Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Semua Orang Aneh
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Maya sudah bersiap berangkat sekolah. Begitu keluar rumah, dia langsung melihat Jamie berdiri di samping mobil.
"Ngapain?" tanya Maya datar.
"Nganter kau ke sekolah."
Maya langsung mengernyit. "Gue masih punya kaki."
Jamie menghela napas pelan. "Cuma nganter doang."
Tatapan Maya berubah dingin. Setiap kali melihat wajah Jamie, ingatan Maya asli langsung bermunculan. Malam-malam penuh ketakutan. Tatapan menjijikkan, ancaman, dan perlakuan yang membuat Maya asli hidup dalam ketakutan bertahun-tahun.
Priska mungkin bukan Maya asli. Tapi kemarahan itu tetap ada.
"Biar gue ingetin satu hal," ucap Maya tiba-tiba.
Jamie menoleh.
Maya menatap lurus ke matanya tanpa sedikit pun emosi. "Gue nggak akan pernah maafin lo!"
Wajah Jamie langsung menegang. Norma yang berdiri dekat pintu ikut terdiam.
Maya melanjutkan dengan suara tenang yang justru terasa lebih mengerikan.."Jangan salah paham cuma karena gue balik ke rumah!"
Jamie menelan ludah.
"Gue bakalan tetap laporin lo ke polisi!"
Rahang Jamie langsung mengencang. "Maya..."
"Gue belum selesai."
Nada suara Maya membuat Jamie otomatis diam. "Lo pikir beberapa kata maaf bisa ngapus semua yang udah lo lakuin?"
Tatapan Maya semakin tajam. "Kalau nanti polisi bawa lo pakai borgol, jangan kaget!"
Deg.
Untuk pertama kalinya pagi itu, warna wajah Jamie benar-benar berubah. Dia tampak takut.
Maya bisa melihatnya dengan jelas. Cowok itu berusaha terlihat tenang, tapi jemarinya mulai mengepal.
Norma buru-buru menyela. "Maya, Jamie kan sudah berusaha berubah..."
Maya memotong tanpa ragu. "Berubah itu urusan dia."
"Lalu memaafkan?"
"Itu urusan gue!"
Suasana langsung sunyi. Maya berjalan melewati Jamie begitu saja. Saat bahunya hampir sejajar dengan lelaki itu, Maya berhenti sepersekian detik. "Dan satu lagi."
Jamie menoleh pelan.
Maya tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat. "Kalau lo nyentuh gue sekali aja..."
Tatapannya turun dingin, "Gue pastiin lo nggak sempat nunggu polisi datang."
Jamie langsung membeku. Maya lalu membuka pintu mobil dan masuk seolah tidak terjadi apa-apa.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Jamie nyaris tidak bicara sama sekali. Sementara Maya hanya menatap keluar jendela.
Ziva yang sudah duduk di kursi belakang hanya memijat pelipis. “Pagi-pagi udah ribut.”
Beberapa kali Maya menangkap Jamie meliriknya lewat kaca spion. Namun cowok itu selalu buru-buru mengalihkan pandangan saat ketahuan.
'Mencurigakan,' batin Maya.
Semakin lama, semakin terasa kalau seluruh keluarga itu sedang menyembunyikan sesuatu.
Ketika mobil memasuki halaman sekolah, banyak murid langsung menoleh. Maya turun lebih dulu. Belum sempat melangkah jauh, suara seseorang memanggil.
“Maya!”
Ternyata yang memanggil adalah Angel. Di belakang Angel berdiri hampir seluruh anggota Geng Violet.
Maya langsung berhenti. Naluri waspadanya aktif seketika. “Ada apa?” tanyanya datar.
Angel tampak canggung. Pemandangan yang sangat langka. Biasanya gadis itu selalu tampil percaya diri dan angkuh. Namun sekarang? Dia terlihat gugup.
“Gue...” Angel menggaruk pipinya. “Mau ngomong sesuatu.”
“Cepetan!"
Beberapa anggota geng saling pandang. Lalu tanpa diduga, Angel menundukkan kepala sedikit.
“Maafin gue ya...”
Maya berkedip. Dia benar-benar mengira pendengarannya bermasalah. “Apa?”
“Maaf,” ulang Angel lebih pelan. “Atas semua yang pernah gue lakuin.”
Suasana sekitar mendadak hening. Bahkan beberapa murid yang lewat ikut melambatkan langkah karena penasaran.
Maya menatap Angel lama. Lalu menatap anggota Geng Violet satu per satu. Semuanya tampak tidak nyaman. Salah satu anggota bahkan ikut bicara.
“Kita keterlaluan waktu itu.”
“Iya...”
“Kita minta maaf.”
Kalau ini terjadi seminggu lalu, mungkin Maya asli sudah menangis haru. Tapi Priska? Dia justru makin curiga. Kemarin Jamie dan Norma. Pagi ini Ziva. Sekarang Angel dan seluruh gengnya.
Apa berikutnya kepala sekolah juga bakal datang minta maaf? Aneh, sangat aneh. Namun Maya tidak menunjukkan kecurigaannya.
Sebaliknya, dia malah tersenyum tipis. “Yaudah.”
Angel terlihat terkejut. “Hah?”
“Gue maafin.”
Kini justru Angel yang bingung.
Maya memasukkan tangan ke saku sambil tersenyum santai. “Kalau kalian mau damai ya silakan.”
Beberapa anggota geng tampak lega. Di dalam kepala Maya, pikirannya bekerja keras.
'Ayo bermain. Gue yakin ada sesuatu dibalik kebaikan kalian. Dan gue bakalan ikut bermain,' batinnya.
Kalau semua orang tiba-tiba ingin menjadi baik, dia akan ikut bermain baik juga.)Sampai akhirnya menemukan alasan sebenarnya.
Hari sekolah berjalan cukup normal. Terlalu normal bahkan. Tidak ada ejekan. Tidak ada gangguan. Tidak ada tatapan meremehkan. Maya hampir curiga kalau dirinya sedang masuk dunia paralel. Marsya yang duduk di sebelahnya juga tampak heran.
“Serius deh,” katanya pelan. “Kenapa semua orang berubah?”
“Kalau gue tahu, gue udah jadi cenayang.”
Marsya tertawa kecil. Sedangkan Maya tetap tidak bisa menghilangkan rasa tidak nyaman itu. Sesuatu sedang terjadi. Dia belum tahu apa.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Bagi Maya, kegiatan belum selesai.bHari itu adalah jadwal latihan pertama ekstrakurikuler olahraga.
Saat tiba di gedung olahraga, beberapa siswa sudah berkumpul. Pak Darto berdiri di tengah lapangan sambil memberi instruksi.
Begitu melihat Maya datang, senyumnya langsung muncul.
“Bagus. Kamu jadi ikut.”
“Iya, Pak.”
Maya membalas dengan senyum kecil. Di balik senyum itu, pikirannya dingin. Dia masih ingat jelas apa yang dilihatnya di ruang loker beberapa hari lalu. Sampai sekarang, rasa muaknya belum hilang.
Latihan berlangsung hampir dua jam. Lari keliling lapangan, peregangan, latihan fisik dasar. Beberapa siswa mulai kelelahan.
Pak Darto sendiri terlihat cukup santai sambil sesekali mengawasi.
Menjelang akhir latihan, Maya menghampiri meja tempat botol minuman diletakkan.
“Pak,” katanya.
“Hm?”
“Mau minum?”
Pak Darto tersenyum. “Boleh.”
Maya menyerahkan botol itu. Pak Darto menerimanya tanpa curiga sedikit pun. Baginya, Maya hanyalah siswi baru anggota ekskul. Tidak lebih.
Pria itu bahkan tampak cukup senang melihat perhatian kecil tersebut. Sementara Maya hanya berdiri tenang. Wajahnya tetap datar.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔