Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Manis Om Ganteng
"Sayang, ini apartemennya," pesan Adrian itu diterima Rina tepat sesaat setelah Rina melakukan bimbingan skripsi dengan Prof. Eliza.
Malam harinya, setelah Adrian mengirimkan share loc kepada Rina dan dengan berat hati gadis catik itu akhirnya bergegas menuju tempat yang dipinta om tampan itu.
“Hah! Harus banget gitu aku temui dia di sini,” gerutu Rina sambil melangkah masuk.
Ingin rasanya dia menelan hidup-hidup pria hidung belang yang kemarin membelinya.
Ting!
Tong!
Wajah Rina masih datar saat Adrian membuka pintu.
“Hai, Sayang,” sapa Adrian sambil menarik tangan Rina. "Muach!" Pelukan dan ciuman menghujani Rina.
"Kenapa Om tidak bilang dari awal?!" Suara Rina meninggi memecah keheningan ruangan yang sunyi.
Suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah kapan saja. "Kenapa Om menyembunyikan fakta ini dariku? Kenapa Om harus menjadi suami dari Profesor Eliza?!" brondong Rina tak terima.
Adrian terlihat tidak terkejut dengan kemarahan simpanannya itu. "Lalu kenapa kalau dia istriku, Rina?" tanya Adrian santai.
"Kenapa Om tanya?!" Rina terdiam sesaat untuk menghela nafas. "Dia itu dosen pembimbing skripsiku, Om! Profesor Eliza itu dosen killer nomor satu di fakultas hukum! Dia bisa menggagalkanku kapan saja hanya karena kesalahan kecil. Kalau dia sampai tahu... kalau suaminya punya wanita simpanan dan wanita simpanan itu aku, hancur hidupku, Om!"
Dengan kepalan tangan kecilnya yang gemetar Rina memukul dada bidang Adrian.Ia meluapkan seluruh ketakutan yang menghantuinya selama dua hari terakhir sejak ia melihat foto Adrian di meja dosennya. "Aku cuma pingin lulus, Om... Aku terpaksa nerima tawaranmu karena ibuku di rumah sakit dan aku ngak punya uang untuk bayar kos. Tapi kenapa harus dengan suami dosenku sendiri? Ini sama aja dengan mengantarkan leherku ke algojo!"
Adrian tidak menghindar. Ia membiarkan tinju lemah Rina mendarat di dadanya beberapa kali sebelum akhirnya tangan besarnya yang hangat bergerak cepat namun lembut menangkap kedua pergelangan tangan Rina dan mengunci pergerakannya.
Kekuatan Adrian yang mutlak membuat Rina terpaksa berhenti memukul sehingga hanya menyisakan nafasnya yang memburu dan isak tangis yang tertahan.
Adrian menunduk, memaksa Rina untuk menatap dalam-dalam ke dalam manik mata gelapnya yang dalam dan penuh kuasa.
Bukannya marah, pria matang itu justru melunak. Dengan senyuman memikat Adrian malah membuat Rina semakin terpesona padanya. "Rina, dengerin aku. Tatap mataku," bisik Adrian dengan nada bicaranya yang berubah menjadi begitu lembut, "Kamu pikir aku ini pria bodoh? Kamu pikir aku akan membiarkan masa depanmu hancur begitu saja? Hm?"
Rina terdiam sambil menatap wajah Adrian yang berada hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya.
Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena marah, melainkan karena kedekatan fisik mereka yang selalu berhasil mengintimidasi akal sehatnya.
"Aku memang suaminya di atas kertas, Rina. Tapi pernikahan kami hanya sebatas urusan bisnis antara dua keluarga besar. Tidak ada cinta, tidak ada kehangatan di sana. Di rumah itu, dia adalah Profesor Eliza yang dingin dan aku adalah pengusaha yang sibuk dengan duniaku sendiri," rayu Adrian. "Hatiku... gairahku... ada di sini, bersamamu di dalam ruangan ini sekarang."
Adrian mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi Rina yang masih sedikit berkeringat dingin. "Aku jamin Eliza tidak akan pernah tahu statusmu sebagai wanita simpananku. Aku akan membelikanmu rumah mewah atas namamu sendiri dan aku memastikan ibumu akan mendapatkan perawatan medis terbaik di rumah sakit internasional seumur hidupnya tanpa kamu perlu memikirkan biayanya lagi. Aku akan melindungimu dari Eliza. Pokoknya aku berjanji kamu akan hidup berkecukupan selama jadi istri simpananku, Rina."
Rina yang masih polos dan belum banyak tahu tentang busuknya dunia luar seketika terpaku.
Diperlakukan bagai sebuah permata berharga dengan dihujani janji-janji masa depan yang begitu indah dan diyakinkan oleh pria matang yang memiliki segalanya seperti Adrian membuat seluruh dinding pertahanan Rina runtuh berkeping-keping.
"Om... benar-benar berjanji?" bisik Rina lirih, matanya menatap Adrian dengan pandangan penuh kepasrahan seorang gadis muda yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.
"Aku berjanji, Sayang," jawab Adrian dengan suara yang semakin serak.
Mereka saling berpandangan dalam keheningan yang mendadak berubah menjadi sangat intim dan sarat akan ketegangan seksual yang pekat.
Kelembutan yang tadi ia tunjukkan perlahan menguap digantikan oleh hasrat purba yang menuntut kepemilikan.
Tanpa memberikan aba-aba lagi, Adrian menundukkan kepalanya dan langsung meraup bibir Rina. Ia mengulum bibir ranum gadis itu dengan ciuman yang dalam dan panas.
Rina melenguh pelan di dalam tenggorokannya, tubuhnya seketika melemas di dalam pelukan Adrian.
Adrian memperdalam ciumannya, lidahnya menuntut akses lebih dalam sementara tangan besarnya merayap turun ke pinggang Rina lalu meremasnya dengan posesif hingga tubuh mereka menempel tanpa celah.
Napas mereka menjadi satu, saling berkejaran di tengah ruangan yang sunyi.
Adrian menyingkap sedikit rok Rina sampai kulit hangatnya bertemu dengan kulit dingin Rina sehingga menciptakan sengatan gairah yang membuat akal sehat Rina benar-benar terbang melayang.
Rina terbuai, ia melupakan fakta bahwa pria yang sedang menciumnya dengan begitu liar adalah suami dari wanita yang memegang kendali atas kelulusannya.
Ting-tong! Ting-tong!
Suara bel pintu penthouse yang berbunyi nyaring.
Rina tersentak hebat. "O-Om... ada tamu?" bisiknya,
"Tunggu disini sebentar, Sayang. Jangan keluar dari area tengah. Aku akan memeriksa siapa yang datang mengganggu."
Rina mengangguk. Ia berdiri mematung di dekat sekat ruangan sambil memperhatikan dari kejauhan dengan perasaan tidak tenang saat Adrian melangkah menuju lorong depan untuk membuka pintu utama.
Krek...
Pintu besar itu terbuka. Namun, begitu pintu itu terbuka dan suara Adrian yang menyapa terdengar dari lorong depan, seluruh pasokan oksigen di sekitar Rina seolah lenyap seketika. Seluruh darah di tubuhnya membeku,
"Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba kemari? Bukankah katamu hari ini ada rapat senat sampai malam?" tanya Adrian. Nada suaranya terdengar berubah drastis menjadi nada suara seorang suami yang terkejut namun berusaha tetap terdengar ramah dan penuh perhatian.
“Heh! Itu Profesor?” Rina mulai panik.