Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Kecupan manis itu melayang begitu cepat. Angel mengerucutkan bibirnya, merasa tak rela lelaki yang kini tengah memeluknya akan segera pergi.
"Tak bisakah kau di sini lebih lama? Aku sangat merindukanmu," tanyanya dengan manja. Kepalanya ia sandarkan ke dada lelaki tersebut, tangannya memeluk erat.
"Aku sangat ingin menemanimu. Tapi jika aku terlalu lama bersamamu, entah apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Memangnya apa yang akan terjadi? Aku percaya padamu. Kau tidak akan menyakitiku."
"Sayang... Ku mohon. Aku ingin bersikap adil padamu."
"Baiklah. Aku tahu kau menyayangiku, kau ingin menjagaku, dan kau mati-matian menahan diri. Namun, bisakah aku minta satu hal lagi?"
"Katakan...."
"Aku ingin merasakannya."
Lelaki tersebut menatap tajam Angel, dadanya naik turun. "Apa maksudmu?"
"Kau bilang pada Bu Sandra bahwa kau tak ingin menciumnya. Aku ingin kau menciumku."
"Bukankah aku baru saja menciummu?"
Angel menggeleng pelan, ia menatap sepasang netra gelap dengan penuh binar. "Bukan ciuman seperti itu. Aku ingin ciuman yang dalam, yang membuatku seolah kehabisan nafas dan jantung hampir lepas. Hmmmm, ciuman yang membuat lidah kita saling bergulat dan bertukar saliva. Ciuman yang tidak hanya bibir atau lidah, tapi juga tangan yang...."
"Hentikan Angel, jangan menguji kesabaranku." Dada lelaki tersebut naik turun, detak jantung yang semakin cepat, dan sesuatu mengeras yang Angel rasakan.
Angel tersenyum, ia mengedipkan satu kelopak matanya, menantang kesabaran lelaki tersebut.
"Baiklah, jika itu maumu...."
Lelaki tersebut langsung menyambar bibir Angel, melumatnya.....
"Angel, bangun!"
Angel segera membuka matanya, terbangun dari mimpi yang hampir membuatnya kehabisan nafas. Dinginnya AC seolah tak mampu meredakan panas yang menyergap seluruh tubuhnya.
"Kak, apa yang kau lakukan!?" Jantung Angel berdetak lima kali lebih cepat, perlahan ia mengeluarkan udara dari bibirnya, mencoba menenangkan diri. "Kau menganggu mimpi indahku," ia tersenyum kecil.
"Halo, Angel..."
***
"Jadi, apa yang kau impikan hingga membuatmu tersenyum?"
Udara AC yang dingin ternyata masih kalah dengan suara rendah yang dikeluarkan lelaki itu. Angel masih tak mengerti juga tak mengenali siapa lelaki yang duduk di depannya ini. Bahkan, saat ini ia masih antara sadar dan tidak. Bagaimana mungkin lelaki dalam mimpinya tiba-tiba saja keluar dan tengah duduk tenang sambil tersenyum?
Angel meremas selimut yang melingkupinya, panas yang menyerangnya tadi langsung sirna, begitu disapa oleh lelaki itu. Dan mengapa pula Sophia membangunkannya lalu meninggalkannya berdua begitu saja?
"Mengapa diam saja? Aku hanya ingin tahu apa yang kau impikan, aku tidak akan menggigitmu."
Angel mengangkat kepalanya, perlahan menatap sepasang netra gelap itu."Kau.... Kau siapa?"
Tawa membahana sontak memenuhi kamar hotel, menambah kesan dingin yang sedari tadi menguar di sekitarnya. Remasannya pada selimut semakin menguat, matanya menatap sekeliling, Mencoba mencari benda apapun untuk mempertahankan diri jika lelaki itu melakukan sesuatu pada dirinya.
"Angel, apa kau tidak mengingatku?" Lelaki tersebut berdiri, berjalan mendekati Angel yang duduk di ranjang. "Baiklah, aku akan memperkenalkan diri. Halo Angel, Aku William, senang bertemu denganmu lagi," bisik William di telinga Angel lalu mengecup pipinya.
Angel berhenti bernafas.
1 detik
2 detik
3 detik
"Aku sudah melihatmu, kau lanjutkan istirahatmu. Besok aku akan melihatmu lagi." Lagi William mengecupnya, namun bukan lagi pipinya melainkan bibirnya.
Bibirnya dikecup.
Bibirnya dikecup oleh William.
Bibirnya dikecup oleh William yang selalu datang ke mimpinya?
Apa?!
Angel bangkit dari duduknya, menepuk pipinya cukup keras.
Sayangnya, ketika ia menyadari sesuatu yang salah, lelaki itu sudah pergi.
"Ahhhhhhhh....."
***
Angelina Christin, selama hampir 18 tahun hidupnya, ia tidak pernah menyangka bahwa ciuman pertamanya dicuri oleh orang yang tak ia kenal. Dan buruknya lagi, dilakukan saat penampilannya sedang berantakan. Setelah bangun tidur dan saat ia ketakutan. Bukankah ia terlihat sangat jelek? Bagaimana bisa lelaki itu malah mencuri ciumannya?
"Ahhhh.... Sialan-sialan-sialan..." Angel mengerang frustasi, ia mengacak-ngacak rambutnya, kakinya menendang-menendang selimut yang sejak tadi melindungi dirinya.
"Dan dia menyuruhku untuk melanjutkan tidurku?! Orang gila mana yang berkata seperti itu pada perempuan yang baru diciumnya?"
"Apakah aku bisa tidur malam ini? Bagaimana jika mimpi tadi berlanjut? Ya tidak apa-apa sebenarnya, tapi itu tidak baik. Oh Tuhan, dosa apa yang kulakukan hingga Kau membuatku kesulitan seperti ini?" rengeknya.
***
"Apa yang dilakukan Pak William padamu semalam?" tanya Sophia. Semalam, ia terpaksa harus meninggalkan Angel sendiri menghadapi William. Meskipun sebenarnya ia marah karena Angel, dia dan rekan yang lain harus ketakutan sepanjang malam, Sophia tak tega. Apalagi, Angel masih sangat muda. Dia belum mengerti banyak hal.
"Emmm.... Ti-tidak ada," jawab Angel ragu. Ia tidak mungkin menceritakan pada Sophia yang sebenarnya terjadi.
Sophia menatapnya tak percaya. "Makanlah ini kak, mereka khusus membuatkan kita salad buah untuk sarapan. Ini sangat lezat." Angel mencoba mengalihkan, tangannya menyuap salad dengan lahap.
"Omong-omong, dimana yang lain? Apakah mereka tidak sarapan?"
"Kau yakin, Pak William tidak melakukan apapun padamu?"
Angel mengangguk yakin, meski semburat merah di wajahnya tak dapat dihindari.
"Baiklah, jika tidak ada yang terjadi padamu. Bahkan, kalaupun terjadi sesuatu itu juga bukan urusanku." Sophia berdiri, berjalan menuju prasmanan. Mengisi perutnya sebelum pemotretan dilakukan.
Setelah melihat Sophia agak jauh, Angel baru bisa bernafas lega. Jika Sophia sedikit mencecarnya, ia tak tahu apakah rahasianya akan tetap menjadi rahasia. Sungguh, sebenarnya ia tak bisa berbohong. Hanya saja, itu bukan sesuatu yang pantas diceritakan.
Baru saja ia bernafas lega, William dengan gayanya yang parlente berjalan mendekati meja Angel. Begitu menyadarinya, ia buru-buru bangkit dari duduknya.
"Apakah kau begitu tidak ingin melihatku?" William duduk, tak peduli bagaimana orang-orang melihat mereka saat ini. "Aku hanya ingin menemanimu sarapan, apakah itu salah?"
Pasrah, Angel kembali mendudukkan dirinya. Kepalanya menggeleng kuat diikuti ekspresinya yang memelas. "Tentu saja tidak. Lagipula seluruh hotel ini milik bapak."
"Ternyata kau cukup pintar." William tersenyum jumawa. Satu tangannya mengusap puncak kepala Angel. Cukup membuat jantung Angel berhenti berdetak.
"Pak William, saya tidak tahu apa maksud dari perlakuan bapak. Namun jika bapak menginginkan saya untuk tutup mulut, tanpa diberi peringatan pun saya tidak akan mengatakan pada siapapun. Tapi pak, saat ini semua orang tengah memperhatikan kita. Dan saya tidak menyukainya, saya tidak ingin ada gossip buruk terhadap diri saya," ucap Angel panjang lebar mengutarakan apa yang dari semalam ia rasakan hingga membuatnya sulit tidur.
William tersenyum. "Habiskan makananmu. Bukankah kau harus melakukan pemotretan hari ini? Setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu, aku akan menemuimu. Jadi pastikan kau berada di kamarmu, Angel." William bangkit, pergi meninggalkan Angel yang tengah diliputi rasa heran.
Sebenarnya apa maunya Pak William ini?
***