NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!

---

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Densus 88 dan Investigasi yang Semakin Dalam

Hari Senin, Pukul 14.00

Kantor Densus 88, Jakarta Selatan.

Kami dipanggil untuk memberikan keterangan lebih lanjut. Ruang kerjanya terasa dingin menusuk tulang—AC dinyalakan dengan kekuatan maksimal—dan serba berwarna putih. Dinding-dindingnya dipenuhi peta rahasia dan foto-foto orang yang tidak aku kenal sama sekali.

“Nayla, Rasya, silakan duduk,” sapa Inspektur Widi—wanita dengan jaket kulit hitam yang kami temui di pengadilan beberapa hari lalu.

Kami duduk di kursi yang tersedia. Sasha ikut serta—dia benar-benar ngotot untuk tidak ditinggalkan sendirian.

“Apa yang bisa kami bantu, Bu?” tanyaku sopan.

Inspektur Widi menghela napas panjang, seolah sedang memikirkan bagaimana cara menyampaikan informasi yang berat ini. “Kami sudah menganalisis seluruh isi flashdisk yang kalian serahkan. Isinya… jauh lebih luas dan besar dari yang kami duga sebelumnya.”

“Lebih besar dari sekadar kasus Jenderal Purnomo?” tanya Rasya dengan nada waspada.

“Jauh lebih besar.” Inspektur Widi menekan sebuah tombol di laptopnya. Sebuah diagram besar muncul di layar dinding—di tengahnya tertera nama Jenderal Purnomo, dan di sekelilingnya tersebar puluhan nama orang penting dari berbagai latar belakang.

“Jaringan ini tidak hanya mencakup kepolisian saja, tapi juga pengadilan, pemerintahan daerah dan pusat, bahkan hingga anggota parlemen.”

“Astaga…” bisik Sasha dengan mata terbelalak kaget.

“Tapi ada satu nama khusus yang membuat kami merasa… khawatir.”

Nama itu muncul dengan tulisan tebal di layar:

DR. HENDRA WIJAYA – KOMISARIS UTAMA PT. SUMBER MAKMUR

“Kenapa nama ini membuat Ibu khawatir?” tanya Rasya.

Inspektur Widi terdiam sejenak, lalu melanjutkan: “Karena Dr. Hendra Wijaya… adalah donatur utama sekolah kalian.”

Suasana ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

“Donatur sekolah kami?” tanyaku tidak percaya.

“Iya. Dialah yang membiayai pembangunan gedung baru sekolah, laboratorium komputer dan sains, serta perpustakaan lengkap. Dia juga yang menyediakan beasiswa penuh untuk siswa berprestasi setiap tahunnya.”

“Jadi… selama ini sekolah kami dibiayai oleh orang yang terhubung dengan Jenderal Purnomo?”

“Bukan sekadar terhubung. Mereka adalah mitra bisnis utama. Dr. Hendra Wijaya dan Jenderal Purnomo memiliki beberapa perusahaan bersama. Perusahaan-perusahaan itu digunakan sebagai sarana untuk… pencucian uang hasil kejahatan.”

Kami semua terdiam, tidak menyangka bahwa lingkungan yang selama ini kami anggap aman dan bersih ternyata memiliki kaitan dengan jaringan kejahatan tersebut.

“Jangan ceritakan hal ini kepada siapa pun dulu,” pesan Inspektur Widi tegas. “Kami belum tahu seberapa besar pengaruh Dr. Hendra di sekolah kalian. Bisa saja ada guru atau staf administrasi yang… terlibat atau dibayar olehnya.”

“Kami akan menjaga rahasia ini, Bu,” jawabku mantap.

“Ada satu hal lagi.” Inspektur Widi membuka file dokumen lain. “Kami menemukan fakta penting lainnya: Dr. Hendra Wijaya… adalah ayah angkat Kayla dan Rio.”

Aku tertegun seolah membeku di tempat.

“Jadi… Rio dan Kayla bukan hanya anak buah yang bekerja untuk Jenderal Purnomo. Mereka… adalah keluarga dari mitra bisnis utamanya.”

“Benar.” Inspektur Widi menutup laptopnya. “Dan itu artinya, kasus ini bukan hanya tentang satu orang. Ini adalah jaringan besar yang telah berjalan selama puluhan tahun. Dan kalian… kalian berada tepat di tengah-tengahnya.”

---

Dalam perjalanan pulang, kami berjalan dengan pikiran masing-masing yang penuh tanya.

“Nay, menurutmu Kayla tahu tentang semua ini sejak awal?” tanya Rasya.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi saat dia bilang dia lelah menjadi budak perintah orang lain, sepertinya dia berbicara jujur. Mungkin dia memang tahu, dan itu alasan dia memilih memihak kita.”

“Atau bisa juga dia disuruh oleh Dr. Hendra untuk menyusup dan mengawasi gerak-gerik kita,” tambah Rasya dengan nada curiga.

“Kemungkinan itu juga ada.”

Rasya menghela napas panjang. “Kita tidak bisa mempercayai siapa pun lagi sekarang.”

“Iya.”

“Kecuali satu sama lain.”

“Dan Sasha,” sahut Sasha cepat.

“Dan Sasha,” kami serentak tertawa pelan.

---

Pukul 21.00

Aku mengirim pesan ke Kayla:

Nayla (21.00): “Kay, kamu kenal Dr. Hendra Wijaya?”

Butuh waktu sepuluh menit sebelum balasan muncul.

Kayla (21.10): “Kenapa kamu tanya soal dia?”

Nayla (21.11): “Jawab dulu pertanyaanku.”

Kayla (21.12): “Dia ayah angkat aku dan Rio.”

Nayla (21.12): “Kamu tahu hubungan dia dengan Jenderal Purnomo?”

Lagi-lagi ada keheningan yang panjang.

Kayla (21.20): “Kamu sudah tahu semuanya, kan?”

Nayla (21.21): “Densus 88 yang memberitahu.”

Kayla (21.21): “Aku tidak akan berbohong. Aku tahu. Aku tahu sejak awal. Tapi aku tidak setuju dengan cara mereka bekerja. Itu sebabnya aku kabur dan memberikan bukti ke kalian.”

Nayla (21.22): “Kenapa kamu tidak ceritakan dari awal?”

Kayla (21.23): “Karena aku takut. Aku yakin kalian tidak akan percaya. Kalian pasti akan mengira aku masih bagian dari kelompok mereka dan hanya berpura-pura.”

Nayla (21.23): “Sampai sekarang kami juga belum sepenuhnya percaya, Kay. Tapi kami akan mencari tahu kebenaran yang sebenarnya.”

Kayla (21.24): “Aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar berubah.”

Nayla (21.24): “Buktikan saja. Tapi tidak perlu kepada kami. Buktikan kepada pengadilan dan kepada semua orang yang menjadi korban kejahatan mereka.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!