NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19 hujan jimat di menara emas dan eksekusi tiga Bayangan

Angin laut malam yang biasanya membawa aroma garam kini terasa pekat oleh tekanan spiritual yang dilepaskan di dalam kabin Kapal Lelang Paviliun Fatamorgana Surga.

Shen Feiyan, sang pelelang utama yang terkenal akan ketenangannya di hadapan para dewa Benua Atas, kini merasa kakinya lemas. Ia menatap pemuda berjubah hitam bersulam perak di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Menyewa seluruh armada kapal dagang raksasa miliknya untuk mengangkut seratus ribu pasukan menyeberangi Lautan Kabut? Ini bukan lagi urusan bisnis; ini adalah deklarasi perang benua!

"T-Tuanku," suara Shen Feiyan bergetar, pesona menggodanya telah menguap tak bersisa. "Paviliun Fatamorgana Surga memiliki sumpah netralitas yang ketat. Kami adalah pedagang, bukan kapal pengangkut tentara bayaran. Jika Istana Pedang Guntur Suci mengetahui bahwa kami memfasilitasi invasi Anda, mereka akan membumihanguskan seluruh jaringan bisnis kami di Benua Atas. Risiko ini... ini terlalu besar. Kami tidak bisa membelinya dengan batu spiritual."

Cang Qixuan tertawa pelan. Ia melangkah mendekati Shen Feiyan, mengulurkan tangannya, dan dengan sangat lancang mengangkat dagu wanita cantik itu menggunakan ujung kipas gioknya.

"Nona Shen, di dunia ini tidak ada yang namanya netralitas sejati. Netralitas hanyalah kata halus bagi mereka yang belum ditawari harga yang tepat," bisik Qixuan, matanya yang berwarna amber-emas menatap tajam ke dalam pupil wanita itu.

Qixuan menarik kembali kipasnya, lalu menjentikkan jarinya ke arah Mo Chen.

Mo Chen melangkah maju dan meletakkan sebuah kotak kecil berbahan kayu hitam legam di atas meja lelang. Kotak itu tidak memancarkan cahaya silau seperti peti batu spiritual sebelumnya, melainkan menyerap cahaya di sekitarnya.

"Buka," perintah Qixuan santai.

Shen Feiyan membuka kotak itu dengan tangan bergetar. Saat tutupnya terbuka, matanya terbelalak lebar hingga nyaris melompat dari rongganya. Napasnya tercekat. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah batu kristal seukuran kepalan tangan orang dewasa, berdenyut pelan seperti jantung yang hidup, memancarkan urat-urat cahaya berwarna ungu murni.

"I-Ini... Inti Urat Bumi Tingkat Surga?!" jerit salah satu patriark lokal yang kebetulan melihat dari jauh, langsung jatuh pingsan karena syok.

Shen Feiyan mundur selangkah, menutupi mulutnya. Inti Urat Bumi bukanlah batu spiritual. Ini adalah *jantung* dari sebuah tambang spiritual raksasa. Menanam batu ini di area mana pun akan mengubah area tersebut menjadi tanah suci kultivasi yang mampu menghasilkan batu spiritual tanpa henti selama ribuan tahun! Bahkan tiga sekte penguasa Benua Atas rela berperang berdarah-darah hanya untuk memperebutkan satu keping Inti Urat Bumi.

"Aku mendapatkannya dari inti tambang terdalam di utara, hadiah dari kakekku," Qixuan berbicara seolah ia baru saja memetik buah apel di pekarangan. "Nona Shen, Istana Pedang Guntur Suci mungkin bisa mengancam jaringan bisnismu. Tapi dengan batu ini, kau tidak perlu lagi berdagang. Kau bisa mendirikan sekte penguasamu sendiri. Kau bisa membeli separuh Benua Atas. Pertanyaannya: apakah kau memilih menjadi pelayan yang ketakutan, atau menjadi ratu yang berkuasa?"

Pertahanan mental Shen Feiyan hancur berkeping-keping. Netralitas? Sumpah dagang? Semua itu terdengar seperti omong kosong murahan di hadapan godaan penciptaan dunia baru. Keserakahan murni sebagai seorang pedagang mengambil alih akal sehatnya.

Ia langsung berlutut di hadapan Qixuan, menempelkan dahinya ke lantai kapal. Belahan gaunnya yang tinggi menyingkap paha mulusnya, namun saat ini ia sama sekali tidak peduli pada penampilannya.

"Paviliun Fatamorgana Surga... Armada Cabang Selatan, bersumpah setia pada Dewa Kekayaan Jinling!" seru Shen Feiyan dengan suara lantang, matanya berkilat gila. "Beri kami waktu tujuh hari, Tuanku! Kami akan menyiapkan dua ratus kapal terbang pengangkut raksasa di Pesisir Angin Utara. Seratus ribu pasukan Anda akan berlayar melintasi awan menuju Benua Atas tanpa satu pun dewa yang menyadarinya!"

Qixuan menyeringai puas. Ia menendang kotak berisi Inti Urat Bumi itu ke arah Shen Feiyan dengan ujung sepatunya. "Sikap yang bagus. Persiapkan kapal-kapal itu dengan baik. Pastikan mereka memiliki dapur yang bagus, pasukanku makan sangat banyak."

Pemuda itu membalikkan badannya, melangkah keluar dari kabin lelang yang kini sunyi senyap karena semua orang terlalu takut untuk bernapas. Mo Chen dan para pengawal Jaring Bayangan mengikutinya, meninggalkan tumpukan kekayaan yang baru saja memutar balik takdir dua benua.

Sementara Qixuan sedang memborong kesetiaan armada laut di timur, bahaya yang sesungguhnya sedang merayap menembus langit malam Ibukota Jinling.

Tiga bayangan kelabu melesat menembus awan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kecepatan mereka melampaui kilat, namun fluktuasi qi mereka ditekan hingga nyaris menyatu dengan udara malam. Mereka adalah *Tim Perburuan Bayangan* dari Istana Pedang Guntur Suci.

Ketiganya adalah ahli kultivasi ranah *Jiwa Baru (Nascent Soul)* tahap awal. Di Benua Timur yang fana ini, satu ahli Jiwa Baru sudah cukup untuk menghancurkan sebuah negara. Mengirim tiga orang sekaligus untuk menculik seorang pemuda fana adalah bentuk kehati-hatian berlebih dari Patriark Lei Jiantian.

"Pendaratan sempurna," bisik Sang Pemimpin Tim, seorang pria tua dengan wajah setengah tengkorak yang dipanggil Gui Ying (Bayangan Hantu). "Udara di benua bawah ini benar-benar menjijikkan. Rasanya seperti menghirup kotoran babi."

"Jangan banyak mengeluh, Gui Ying," sahut Xue Sha (Pembunuh Berdarah), seorang wanita dengan jubah merah yang membawa sepasang sabit bengkok. "Kita di sini hanya untuk menangkap bocah bernama Cang Qixuan itu, membedah Dantiannya, lalu membakar kota ini sebagai hiburan. Di mana letak sarangnya?"

Anggota ketiga, Ku Gu (Tulang Kering), mengangkat sebuah kompas pelacak yang terbuat dari tulang manusia. Jarum kompas itu berputar liar sebelum akhirnya menunjuk tajam ke arah pusat ibukota.

"Di sana," tunjuk Ku Gu dengan jarinya yang kurus kering. "Menara raksasa yang memancarkan cahaya emas norak itu. Tekanan spiritual di dalamnya sangat aneh. Cukup padat, tapi kacau."

Gui Ying mendengus meremehkan. "Membangun menara setinggi itu dari emas dan pualam... Pemuda ini benar-benar mengundang perampok ke rumahnya. Ayo, kita selesaikan ini dalam sepuluh tarikan napas. Aku ingin segera kembali ke Benua Atas untuk mandi uap."

Ketiga bayangan itu melesat membelah udara, langsung menuju atap Menara Teratai Emas. Mereka tidak repot-repot menyamar atau turun ke darat. Dengan kesombongan ahli Jiwa Baru, mereka berniat menghancurkan atap menara dan menyergap target mereka dari atas.

Namun, tepat ketika mereka berjarak lima puluh meter dari atap menara...

*ZRAAAASH!*

Udara di sekitar mereka tiba-tiba berubah menjadi lautan api berwarna kuning keemasan. Bukan api biasa, melainkan *Api Inti Bumi* tingkat murni yang disemburkan dari mulut puluhan patung gargoyle naga yang terpasang di setiap sudut atap menara!

"Apa ini?!" jerit Xue Sha, buru-buru menarik qi pelindungnya saat ujung jubahnya mulai hangus. "Api Inti Bumi?! Bagaimana mungkin benda semacam ini dipasang sebagai jebakan luar?!"

Sebelum mereka sempat mundur, langit di atas mereka menyala terang.

*Ting! Ting! Ting!*

Sebuah formasi raksasa berbentuk jaring laba-laba berwarna emas muncul mengurung mereka di udara. Formasi ini tidak ditenagai oleh batu spiritual biasa. Jika mereka melihat lebih jeli, titik-titik persendian jaring formasi itu menggunakan ratusan pedang kelas Surga yang dilebur menjadi inti energi!

Ini adalah *Formasi Sejuta Koin Emas Penghancur Dewa*. Sebuah formasi absurd yang dirancang oleh Qixuan dengan satu prinsip: Jika kau tidak memiliki ahli bela diri untuk menjaga rumahmu, gunakan uang yang cukup banyak untuk melempar senjata mematikan secara otomatis hingga musuhmu mati kelelahan.

Dari balik bayangan pilar atap, sosok Wakil Jenderal Leng Yue melangkah keluar. Zirah peraknya memantulkan cahaya api. Tangannya memegang sebuah busur raksasa yang ditempa dari tulang Serigala Salju Mata Tiga.

"Penyusup dari langit," suara Leng Yue dingin dan datar. Ia menarik tali busurnya. "Tuan Muda membenci tamu yang masuk tanpa mengetuk pintu."

Leng Yue melepaskan anak panahnya. Anak panah itu tidak terbuat dari besi, melainkan dari pualam spiritual yang diisi dengan *Embun Pemutus Dao* racikan Gu Lie.

*WUSH!*

Gui Ying yang meremehkan serangan dari kultivator ranah Pembentukan Fondasi hanya menepis panah itu menggunakan punggung tangannya.

*Trang!* Anak panah itu hancur. Namun, saat hancur, panah itu meledak menjadi kabut ungu pekat yang langsung menyelimuti ketiga ahli Jiwa Baru tersebut.

"Hanya racun asap murahan—UHUK!" Gui Ying terbatuk keras. Matanya membelalak kaget. Ia merasakan qi di dalam Inti Jiwa Barunya tiba-tiba melambat drastis, seolah Dantiannya disiram dengan lumpur kental. "A-Awas! Racun ini bisa menembus perisai Jiwa Baru! Jangan dihirup!"

"Keparat! Mereka sudah bersiap!" Xue Sha mengayunkan sabit darahnya, melepaskan tebasan qi berbentuk bulan sabit merah raksasa yang langsung menghantam jaring formasi emas di atas mereka.

*BOM!*

Ledakan terjadi, namun jaring emas itu hanya bergetar pelan. Sebagai gantinya, pilar-pilar emas penyangga menara mulai menembakkan ribuan jarum beracun secara otomatis dari berbagai arah.

Hong Lian, yang baru saja tiba di atap menggunakan lift spiritual internal, tertawa buas sambil memutar palu merahnya. "Hahaha! Selamat datang di mesin penggiling daging termahal di dunia, para kakek tua! Mari kita lihat apakah tulang Jiwa Baru kalian lebih keras dari palu tempaanku!"

Hong Lian melompat ke udara, mengayunkan palunya yang telah dipanaskan hingga suhu ekstrem langsung ke arah kepala Ku Gu.

Pertempuran sengit meledak di atas atap Menara Teratai Emas. Ketiga ahli Jiwa Baru itu dipaksa bertarung mati-matian melawan dua wanita ranah Fondasi dan rentetan jebakan otomatis yang terus-menerus menembakkan senjata kelas Bumi dan Surga bagai sampah tak berharga. Harga diri mereka sebagai dewa Benua Atas diinjak-injak oleh betapa brutal dan tidak masuk akalnya kekayaan yang digunakan untuk mempertahankan gedung ini.

"Kita tidak punya waktu untuk bermain dengan serangga-serangga ini!" raung Gui Ying, akhirnya kehilangan kesabaran. "Bakar formasi ini! Keluarkan Avatar Jiwa Baru kalian!"

Ketiga pembunuh itu menyatukan kedua telapak tangan mereka. Dari punggung mereka, muncul proyeksi raksasa bercahaya setinggi puluhan meter. Avatar Gui Ying berbentuk tengkorak raksasa, Xue Sha berbentuk kalajengking darah, dan Ku Gu memunculkan hantu tulang bertangan enam.

Kemunculan tiga Avatar Jiwa Baru seketika merobek *Formasi Sejuta Koin Emas*. Tekanan gravitasi yang sangat menakutkan menghantam atap menara. Leng Yue dan Hong Lian terlempar mundur hingga memuntahkan darah, tulang-tulang mereka berderit menahan tekanan absolut tersebut.

"Mati kalian, serangga bawah!" Gui Ying mengayunkan tangan avatar tengkoraknya, bersiap meremukkan Leng Yue dan Hong Lian menjadi pasta daging.

Namun, sebelum tangan raksasa itu menyentuh atap menara...

Sebuah retakan ruang yang sangat kasar robek tepat di depan mereka. Langit malam seakan terbelah dua oleh kilatan cahaya hitam-keemasan.

Dari dalam celah dimensi itu, Cang Qixuan melangkah keluar. Ia baru saja menggunakan Kompas Bintang purba dan membakar jutaan batu spiritual untuk melakukan teleportasi ruang jarak jauh dari Pelabuhan Mutiara Hitam langsung ke puncak menaranya.

"Mengebor atap rumahku dan memukul pelayanku?" Qixuan berbicara dengan nada yang luar biasa dingin, matanya yang memancarkan kilat Inti Emas Kegelapan menyapu ketiga Avatar Jiwa Baru tersebut tanpa sedikit pun rasa takut. "Tampaknya utusan yang kukirim kembali dalam kotak kayu minggu lalu belum cukup jelas menyampaikan pesanku pada majikan kalian."

"Kau pasti Cang Qixuan!" Gui Ying tertawa keras, Avatar Tengkoraknya semakin membesar. "Bagus! Kami tidak perlu mencarimu ke lubang tikus! Ikut kami ke Benua Atas, atau kami akan mencabut jiwamu dari ragamu yang cacat itu!"

"Cacat?" Qixuan memiringkan kepalanya. Ia menutup kipas gioknya dan menyelipkannya di pinggang. "Mari kita luruskan satu hal. Orang miskin menyebutnya cacat. Orang kaya menyebutnya... investasi agresif."

Qixuan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

"Kalian mengandalkan qi alam yang tipis untuk mempertahankan Avatar raksasa itu? Mari kita lihat bagaimana kalian bertahan dari deflasi spiritual."

Qixuan merogoh lengan bajunya yang seolah memiliki ruang tanpa batas. Ia tidak mengeluarkan senjata pusaka, ia tidak mengeluarkan pedang, melainkan mengeluarkan setumpuk kertas jimat yang tebalnya mencapai sekepalan tangan. Jimat-jimat itu memancarkan cahaya merah darah yang sangat pekat.

Mata Xue Sha membelalak ngeri melihat tumpukan jimat tersebut. "I-Itu... Jimat Peledak Inti Bintang tingkat Surga?! Satu lembarnya dihargai lima puluh ribu batu spiritual di sekte kita! Dari mana dia mendapatkan sebanyak itu?!"

"Tebak saja," Qixuan menyeringai iblis.

Dengan satu jentikan tangan, Qixuan melempar ratusan lembar jimat tersebut layaknya menebar kelopak bunga ke udara. Ratusan Jimat Peledak tingkat Surga melayang mengelilingi ketiga Avatar Jiwa Baru tersebut.

"Meledaklah, kembang apiku," bisik Qixuan santai.

*DUUUAAARRR! BLAAAMMMM! KRAK!*

Langit Jinling siang hari seketika tercipta di tengah malam. Ledakan berantai dari ratusan jimat tingkat Surga menghasilkan gelombang kejut yang sanggup meratakan pegunungan. Cahaya putih yang membutakan menyapu seluruh penjuru kota. Hawa panas menguapkan awan-awan di atas mereka.

Tiga Avatar Jiwa Baru yang agung dan menakutkan itu hancur berantakan dalam hitungan detik. Hantaman energi murni yang dibeli dengan uang membanjiri pertahanan spiritual mereka.

Ketiga ahli Jiwa Baru menjerit parau. Proyeksi jiwa mereka terputus secara paksa, menyebabkan pantulan luka dalam yang luar biasa parah pada tubuh fisik mereka. Ketiganya jatuh berdebum ke atas atap menara layaknya burung merpati yang ditembak jatuh. Darah menyembur dari mata, telinga, dan hidung mereka.

Qixuan mendarat dengan perlahan, mengambang beberapa inci dari permukaan atap yang hangus. Ia melangkah mendekati Gui Ying yang sedang merangkak mencoba melarikan diri dengan sisa tangannya.

"K-Kau gila..." rintih Gui Ying, giginya rontok berhamburan. "Membakar ratusan jimat Surga hanya untuk satu serangan... bahkan Patriark kami tidak akan melakukan pemborosan segila ini!"

"Itulah bedanya aku dengan Patriark tua kalian," Qixuan menginjak punggung Gui Ying, menekannya hingga lantai batu retak. "Dia menyimpan hartanya di gudang berdebu. Aku membakar hartaku untuk mendengar suara jeritan kalian."

Qixuan tidak berniat bermain-main lagi. Sembilan pusaran di dalam Dantiannya yang kini telah menyatu menjadi satu *Inti Emas Kegelapan* meraung kelaparan. Menghadapi ahli ranah Jiwa Baru, ini adalah kesempatan sempurna untuk panen besar.

"Menelan Langit: Pengekstrakan Jiwa Absolut," Qixuan merendahkan suaranya, menempelkan telapak tangannya tepat di atas ubun-ubun Gui Ying.

Daya hisap yang melampaui gravitasi bumi meledak dari telapak tangan Qixuan. Bukannya menghisap darah atau qi fisik, kekuatan gelap itu menarik langsung eksistensi jiwa dari dalam Dantian Gui Ying.

Pria tua itu menjerit dengan suara melengking yang tidak menyerupai suara manusia. Dari ubun-ubunnya, sebuah entitas cahaya kecil berbentuk bayi emas (Nascent Soul) ditarik keluar secara paksa. Bayi emas itu meronta-ronta, memancarkan kepanikan dan rasa sakit yang luar biasa. Itu adalah inti dari kehidupan abadi seorang ahli Jiwa Baru.

Qixuan tidak menelan entitas itu utuh-utuh. Ia menggenggam bayi emas itu dengan tangan kosong. Elemen Api Inti Bumi dan Air Kegelapan di tangannya langsung menghancurkan kesadaran jiwa di dalamnya, memurnikan entitas tersebut menjadi gumpalan energi spiritual murni seukuran kelereng.

Tanpa ampun, Qixuan memasukkan kelereng energi jiwa itu ke dalam mulutnya dan menelannya.

Seketika, urat-urat di leher Qixuan menonjol kehitaman. Inti Emas Kegelapan di perutnya berputar gila-gilaan, mencerna esensi dari ratusan tahun kultivasi milik Gui Ying dalam beberapa detik. Aura Qixuan kembali melonjak naik. Dari Inti Emas tahap menengah, fondasinya merangsek naik dengan brutal hingga mencapai ujung batas menuju Inti Emas tahap akhir.

Melihat pemimpin mereka dimakan hidup-hidup, Xue Sha dan Ku Gu meronta putus asa. Ketakutan mereka melampaui segala teror yang pernah mereka rasakan di Benua Atas. Iblis ini... dia memakan jiwa ahli kultivasi layaknya memakan permen manisan!

Qixuan beralih pada Xue Sha. Dengan gerakan dingin yang sama, ia menancapkan jari-jarinya menembus pertahanan dada wanita itu, menarik keluar jiwa emasnya, dan memurnikannya sebelum menelannya. Kepadatan qi di sekitar Qixuan kini menciptakan badai angin puyuh kecil yang menghancurkan sisa-sisa genting atap menara.

Hanya tersisa satu. Ku Gu yang gemetar hebat, air mata bercampur darah mengalir deras membasahi wajah keriputnya.

Qixuan berjalan mendekat. Ia mengangkat Ku Gu dari lehernya dengan satu tangan.

"J-Jangan bunuh aku... Kumohon..." rintih Ku Gu, kesombongan dewa langitnya telah hancur menjadi debu. "Aku akan menjadi budakmu... Aku akan memberitahumu semua rahasia Istana Guntur Suci..."

Qixuan memiringkan kepalanya. "Aku tidak butuh rahasia dari mulut seorang pecundang. Lagipula, aku tidak berencana membunuhmu."

Ku Gu membelalakkan matanya dengan secercah harapan.

Namun, harapan itu langsung dipadamkan saat tangan kiri Qixuan menusuk Dantian Ku Gu. Qixuan tidak menarik jiwanya keluar, melainkan menyuntikkan segumpal *Embun Pemutus Dao* yang telah dicampur dengan energi Yin murni miliknya langsung ke dalam inti jiwa pria itu.

Ku Gu menjerit tertahan saat seluruh kultivasinya disegel secara permanen. Rasa sakitnya membuatnya nyaris gila, tapi ia tidak bisa mati.

Qixuan melepaskan cengkeramannya, membiarkan pria yang kini telah menjadi cacat permanen itu jatuh ke lantai.

Qixuan mengeluarkan sebuah kristal rekam memori (Memory Crystal) berukuran kecil dari sakunya, lalu memaksa Ku Gu menelannya mentah-mentah. Kristal itu akan merekam segala sesuatu yang dilihat dan didengar oleh pria itu, dan memancarkan lokasinya kapan pun Qixuan inginkan.

"Kau akan hidup, Ku Gu," Qixuan mengelap sisa darah dari tangannya menggunakan saputangan sutra, lalu membuangnya ke wajah pria itu. "Kau akan kembali ke Lei Jiantian menggunakan sisa nyawamu yang menyedihkan itu. Sampaikan pesan terakhirku ini padanya."

Qixuan membungkuk, menatap lurus ke dalam mata Ku Gu yang dipenuhi teror absolut.

"Katakan pada Patriark sombongmu itu untuk mencuci lehernya dan menyiapkan banyak teh berkualitas. Karena minggu depan, armada kapalku akan berlabuh di pesisir Benua Atas. Dan aku tidak berencana membawa pulang koin emas yang kubawa, melainkan akan menukarnya dengan kepala setiap tetua di istananya."

Qixuan menegakkan tubuhnya, berbalik menatap Mo Chen yang baru saja selesai membantu Leng Yue dan Hong Lian berdiri.

"Bersihkan kekacauan ini," titah Qixuan santai, seolah baru saja selesai menyapu taman. "Kumpulkan semua seratus ribu Pasukan Naga Hitam di Pelabuhan Mutiara Hitam. Uang sewa armada kita sudah dibayar lunas. Saatnya kita berbelanja nyawa di Benua Atas."

Di bawah cahaya bulan merah yang tertutup awan sisa ledakan, sosok Tuan Muda Pemboros itu tidak lagi terlihat seperti sekadar pemuda kaya raya. Ia adalah wujud kiamat yang berjalan—sang Penguasa Langit Berdarah yang siap meruntuhkan surga para dewa dengan tumpukan koin emasnya. Perang antar benua bukan lagi sebuah ancaman; ia telah dimulai malam ini, dan seluruh biayanya telah ditanggung oleh Tuan Muda Cang Qixuan.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!