Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Densus 88 dan Investigasi yang Semakin Dalam
Hari Senin, pukul 14.00. Kantor Densus 88, Jakarta Selatan.
Kami dipanggil untuk memberikan keterangan lebih lanjut. Ruang kerjanya dingin—AC dinyalakan maksimal—dan serba putih. Dindingnya dipenuhi peta dan foto-foto yang tidak aku mengerti.
"Nayla, Rasya, silakan duduk," kata Inspektur Widi—wanita dengan jaket kulit hitam yang kami temui di pengadilan.
Kami duduk. Sasha ikut—dia ngotot.
"Apa yang kami bisa bantu, Bu?" tanyaku.
Inspektur Widi menghela napas. "Kami sudah menganalisis USB yang kalian berikan. Isinya... lebih dari yang kami kira."
"Lebih besar?"
"Jauh lebih besar." Dia menekan tombol di laptopnya. Sebuah diagram raksasa muncul di layar—dengan Jenderal Purnomo di tengah, dan puluhan nama di sekelilingnya.
"Jaringan ini tidak hanya mencakup kepolisian, tetapi juga pengadilan, pemerintahan, bahkan parlemen."
"Astaga," bisik Sasha.
"Tapi ada satu nama yang membuat kami... khawatir."
Nama itu muncul di layar.
DR. HENDRA WIJAYA — KOMISARIS UTAMA PT. SUMBER MAKMUR
"Kenapa nama itu membuat Bapak khawatir?" tanya Rasya.
Karena Dr. Hendra Wijaya..." Inspektur Widi menjeda. "Dia adalah donatur sekolah kalian."
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
"Donatur sekolah kami?"
"Iya. Dia yang membangun gedung baru sekolah kalian, laboratorium, perpustakaan. Dia juga yang membiayai beasiswa untuk siswa berprestasi."
"Jadi... selama ini, sekolah kami didanai oleh koneksi Jenderal Purnomo?"
"Bukan koneksi. Mitra bisnis. Dr. Hendra Wijaya dan Jenderal Purnomo memiliki beberapa perusahaan bersama. Perusahaan yang digunakan untuk... pencucian uang."
Kami terdiam.
"Jangan ceritakan ini ke siapa pun dulu," pesan Inspektur Widi. "Kami belum tahu sejauh mana pengaruh Dr. Hendra di sekolah kalian. Bisa saja ada guru atau staf yang... terlibat."
"Kami akan diam, Bu," kataku.
"Ada satu lagi." Inspektur Widi membuka file lain. "Kami menemukan fakta bahwa Dr. Hendra Wijaya... adalah ayah angkat Kayla dan Rio."
Aku membeku.
"Jadi... Rio dan Kayla tidak hanya anak buah Jenderal. Mereka... keluarga dari mitra bisnisnya."
"Ya." Inspektur Widi menutup laptopnya. "Dan itu berarti, kasus ini tidak hanya tentang Jenderal Purnomo. Tapi tentang sebuah jaringan yang sudah berjalan puluhan tahun. Dan kalian... kalian berada di tengah-tengahnya."
---
Pulang — Di Motor
"Nay, kamu pikir Kayla tahu soal ini?" tanya Rasya.
"Aku nggak tahu. Tapi kayaknya dia jujur waktu bilang dia capek jadi budak. Mungkin dia tahu, dan itu sebabnya dia mau bantu kita."
"Atau mungkin dia suruhan Dr. Hendra untuk menyusup ke kita."
"Juga bisa."
Rasya menghela napas. "Kita tidak bisa percaya siapa pun."
"Iya."
"Kecuali satu sama lain."
"Dan Sasha."
"Dan Sasha."
---
Malam Itu — Chat dengan Kayla
Nayla (21.00): "Kay, kamu kenal Dr. Hendra Wijaya?"
Kayla butuh waktu lama untuk membalas.
Kayla (21.10): "Kenapa kamu tanya?"
Nayla (21.11): "Jawab dulu."
Kayla (21.12): "Dia ayah angkat aku dan Rio."
Nayla (21.12): "Kamu tahu hubungan dia dengan Jenderal Purnomo?"
Keheningan lagi.
Kayla (21.20): "Kamu tahu semuanya, ya?"
Nayla (21.21): "Densus bilang."
Kayla (21.21): "Aku tidak akan berbohong. Aku tahu. Aku tahu dari awal. Tapi aku tidak setuju dengan mereka. Itu sebabnya aku kabur dan memberikan bukti ke kalian."
Nayla (21.22): "Kenapa kamu nggak bilang dari awal?"
Kayla (21.23): "Karena aku takut. Kalian tidak akan percaya. Kalian akan pikir aku masih bagian dari mereka."
Nayla (21.23): "Kita masih tidak percaya sepenuhnya, Kay. Tapi kita akan cari tahu kebenarannya."
Kayla (21.24): "Aku akan buktikan kalau aku berubah."
Nayla (21.24): "Buktikan, Kay. Tapi tidak perlu ke kami. Buktikan ke pengadilan."