Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Punya Pilihan
Paul keluar dari mobil dan melangkah cepat mendekati Rachel, ia tidak marah, melainkan sebuah amplop cokelat tebal dan sebuah map kecil.
"Rachel, kamu baik-baik saja?" tanya Paul.
Rachel hanya menatap pria itu, ia sudah lama tidak menyukai Paul, bahkan Rachel jarang berinterkasi dengan Paul.
"Aku tahu, kamu benci padaku. Ambil ini, ini tiket ke Vietnam. Temui Daddy-mu dan hiduplah disana," ucap Paul.
Rachel yang mendengar perkataan Paul pun terkejut, "Aku tidak butuh, aku bisa hidup tanpa menemui Daddy," ucap Rachel.
"Kamu memang bisa hidup? Tapi, sampai kapan? Kalau kamu terus di Jakarta, aku nggak yakin Mommy-mu akan membiarkanmu hidup tenang, setidaknya di rumah Daddy-mu, kamu bisa hidup tenang," ucap Paul.
Paul meraih tangan Rachel yang gemetar dan memaksa amplop cokelat serta paspor itu masuk ke dalam genggamannya. "Jangan bodoh, Rachel. Ini bukan soal harga diri lagi, ini soal bertahan hidup. Mommy-mu... dia tidak akan berhenti sampai kamu benar-benar hancur, jika kamu disini percuma, semua pintu akan tertutup untukmu karema pengaruhnya," ucap Paul.
Rachel menatap amplop itu dengan nanar, di dalamnya terdapat uang 20 juta, jumlah yang biasanya ia habiskan hanya untuk satu botol wine di London, kini terasa begitu berat dan menghina, sekaligus menjadi satu-satunya pelampung di tengah samudra yang siap menenggelamkannya.
"Kenapa? Kenapa anda melakukan ini?" tanya Rachel, suaranya serak.
"Selama ini anda hanya diam melihat Mommy menyiksaku," lanjut Rachel.
Paul menghela napas panjang, matanya menatap aspal jalanan yang panas. "Karena aku pengecut, Rachel. Aku mencintai Ibumu, tapi aku juga takut padanya. Membantumu pergi adalah satu-satunya hal benar yang bisa kulakukan untuk menebus dosaku karena membiarkanmu menderita selama ini, pergilah dan jalani hidupmu dengan tenang," ucap Paul lalu pergi meninggalkan Rachel.
Rachel menatap kepergian mobil Paul dengan perasaan campur aduk dan jika ia tetap di Jakarta, Mommy Viona akan memastikan tidak ada satu pun hotel yang menerimanya, tidak ada satu pun teman sosialitanya yang akan mengangkat teleponnya dan tidak ada satu pun perusahaan yang berani mempekerjakannya.
"Aku tidak punya pilihan," gumam Rachel, dengan menyeret kopernya.
Beberapa saat kemudian, Rachel sampai di Vietnam. Suara lalu lintas langsung menyambut Rachel dengan kebisingan yang jauh lebih riuh daripada London atau Jakarta, jika dua tahun lalu ia datang dengan penuh percaya diri, kali ini Rachel ragu apakah ia harus tetap bertemu Daddy Brian atau kembali saja, padahal Rachel sudah berada di Vietnam.
Sepanjang perjalanannya mencari taksi, Rachel melihat sekeliling bandara dan teringat bagaimana pertama kali ia datang ke bandara ini. Saat itu, Daddy Brian sudah tahu jika Rachel kabur ke Vietnam untuk menemuinya, karena kedai saat itu ramai, maka Daddy Brian meminta bantuan Daniel untuk menjemput Rachel.
Rachel yang saat itu melihat Daniel begitu takut, karena Daniel tampak seperti berandalan, Daniel saat itu juga begitu dingin dan cuek. Saat itu, Daniel menjemputnya menggunakan jeep tua miliknya dan sekarang Rachel harus mencari taksi untuk pergi ke rumah Daddy Brian yang berada di pinggiran kota.
Rachel pun tersadar dan menepuk pipinya pelan, "Apa sih Rachel, Daniel sekarang mungkin sudah bahagia. Sudah dua tahun, saat itu aku pergi karena penolakan Daniel atas perjodohan yang direncanakan Daddy dan sekarang aku kembali," gumam Rachel.
Perjalanan dari bandara menuju distrik pelabuhan terasa seperti dejavu yang menyakitkan, jika dulu Rachel duduk di kursi penumpang jeep tua Daniel dengan perasaan kesal, kini ia duduk di dalam taksi lokal yang sempit dengan aroma pengharum ruangan yang menyengat.
Jalanan menuju pinggiran kota Vietnam masih sama, penuh dengan lautan sepeda motor yang saling mendahului dan debu yang beterbangan di bawah terik matahari.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, taksi itu berhenti di sebuah jalanan aspal yang mulai mengelupas, Rachel pun keluar dan melihat sekelilingnya. Tempat itu tidak berubah sama sekali, masih kumuh dan ramai.
Rachel yang menggunakan kaus putih dan rok jeans selutut, lalu flatshoes tentu saja menjadi pusat perhatian. Namun, ia tidak peduli dan menyeret kopernya ke rumah susun yang pernah ia tinggali sebelumnya.
Sesampainya di rumah susun tersebut, Rachel menghela napas panjang. Ia baru ingat, jika rumah susun tersebut tidak memiliki lift, dulu saat Rachel pertama kali datang, Daniel yang membantunya dan sekarang tidak ada yang membantunya membawakan kopernya yang berat.
Rachel pun akhirnya menaiki tangga dengan sudah payah, setiap anak tangga yang dipijak Rachel terasa seperti beban yang menghimpit paru-parunya. Suara gesekan roda koper besarnya yang menghantam pinggiran tangga menimbulkan bunyi yang bergema di lorong rumah susun yang sempit dan lembap itu, keringat mulai membasahi dahi dan lehernya dan membuat beberapa helai rambutnya menempel di pipi yang masih terasa sedikit nyeri akibat tamparan Mommy Viona.
Rachel berhenti sejenak di lantai tiga, mengatur napasnya yang memburu. Telapak tangannya yang halus kini memerah dan perih karena harus mencengkeram pegangan koper berat itu sendirian.
Rachel menatap ke atas, ke arah lorong lantai tujuh tempat tinggal Ayahnya. Bau tumisan bawang, aroma detergen dari jemuran tetangga dan suara televisi yang bersahut-sahutan menyambutnya.
"Sedikit lagi, Rachel. Kamu sudah sejauh ini," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Rachel kembali mengangkat kopernya dan menyeretnya selangkah demi selangkah, bahkan otot lengannya terasa gemetar.
Setelah usahanya, akhirnya Rachel sampai di depan pintu kayu tempat tinggal Daddy Brian. Pintu itu tampak sedikit lebih kusam dibanding dua tahun lalu, dengan cat yang mulai mengelupas di bagian bawahnya.
Rachel melepaskan pegangan kopernya dan membiarkan benda besar itu berdiri di sampingnya, ia merapikan kaus putihnya yang sudah agak kusut dan mengusap air mata yang nyaris jatuh. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengetuk pintu itu pelan.
Tok... tok... tok...
Tidak ada jawaban, Rachel menunggu beberapa detik, namun tetap tidak ada jawaban hingga membuat jantungnya berdegup kencang.
"Bagaimana kalau Daddy nggak ada? Atau bagaimana kalau Daddy dan Tante Anna udah pindah?" gumam Rachel.
Ketakutan akan sendirian di negara orang tanpa tempat berteduh mulai menghantuinya, Rachel mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Namun, hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban dari dalam.
Setelah beberapa saat, akhirnya pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang Rachel kenal yaitu Anna, Ibu tirinya.
Wajah Anna yang awalnya tegang seketika berubah menjadi pucat karena terkejut, matanya membulat sempurna menatap sosok wanita anggun yang berdiri di depannya dengan rambut berantakan dan wajah yang tampak kelelahan.
"Rachel? Ini... ini benar-benar kamu?" suara Anna bergetar dan tangannya yang masih memegang spatula kayu perlahan turun.
Rachel tidak sanggup berkata-kata, ia hanya bisa mengangguk kecil dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan melihat reaksi Anna, bendungan pertahanan di hatinya runtuh seketika.
"Tante," panggil Rachel lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
.
.
.
Bersambung.....
Semoga Mommy Viona segera tersingkir dari kehidupan mereka