NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pacuan Waktu

Asap tebal kelabu mengepul dari balik kap mesin sedan yang ringsek. Bau bensin yang menyengat bercampur dengan hawa panas sisa benturan keras mulai memenuhi ruang kabin yang sempit.

Alana terbatuk-batuk dengan dada yang terasa sesak luar biasa akibat hantaman mendadak yang begitu kuat. Tubuhnya terjepit di antara kursi belakang dan tubuh besar Devano yang kini merosot lunglai di atas pangkuannya.

"Tuan Devano! Buka mata Anda, saya mohon!" jerit Alana sambil mengguncang pundak pria itu dengan tangan yang gemetar hebat.

Darah segar semakin banyak mengalir dari punggung Devano, membasahi seluruh telapak tangan Alana hingga terasa sangat lengket dan hangat. Wajah pria itu kini benar-benar putih pucat, kehilangan seluruh rona alaminya.

Di kursi kemudi depan, Jefri tampak terkulai di atas setir dengan dahi yang robek dan mengeluarkan banyak darah. Kesadaran asisten setia itu hilang sepenuhnya akibat benturan langsung dengan bagian roda truk kontainer tadi.

Alana melirik ke arah layar ponsel Devano yang tergeletak di lantai mobil dengan bodi yang retak. Angka digital berwarna merah di sana terus bergerak mundur dengan sangat kejam: 08:24.

Kurang dari sembilan menit lagi sebelum tubuh adiknya hancur berkeping-keping oleh bom waktu.

Rasa panik yang teramat sangat mencekik dada Alana, membuatnya hampir tidak bisa mengeluarkan suara. Ia terjebak di dalam situasi hidup dan mati, di antara suaminya yang sekarat atau adiknya yang terancam meledak di tempat terpencil.

"Sialan..." Sebuah erangan rendah dan serak tiba-tiba keluar dari bibir Devano yang pecah berdarah.

Pria itu perlahan membuka matanya, mencoba menegakkan punggungnya meskipun rasa sakit yang luar biasa menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Genggaman tangannya pada lengan Alana kembali mengencang dengan sisa tenaga yang ia miliki.

"Tuan Devano, Anda jangan banyak bergerak dahulu! Luka tembak Anda terus mengeluarkan darah!" tangis Alana pecah sewaktu melihat noda merah di sekitar mereka semakin meluas.

"Alana... ambil senjata di balik jok depan sekarang," perintah Devano dengan napas yang terputus-putus, matanya menatap tajam ke arah luar jendela yang hancur seribu.

Suara deru mesin mobil jip yang menderu keras terdengar semakin mendekat, mengepung kendaraan mereka dari tiga sisi berbeda. Lampu sorot dari ketiga jip itu menembus kabut asap, mengunci posisi mereka di tengah jalanan sepi yang dikelilingi hutan kota.

Alana menggelengkan kepalanya dengan histeris, air matanya menetes membasahi wajah pucat Devano. "Tidak, Tuan! Kita harus keluar dari sini dan mencari bantuan medis untuk Anda! Anda bisa mati kalau terus kehilangan darah!"

"Jangan membantahku sekarang, Alana!" bentak Devano, namun sedetik kemudian ia terbatuk darah, membuat Alana semakin ketakutan setengah mati.

"Nyawa adikmu sedang dipertaruhkan oleh bajingan itu, dan aku tidak akan membiarkan Keluarga Surya menang dalam permainan kotor ini," lanjut Devano dengan suara yang bergetar menahan amarah yang meluap-luap.

Alana merasa hatinya seperti disayat sembilu melihat sifat keras kepala pria ini di ujung mautnya. Di satu sisi, ia selalu membenci sifat diktator Devano, namun di sisi lain, pengorbanan pria ini malam ini membuat seluruh dinding pertahanannya runtuh tanpa sisa.

Kenapa kamu harus seberani ini untukku? Aku hanya istri pajangan yang kamu beli dari ayahku! batin Alana menjerit dalam kepedihan yang mendalam.

Dengan tangan yang gemetar, Alana akhirnya menuruti perintah tersebut dan meraba bagian bawah jok depan. Jarinya menyentuh benda logam dingin yang berat—sebuah pistol otomatis dengan peluru yang sudah terisi penuh.

Ia menarik senjata itu keluar, memegangnya dengan kedua tangan yang terus berguncang karena ia tidak pernah menggunakan alat pembunuh seumur hidupnya.

"Bagus... sekarang bersiaplah di belakangku," bisik Devano, mencoba menggeser tubuh besarnya untuk menghalangi pintu mobil sebelah kanan, tempat para penyerang mulai melangkah mendekat.

Dari luar, terdengar suara langkah sepatu bot yang berat menginjak kerikil jalanan yang basah. Tiga orang pria berbadan kekar dengan pakaian serba hitam dan topeng penutup wajah berjalan mendekati sedan yang ringsek dengan senjata siap tembak.

Salah satu dari mereka memegang sebuah linggis besi besar, sementara dua lainnya bersiaga dengan senjata laras pendek yang mengarah langsung ke kaca jendela kabin belakang.

"Bos, sepertinya mereka semua sudah mati di dalam! Jefri juga tidak bergerak sama sekali!" teriak salah satu anak buah Rendy Surya melalui alat komunikasi di telinganya.

"Pastikan lagi dengan benar! Ambil wanita itu hidup-hidup, dan kalau Devano masih bernapas, habisi dia di tempat sekarang juga!" perintah suara Rendy Surya yang terdengar sangat dingin dari seberang panggilan telepon.

Alana mendengar percakapan itu dengan sangat jelas dari balik pintu mobil yang penyok dalam. Ia memeluk pistol itu di dadanya, sementara air matanya terus mengalir tanpa suara, membasahi gaun putihnya yang kini sudah berubah warna menjadi merah darah.

Ia melirik lagi ke arah layar ponsel di lantai yang masih menyala: 06:12.

Waktu terus berjalan mundur dengan sangat cepat, seolah-olah malaikat maut sedang menghitung mundur sisa hidup mereka di tempat gelap ini.

Devano merayap pelan di atas pangkuan Alana, tangannya yang penuh noda darah bergerak merengkuh tengkuk Alana, menarik wajah wanita itu agar sedekat mungkin dengannya. Tatapannya yang tajam dan lurus mengunci pandangan Alana yang dirundung ketakutan.

"Kalau pintu ini terbuka, kamu langsung lari ke arah semak-semak di sebelah kanan jalan. Jangan pernah menengok ke belakang untuk melihatku," bisik Devano dengan nada suara yang sangat mutlak dan penuh penekanan.

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Anda sendirian di sini bersama mereka!" tolak Alana dengan tegas, membalas tatapan Devano dengan keberanian yang mendadak muncul dari rasa putus asanya.

"Dengarkan aku sekali ini saja, Alana Wijaya!" desis Devano, napasnya yang hangat terasa memburu di depan wajah Alana yang basah. "Tugas utamaku adalah menjagamu tetap hidup. Jangan buat pengorbananku malam ini menjadi sia-sia!"

Dilema psikologis yang teramat besar kini menghantam benak Alana dengan sangat brutal. Jika ia lari sekarang, ia mungkin bisa menyelamatkan adiknya, tetapi pria yang baru saja menerima peluru demi dirinya ini akan mati dibantai tanpa perlawanan oleh anak buah Rendy Surya.

Namun, jika ia tetap tinggal di dalam mobil ini, mereka berdua akan mati bersama di tempat ini, dan adiknya akan meledak berkeping-keping dalam hitungan menit tanpa ada yang menolong.

Tuhan, tolong beri aku jalan keluar! Aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka! jerit Alana dalam hati dengan keputusasaan yang memuncak hingga ke ubun-ubun.

Kreeeeek!

Suara gesekan besi yang sangat memekakkan telinga tiba-tiba terdengar dari arah luar pintu mobil sebelah kanan. Salah satu penyerang mulai menancapkan ujung linggis besi ke sela-sela pintu mobil yang ringsek, mencoba memaksa pintu itu terbuka dengan kasar.

"Sialan, pintunya macet parah akibat benturan truk tadi! Bantu aku mendobraknya dari samping!" teriak pria bertopeng di luar kepada temannya.

Dua orang penyerang lainnya langsung maju, menendang pintu mobil berulang kali dengan brutal hingga bodi sedan mewah itu berguncang hebat. Hantaman itu membuat luka di punggung Devano kembali menyemburkan darah segar yang membasahi lantai kabin.

Devano mengerang rendah menahan sakit, kesadarannya mulai menipis akibat kehilangan terlalu banyak darah, namun jemarinya masih mencengkeram erat gaun Alana, menolak untuk melepaskan wanitanya hingga detik terakhir jiwanya.

Brakkk!

Engsel pintu bagian atas akhirnya jebol dengan sekali sentakan keras dari luar. Pintu mobil yang penyok itu terbuka setengah, menampilkan wajah beringas salah satu anak buah Rendy Surya yang langsung menodongkan moncong pistolnya tepat ke arah wajah Alana yang pucat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!