin belum kamu pahami karena kamu masih asyik bermain-main dengan hobi berbahaya kamu."
"Hobi gue nggak berbahaya kalau kita tahu caranya. Yang berbahaya itu kalau hidup cuma buat cari duit tapi nggak tahu cara menikmatinya. Lo punya rumah gede, mobil mewah, tapi lo sendirian. Kasihan ya," ujar Alexa dengan nada bicara yang tiba-tiba melunak, namun menusuk.
Zyan terdiam. Kata-kata "sendirian" itu seperti mencubit luka lama yang ia simpan rapat-rapat. Ia teringat bagaimana mantan istrinya dulu meninggalkannya karena alasan yang sama: Zyan terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidup saya, Alexa," ujar Zyan dingin, matanya kembali menatap layar tablet.
"Gue emang nggak tahu. Tapi gue bisa liat dari mata lo. Mata lo itu sepi banget, Om. Makanya, mumpung lo bakal nikah sama gue, siap-siap aja. Gue nggak bakal biarin lo hidup dalam kesepian lagi. Gue bakal bikin rumah lo berisik, berantakan, dan penuh sama suara knalpot motor gue!"
Zyan tertegun. Ia melirik Alexa dari sudut matanya. Gadis itu sedang menatap keluar jendela dengan tatapan berani. Ada sesuatu dalam kalimat Alexa yang barusan—sebuah janji tersirat—yang membuat tembok es di hati Zyan sedikit retak.
"Kita lihat saja nanti, bocah nakal," gumam Zyan sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.
"Apa lo bilang?!"
"Bukan apa-apa. Diamlah, saya harus fokus."
Mobil terus melaju membelah kemacetan Jakarta. Di luar, matahari bersinar terik, namun di dalam mobil itu, benih-benih perasaan aneh mulai tumbuh di antara si kaku dan si pemberontak. Perjalanan menuju pernikahan mereka masih panjang, dan ini hanyalah awal dari kekacauan yang jauh lebih besar.
Bersambung........