NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Singgasana Cahaya dan Janji di Atas Darah

Dua jam sebelum lonceng besar akademi bergema menandakan dimulainya hari kedua kompetisi, suasana di lorong rumah sakit akademi terasa lebih dingin dari biasanya. Yu Fan berjalan dengan langkah berat, diiringi oleh suara sepatu Yuexin yang berdetak konstan di lantai marmer.

"Kau lihat kan, Yu Fan? Ini semua gara-gara kau terlalu ramah pada setiap wanita yang kau temui!" Yuexin mengomel sambil menenteng keranjang berisi buah-buahan segar. Wajahnya cemberut, namun matanya menunjukkan kekhawatiran yang ia sembunyikan. "Wanita ular itu... Gadis Rembulan itu... dia benar-benar menganggapmu suaminya! Kau tahu betapa memalukannya itu bagiku di depan umum?"

Yu Fan hanya bisa tersenyum getir, mengelus pipinya yang masih sedikit merah. "Yuexin, aku sudah bilang, itu hanya kesalahpahaman. Aku membawa kue manis kesukaanmu juga, kan? Mari kita berikan pada mereka agar suasana membaik."

Namun, tepat saat mereka berdiri di depan pintu bangsal khusus tempat Xueru dan Yan Er dirawat, langkah Yu Fan terhenti. Bulu kuduknya meremang. Sebuah tekanan tak kasat mata aura permusuhan yang pekat merembes dari celah pintu. Aura itu dingin seperti es dari sisi Xueru, dan panas membara seperti gurun dari sisi Yan Er.

"Aura ini..." gumam Yu Fan dalam hati, keringat dingin mulai membasahi keningnya.

Ini persis seperti aura Yuexin semalam, tapi dikali dua. Seseorang, tolong selamatkan aku. Ia menoleh ke arah bayangan dekan di kejauhan batinnya, namun bayangan tua itu seolah hanya tertawa mengejek lalu menghilang.

Cklek.

Pintu terbuka. Seketika, aura membunuh itu lenyap, digantikan oleh pemandangan dua wanita cantik yang duduk di ranjang masing-masing, saling membelakangi. Namun, tatapan sinis yang mereka lemparkan melalui cermin di dinding sudah cukup untuk membelah batu.

Yuexin melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada Yan Er dengan kilat cemburu. "Oh, jadi ini 'istri' yang kau bicarakan itu, Yu Fan? Penampilannya memang... eksotis, untuk ukuran orang timur yang tersesat di barat."

Yan Er menoleh, tersenyum mengejek. "Setidaknya aku memiliki keberanian untuk mengakui perasaanku, tidak seperti putri manja yang hanya bisa berteriak dari tribun."

"APA?!" Yuexin menghentakkan keranjangnya ke meja.

"Sudah, sudah!" Yu Fan mencoba menengahi, tangannya gemetar pelan. "Aku membawa buah dan kue manis. Mari kita makan bersama..."

"DIAM!" teriak ketiga wanita itu serentak: Yuexin, Xueru, dan Yan Er. Niat membunuh mereka mengunci Yu Fan di tempat. Oh dekan, raja jin, atau siapapun... aku benar-benar akan mati di sini, pikirnya pasrah.

Setelah suasana sedikit mereda dalam kecanggungan yang luar biasa, Yu Fan memberanikan diri menghampiri Yan Er terlebih dahulu. Ia melihat perban di bahu gadis itu. "Yan Er, bagaimana keadaanmu? Maafkan pertarungan kemarin."

Yan Er menatap Yu Fan dengan mata yang tiba-tiba melunak. "Aku terluka, Suamiku. Bisakah kau menyulangkan bubur ini untukku? Tanganku terasa sangat lemas..." ia melirik ke arah Xueru dan Yuexin dengan ekspresi kemenangan yang provokatif.

Yu Fan, dengan tangan gemetar, menyulangkan bubur tersebut. Tekanan udara di ruangan itu meningkat drastis. Xueru memalingkan muka dengan dengusan dingin, sementara Yuexin meremas sapu tangannya hingga robek. Setelah selesai, Yu Fan beralih ke Xueru, menawarkan kue manis yang ia bawa.

Xueru tidak menjawab, namun tiba-tiba ia menarik tangan Yu Fan dan menggigit kue itu langsung dari jari Yu Fan, matanya menatap Yan Er dengan tajam seolah berkata: Dia merawatku lebih dulu di akademi ini.

"Ini... ini untuk kalian," Yu Fan segera mengeluarkan kotak hadiah yang telah ia siapkan untuk meredakan badai. Ia memberikan sebuah gelang perak kepada Yuexin, anting giok kepada Xueru, dan sebuah kalung bulan sabit kepada Yan Er.

Melihat hadiah-hadiah itu, es di antara mereka perlahan mencair. Sifat kompetitif wanita memang aneh; begitu mereka merasa mendapatkan bagian yang adil, suasana berubah menjadi obrolan ringan, bahkan sesekali mereka mulai bercanda dan menertawakan wajah bengkak Yu Fan.

"Yan Er," Yu Fan bertanya di tengah tawa mereka, "Kenapa kau bisa berakhir di Akademi Saint-Aurelius?"

Yan Er menghela napas, jemarinya mengelus kalung pemberian Yu Fan. "Setelah kau mengalahkanku malam itu, Suamiku... ayahku kehilangan semangat bertarung dan kami kehilangan mata pencaharian di pasar gelap. Kami memutuskan pergi ke Barat. Di sana, aku bertemu Sir Alaric dalam sebuah turnamen jalanan. Dia melihat potensiku dan menawariku menjadi murid di akademi. Di sana, aku dihormati sebagai Gadis Rembulan. Aku ingin menjadi kuat, sekuat dirimu... agar suatu saat, aku bisa melindungimu."

Yuexin dan Xueru terdiam. Mereka bisa merasakan ketulusan yang murni dalam suara Yan Er. Meskipun mereka tetap menganggapnya saingan, rasa hormat mulai tumbuh.

Sebelum Yu Fan pamit, Yan Er menarik ujung jubahnya. "Hati-hati, Yu Fan. Sir Alaric... dia bukan orang sembarangan. Di Barat, dia disebut sebagai 'Tangan Kanan Dewa'. Kekuatannya hampir tak tertandingi di tingkat siswa. Jika kau melawannya, jangan menahan diri sedikit pun."

Yu Fan tersenyum mantap. "Terima kasih, Yan Er. Aku akan mengingatnya."

...****************...

Matahari sudah naik tinggi ketika pertandingan berikutnya dimulai. Di tengah arena yang telah diperbaiki, berdiri dua sosok raksasa. Fa Hai, sang biksu dengan tasbih besar di lehernya, dan Garrick, ksatria berbaju zirah berat dengan perisai yang tampak mampu menahan hantaman gunung.

"Biksu, kau tampak terlalu kurus untuk menahan perisaiku," ejek Garrick, suaranya menggelegar dari balik helm bajanya.

Fa Hai hanya menjatuhkan pandangannya, kedua tangannya merapat. "Amitabha. Kekuatan tidak diukur dari tebalnya baja, melainkan dari kedalaman jiwa."

GONG!

Garrick menerjang secepat banteng. Pedang beratnya menebas udara dengan bunyi siulan yang mengerikan. Namun, Fa Hai tidak bergerak. Saat mata pedang hanya berjarak beberapa senti dari kepalanya, sebuah lonceng emas transparan muncul menyelimuti tubuhnya. TENG! Pedang Garrick terpental.

"Jurus Lonceng Emas?!" gumam Yu Fan dari bangku peserta. "Fa Hai benar-benar orang ketiga terkuat setelah aku."

Fa Hai menggerakkan satu jarinya ke atas. Dari awan, sebuah tinju emas raksasa meluncur turun. Garrick bereaksi cepat, mengangkat perisainya. BOOM! Lantai arena retak sedalam setengah meter di bawah kaki Garrick.

Garrick meraung, ia menghantamkan perisainya ke tanah, memicu gempa kecil yang merambat ke arah Fa Hai. Namun sang biksu tetap tenang, ia melompat ke udara dan mengeluarkan jurus Lima Tapak Budha. Lima telapak tangan energi raksasa menghujani Garrick dari segala arah.

"Berlindung!" Garrick melapisi pedang dan perisainya dengan aura kuning tanah yang pekat. Ia menerjang maju, menembus ledakan-ledakan energi itu. Untuk pertama kalinya, pertahanan Fa Hai retak saat Garrick memberikan tebasan melingkar yang sangat kuat.

Fa Hai membuka matanya. Pupilnya bersinar dengan cahaya kebijaksanaan yang dingin. "Kau cukup tangguh, Ksatria."

"Akhirnya kau membuka mata!" Garrick mengeluarkan seluruh potensinya. Di belakangnya muncul siluet Gajah Purba yang agung. Ia menyeruduk dengan kekuatan absolut. Di sisi lain, Fa Hai merapalkan mantra suci, memunculkan siluet Budha Seribu Tangan.

Pertarungan itu berakhir dengan dentuman yang memekakkan telinga. Ketika debu menghilang, Fa Hai berdiri dengan jubah yang sobek, sementara Garrick tertanam di dalam tanah, pingsan dengan jejak telapak tangan besar di punggung zirahnya. Penonton bersorak riuh. Fa Hai menang!

Di kejauhan, Sir Alaric yang duduk di atas kudanya mulai melepaskan aura intimidasi. Batu-batu kecil di sekitarnya mulai bergetar. Yu Fan melirik tajam ke arahnya; mereka saling mengunci pandangan.

...****************...

Setelah arena direstorasi total oleh para guru, saat yang dinanti pun tiba. Sir Alaric vs Han Fei (Senior Han).

Alaric memasuki arena dengan cara yang sangat angkuh, tetap berada di atas tunggangannya. Pedangnya masih berada di dalam sarung, namun listrik biru menari-nari di sekitarnya. Han Fei berjalan dari sisi berlawanan dengan tatapan serius.

Namun, sebelum wasit memulai, Alaric mengangkat tangan. "Dekan, pertandingan ini membosankan jika hanya satu lawan satu. Aku merasa Han Fei tidak cukup untuk membuatku mencabut pedang. Aku minta dia dibantu oleh Yu Fan sekaligus."

Seluruh stadion hening. Kesombongan yang luar biasa! Han Fei merasa sangat terhina. "Kau pikir kau siapa, Ksatria Barat?! Aku sendiri sudah cukup untuk mematahkan leher kudamu!"

Han Fei menerjang dengan kecepatan maksimal. "Jurus Seribu Bayangan: Tebasan Ribuan Bintang!" Ia menciptakan puluhan bayangan dirinya yang menyerang Alaric dari segala sudut.

Alaric hanya melirik. Wush! Ia dan kudanya seolah berteleportasi, menghindari semua tebasan itu dengan gerakan yang sangat halus. Kudanya, Sleipnir, meringkik keras dan mengeluarkan kilatan petir dari kakinya, menghancurkan bayangan-bayangan Han Fei dalam sekejap.

Han Fei tidak menyerah. Ia mencari celah dengan gigih. Setelah pertukaran serangan yang melelahkan, ia berhasil menemukan momentum. Dengan satu tebasan silang yang cepat, ia memotong kaki depan kuda Alaric dan memenggal kepalanya dalam satu gerakan.

Alaric melompat turun dengan anggun sebelum kudanya ambruk. "Sayang sekali. Jika pulang nanti, aku harus meminta dekan kami menggantinya dengan naga."

Han Fei geram. "Berhenti meremehkanku!" Ia menyerang dengan seluruh sisa energinya, namun Alaric bahkan belum mencabut pedangnya. Alaric hanya menggunakan tangan kosong, menghindari tebasan Han Fei seolah ia sedang menari.

"Kau sudah mencapai Master Tingkat 4 Akhir, Han Fei. Tapi kau tidak sadar... aku sudah menyentuh batas Master Tingkat 5," bisik Alaric.

BUAK!

Satu pukulan di perut Han Fei menciptakan ledakan energi yang membuat Han Fei terbang melintasi arena dan memuntahkan darah. Han Fei terpaksa membuka segel potensinya. Aura petir hitam menyelimuti tubuhnya, matanya menjadi gelap. Ia menyerang Alaric tanpa henti, memaksa Alaric mundur untuk pertama kalinya.

"Menarik," Alaric tersenyum. "Tapi ini akhirnya."

Alaric memegang gagang pedangnya. Saat pedang ditarik keluar, sebuah ledakan cahaya putih menyapu seluruh arena. Tekanan energinya begitu besar hingga para murid di tribun depan terpaksa menutup mata.

"Tebasan Cahaya Suci, Satu Garis Kematian!"

Dalam satu kedipan mata, Alaric sudah berada di belakang Han Fei. Han Fei berdiri kaku, lalu darah menyembur dari punggungnya. Ia jatuh tersungkur. Kekalahan nomor satu di akademi membuat seluruh penonton tuan rumah terdiam seribu bahasa.

Alaric mengangkat pedangnya, hendak melakukan serangan penghabisan untuk menunjukkan dominasi Barat. Namun, sebelum pedang itu turun, sebuah bayangan hitam melesat lebih cepat dari cahaya.

Yu Fan sudah berdiri di sana, menggendong tubuh Han Fei.

"Demi akademi... kau harus menang, Yu Fan," bisik Han Fei dengan nafas tersengal.

"Aku janji, Senior. Istirahatlah," jawab Yu Fan dingin.

Sir Alaric sedikit terkejut. "Aku tidak merasakan kehadiranmu sama sekali tadi... Kau benar-benar variabel yang menarik, Yu Fan."

Alaric melepaskan aura intimidasi yang sangat kuat, membuat lantai arena di bawahnya retak. Namun Yu Fan tidak bergeming. Ia melepaskan aura merah Asuranya. Dua aura besar bertabrakan di tengah arena, menciptakan badai angin yang dahsyat.

Yu Fan menghunus pedang hitamnya, mengarahkannya tepat ke tenggorokan Alaric. "Sombongmu berakhir di sini, Alaric."

Alaric tersenyum puas, matanya berkilat penuh nafsu bertarung. "Ayo, tunjukkan padaku kekuatan Master Timur yang sesungguhnya!"

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!