Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3.
Malam sudah benar benar larut ketika Kayla sudah pulang dari Minimarket tempatnya bekerja. Kini Kayla sedang berjalan menuju rumahnya dengan gelapnya makan, jam sudah menunjukan pukul 22.05.
Kayla yang merasa sedang dibuntuti seseorang segera ia mempercepat langkah kakinya.
Tap tap tap Suara langkah kaki selain milik Kayla terdengar.
Kayla menguatkan cengkraman pada tasnya untuk melindungi barang barangnya, upahnya tidak boleh hilang.
Kayla mencoba santai, walaupun ia takut
"Sabar, cuma lima menit kok." Gumam Kayla tak karuan menguatkan dirinya.
Jantung Kayla bergedup kencang, hingga
Grepp.
Tubuhnya Kayla ditarik paksa, membuatnya melototkan kedua matanya.
"Akh, l-lepas." Kayla meronta ronta, ia menoleh kebelakang melihat seorang pria disebut preman itu dengan wajah mesum, badan penuh tato.
"Mau kemana manis?, cepat amat, jangan takut gitulah sama gue." Ucap preman itu sambil mencolek dagu Kayla, membuat Kayla semakin meronta.
Dengan rasa tidak suka dan sedikit menambah keberaniannya, Kayla menginjak kaki kuat pria itu.
"ARGH." Pria itu menjerit kesakitan
Kayla mengambil kesempatan untuk kabur, kostnya sudah dekat, tapi mengapa rasanya saat ini terasa sungguh lama sekali, apalagi kondisi malam yang gelap, Kayla tak berpikir bahwa ini akan kejadian pada dirinya, biasanya ia aman.
"WOII, BERHENTI." Preman itu mengejar Kayla dan akhirnya menarik dirinya langsung memojokkan perempuan itu ke tembok
"Mau kemana lo hah?!."
"Serahin barang barang lo!." Pria itu ingin merebut tas Kayla, tangan kanannya mengunci kedua tangan Kayla keatas, sementara tangan kirinya merebut tas Kayla.
"N-nggak, j-jangan bang." Kayla merinding ketakutan, matanya sudah berkaca kaca.
"Lo ternyata melawan juga heh?!." Pria itu membentak Kayla dan tiba tiba dengan keberanian tinggi Kayla menendang selangkangan pria itu dengan kuat.
"AKH ANJ*NG!" Pria itu meraung kesakitan
Dengan cepat Kayla akan lari, namun tak lama tubuhnya terhuyung dan jatuh ke tanah.
"Emang gabisa lembut sama lo." Pria itu menarik Kayla kasar, dan menjatuhkannya ke tanah, kesabarannya sudah habis.
"Serahin barang barang lo!." Pria itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, sebuah pisau tajam
Kayla melototkan kedua matanya, dan gemetar ketakutan. Jantungnya berdegup kencang, air mata sudah keluar, perlahan Kayla mundur kebelakang diikuti Pria itu menodongkan pisau ke depan.
"N-ngga ada bang, jangan." Kayla menggeleng ribut ketakutan sambil menangis
"Jangan bohong, atau ini nancep ke tubuh lo." Pria itu menatap horor Kayla, hingga
Jleb Pisau itu menancap ke leher Kayla.
"AKH, S-SAKIT." Kayla nangis sesengukan, tasnya sudah direbut oleh Pria itu, pria itu berbalik badan dan meninggalkannya.
Kayla tidak putus asa, ia tidak mau hasil upah kerja kerasnya dicuri begitu saja, itu untuk uang makannya.
Dengan menahan rasa sakitnya, dan mencabut pis*u yang tertancap itu, Kayla mengejar pria itu, melihat ada sebuah kayu Kayla mengambilnya pelan dan dengan cepat ia memukul kuat tengkuk pria itu dengan kayu, dan mengambil langsung tasnya dari pria itu.
"Lo bener bener mau kasar ya."
Bugh
Bugh
Bugh
Pria itu memukul perut Kayla, beralih ke kakinya, dan akhirnya ke pelipis Kayla.
"T-tolongg.." Pandangan Kayla berkunang kunang, ia meminta tolong dan apakah ini akhirnya hidupnya pikirnya? ia belum sempat membahagiakan orang tuanya, dan yang Kayla paling pikirkan ia belum menyatakan cintanya ke Arka.
... ---...
Suara dentuman musik menggelegar ke seluruh ruangan, gemerlap lampu tak lupa. Arka saat ini sedang di cl*b pikirannya kosong, hanya Kayla yang teringat dibenaknya.
Seorang wanita duduk ke pangkuannya sembari mengelus dada Arka dibalik baju yang ia kenakan, Perempuan seksi dengan baju ketat merayu, menggoda dirinya.
"Ka, tuh cewek lo anggurin aja?." Ucap Keano yang sudah mabuk
Arka tersadar dan langsung ia mendorong perempuan itu kedepan, Arka berdiri mungkin Kayla yang bisa melayaninya dengan baik, melupakan teman temannya yang sedang disana.
"Gue cabut."
... ---...
Arka mengendarai motornya melaju kencang melewati kota, Arka ingin bertemu Kayla dengan pikiran akan bersenang seperti yang yah itulah ya.
Melewati gang kecil sekitar 5 menit lagi sampai ke kost Kayla, suasana yang cukup sepi dan gelap membuat Arka memelankan kecepatan motornya, sampai ia mendengar teriakan suara tidak asing, suara perempuan.
"T-Tolong.."
Hingga Arka melihat seorang perempuan tergeletak ditanah, ia mematikan motornya dan turun, lantas ia mendekati perempuan yang sudah babak belur itu, semakin mendekat, Arka langsung familiar, ia berlari dan mendekati perempuan itu.
"KAYLA!."
"YOU OKAY??!." Arka menarik Kayla ke pelukannya, memeriksa tubuh perempuan yang sudah babak belur itu, Kayla menangis.
"Tolong, tas aku dicuri Ka." Kayla suaranya lirih, menangis, ia menunjuk pria yang baru saja mencuri tasnya itu, Arka mengikuti gerakan tangan Kayla, hingga ia langsung paham.
Giginya bergeram, menatap tajam pria itu.
"Bangs*t." Gumamnya rendah.
Dengan cepat Arka memukul orang itu membabi buta
Bugh
"Anj*ng lo hah?! lo sentuh dia?." Arka meninju wajah orang itu hingga mengeluarkan darah
"Lo nyentuh milik gue, maka lo harus terima pembalasan gue."
Bugh Arka memukul, meninju dengan kasar dan kuat, tidak memikirkan rintihan pria itu
Krak terdengar suara patahan, Arka mematahkan tulang kaki pria itu, dan terakhir dengan kayu ia memukul perut pria itu dengan kayu, hingga pria itu terbatuk dar*h, dari awal Arka tak memberi ampun, kini pria itu t*was.
... ---...
Nafas Arka masih memburu, dadanya naik turun dengan emosi yang belum sepenuhnya reda. Tatapannya masih tajam ke arah tubuh pria itu, sebelum akhirnya ia berbalik cepat, mengingat satu hal yang jauh lebih penting.
Kayla.
Arka melihat tas yang terjatuh tak jauh dari sana. Tanpa pikir panjang, ia melangkah cepat, mengambil tas itu lalu kembali menghampiri Kayla yang masih terduduk lemah di tanah.
"Ini tas lo" ucap Arka cepat, sedikit terengah, tangannya menyerahkan tas itu ke pangkuan Kayla.
Kayla langsung memeluk tasnya erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang saat ini. Tubuhnya masih gemetar, tangisnya belum reda.
Arka berlutut di depan Kayla, kedua tangannya memegang wajah perempuan itu pelan, memeriksa keadaannya dengan panik.
"Lo... lo kenapa bisa kayak gini sih?" Suara Arka mulai goyah, jelas khawatir.
Pandangan Arka turun, dan saat itulah ia melihat darah yang masih merembes dari leher Kayla.
"Anj..." Arka langsung berdiri cepat, tanpa banyak mikir ia menarik kaos yang ia pakai, melepasnya begitu saja.
"Diem, jangan banyak gerak" ucapnya buru-buru.
Arka melipat kaosnya dan langsung mengikatkannya di leher Kayla, menekan bagian yang terluka agar darahnya nggak terus keluar.
"Tekan sini... kuat dikit ya, tahan" katanya, tangannya ikut menahan balutan itu.
Kayla meringis pelan, tangannya gemetar mengikuti instruksi Arka.
"Sakit, Ka..." suaranya lirih, hampir nggak terdengar.
"Iya gue tau, gue tau..." Arka mendekatkan wajahnya, berusaha nenangin. "Lo aman sekarang, gue disini. Denger gue, lo harus tahan bentar lagi, oke?"
Kayla cuma mengangguk lemah.
Arka nggak mau buang waktu lagi. Ia langsung bangkit, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Kayla.
"Pegang gue" katanya.
Kayla meraih leher Arka lemah, tubuhnya hampir nggak punya tenaga.
Arka membawa Kayla ke motor, mendudukkannya pelan di jok belakang. Ia memastikan Kayla masih sadar sebelum naik ke depan.
"Pegang gue yang kuat" ucapnya lagi, lebih tegas.
Motor langsung dinyalakan.
Namun sebelum tancap gas, Arka sempat menoleh sedikit.
"Kenapa lo bisa ada disini malam-malam gini?" tanyanya cepat.
Kayla menarik nafas berat.
"A-aku... habis kerja..." jawabnya terbata.
Arka langsung mengernyit.
"Kerja? Maksud lo kerja ap..."
Belum selesai kalimatnya, pegangan Kayla tiba-tiba melemah.
"Kay?" Arka menoleh cepat.
Tubuh Kayla sudah terkulai.
"Kayla?!" paniknya langsung naik drastis.
Tanpa pikir panjang lagi, Arka langsung menarik gas motornya dalam-dalam.
Motor melesat kencang membelah jalanan malam, jauh lebih cepat dari sebelumnya.
"Jangan aneh-aneh ya lo... tahan dikit lagi" gumamnya, suaranya penuh tekanan.
Lampu-lampu jalan lewat begitu saja, Arka nggak peduli. Yang ada di pikirannya sekarang cuma satu
bawa Kayla ke rumah sakit secepat mungkin.
... ---...
TO BE CONTINUE