NovelToon NovelToon
Setelah Dihina: Istri Gemuk Itu Kini Menjadi Dewi Cantik

Setelah Dihina: Istri Gemuk Itu Kini Menjadi Dewi Cantik

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Nayra, gadis berbadan gemuk yang selalu merasa rendah diri, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga — CEO termuda, terkaya, dan paling tampan yang diidamkan semua wanita. Pernikahan itu langsung menjadi bahan gunjingan seluruh kota.

Di mana pun dia melangkah, hinaan selalu menghampiri.
"Mana pantas gadis gemuk sepertimu berdiri di samping Tuan Arga?"
"Dia cuma aib bagi keluarga besar ini!"
"Pasti sebentar lagi diceraikan, kan suaminya malu punya istri jelek begini."

Bahkan di depan suaminya sendiri, dia sering diremehkan orang lain. Rasa sakit hati, malu, dan amarah perlahan menggerogoti hatinya. Nayra menangis malam itu dan bersumpah dalam hati:
"Kalian menghinaku karena aku gemuk? Kalian mengira aku tak berharga? Tunggu saja... aku akan buktikan! Aku akan berubah sampai kalian semua menyesal seumur hidup!"

Sejak hari itu, Nayra bangkit. Dia tinggalkan sifat malasnya. Tiap hari dia bangun subuh, berolahraga keras, menjaga makanan, menahan segala godaan, dan berjuang m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH, KERINGAT, DAN AIR MATA

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tiga bulan sudah berlalu sejak hari Nayra bersumpah di depan cermin itu. Tiga bulan yang bagi orang lain mungkin biasa saja, tapi bagi Nayra... tiga bulan itu terasa lebih berat, lebih panjang, dan lebih menyiksa daripada sepuluh tahun kehidupannya sebelumnya.

Setiap hari, ritme hidupnya sama persis, tanpa libur, tanpa jeda, tanpa keringanan sedikit pun.

Pukul empat pagi, saat seluruh penghuni kediaman Pradipta masih terlelap dalam mimpi indah, Nayra sudah bangkit dari tidurnya. Tubuhnya selalu terasa pegal, nyeri, dan sakit di sana-sini akibat olahraga keras yang dia lakukan setiap hari. Kadang kakinya sampai bengkak, kadang pinggangnya terasa nyeri sekali sampai susah berdiri tegak. Tapi begitu matanya terbuka, begitu ingatannya kembali pada kata-kata pedas mereka, rasa sakit itu seketika hilang digantikan oleh api semangat yang makin besar.

Dia turun ke halaman, berlari. Dulu dia hanya sanggup sepuluh menit lalu terengah-engah hebat. Sekarang? Dia sudah bisa berlari terus-menerus selama satu jam penuh tanpa berhenti. Napasnya yang dulu pendek dan berat, kini mulai terasa lebih panjang dan lebih lega. Keringat yang mengucur deras itu... Nayra anggap sebagai emas. Setiap tetesnya adalah lemak yang mati, setiap keringatnya adalah langkah menuju kemenangan.

"Kurang sedikit lagi... Nayra, kurang sedikit lagi..." bisiknya tiap kali kakinya terasa mau copot karena lelah. "Ingat Arga. Ingat Karin. Ingat semua hinaan itu. Kalau berhenti sekarang, semua penderitaan ini sia-sia. Ayo, lari lagi! Lebih cepat! Lebih jauh!"

Masalah terberatnya tetaplah MAKANAN.

Di tiga bulan ini, Nayra tidak pernah sekalipun menyentuh makanan berminyak, gorengan, nasi berlebih, gula, atau makanan manis yang dulu sangat dia cintai. Piring makannya selalu sama: sedikit nasi, banyak sayuran, buah-buahan, dan putih telur rebus. Itu saja. Tanpa bumbu berlebih, tanpa kuah kental, tanpa rasa nikmat.

Lidahnya terasa mati. Perutnya selalu terasa kosong, perih, dan minta diisi. Ada malam-malam di mana Nayra terbangun dari tidurnya karena kelaparan hebat. Perutnya bergemuruh keras sampai sakit sekali, rasanya ada yang mencengkeram ulu hatinya. Dia berjalan menuju lemari makanan, berdiri di sana menatap kue-kue, roti, dan makanan ringan yang tersimpan rapi. Tangannya gemetar ingin mengambilnya, mulutnya sudah berair deras.

"Satu saja... satu potong kecil saja tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang tahu..." bisik godaan itu sangat kuat, sampai-sampai Nayra hampir saja merobek kemasan makanan itu.

Tapi kemudian dia melihat pantulan dirinya di kaca lemari. Melihat tubuhnya yang masih besar, pipinya yang masih bulat, dan teringat ucapan Karin: "Orang tulangnya sudah besar begini, mau diet sampai mati pun tidak akan bisa kurus."

"HUAAAA!!!"

Nayra menangis sambil berlutut di depan lemari itu. Dia memukul-mukul mulutnya sendiri, memarahi dirinya sendiri.

"Dasar lemah! Dasar penakut! Mau menyerah cuma gara-gara lapar?! Kalau kamu makan ini, berarti kamu kalah! Berarti mereka benar! Kamu memang gadis gemuk yang tidak punya kemauan! Kamu memang tidak pantas jadi istri Arga! Kamu memang aib keluarga ini!"

Dia menutup lemari itu dengan kasar, lalu berlari kembali ke kamarnya, memeluk gulingnya sambil menangis tersedu-sedu sampai tertidur karena kelelahan dan rasa lapar yang menyiksa.

Rasa sakit, rasa lapar, rasa lelah... itu belum seberapa dibandingkan dengan PENYIKSAAN BATIN yang dia terima setiap hari.

Setiap kali dia keluar kamar, setiap kali dia bertemu pelayan, bertemu keluarga Arga, atau bertemu suaminya sendiri... kata-kata pedas selalu datang menghampiri.

Lihat saja hari ini, saat Nayra sedang beristirahat sejenak di taman sambil mengipasi dirinya yang berkeringat. Karin lewat bersama dua temannya, wanita-wanita cantik dan langsing yang juga sering datang ke rumah ini. Saat melihat Nayra, mereka langsung berhenti dan menatapnya dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan menghakimi.

"Wah, lihat tuh... si aib keluarga lagi berusaha keras ya," ucap Karin sambil menutup mulutnya tertawa kecil. Dia mendekat, lalu menunjuk perut Nayra yang meski sudah berkurang sedikit, tapi masih terlihat gembul di balik baju olahraga yang longgar.

"Katanya mau kurus ya, Nayra?" cibir Karin, matanya berkilat jahat. "Sudah tiga bulan lho. Lihat dirimu itu, masih sama besarnya! Malah kelihatan makin hitam dan kusam karena tiap pagi kepanasan. Hahaha. Sudah kubilang kan? Percuma saja. Kamu itu bawaan lahir gemuk. Tulangmu besar, kulitmu tebal. Mau disiksa sampai mati pun, bentukmu tidak akan berubah. Kamu selamanya akan tetap jadi istri jelek Arga yang kami hina."

Salah satu temannya ikut menyahut, menatap Nayra dengan jijik. "Iya benar. Kasihan sekali ya, sudah jelek, sudah gemuk, hidupnya disiksa sendiri pula. Padahal kan sudah jadi istri orang kaya, mestinya makan enak, tidur enak. Ini malah menyiksa diri. Lucu sekali."

"Mungkin dia mau berusaha biar Arga meliriknya ya? Hahaha, mimpi apa dia semalam? Arga itu suka wanita cantik, langsing, elegan. Bukan wanita kasar, berkeringat, besar begini. Arga pasti jijik kalau melihatnya," tambah Karin sambil melirik tajam ke arah Nayra. "Eh Nayra, coba lihat suamimu itu... dia baru saja berangkat sama wanita lain lho. Wanita itu cantik sekali, langsing, modis. Jauh banget bedanya sama kamu. Kasihan sekali kamu, jadi istri tapi cuma pajangan jelek."

Kalimat terakhir itu menancap tepat di jantung Nayra.

Arga... pergi bersama wanita lain?

Nayra menahan air matanya. Dia tahu dia tidak berhak melarang, dia tahu pernikahan ini cuma kontrak, tapi rasa sakit hati itu tetap ada. Apalagi mendengar pembandingan yang begitu menyakitkan.

"Kalian boleh menertawakan saya hari ini..." jawab Nayra pelan, suaranya bergetar tapi matanya tajam menatap mereka bertiga. "Tiga bulan belum apa-apa. Tunggu saja sampai enam bulan. Tunggu saja sampai satu tahun. Nanti kita lihat siapa yang akan tertawa paling akhir."

Karin dan kedua temannya tertawa terbahak-bahak seolah mendengar lelucon paling lucu sedunia.

"Enam bulan? Satu tahun? Hahaha, siapapun yang melihatmu sekarang pasti tahu kamu tidak akan berubah. Percuma saja bicara besar, kenyataannya tetaplah kenyataan. Selamat menikmati penderitaanmu ya, Nona Gemuk!"

Mereka pun berlalu pergi sambil masih bergosip dan menertawakan Nayra.

Begitu mereka hilang dari pandangan, Nayra langsung merosot jatuh ke bangku taman. Dia memegang dadanya yang sesak. Sakit. Sangat sakit. Rasanya dia ingin berhenti saja. Rasanya dia ingin menyerah, makan sepuasnya, dan menerima takdirnya selamanya sebagai wanita gemuk yang diremehkan.

Tapi... tidak.

Dia mengangkat wajahnya, menatap langit biru yang cerah. Di matanya bergenang air mata, tapi bibirnya tersenyum tipis, senyum yang penuh perjuangan.

"Kalian salah..." bisiknya pelan, lalu dia mengangkat tangannya dan meraba pinggangnya sendiri.

Di sini... di bagian pinggang ini... dia merasakan sesuatu yang berbeda.

Tiga bulan lalu, saat dia memegang pinggangnya, rasanya tebal, keras, dan penuh lemak yang menggumpal. Baju yang ukurannya paling besar pun sesak dan susah dikancingkan. Tapi sekarang... dia merasakan lemak itu makin menipis. Baju yang sama itu kini terasa agak longgar di bagian pinggang dan perutnya.

Perubahannya memang belum terlihat jelas dari luar karena perubahannya perlahan dan dia tidak memberi tahu siapa pun. Tapi dia sendiri tahu. Tubuhnya makin ringan, napasnya makin lega, gerakannya makin lincah, dan berat badannya yang dulu hampir seratus kilo, kini sudah turun menjadi delapan puluh sembilan kilo. Sebelas kilo lemak sudah hilang dibakar keringat dan air matanya!

Hanya saja kulitnya yang dulu sangat tebal dan terbiasa gembung, perlahan-lahan menyusut, jadi perubahannya tidak drastis terlihat mata orang lain. Tapi perubahan itu ada. Nyata. Dan itu bukti kalau usahanya tidak sia-sia.

"Belum terlihat jelas ya? Kalian bilang percuma ya?" batin Nayra, semangatnya kembali menyala berkali-kali lipat lebih besar. "Baiklah... kalau tiga bulan belum cukup, aku akan berjuang enam bulan. Kalau enam bulan belum cukup, aku akan berjuang satu tahun. Sampai kapan pun aku tidak akan berhenti! Aku akan kurus sampai tulangku terlihat, sampai wajah cantikku terlihat, sampai kalian semua menyesal mati pernah meremehkanku!"

Hari-hari makin berlalu dengan berat, tapi Nayra makin kuat.

Dia menambah durasi lari. Dia menambah jenis olahraga. Dia makin ketat menjaga makanannya, kadang hanya makan buah dan sayur saja seharian demi mempercepat prosesnya. Kadang dia pingsan karena kelelahan atau gula darah rendah, tapi begitu sadar, dia bangkit lagi dan lanjut berjuang.

Bibi Ratih yang sering melihatnya pucat dan kurusan sedikit pun tidak peduli, malah makin sering menghina: "Lihat tuh, makin lama makin kelihatan tua dan kusam. Mati saja dia, percuma hidup menyiksa diri begini."

Arga... Arga seolah tidak peduli sama sekali. Dia jarang ada di rumah, sibuk dengan pekerjaannya, sering terlihat bersama wanita cantik lain, dan kalau bertemu Nayra pun dia hanya diam dingin, menatap istrinya itu sama seperti dulu: pandangan yang mengatakan 'kau masih sama jelek dan gemuk'.

Sikap dingin Arga itu adalah cambuk terbesar bagi Nayra. Setiap kali Arga menatapnya kosong, setiap kali Arga bicara datar, setiap kali Arga melewatinya seolah dia tidak ada... Nayra merasa ditampar berkali-kali. Dan setiap kali itu pula, tekadnya makin membaja.

"Tunggu saja, Arga. Tunggu saja sampai aku selesai berubah. Saat aku berdiri di hadapanmu nanti... kau tidak akan bisa mengalihkan pandanganmu sedikit pun. Kau akan menyesal pernah menganggapku tidak berharga. Kau akan jatuh cinta mati-matian padaku. Dan saat itu terjadi... akulah yang akan membalas semua rasa sakit hati ini."

Waktu terus berjalan, memasuki bulan keempat, bulan kelima, bulan keenam...

Di bulan keenam ini, perubahan besar mulai terjadi.

Berat badan Nayra yang dulu hampir seratus kilo, kini tinggal enam puluh lima kilo! Tiga puluh lima kilo lemak lenyap ditelan keringat dan air mata perjuangannya!

Tubuhnya yang dulu lebar dan besar, kini makin ramping. Pinggangnya makin kecil, perutnya yang buncit kini rata dan mulai terlihat garis-garis otot halus hasil latihan kerasnya. Pipi gembulnya makin menyusut, rahangnya makin tegas, mata indahnya yang dulu tertutup lemak kini makin terlihat jelas dan berbinar indah. Kulitnya yang dulu kusam karena kurang perawatan dan kurang gerak, kini makin cerah, bersih, dan bercahaya karena sering bergerak dan makan makanan sehat.

Perubahannya LUAR BIASA! Tapi Nayra masih menutupinya rapat-rapat. Dia masih memakai baju-baju longgar yang besar, dia masih mengikat rambutnya sembarangan, dia masih menundukkan kepalanya saat berjalan. Dia sengaja tidak membiarkan siapa pun melihat perubahannya secara utuh. Dia ingin kejutan besar. Dia ingin saat dia tampil nanti... perbedaannya begitu drastis sampai-sampai membuat semua orang terpukau dan tidak percaya.

Malam itu, tepat enam bulan sejak dia mulai berjuang, Nayra berdiri di depan cermin besar kamarnya. Dia membuka kancing bajunya satu per satu, melepas baju longgar yang selama ini dia pakai untuk menutupi tubuhnya.

Saat tubuhnya yang baru terlihat jelas di kaca... Nayra menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak penuh takjub dan haru.

"Ya Tuhan... ini... ini aku...?" bisiknya parau, air mata bahagia mulai mengalir deras di pipinya yang kini tirus dan cantik.

Di cermin itu, tidak lagi terlihat wanita gemuk besar yang dulu sering dihina. Di sana berdiri seorang wanita muda yang tubuhnya indah, ramping, berisi pas, berlekuk seksi, dan sangat indah. Kulitnya halus, bersih, putih kemerahan. Pinggangnya ramping, bahunya indah, kakinya jenjang.

Dan wajahnya... wajah Nayra kini sungguh mempesona. Pipi bulatnya hilang, menampakkan rahang yang tegas dan hidung yang mancung indah. Matanya besar, indah, dan berbinar terang. Bibirnya merah alami, bentuknya cantik sekali.

Wanita cantik, anggun, dan mempesona itu... adalah dia! Adalah Nayra yang dulu mereka sebut jelek dan gemuk!

Nayra menyentuh wajahnya sendiri, menyentuh tubuh rampingnya sendiri, gemetar hebat karena haru. Enam bulan... enam bulan dia menyiksa diri, menahan lapar, berdarah-darah, berjuang mati-matian. Dan hasilnya ada di depan matanya sekarang. Nyata. Indah. Sempurna.

"AKU BERHASIL!!!" teriak Nayra sejadi-jadinya di dalam kamar itu, melompat kegirangan sambil menangis bahagia. "AKU BERUBAH! AKU KINI CANTIK! AKU KINI INDAH! AKU BUKAN LAGI ISTRI GEMUK YANG DIHINA ITU!"

Dia menatap pantulan dirinya lagi, senyum terindah dan paling bangga terukir di bibirnya.

"Kalian yang dulu menertawakan aku... Karin, Bibi Ratih, Tante Sarah... dan kamu, Arga..." ucap Nayra perlahan, matanya berkilat penuh kemenangan.

"Simpan baik-baik kaget kalian... simpan baik-baik rasa iri dan penyesalan kalian... karena besok... besok adalah hari di mana aku akan tampil kembali di hadapan kalian semua. Besok... aku akan membuat kalian semua menyesal seumur hidup pernah meremehkanku. Besok... aku Nayra... akan berubah menjadi DEWI CANTIK yang paling kalian puja-puja."

Malam itu, Nayra tidak tidur. Dia menyiapkan semuanya. Dia mengeluarkan gaun paling indah, paling mahal, dan paling elegan yang dulu pernah dia beli tapi tidak muat di tubuhnya. Gaun itu berwarna putih bersih, berkilauan, berpotongan indah yang mempertontonkan lekuk tubuhnya yang baru saja indah.

Dia merawat rambutnya, merawat wajahnya, mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dia ingin tampil sempurna. Dia ingin saat dia melangkah masuk ke ruangan itu besok... seluruh dunia berhenti berputar karena terpesona padanya.

Dan di tengah persiapannya itu, di sudut hatinya... ada satu nama yang paling dia nantikan reaksinya.

**Arga Pradipta

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!