"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pasien yang Keras Kepala
"Itu karena aku sudah kehabisan tenaga, bukan karena aku lemah," desis Keysa ketus. Ia memalingkan wajahnya yang memerah ke arah atap sasana, menolak menatap mata suaminya yang terlihat sangat puas dengan kemenangannya. "Dan singkirkan kakimu dari atas kakiku sekarang juga. Menempel denganmu membuatku semakin kepanasan."
Arga tertawa lepas. Sebuah tawa yang sangat jarang terdengar, memecah ketegangan yang sejak tadi mengikat mereka berdua. Laki-laki itu justru semakin menyilangkan kakinya, menahan pergerakan Keysa di atas matras. "Aku suka sisi liarmu yang ini, Keysa. Jauh lebih menarik daripada wajah datar menyebalkan yang selalu kau pasang di kantor."
"Berhenti membual dan lepaskan aku. Waktu sewaku di tempat ini sudah habis," potong Keysa. Ia mengerahkan sisa tenaganya untuk berguling menjauh, lalu bangkit berdiri dengan langkah yang sedikit limbung. "Aku mau mandi."
Pertarungan fisik di atas ring itu menjadi penutup akhir pekan yang sangat menguras tenaga. Arga mengendarai mobilnya membawa Keysa yang lelah kembali ke apartemen dalam keheningan yang jauh lebih rileks dibandingkan saat mereka pulang dari Surabaya. Tidak ada lagi perang urat saraf atau adu mulut. Keduanya terlalu lelah untuk berdebat.
Namun, tubuh manusia memiliki batas maksimalnya sendiri, dan fisik Keysa akhirnya menagih janji atas penyiksaan beruntun yang ia lakukan selama beberapa minggu terakhir. Terkurung di ruang arsip dengan suhu beku di bawah nol derajat, serangan fobia parah saat pesawat mengalami turbulensi ekstrem, ditambah adu fisik brutal di sasana, semuanya bergabung menjadi satu pukulan telak yang meruntuhkan kekebalan tubuhnya.
Alarm dari jam beker di atas nakas berbunyi nyaring tepat pukul lima pagi.
Keysa mencoba membuka matanya, namun kelopak matanya terasa seberat batu bata. Ia berusaha mengangkat tangannya untuk mematikan alarm tersebut, tapi seluruh otot persendiannya terasa ngilu dan kaku luar biasa. Kepalanya berdenyut sangat hebat seolah ada palu yang memukulnya dari dalam. Udara di dalam kamar tidur yang sejuk mendadak terasa membakar kulitnya.
Sebuah tangan besar terjulur melewati tubuhnya, menekan tombol alarm itu hingga mati total.
"Berhenti bergerak," suara Arga yang berat dan serak karena bangun tidur terdengar sangat dekat.
Arga bangkit bertumpu pada sikunya. Laki-laki itu menatap istrinya yang meringkuk memunggungi dirinya. Napas Keysa terdengar sangat pendek dan kasar. Arga segera membalikkan tubuh Keysa agar menghadap ke arahnya. Wajah perempuan itu terlihat sangat pucat, dengan rona merah tidak wajar yang menjalar di sekitar tulang pipinya. Keringat dingin membasahi dahi dan leher kemeja tidurnya.
Arga langsung menempelkan telapak tangannya ke dahi Keysa. Panas menyengat langsung terasa di kulit tangannya. Suhu tubuh istrinya sangat tinggi, nyaris seperti sedang memanggang sesuatu dari dalam.
"Badanmu panas sekali, Keysa," ucap Arga dengan raut wajah berubah tegang. Laki-laki itu segera menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua. "Kau demam tinggi. Aku akan memanggil dokter pribadi keluarga kita sekarang juga."
"T-tidak... perlu..." Keysa mencoba menjawab, namun suaranya nyaris tidak keluar sama sekali. Tenggorokannya terasa sangat perih seperti ditusuk ribuan jarum kecil. "Aku... harus ke kantor... ada rapat penting dengan tim legal... evaluasi kontrak..."
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana dengan suhu tubuh yang mencapai tiga puluh sembilan derajat!" bantah Arga mutlak. Laki-laki itu meraih ponsel dari atas nakas dan menekan tombol panggilan cepat. "Aku yang membatalkan semua jadwal rapat hari ini. Aku yang mengambil alih kontrol."
Keysa mencoba memaksakan diri untuk duduk, namun rasa pening luar biasa langsung membuat pandangannya berputar hebat. Ia kembali merosot jatuh ke atas bantal empuk tersebut dengan erangan tertahan. Tubuhnya benar-benar menolak perintah dari otaknya yang keras kepala.
Dalam waktu kurang dari setengah jam, dokter pribadi yang datang memeriksa Keysa memvonis perempuan itu mengalami kelelahan fisik tingkat tinggi dan juga radang tenggorokan akut. Obat penurun panas dosis tinggi dan vitamin sudah diresepkan, dengan syarat mutlak Keysa harus istirahat total di atas kasur selama dua hari penuh.
Matahari sudah naik tinggi. Suasana apartemen terasa sangat hening. Arga berjalan keluar dari kamar tidur setelah memastikan Keysa memejamkan mata di bawah pengaruh obat.
Laki-laki itu berniat membiarkan istrinya tidur pulas. Namun, Arga lupa betapa gilanya etos kerja wanita yang ia nikahi itu.
Baru saja Arga kembali dari dapur membawa segelas air hangat, ia memergoki Keysa sedang bersandar di bantal, diam-diam menyalakan tablet kerjanya di bawah selimut. Jari-jari perempuan itu mengetik lambat dan gemetar menyusun balasan surel kepada para manajer divisi.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tegur Arga dengan nada yang sangat rendah dan berbahaya. Laki-laki itu melangkah lebar mendekati sisi ranjang.
Keysa mendongak kaget, wajahnya sepucat kertas. "A-aku cuma... mengirim laporan... sedikit..." suaranya hilang timbul, hanya terdengar seperti bisikan serak yang menyakitkan telinga.
Tanpa basa-basi sedikit pun, Arga merampas tablet hitam itu dari tangan istrinya. Ia mematikan layarnya dengan sekali tekan, lalu berjalan menuju meja rias dan memasukkan tablet itu ke dalam laci, menguncinya rapat-rapat. Laki-laki itu kembali menghampiri Keysa, lalu merogoh ke bawah bantal dan menemukan dua ponsel cadangan milik Keysa yang sengaja disembunyikan.
"Kembalikan..." protes Keysa lemah, berusaha meraih ponselnya kembali.
"Kau pikir aku bodoh? Aku CEO perusahaan tempatmu bekerja, Keysa. Aku tahu semua tipu muslihat asistenku." Arga menyimpan semua ponsel itu ke dalam saku celananya. "Sekarang, berbaring diam dan jangan menguji kesabaranku."
Keysa membuang muka dengan kesal. Ia membenci perasaan tidak berdaya ini. Terbaring lemah di atas kasur membuat ingatan buruknya tentang masa lalu berkelebat mengganggu ketenangannya. Ia merasa sangat rapuh, dan itu adalah hal terakhir yang ingin ia tunjukkan pada laki-laki arogan di depannya.
"Kau harus makan sesuatu sebelum minum obat tahap kedua," ucap Arga, meletakkan gelas air di atas meja kecil.
Arga berjalan kembali ke arah dapur. Ia membuka kulkas dan rak penyimpanan, menatap deretan bahan makanan mentah dengan tatapan kosong. Selama tiga puluh lima tahun hidupnya, jangankan memasak, menyalakan kompor gas saja Arga tidak pernah. Ia selalu hidup dikelilingi pelayan dan makanan restoran mewah.
Namun egonya menolak memanggil pesanan makanan luar atau meminta asisten rumah tangga untuk datang. Ia ingin menunjukkan pada istrinya bahwa ia bisa mengurus hal sepele ini.
Bermodalkan ingatan visual yang minim dan panduan dari internet di ponselnya, Arga mulai mencuci beras, memasukkannya ke dalam panci, dan menambahkan air dengan takaran acak. Ia tidak tahu perbedaan garam, gula, dan penyedap rasa. Ia hanya memasukkan sedikit garam dengan ragu-ragu, lalu membiarkan campuran itu mendidih lama hingga akhirnya berubah bentuk menjadi bubur putih yang sangat kental dan lengket.
Setengah jam kemudian, Arga kembali ke dalam kamar utama membawa nampan berisi semangkuk bubur panas dan segelas air.
"Duduklah. Waktunya makan," perintah Arga, duduk di tepi kasur menghadap Keysa.
Keysa menatap semangkuk bubur putih polos di tangan suaminya dengan raut wajah tidak percaya. Tidak ada kaldu ayam, tidak ada irisan daging, apalagi daun bawang. Bentuknya lebih mirip adonan lem kertas daripada makanan manusia.
"Aku... tidak mau..." tolak Keysa dengan suara parau yang tersendat. Ia menekan bibirnya rapat-rapat, memalingkan wajahnya memandang ke arah jendela kamar.
"Kau harus makan agar perutmu tidak terluka saat mencerna obat keras itu," bujuk Arga dengan sisa kesabaran yang sangat minim. Laki-laki itu menyendok sedikit bubur tersebut, lalu meniupnya perlahan hingga uap panasnya menghilang. "Buka mulutmu."
Keysa menggeleng pelan. Kepalanya semakin pusing mencium aroma hambar dari adonan gagal tersebut. Ia menarik selimutnya hingga menutupi dagu, menolak keras suapan suaminya. Tubuhnya memang lemah, tapi ego dan keras kepalanya masih utuh seratus persen.
Arga menghela napas panjang. Kesabarannya habis sudah menghadapi pasien paling keras kepala yang pernah ia kenal. Laki-laki itu meletakkan mangkuk bubur itu dengan kasar ke atas nakas. Bunyi keramik beradu dengan kayu memecah keheningan kamar.
Arga mencondongkan tubuh besarnya ke depan. Tangan kiri laki-laki itu melesat maju, menangkap dagu Keysa dan memutar wajah perempuan itu secara paksa agar kembali menghadap ke arahnya. Cengkeramannya tidak menyakiti, namun sangat tegas dan mengunci segala bentuk perlawanan fisik istrinya.
Mata cokelat gelap Arga menatap tajam langsung ke dalam mata Keysa yang terlihat sangat lelah dan sayu akibat demam. Laki-laki itu menyodorkan sendok berisi bubur tersebut tepat di depan bibir istrinya.
"Makan sendiri dari sendok ini, atau aku yang akan menyuapkannya dari mulutku langsung ke mulutmu?"
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..