NovelToon NovelToon
Istri Seksi Tuan Arnold

Istri Seksi Tuan Arnold

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Putrichou

"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"

Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.

Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIA ENGGAK WARAS

Setelah memastikan pria yang sempat ia temani sudah ditangani oleh para perawat, Anjani akhirnya bisa pergi menemui Kakaknya yang ternyata sudah memasang wajah mengintimidasi. Ia jadi bingung harus menjawab apa bila pria itu menanyakan sesuatu.

"Maaf, Kak. Aku lama ya?"

Arya menatap sang Adik dengan tatapan mengintimidasi, Anjani tampak menggaruk kepalanya, ia harap Arya tidak menanyakan hal yang aneh-aneh kepadanya.

"Kamu dari mana?" tanya Arya setelah Anjani mendudukkan dirinya di kursi.

"Ada kecelakaan di depan Rumah Sakit, aku hanya melihatnya dari kejauhan." kata Anjani, ia tidak berbohong tentang hal itu. Arya menghela napas dan tiba-tiba saja menarik gulungan rambut Anjani.

"Kakak!" Anjani terkejut dan Arya jauh lebih terkejut. Rambut panjang Anjani berubah menjadi pendek, hanya sebatas bahu dari di bawah pinggang.

"Kamu memotong rambut mu?" tanya Arya bingung. Pria itu menatap penuh selidik dan curiga.

Anjani gelagapan, ia tidak mungkin memberitahukan Arya kalau yang memotong rambutnya adalah Fika. Banyak sekali hal yang harus Anjani sembunyikan untuk sementara waktu dari sang Kakak. Ia takut kalau Arya akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada anak dari Pak Kades itu.

"Anu ... aku sedikit risih dengan rambutku yang panjang. "

Arya mengerutkan keningnya bingung, "bukankah kamu menyukai rambut panjang? Atau ada yang kamu sembunyikan dari ku?"

"Mana mungkin aku berbohong," Anjani mengisyaratkan Arya untuk tidur kembali dan beristirahat, "jadi berapa lama lagi kita di sini?"

"Kurang lebih seminggu," jawab Arya yang masih menatap sang Adik. "bagaimana dengan sekolah mu?"

Anjani semakin di buat gelagapan dengan pertanyaan berbeda, melihat sang Adik yang terdiam lama membuat Arya menghela napas. "Kakak menemukan ini di tas kamu,"

Anjani mendelik dan hendak mengambil kertas tersebut, tetapi Arya menahannya. Anjani merutuki kebodohan dirinya, ia lupa menyimpan surat yang di berikan oleh Kepala Sekolah di rumah dan malah membawanya.

"Kenapa kamu tidak jujur? Kenapa kamu berhenti sekolah, Anjani?" tatapan pria itu penuh dengan kekecewaan. Ia ingin Anjani mencapai semua keinginannya dan lulus sekolah.

Mungkin Anjani tidak bisa menyembunyikan kebohongannya lagi, gadis cantik itu bakalan nafas dan mengangguk membenarkan tentang surat tersebut.

"Kakak benar, aku telah berhenti bersekolah."

Arya meremat kertas tersebut dan merobek-robeknya dengan perasaan hancur. Arya Anjani menatap nanar kertas yang sudah hancur tidak berbentuk itu. Anjani tahu apa yang dirasakan oleh sang Kakak, rasa kecewa yang teramat besar kepadanya dapat ia rasakan. Ia tidak ingin melakukan hal ini, namun ia tidak bisa berbuat apapun.

"Kita fokus saja pada kesehatan Kakak."

Arya mengacak rambutnya di dalam frustasi. "Kita akan pulang besok pagi dan tidak perlu melanjutkan pengobatan!" ucapan itu benar tegas namun membuat hati Anjani sakit.

"Kita tidak akan pulang sebelum kakak benar-benar sembuh," sahut Anjani tak kalah tegas sembari memandangi wajah sang Kakak.

"Jangan membuat aku semakin marah aja, Anjani!" Anjani menunjukkan kemarahannya secara terang-terangan. Pria itu juga menepis tangan Anjani dengan kasar.

"Kenapa Kakak tidak mengerti, aku melakukan ini untuk menjaga Kakak." ujar Anjani dengan lirih, ia tidak pernah melihat Arya semarah ini, ia tahu dia melakukan kesalahan namun semuanya sudah terjadi.

"Kapan aku tidak pernah mengerti dengan kamu? Aku bekerja pontang-panting agar kamu bisa bersekolah dengan layak tanpa memikirkan apapun apapun, Anjani!"

...****************...

Di sisi lain, seorang pria menatap langit malam dengan tatapan datar, berapa kali memejamkan matanya dan akhirnya melepaskan perban yang melilit kepalanya. Sudah hampir satu setengah jam, namun orang yang ia tunggu tak kunjung datang. ponselnya sudah hancur lebur begitu dengan kendaraannya yang sudah tidak berbentuk.

"Tuan muda?"

Seorang pria muda terbirit-birit mendekati pria yang terduduk santai di bangku taman. Dengan setelan kemeja hitam yang rapi, pria itu langsung menunduk hormat kepada pria di hadapannya.

"Maafkan saya karena terlambat," kata pria tersebut merasa bersalah dan enggan menatap mata atasannya.

"Sepertinya kamu sudah bosan bekerja dengan aku, Kelvin?" tanya pria tersebut dengan tangan yang tersilang angkuh.

Kelvin Putra Siregar, adalah seorang Asisten sekaligus Sekretaris dari seorang pengusaha terkenal dan terpengaruh di Indonesia, Putra semata wayang dari keluarga tersohor, Arnold Ziofan Darmawangsa. Sudah bertahun-tahun Keluarga Siregar mengabdikan diri kepada keluarga tersebut. Darmawangsa adalah Keluarga Konglomerat nomor dua dan pengusaha terpengaruh dan semua anak perusahaannya tersebar di seluruh dunia.

Pria berusia dua puluh tiga tahun itu menggeleng panik, "mana mungkin saya bosan bekerja dengan Anda, Tuan Arnold!"

Kelvin sangat mengenal Arnold sedari dulu, karena Arnold sudah menjadi temannya sejak berusia tujuh tahun. Mereka berdua terpaut usia tujuh tahun, di mana Arnold menyandang status lebih tua. Walaupun mereka sangat akrab, hal itu tidak menghilangkan sikap profesional dari seorang Kelvin.

Arnold adalah manusia yang sangat gila bekerja, itulah julukan yang sering mereka dengar, karena sampai sekarang Arnold belum menunjukkan tanda-tanda ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun. Hal tersebut menggiring opini buruk dan tidak masuk akal di telinga Kelvin. Pria keras kepala dan tidak ingin ditentang, sudah menjadi ciri khas dari Keluarga Darmawangsa, namun tidak dapat dipungkiri kalau Keluarga tersebut tidak pernah memandang status orang lain.

"Kamu urus kendaraanku,maku ada urusan sebentar,"

Kelvin menerima lemparan kunci, "tapi Anda baik-baik saja kan? Apa saya perlu memanggilkan Dokter profesional untuk menangani anda?"

"Tidak perlu dan jangan menceritakan apapun kepada Mama dan Ayah."

Kelvin mengangguk mengiyakan dan menatap kepergian Arnold, dan bertugas untuk melihat kendaraan Arnold di depan rumah sakit. Sedangkan Arnold, pria itu menyusuri lorong rumah sakit untuk kedua kalinya, karena ia memiliki kepentingan dengan gadis yang sudah menemaninya tadi.

BRUK ....

Arnold secara refleks menangkap tubuh seorang gadis yang terhuyung karena menabrak dirinya. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis tersebut, hingga menabrak tubuhnya. Pria itu mengerutkan kening dan memperhatikan bahwa ia tidak salah mengenali orang.

"Kamu gadis yang menemani saya tadi, kan?"

Anjani, gadis itu menadah dan terkejut dengan pria di hadapannya. merasa terlalu dekat dengan pria asing tersebut, Anjani menepis dan sedikit menjauh. itu memasang wajah waspada membuat Arnold menyunggingkan senyum tipis.

"Maaf, Tuan, kita tidak memiliki urusan lagi." kata Anjani memalingkan wajahnya.

"Kita memang tidak memiliki urusan lagi perihal tadi, tetapi saya memiliki urusan dengan kamu secara pribadi."

Arnold dapat melihat kalau gadis di hadapannya sedang menahan tangisnya. Anjani mengalihkan wajah dan mengusap air mata yang mulai mengguyur pipinya. Ia malu, karena orang lain melihatnya menangis.

"Maaf kita tidak saling mengenal satu sama lain, Tuan."

"Tapi saya belum mengucapkan rasa terima kasih saya kepada kamu," ucap Arnold bersikeras membuat Anjani menjadi kesal.

"Katakan saja sekarang, karena aku sangat sibuk."

"Tentang tawaran tadi, saya betul-betul sangat serius."

Tampak kedua alis gadis cantik itu mengerut bingung, ia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh pria dihadapannya. Melihat kebingungan Anjani, Arnold tampak menghela nafas.

"Menikahlah dengan saya dan berikan saya keturunan. Saya akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"

Kedua pupil mata Anjani membulat terkejut, ia baru mengingat kalimat itu dan menganggapnya hanya sebuah reflek ucapan yang keluar. Arnold tersenyum tipis dan memasang wajah yang sangat serius.

"Saya serius, menikahlah dengan saya dan saya akan membantu kamu."

"Menikah?" Anjani memiringkan kepalanya, bahkan ia tidak memiliki niat untuk menikah di usia sangat muda. Terlebih lagi Dia baru saja berusia dua puluh tahun, Anjani sontak menatap penampilan pria di hadapannya dengan seksama.

Kelihatan sekali dia sudah berusia matang. batik Anjani dengan bergidik geli.

Memahami apa yang dipikirkan oleh Anjani, Arnold hanya mengulas senyum tipis. "bila kamu berubah pikiran, silakan hubungi saya."

Arnold memberikan nomor ponsel pribadinya dengan senang hati, ia merasa kalau Anjani adalah gadis yang baik dan cocok untuk menjadi istrinya. Anjani melongo melihat sebuah kartu nama di genggamannya, matanya sontak membulat untuk kedua kalinya melihat nama yang tertera di kertas tipis itu.

1
partini
pesikopet dia mah ,najani the next korban berikutnya OMG moga aja ga methong
partini
tekdung
partini
dua puluh tahun masih SMA Thor sehhh
partini: ok ,, soalnya jarang sih Thor di tempat ku lulus SMA umur 20th kebanyakan 18 dan 19 th
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!