NovelToon NovelToon
Gara-gara Kepeleset, Jadi Istri Gus Duda!

Gara-gara Kepeleset, Jadi Istri Gus Duda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Nikahmuda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: adelita

Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.

"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"

Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.

Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.

Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.

Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.

Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.

Menikah...

Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.

Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.

ig: adelgustian_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

" Maknya salah elo sendiri, cari perkara." Dengus Delina.

" Iya-iyaa gue salah, bentar gue ambilin dulu kunci motor lo."

Aldo meninggalkan Delina dan Paman nya bernama Agam berdua didalam kamar.

Ada rasa canggung bagi Delina berbeda dengan Agam yang tampak tidak perduli seakan akan tidak ada kehidupan lain selain dirinya.

" EKHEM..."

Delina melirik sekilas ke arah sampingnya yang beberap meter dri tempat ia berdiri.

" EKHEM...! " Lagi, Delina berdehem mencoba menyadarkan seseorang yang masih tampak sibuk membereskan barangnya.

" Ekh—"

" Silahkan minum air yang ada di nakas jika tenggorokan kamu sakit." Ucap Agam cepat.

Delina seolah pura pura tak tahu mulai mendekati pria itu. Ia menjulurkan tangan -nya dihadapan pria itu.

" Maaf sebelumnya Om, kita belum berkenalan. Kenalin aku Deli panggil sayang juga bisa ups." Ucap Delina keceplosan iya memukul pelan bibirnya.

" Mak—maksudnya, panggil Deli juga bisa kok hehehe... sorry mulut ini sering typo." Sambung Delina mencairkan suasana yang canggung.

Sedangkan Agam tampak melirik sekilas ke uluran tangan Delina tanpa melihat kearah wajahnya Delina sama sekali.

" Salam kenal, Agam kamu sudah tau kan siapa saya. " bukan, ini bukan pertanyaan tapi pernyataan pria itu sembari menangkupkan kedua tangan nya.

Delina berdecak melihat nya dengan malu iya menarik tangannya kesemula saat mendengar suarw langkah kaki semakin dekat.

Aldo sejenak melihat kearah Delina dan juga Paman nya. Lalu mendekat.

" Nih kuncinya, sana lo pulang. " usir Aldo terang terangan.

" Gue memang mau pulang, males disini bawaan nya emosi mulu." Kata Delina lagi sedikit mencak mencak kakinya.

"Kenapa dia? " tanya Aldo heran.

" Paman berkata sesuatu sama dia?" Tanya Aldo lagi.

" Tidak ada." Jawab Agam singkat.

Tiba-tiba Delina mengintip dari arwh pintu memanggil Aldo.

" Do, anterin gue kebawah." Pintanya.

" Lah, biasanya juga bisa sendiri. " kernyit Aldo heran. 

" Kesambet apa anak ini tiba-tiba minta diantar." batin Aldo. 

" Ayolah! antar gue pulang, jahat banget lo sudah gak bertanggung jawab antar gue kebawah aja gak mau hiks...gue aduin tante Gita..." ucap Delina merengek bak anak kecil. 

" Eh iya....iyaa, gue anterin ampe depan pintu aja. " ucap Aldo gelagapan menarik tangan sahabat sengkleknya itu membuat Delina tersenyum puas. 

Keduanya menuruni anak tangga menuju kelantai bawah. 

" Paman Agam berapa lama tinggal didesa kita Do. " tanya Delina. 

" Lo tahu dari mana nama Pamana gue? lo sudah kenalan?" tanya Aldo. 

" Iya tadi gue kenalan sebentar, sombong banget dah! masa gak mau salaman sama gue natap aja kagak mau berasa kuman gue." dengus Delina. 

" Wajarlah, dia kan ustadz ege! mana mau natap lawan jenisnya kecuali yang sudah halal. " ucap Aldo. 

" Tumben lo yang kayak beginian nyambung biasanya bego. " 

" Sialan lo Deli!" kesal Aldo menjitak wanita itu membuat Delina mengaduh pelan. 

" Berapa lama dia disini Do." desak Delina. 

" Kenapa si? lo kayaknya demen sama paman gue ya?" selidik Aldo. 

" Iya emangnya kenapa? dia masih single kan? ketahuan sii dari caranya berpakaian seperti lelaki bujangan." 

" Ginian doang otak lo cepet, giliran belajar kagak ada isinya." 

" Itu kan sudah beberapa tahun yang lalu, cepetin jawab berapa lama?" desak Delina. 

" Gue juga gak tahu, tapi kayaknya bakalan lama soalnya gue tadi bantu beres-beres barangnya cukup banyak." 

" Status? statusnya apa?" tanya Delina lagi. 

" Kayaknya sii belum nikah, soalnya gak ada cincin kawin nya cuman kalau pacar gue gak tahu tanya Bunda gue aja." 

Delina tambah kegirangan mendenganrnya dia ada kesempatan untuk mendekati si Agam yang dirasa bisa digapainya ya semoga saja. 

" Kenapa sih? lo demen kan sama bentukan kayak Paman gue?" 

" Iyalah, mulai sekarang gue fans paman lo." 

" Aelah, gantengan juga gue daripada dia yang bujang lapuk." 

" NO! tak sebanding dengan batu permata dan upik abu." 

" Kurang ajar banget lo Deli! gini-gini lo selalu andalkan gue juga." 

" Ya, karena cuman lo yang ada disaat gue susah selalu siaga disamping gue." 

" Jadi beneran lo suka sama Paman Agam?" tanya Aldo lagi memastikan. 

" Iya, gue mulai sekarang bakalan ngejar terang-terngan smoga dia berjodoh dengna ku tuhan." 

" HUekk... kepedean banget, mana ada orang kota yang suka sama cewek kampung urakan, ga ada anggun-anggunnya. Apalagi bentukan nya kayak lo mirip durian bulet." 

" Sialan memang mulut lo Do, gue sumpahi jodoh lo mirip kek gue malahan lebih semok dari gue." ucap Delina kesal menginjak kaki pria itu yang mengaduh kesakitan sedangkan Delinat terbirit-birit mengendarai sepeda motornya sambil tertawa puas. 

" DELINA! AWAS YA LO! " pekik Aldo kesakitan. 

...➰➰➰➰...

Malam hari, 18.25.

" Deli... Delii!!!! " teriak Mak Nurlela dari arah dapur, sembari menata beberapa lauk pauk dan juga rantang kecil berisi lauk pauk yang masih hangat. suaranya mengeema diseluruh penjuru rumah, mengalahkan suara televisi yang diputar bapak. 

Sejak adzan maghrib berkumandang tetapi anak gadisnya masih saja didalam kamar dan belum keluar-keluar juga. padahal tadi sempat terlihat kekamar mandi sebelum sholat, tetapi setelah itu? hilang seperti ditelan bumi. 

" Punya anak perawan, susah banget dipanggil..." gerutu Mak Nurlela mngelap tangan nya dengna celemek dan melangkah ke kamar Delina. 

TOK..

TOK...

TOK...

" Delina...? " panggil Mak Nurlela mengetuk pintu dengan sabar, tapi tak ada jawaban. 

TOK...

TOK...

TOK...

" DELI, KALAU KAMU BELUM BUKA JUGA. MAMAK BENERAN NIKAH KAN KAMU SAMA DUDA BESOK YAA!!! " ancam Mak Nurlela walaupun tidak serius tetapi ia mulai kesal.. 

Mak Nurlela mengetuk lebih keras sampai daun pintu kamar akhirnya terbuka juga dengan kasar. Munculah wajah anak gadisnya. dengan mata sembab dan menguap lebar. 

" Mamak! doanya gak bagus banget, tarik lagi doanya. " rengek Delina mengibas-ngibas mukena yang masih melekat ditubuhnya. 

Mak Nurlela menatap anaknya dari atas sampai bawah, lalu mengangkat alisnya tinggi." Ya allah, masih maghrib kamut tidur? masih pakai mukena lagi. kamu tuh kayak mbak kunti di phong depan taulah. " 

" Ishhh Mamak, makin takut aja aku kan..." makin merengek lagi si Delina. 

Pasalnya, kata bapak. Pohon mangga depan halaman rumah mereka memang ada penunggu nya dulu pernah dilihatkan sama ustadz dan orang ' pintar' alasan kenapa Delina yang waktu bayinya sering rewel diatas jam 12 malam perkara ada penunggu dipohon itu. 

Kenapa tidak ditebang? alasan nya, sayang makin dipetik semakin berbuah lebat terkadang sampai dijual menghasilkan uang. dan penunggu nya juga tidak pernah menganggu jadi dibiarkan saja sama Bapak.

" Makanya jangan pernah tidur setelah sholat magrib apalagi masih pakai mukena gak boleh." 

Delina merengut, menyadarkan kepalanya pada pintu. " Aku kecapekan Mak, tadi dari kebun trus pulang jalan kaki, lalu ambil motor kerumah Aldo, sorenya bantu bersih-bersih dan masak." keluh Delina. 

" Iya Mamak tahu kamu capek, tapi itulah untungnya jika kamu bantu Mamak jadi kamu tahu pekerjaan wanita yang sudah berumah tangga akan seperti apa capek dan lelahnya jadi kamu gak kaget lagi kalau tiba-tiba nikah." 

" Nikah!nikah!nikah! terus yang mamak bahas, aku masih terlalu muda, Mak. dan juga berenti ancam aku nikah sama duda. kalau beneran gimana? gak sedih liat aku dapat duda gitu? " 

" Kenapa harus sedih? bagus dong, selagi bukan suami orang tidak masalah. Asalkan akhlaknya baik dan bertangungg jawab Mamak terima. "

" Ishh, tapi kan aku gak suka sama duda. Masa perawan ting-ting dapatnya bekas. " gumam Delina yang masih didenger Mamak Nurlela. 

PLAK..

Mak Nurlela menggeplak punggung anaknya keras membuat Delina meganduh. 

" Aww...sakit Mak, kenapa lagi seh? " keluh Delina meringis. 

" Gak boleh bilang begitu, nanti ketulahan kamu nikah sama duda." 

" Maknaya jangan doain anaknya sama duda terus." sungut Deleina.

" Sudah-sudah, bahas itu gak ada habisnya. sana kamu ganti dulu bajumu terus temuin Mamak didapur sekarng." 

" Iye mak." jawab Delina segera kembali kedalam kamar melepaskan mukena nya dan menyusul Mak Nurlela. 

Delina mendekati Mak Nurlela yang entah apa yang disiapkannya. 

" Buat siapa Mak? tumben Mamak masa banyak." 

" Sekalian mau kasih tetangga depan." 

" Tante Gita dan Om Gio?" tanya Delina mulai sumringah. MUkanya yang semulai layu karena masih sedikit mengantuk kini sepenuhnya bersinar penuh semangat.

" IYa, kebetulan Mamak buat pecel. Gita kan suka pecel buatan Mamak dan dia juga pengen beli jadi Mamak kashi aja." ucap Mak Nurlela yang sudah selesai menata semuanya didalam rantang. 

" Sini...sini biar aku antar Mak." semangat Delina. 

Mak NUrlela menatap anaknya heran." Tumben kamu langsung setuju? biasanya alasan nya banyak sampai BApak mu pulang dari masjid ada aja alasan mu." 

Delina pura-pura merapikan tampilan nya eh... tapi benran sii merapikan tampilan nya.

" Nggak...biasanya juga aku sellau begini kan Mak." ucap Delina mencoba terlihat biasa saja. 

" Ya sudah, sana antar." ucap Mak Nurlela tanpa curiga. 

Delina menerima rantang itu dengan senang hati.

" Siap Bu negara! " 

" Eh tunggu dulu!" panggil Mak Nurlela.

" Kenapa lagi mak?" Tanya delian yang sudah diujung pintu.

" Kamu ga pakai hijab lagi? Sudah mamak bilang kemana mana harus pakai hijab!" nurlela beru sadar sang anak hanya memakai piyama panjang saja.

" Males Mak, gerah. Aku juga biasanya ga pernah pakai hijab."

" biasakan mulai sekarang pakai hijab. "

Delina hanya memutar bola matanya malas dan berkata. " Iya Mak, nanti aku bakalan dapat hidayah baru pakai hijab."

" Nunggu hidayah ya sampai matipun ga akan ada kalau ga dari kesadaran dalam diri."

" Iya Mak, ini kan sudsh malam jadi ga masalah kalau ga pakai hijab kan cuman ke seberang aja."

" Ya sudah, sana pergi."

Tanpa banyak basa-basi lagi, DElina pun bergegas keluar rumah. langkahnya ringan sesekali bersenandung pelan seolah ada seseorang diujung sana yang sudah ia nantikan. 

" Asiik... bisa modus ketemu Om Agam..hihihihi..." gumam Delina.

1
Dhika Bundanya Dedeg Afnan
bagus lanjut lgi donk
Eu Angel Lie
kena omongan ortu dapat duda ya🤣
Aimee Aiko
kok lama kelanjutannya
Anime aikō-kā
p
Aimee Aiko
kok lama gak muncul" lanjutannya
Adelita0305: Malam ini mimin update ka ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!