Seri ketiga dari kisah Cinta Tak Perna Salah Mengisahkan seorang guru relawan yang memilih hidup jauh dari orangtuanya. karena kecintaannya terhadap anak - anak. Maria Theresia namanya gadis Kalimantan ber darah campur China . Dan dia di cintai oleh laki - laki asli papua bernama Roy Denis.
Apakah kisah cinta mereka bisa abadi selamanya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jayapura
Transportasi yang digunakan adalah taksi udara, kami langsung bayar di bandara. Pesawat sejenis wings yang hanya memuat dua belas orang sudah bersama pilot dan copilot. Penerbangan kali ini berasa kami menyewa pesawat itu. Mia duduk bersebelahan dengan Roy. Sepanjang penerbangan Mia hanya membaca buku. Terjadi turbulence, namun Mia melihat Roy dan semua orang biasa - biasa saja.
Tim dari Mulia tiba di hotel yang sudah disiapkan. Banyak kontingen dari daerah lain. Satu hari istirahat bagi tim. Jelas waktu itu digunakan bagi mereka agar bisa duduk santai di depan hotel sambil melihat lalu lalang mobil. Mereka sempat jalan - jalan ke mall. Mereka diberi uang sangu yang lumayan. Selesai berbelanja dan makan mereka kembali ke hotel.
Pagi - pagi Mia bersama ke lima anak didiknya sudah berada ditempat kegiatan. Mereka adalah putra - putri terbaik yang dipilih Mia dari yang baik- baik. Dari lima siswa dan siswi ini Mia memilih Jojo, Alex dan Maria. Sedangkan Anna dan Sara menjadi cadangan. Mia tahu kemampuan dari kelima anak ini.
Babak pertama akan di mulai, Mia bersama dua muridnya Sara dan Anna serta dua orang bapak dari dinas pendidikan. Terjadi ketegangan di babak pertama, namun ketiga anak didiknya lolos ke babak selanjutnya mereka tinggal tiga regu untuk menentukan terbaik.
"Miss, percaya sama kakian, tetap tenang konsentrasi dan jangan terpengaruhi karena kalian......"
"Istimewa." Di jawab serempak oleh kelima anak didiknya. Bersamaan dengan hadirnya bapak bupati bersama ajudannya Roy Hans Sam, S.IP.
Setelah mereka berenam berdoa, Jojo, Alex dan Maria kembali ke meja mereka. Lebih menegangkan babak ini Mia di peluk oleh kedua siswinya yang datang sebagai cadangan. Namun ketika soal dibaca kedua siswi ini Anna dan Sara bisa memecahkan dan Maria yakin ketiga anaknya yang sedang berlomba juga bisa. Nilai tetap kejar mengajar. Namun di akhiri dengan satu pertanyaan matematika keahlian dari miss mereka dijawab dengan benar. Anak - anak hebat dari daerah pegunungan menang. Mia, Sara dan Anna lari memeluk ketiga rekannya dan mereka berenam berpelukan. Mia berada diantara anak didiknya bagaikan susu dan meses. Sangat kontras perbedaannya. Terlihat bupati, ajudan dan kedua orang dinas pendidikan berdiri bertepuk tangan dan merasakan kesenangan mereka juga. Pejabat lain yang ada tempat memberi selamat kepada bapak bupati. Tentu mereka kagum.
"Miss bangga dengan kesiapkan kalian yang hanya sebulan. Kalian hebat."
"Terima kasih miss, kami begini karena miss berjuang buat kami."
Maria, Jojo dan Alex akan berangkat mewakili Papua ke Jakarta. Mereka adalah siswa dan siswi pada kelas sebelas. Mereka sudah mendapatkan beasiswa untuk kuliah. Dan juga uang tunai yang besar.
Pulang lomba, bupati sudah menyiapkan akomodasi kendaraan buat mereka. Kali ini mereka ditraktir makan oleh bapak Bupati dan keinginan anak - anak makan di mall. Bapak Bupati menurut keinginan kami dan beliau ikut dalam rombongan juga.
Kami semua sudah berada di mall, besar yang ada di kota Jayapura. Kami masih senang, atas yang apa yang sudah dicapai. Selesai lomba ini, anak - anak akan kembali lagi ke kota mulia belajar seperti biasa dan berlatih lagi buat lomba di Jakarta.
"Miss, terima kasih. Miss hebat apa yang kita belajar semua keluar dalam soal tadi."
"Bukan miss yang hebat, kalian anak - anakku yang hebat. Terima kasih sudah berjuang. Terima kasih sudah sabar kalau miss lagi marah."
Kelima anak itu memeluk miss Mia, guru mereka. Roy menatap dengan takjub perempuan luar biasa ini. Dia mau meninggalkan segala kemewahannya di Kalimantan bersusah payah mengajar adek - adeknya Roy di pegunungan. Selesai makan mereka masih ditraktir belanja oleh bapak Bupati. Mereka disuruh beli apa saja.
"Miss ngak beli juga??"
"Biar anak - anak didikku saja."
"Miss boleh beli?"
Mia langsung di tawar langsung oleh bapak Bupati. Maka dia membeli baju buat kedua orangtua angkatnya disana kakak Hans dan Yuli pasangan suami istri ini. Serta perlengkapan bayi bagi calon anak yang sedang di kandung oleh kak Yuli. Semua belanjaan sudah dibayar oleh bapak Bupati lewat ajudannya.
Karena masih ada waktu, mereka di ajak nongkrong di cafe yang ada di kota ini, melihat pemandangan laut. Mia sangat senang sekali. Begitu juga anak - anak.
"Miss Mia kangen ya suasana seperti ini."
"Iya, sedikit."
"Di gunung ngak ada ya miss. Besok bapak mau ajak kalian semua ke perbatasan."
Langsung disambut dengan sorak bahagia oleh mereka. Mia sedikit binggung, namun dia tetap tersenyum. Roy tahu bahwa perempuan ini tidak tahu dimana.
Besok pagi jam sembilan, mereka semua menuju ke perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Mia satu mobil dengan Roy. Sedangkan anak - anak bersama dengan dua bapak dari dinas. Mobil yang di tumpangi oleh Mia bersama bapak bupati dan ibu di supiri oleh Roy Denis Sam ajudan bapak sendiri.
Semalam ibu tidak ikut bersama kita karena ibu ada kegiatan keluarga dan baru bergabung sekarang. Dalam perjalanan menuju ke Skow di nikmati oleh Mia dengan merekam perjalanannya.
"Kak Roy sering ya ke sini??"
"Iya, temani bapak. Kenapa?"
"Soalnya kakak bisa bawa kendaran di kota lain."
"Orangtua saya ada disin, di kota ini."
"Ooooooo." Dia menjawab tetapi matanya hanya terfokus pada keindahan alam.
"Kamu bisa menyetir???"
"Bisa."
"Berarti kita bisa gantian dong."
"Mana berani saya kak." Roy tersenyum, lesung pipinya itu membuat Mia terkesima.
"Kenapa Roy?? ko tidak mau supiri bapa dan mama sampe suruh miss Mia??"
"Tidak bapa. Hanya sengaja miss Mia saja."
"Kalau ada maksud jang tahan, nanti menyesal."
Mama di samping bapa hanya tersenyum. Sedangkan Mia masih mau mencerna dengan baik logat mereka. Sampai di Skow mereka melewati perbatasan. Bisa menggunakan paspor, bisa juga yang tidak, kebetulan Mia, bapa dan mama bupati juga Roy mereka memiliki jadi melewati jalur yang menggunakan paspor, sedangkan yang tidak, bapa akan membayar bea masuk mereka yang dibayar oleh Roy.
Kami menikmati keindahan alam di skow, Mia dan Roy sempat foto berdua. Roy tidak tahu, bahwa Maria Theresia Johan sangat senang sekali foto berdua dengan ajudan bupati ini. Roy juga tidak tahu perasaan tersembunyi yang di simpan oleh miss Mia. Mereka membeli makanan yang ada disitu.
"Kak Roy, boleh minta tolong? Fotoi aku."
Roy langsung mengambil kamera punya Mia dan dia mulai memoto perempuan Kalimantan yang imut itu. Tanpa sepengetahuan Mia, Roy juga mengambil fotonya Mia dengan handphonenya. Sesi foto berakhir, setelah mama memanggil mereka untuk makan.
Mia memperhatikan semua gambar dirinya yang di ambil oleh Roy ajudan bupati, langsung dia tersenyum. Dia baru sadar, bahwa penampilannya sangat berbeda. Tiba - tiba handphonenya berbunyi vidio call dari papinya. Dia sedikit menjauh dari rombongan.
"Papi .... Miss you."
"Mana ada cece kangen sama papi."
"Sungguh cece kangen sekali."
"Ehmmm... Lima belas bulan lagi kan??"
"Lima belas bulan???"
"Cece kumpul sama papi dan mami. Pokoknya ini yang terakhir, ngak ada lagi jauh - jauh dari papi."
Pembicaraan Mia bersama orangtuanya didengar oleh Roy. Dia baru tahu bahwa kontrak Mia sisa lima belas bulan. Ada hentakan dihati, perasaan sedih, jika berpisah dengan Mia. Itu yang dirasakan oleh Roy. Kemudian tidak lama, Mia minta ijin, kepada bapa dan mama Bupati berkenalan dengan papi dan maminya lewat vidio call. Dan bupati menyambutnya dengan sukacita.
"Anak bapak dan ibu, hebat. Dia membuat kami bangga. Rencananya kami mau tahan dia di Papua pak."
"Janganlah pak Bupati kasihan saya hanya punya anak cewek satu."
Kemudian mereka tertawa bersama, papi dan mamiku juga berkenalan dengan anak - anak didikku yang hebat. Dan papi dan mamiku menitip aku kepada bapak dan ibu bupati dan di sanggupi oleh mereka.