NovelToon NovelToon
Jangan, Dia Datang!

Jangan, Dia Datang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.

Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…

Entitas urban legend itu akan datang.

Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.

Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?

Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 : Orang Suruhan vs Panti Asuhan

Setelah dua hari mencari tempat tinggal yang aman untuk anak-anak panti, Satria dan Naja akhirnya berhenti di depan sebuah perumahan kecil yang letaknya cukup dekat dengan sekolah Satria.

Tempat itu sederhana dengan cat hijau yang menambah kesejukan. Selain itu, di sini juga ada bunga-bunga dan tanaman yang menghiasi jalan. Sejenak, tempat ini mirip dengan tempat panti asuhan yang digusur.

Naja memandang perumahan itu dengan mata berbinar. Dia tersenyum menepuk bahu Satria. "Satria, tempat ini bagus banget!" ucapnya antusias.

Satria mengangguk sambil memperhatikan papan kecil yang ada di salah satu rumah bertuliskan dikontrakkan. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam dan tersenyum tenang. Dia memandang Naja dengan perhatian.

"Iya, tempat ini juga sepertinya tidak begitu banyak keramaian. Setidaknya, anak-anak bisa tinggal di sini dengan nyaman," timpal Satria dengan suara lembut sambil tersenyum tipis.

Mereka pun segera menemui pemilik rumah di daerah tersebut. Naja sendiri maju berusaha negosiasi dengan pemilik rumah itu. Dia ingin agar rumah yang dikontrakkan itu bisa diizinkan untuk tempat tinggal sementara untuk anak-anak panti dan para penjaga.

Pemilik rumah itu menatap Naja dengan sepele sambil tersenyum miring. "Ya kalau kalian sanggup bayar ya tidak apa. Rumah yang saya sewakan bebas dihuni siapapun," jawab pria itu membuat Naja tertawa kecil.

"Jangan khawatir soal bayaran, kami akan membayar untuk ini. Sementara, saya DP dulu setengahnya," ujar Naja sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikan pada pemilik kontrakan.

Pemilik rumah kontrakan menerima uang itu dengan mata berbinar. Saking senangnya dia mencium uang itu sebelum menyimpannya di sebuah kotak. Setelah itu, dia memberikan surat perjanjian sewa sebagai tanda bahwa rumah itu telah resmi dikontrakkan kepada mereka.

"Silakan tandatangani surat kontrak ini," titah pemilik itu pada Naja.

Naja mengangguk dan segera menandatangani. Dia tersenyum menatap pemilik kontrakan. "Sudah saya tandatangani, terimakasih banyak, Pak. Saya akan segera kembali ke sini bersama anak-anak panti," tegas gadis itu.

Setelah itu, Naja dan Satria pergi meninggalkan rumah kontrakan itu. Mereka bahagia karena memberikan harapan hidup untuk orang-orang yang saat ini sedang terlantar.

“Naj, uang dari mana? Kamu kan hantu? Mana bisa—“

Naja menggerakan telunjuknya sambil menggeleng. “Ckck… kamu pikir hantu itu cuma di pohon atau di dalam tv tabung? Aku bisa mati bosan dong.” Naja memandang Satria lalu tersenyum remeh. “Tenang, itu uang halal kok, dan kamu nggak perlu kepo itu dari siapa. No… no… karena itu dari bos aku, bukan urusan kamu!”

“Jih. Sombong.” Satria menyeret kakinya berlalu mengikuti Naja dari belakang.

***

Suara mesin dan dentingan besi mulai memenuhi area taman sejak pagi tadi. Debu berterbangan di udara, aroma semen terasa menyengat. Di depan lahan yang kosong, beberapa tukang sibuk membongkar sisa pagar yang rusak. Sementara yang lain berusaha merayakan tanah untuk pembangunan jalan baru.

Truk angkutan material keluar masuk tanpa henti. Tumpukan batu, pasir, dan besi mulai memenuhi jalanan. Beberapa pekerja sudah memasang tanda batas proyek di sekitar area panti, seolah tempat itu bukan lagi jalan umum.

Di tengah aktifitas pembangunan itu, suasana di sekitar panti asuhan masih dipenuhi ketegangan. Beberapa petugas, di bawah naungan insinyur berusaha mengusir anak-anak serta para penghuni panti yang masih ada di sana. Mereka dengan kasar melempar barang-barang anak-anak panti, tidak peduli itu buku, mainan, bahkan pakaian.

Salah satu penjaga berusaha mempertahankan hak mereka sebagai penghuni panti yang sah. Mereka juga berusaha melindungi anak-anak yang ketakutan itu. Namun, dia justru dibalas dengan pukulan dan siksaan oleh pekerja.

"Sudah aku katakan, kalian tidak lagi berhak untuk tempat ini! Jadi keluar baik-baik atau kami paksa!" ancam pekerja lapangan itu sambil menyeret penjaga panti asuhan dengan kasar.

Penjaga panti itu tidak menyerah begitu saja. Meski kepalanya terasa sakit karena jambakan kasar si pekerja, dia masih bisa berdiri tegak. Rasa sakit yang membara di kaki dia tahan agar tidak ambruk. Wanita itu menatap tajam pekerja lapangan itu.

"Sampai kapanpun kami tidak akan menyerahkan tanah kami ke kalian! Ini milik kami, rumah kami. Bukan tanah milik negara!" tegas penjaga panti asuhan itu dengan suara keras, berusaha melawan mereka yang berusaha menjarah panti asuhan.

Ucapan itu dibalas dengan kasar karena orang suruhan tiba-tiba ikut membanting anak-anak keluar panti asuhan. Melihat itu, penjaga panti asuhan makin jengkel. Dia mengepalkan tangan sambil menghela napas. Saat hendak melindungi mereka dengan merangkul tapi tangannya segera dipukul oleh salah satu orang suruhan itu.

Orang suruhan itu sama sekali tidak kasihan saat melihat keadaan mereka yang melas. Anak-anak panti asuhan itu sudah ada di luar sambil rangkulan dengan wajah polos, pucat, serta mata berair. Sementara beberapa penjaga panti asuhan berusaha memeluk, menenangkan mereka.

Salah satu penjaga itu berjalan menghampiri orang suruhan dengan wajah tegas. Tatapan matanya tajam seperti singa. "Atas dasar apa anda berani mengusir kami seperti ini? Sudah kami tegaskan ini milik kami!" ucapnya berusaha melawan aparat itu.

Orang suruhan itu tertawa sambil melipat kedua tangan di depan dada. Dia memandang penjaga panti asuhan itu dengan acuh tak acuh.

"Sudah saya bilang, tanah ini sudah dibeli oleh aparat dan developer. Jika anda dan orang-orang miskin di sekitar anda tetap di sini, maka pembangunan mall ini akan terganggu," jelas orang suruhan itu, mencoba menegaskan agar orang-orang panti asuhan segera pergi dari tempat itu.

Hendak melawan lagi tapi penjaga panti itu justru diperlihatkan orang-orang yang disiksa karena masih bertahan di panti. Orang suruhan itu tersenyum sinis menatapnya yang mulai khawatir.

"Kalau kamu tetap melawan, maka itu sia-sia. Tidak kah kau lihat orang-orang di sekitarmu saat ini sedang sekarat?" tegur orang suruhan itu, terdengar peduli tapi juga menyindir.

Beberapa pekerja lapangan tak berhenti menjarah dan terus mengemasi barang-barang mereka. Hal yang paling menyakitkan saat pemilik pantai harus menahan rasa kecewa yang sangat dalam dan sakit hati. Dia tidak bisa berkata-kata atau berbuat apapun karena kondisinya yang seperti lumpuh.

"Kau akan menyesal berbuat seperti ini, kalian harusnya memahami hukum dengan baik bukan merampas hak orang lain hanya karena kalian berduit!" ucap penjaga panti asuhan itu, entah dia sedang menegur atau mengancam, semuanya terdengar sia-sia di telinga para orang suruhan. Tidak ada yang peduli akan kesusahan mereka.

Saat semua barang sudah dikeluarkan beserta orang-orang yang ada di dalam, beberapa pekerja lapangan langsung melingkari daerah itu dengan rangkaian tali besi berduri. Melihat itu, semua orang panti yang ada di luar merasa sangat sakit hati. Bahkan beberapa anak itu menangis diam-diam.

Ini bukan hanya tentang mainan mereka yang rusak, tapi juga soal kenyamanan, kemananan mereka selama ini dihancurkan begitu saja oleh aparat orang suruhan. Buku-buku yang selama ini mereka belajar diinjak begitu saja tanpa empati.

Di tengah kesedihan itu, salah satu anak tersenyum menatap penjaga panti. "Jangan khawatir, kita percayakan pada Naja. Aku yakin dia akan menolong kita."

Semua hanya diam dan tersenyum tipis, dalam hati mengaminkan doa anak polos itu.

1
SuryaNingsih
tuh kann ini tu tanah mereka tapi mau di rampas gitu
SuryaNingsih
Mau digusur demi bangun mall? ga ad hati klian ni
SuryaNingsih
Manaa🤣🤣
SuryaNingsih
naja itu santai tapi ngeselin tapi lucu🤣
SuryaNingsih
ooh si Naja nya mah udah tau ya🤣 cuma bru gentayangin aja
SuryaNingsih
sempet ketawa sama tepuk tangan🤣 lucu bgt ya🤣🤣
SuryaNingsih
jalur kakaen di desa penari kali ni andre🤭
SuryaNingsih
ramah pas ada maunya
SuryaNingsih
Lah yo si Andre dlu nganu 😡
Rosalina Ayyaee
Enak bgt jd Naja? dia smacem utusan tuhan ya?
Rosalina Ayyaee
Hadehh pak kepala dinasnya malah ky gt
Rosalina Ayyaee
Berhati lembut🤣 dia abis bunbun org🤣🤣
Rosalina Ayyaee
dia ngga mau kasus evan keulang lg salah tangkep
Rosalina Ayyaee
Hmm kek nya pembangunannya di tanah ilegal ya😡
Rosalina Ayyaee
seperti biasa mba Naja ini ngeselin tingkahnya🤣 tp bner sih kan yg di bully ya cewe itu
Rosalina Ayyaee
ooh semacem urban legend gt ya thor jd dy bales smua org gk cuma yg dsklh ini sj
Rosalina Ayyaee
Masih bgitu ya cuma dpn org dy pura2 pncitraan doang
Rosalina Ayyaee
Ya ampun andre kaya gitu dulunya😡
Rosalina Ayyaee
ya pasti wong korupsi kok
Wulandarry
Lhaa mala lari dy🤣 sukur dh d ksi sangsi sosial😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!