Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
.
“What?!”
“Ayah!!”
Putri dan Amanda memekik bersamaan.
Amanda spontan berdiri dari duduknya dengan tangan terkenal erat. “Kau baru saja mengatai aku apa? Coba ulangi!” Wanita itu benar-benar geram dengan sebutan yang baru saja disematkan oleh Dirga untuknya.
“Ayah apa-apaan sih? Tidak sopan bicara seperti itu, Yah!” Putri juga merasa kesal dengan ucapan ayahnya. Dia merasa tidak enak pada Bu Manda, ibu gurunya yang paling baik yang paling menyayanginya.
“Apa sih? Memangnya Ayah salah?” Dirga benar-benar tidak menyadari ucapannya. “Umur empat puluh tahun dan belum menikah, apa namanya kalau bukan perawan tua?”
“Ralat. Empat puluh tahun itu kan enam tahun yang lalu. Berarti sekarang empat puluh enam. Oh, atau mungkin sekarang sudah menikah? Maaf kalau begitu.” Dirga masih tetap tidak mau dianggap salah, karena dia tidak merasa bersalah. Apa yang baru saja dia ucapkan adalah fakta.
“Ayah..!” Suara Putri meninggi. Gadis itu semakin kesal. Ayahnya bukan berhenti bicara malah semakin dilanjutkan. Ada apa dengan ayahnya? Kenapa mendadak berubah jadi seperti ibu-ibu julid?
“Bu Manda, maaf ya?” Putri menatap Amanda dengan raut penuh bersalah. Dia benar-benar menyesali ayahnya yang tidak bisa menjaga lidahnya. Meskipun yang diucapkan ayahnya benar, tapi tidak seharusnya ayahnya itu berbicara secara langsung di hadapan Bu Manda.
Melihat wajah Amanda yang memerah, entah karena marah atau malu, membuatnya benar-benar merasa tidak enak.
Di lain pihak, Amanda ingin sekali membantah omongan Dirga. Tetapi bagaimana caranya. Tubuh wanita kembali jatuh terduduk dengan tatapan kosong. Mungkin memang benar dia pantas diberikan julukan perawan tua. Karena nyatanya bahkan sampai saat ini dia juga belum menikah.
Bukan hanya itu, baru saja beberapa jam yang lalu. Tadi siang tepatnya. Laki-laki yang selalu menyatakan cinta padanya, dengan dalih ingin mencarikan pekerjaan tambahan yang lebih layak agar dia bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk ayah, adik, dan anak-anak asuhnya.
Ternyata laki-laki itu sedang menjebaknya. Kejadian yang baru saja tadi sore, jika dia tidak bisa kabur, mungkin dia…
Ah, entah lah dia tidak sanggup berpikir, kalau saja tadi dia tidak bertemu dengan laki-laki yang ternyata adalah ayahnya Putri. Mungkin dia akan diseret oleh empat orang pria yang ternyata adalah bayaran dari mantan kekasihnya. Dan mungkin dirinya sudah berhasil dijual.
“Cepat minta maaf sama Bu Manda, Yah!” Putri menatap ayahnya dengan sorot tajam.
“Tsk…!” Dirga memutar bola matanya malas. “Iya, iya. Maaf,” ucapnya malas.
“Ayah… ?”
Menghela nafas malas, Dirga mendorong kursinya ke belakang dengan kasar hingga menimbulkan suara berderak. Berdiri dan menatap malas ke arah Amanda, lalu menundukkan sedikit badannya.
“Nona Manda, yang paling baik, saya minta maaf,” ucap Dirga lalu menoleh ke arah Putri. “Sudah benar?”
Amanda hanya diam, sementara Putri memejamkan mata menahan kesal. Gadis itu jelas tahu, ucapan permintaan maaf ayahnya tidak dari hati. Ayahnya masih tidak menyadari kesalahannya.
“Sekarang apa Ayah sudah boleh makan? Ayah lapar!” Suara Dirga terdengar kesal. Ia masih tidak terima disalahkan atas sesuatu yang ia yakini benar.
Akhirnya Putri hanya diam. Dirga mulai membuka piring dan mengambil makanan dengan kasar.
“Ayo kita makan, Bu!” Suara Putri memecah keheningan yang canggung. Tangan gadis itu bergerak terampil mengambilkan nasi dan lauk lalu meletakkan di piring Amanda.
“Terima kasih, Putri,” ucap Amanda, menoleh dan tersenyum. “Sudah jangan banyak-banyak, nanti perut ibu gak muat.”
“Gak bisa,” bantah Putri. “Ini pertama kalinya Ibu datang ke rumah Putri. Jadi, harus makan yang banyak!”
Sambil makan, keduanya larut dalam percakapan yang begitu hangat, terkadang tertawa bersama, bahkan sambil saling menyuapi.
Di meja seberang, Dirga mencebikkan bibirnya. “Wanita ini membawa pengaruh buruk,” gumamnya dalam hati. “Putriku sendiri sampai melupakan aku gara-gara dia. Memangnya siapa dia sampai minta dilayani oleh putriku?”
TAK!
Suara sendok beradu keras dengan piring membuat Putri dan Amanda spontan menoleh.
“Kenapa, Yah?” tanya Putri dengan kening berkerut.
Dirga mendorong kursinya keras, lalu berdiri. Wajahnya terlihat masam seperti koran bekas pembungkus kacang rebus yang terbuang di sudut terminal. “Ayah sudah tidak lapar!” ucapnya lalu pergi setelah membanting tisu.
“Tapi Ayah belum selesai makan?” teriak Putri yang melihat piring ayahnya bahkan belum berkurang separuh. Namun, Dirga seolah tak mendengar. Pria dengan rambut sedikit beruban itu terus melangkah hingga hilang di tikungan tangga.
“Ayah kenapa sih?” tanya Putri pelan seolah pada dirinya sendiri.
“Apa ayahnya Putri tidak suka Ibu ada di sini?” celetuk Amanda lirih.
“Mana mungkin seperti itu? Ayah itu selalu menyukai apapun yang Putri sukai. Kalau Putri suka Bu Manda, Ayah juga akan suka Bu Manda.”
Amanda mengangguk mendengar ucapan Putri, tapi sesaat kemudian keningnya berkerut. Matanya melirik piring Dirga yang nyaris masih utuh, lalu melirik juga ke arah Putri. Wanita yang nyaris tergelak, “Apa dia cemburu karena putrinya lebih dekat denganku?” gumamnya. “Dasar bocah tua! Umur aja tua, kelakuan kayak bocah!”
*
“Ayo cerita, Bu,” pinta Putri ketika mereka sudah berbaring berdua di atas ranjang dalam kamar Putri. “Apa yang sebenarnya terjadi sama Ibu? Dan bagaimana Ibu bisa bersama Ayah?”
Amanda menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu yang baru ia alami tadi sore kembali terlintas di depan matanya.
“Mantan pacar Ibu menjebak Ibu. Dia bilang ada pekerjaan tambahan yang bayarannya cukup besar. Ibu tergiur karena Ibu benar-benar sedang butuh banyak uang untuk keluarga Ibu. Ternyata Ibu mau dijadikan santapan pria hidung belang.” Suara Amanda terdengar serak menahan tangis akibat kekecewaan dan kemarahan.
Wanita itu kemudian menceritakan bagaimana dia bisa kabur dari jebakan mantan kekasihnya hingga akhirnya bertemu dengan Dirga.
Putri spontan memeluk tubuh Amanda. “Kurang ajar sekali. Kalau Putri ketemu dia, Putri pasti akan membuatnya berlutut dan memohon ampun di bawah kaki Ibu,” ucapnya geram.
Amanda mengangguk sambil mengusap air matanya. Tentu saja ia percaya. Ia ingat persis, Putri memang menguasai ilmu bela diri. Itulah yang membuatnya salut, meskipun anak orang kaya, Putri tidak bersikap manja dan sombong seperti kebanyakan putri konglomerat lainnya.
“Ibu sudah bercerita tentang ibu,” ucap Amanda. “Sekarang giliran Ibu mendengar semua tentang Putri. Bagaimana hubungan Putri dengan tuan muda Ega? Tadinya Ibu pikir Putri sudah menikah dengan tuan muda Ega.”
Putri melepaskan pegangan tangannya dari Amanda. Gadis itu berbaring terlentang dengan mata menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
“Ada apa?” Amanda seketika merubah posisinya menjadi tengkurap dengan dua siku menyangga badan menatap wajah Putri dengan kening berkerut. “Hubungan kalian baik-baik saja kan?” tanyanya mengingat Putri dan Ega sebagai best couple saat SMA.
“Putri juga tidak tahu mau bagaimana hubungan kami,” ucap Putri lirih. dadanya terasa sesak.
“Memangnya ada apa?” tanya Amanda penasaran. “Seingat Ibu tuan muda Ega sangat mencintai Putri?”
Putri mengambil nafas dalam sebelum kemudian berucap, “Ternyata… Kak Ega adalah putra dari mantan istri pertama Ayah. Apa Putri harus melanjutkan hubungan dengan Kak Ega? Sementara Putri tahu, antara Ayah dan mamanya Kak Ega kembali terjalin hubungan.”
“Ya Tuhan… ?”
*
*
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.