NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3

Dewa menoleh begitu mendengar suara seseorang. Matanya membeliak, saat menangkap seorang wanita berada di kamar mandinya.

Dari wanita itu, tatapan Dewa beralih ke bagian bawah tubuhnya. Secara reflek, ia segera menaikkan celana dan menarik resletingnya. Karena panik, melihat wanita itu masih berteriak, Dewa dengan cepat mendekat dan menutup mulut wanita itu. Seketika, suara teriakan itu berhenti.

Keduanya terdiam untuk sesaat. Saling pandang dengan tatapan canggung.

"Gue lepasin tangan gue, asal lo nggak teriak lagi." Dewa yang mulai bicara.

Rea hanya bisa mengangguk lemas. Ia takut, bukan lagi tentang apa yang baru saja ia lihat, tapi takut jika tamu ini melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan, semacam pelecehan.

"Janji?"

Rea mengangguk lagi.

Tangan Dewa pun turun dari mulut Rea. Tubuhnya selangkah mundur, menjauh dari Rea. Tatapannya menelisik Rea dari atas sampai bawah dan berhenti di dada Rea.

Menyadari tatapan tamu pria di depannya, Rea langsung menyilangkan dua tangan di depan dada. "Bapak jangan berani macam-macam, ya atau saya akan teriak lagi."

Ucapan Rea terdengar seperti ancaman yang bodoh. Buat apa Rea teriak, mau sampai suara Rea habis atau bahkan napas Rea yang habis, suara teriakannya tak akan pernah terdengar orang dari luar. Ini hotel, Rea, bukan kamar kos sempit kamu!

Dewa tahu ke mana pikiran pegawai hotel ini, pun bisa melihat dengan jelas sorot ketakutan di mata gadis ini. Tapi Dewa tak ambil peduli, tangan kirinya maju menurunkan tangan Rea yang menyilang di dada.

"Bapak!" pekik Rea.

Mata Dewa jelas-jelas tertuju ke bagian dada kiri Rea. Membaca dengan jelas. "Reana."

"Iya." Meski kaget, Rea akhirnya sedikit lega mendengar namanya disebut. Mungkin ia sudah salah duga.

Dewa kembali terdiam, lalu matanya kembali menelisik Rea. Begitupun dengan Rea, yang merasa wajah tamu di depannya ini tak asing baginya, seperti pernah melihat tapi entah di mana.

"Lo nggak akan cerita ke siapa pun tentang kejadian barusan, kan?"

"Maksud, Bapak?"

"Gue yakin kalau tadi lo sempat lihat sesuatu yang seharusnya nggak lo lihat." Sejujurnya Dewa tidak terlalu ambil pusing kalaupun wanita ini melihat miliknya tadi, yang ia pikirkan, apakah wanita ini tipe ember atau tidak. Kalau iya, bisa bahaya untuk karirnya, berita murahan biasanya lebih mudah untuk menyebar.

Rea menelan ludah. Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin Rea teriak.

"Maaf, saya tidak mengerti arah pembicaraan, Bapak," elak Rea. Malu harus mengakui hal yang tak senonoh.

"Ok, gue anggap lo nggak pernah lihat semuanya, tapi kalau tiba-tiba ada cerita ini menyebar. Gue cari lo ke mana pun lo pergi!"

Dari kalimat tamu pria ini, Rea mendadak menyadari siapa pria ini. Ya, dia artis terkenal, Dewangga Rahardian. Lebih baik Rea diam, tak mau cari masalah dengan orang besar.

"Saya nggak lihat apa pun, Pak. Permisi." Rea segera pergi, melewati Dewa begitu saja dengan panik.

Melihat gerak-gerik pegawai tadi, Dewa bisa menyimpulkan jika semua aman. Pegawai wanita itu, terlihat tak ingin cari masalah dengannya. Ia memijit pelipisnya yang masih sedikit pusing, efek dari mabuk semalam, ia rasa ia harus menyegarkan diri sebelum beraktifitas hari ini.

Dewa membuka polo shirt-nya, dan ketika ia akan kembali menarik turun resleting celananya, pegawai hotel tadi kembali masuk.

"Maaf, saya lupa menaruh ini." Dengan cepat Rea meletakkan beberapa botol yang ia bawa, tentu itu adalah perlengkapan mandi tamu yang seharusnya tadi sudah selesai ia tata. Rea pun keluar dengan cepat, mengabaikan tubuh Dewa yang sudah bert*lanjang dada.

Buru-buru ia dorong troli perlengkapan kerjanya keluar kamar. Di ikuti tatapan Dewa yang memastikan jika pegawai itu sudah benar-benar keluar. Ia tidak mau insiden seperti tadi terulang dua kali.

Rea menahan jantungnya yang berdegup kencang, ia tak sabar untuk sampai ke Housekeeping Pantry/HK Pantry. Di sana, Rea tak mampu lagi menahan kakinya ya lemas. Ia sampai terduduk, saking tak kuatnya menahan diri sendiri.

Ia menarik napas berulang-ulang, mencoba mengatur kembali ritme yang sempat kacau. Sesekali memijit kakinya yang tadi lemas.

"Rea, kamu kenapa?"

Rea mendongak, melihat Bayu berdiri di ambang pintu HK Pantry.

"Eh, Bapak, ini, Pak, saya mau ambil handuk baru malah saya terpeleset." Tak mungkin Rea mengaku.

"Tapi kamu nggak apa-apa?"

"Enggak kok, Pak." Rea buru-buru berdiri.

"Oh, ya sudah, sini saya bantu ambil." Dengan sigap Bayu mengambil handuk yang tertata di lemari atas dan meletakkannya di troli.

"Masih berapa kamar lagi?"

"Masih ada sepuluh kamar lagi, Pak."

"Ok, semangat." Bayu memberikan dukungan agar Rea kembali bekerja.

"Terima kasih, Pak," jawab Rea degan tersenyum.

Sepeninggal Bayu, Rea kembali mendorong trolinya untuk bekerja. Jantungnya kembali berdebar kencang saat melewati kamar yang sebelumnya ia bersihkan, kamar sang artis.

Ia menggelengkan kepalanya sendiri. "Lupakan, Rea, lupakan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!