Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Keesokan paginya.
Cahaya matahari menembus celah tirai kamar tamu, jatuh samar di lantai dan sisi ranjang.
Harsa mengerjap pelan, kepalanya terasa berat. Ia mengernyit, mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya yang berdenyut sejak semalam. Napasnya tertahan beberapa detik saat samar-samar mengingat rasa pahit alkohol yang masih tertinggal di tenggorokan.
“Akh…” gumamnya lirih memegang kepalanya yang masih sakit saat mencoba bangun. Namun, saat tubuhnya bergerak keningnya langsung berkerut. Tatapannya turun ke dirinya sendiri. Lalu membeku, selimut yang menutupi tubuhnya bergeser sedikit. Dan dalam satu detik itu kesadarannya seperti dihantam keras.
Harsa langsung terduduk, napasnya tercekat.
“Apa…” suaranya serak matanya bergerak cepat ke sisi ranjang.
Harsa merasa dadanya benar-benar dihantam rasa panik. Ia menelan ludah dengan susah payah. Ingatan semalam muncul samar-samar.
“Nadin…” Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Namun sesaat kemudian, Harsa membeku. Pikirannya seperti dipaksa kembali sadar.
Matanya melebar perlahan.
“Arsyi…” Satu nama itu membuat napasnya semakin tidak teratur. Harsa menunduk, kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri.
“Sial…” gumamnya pelan, ingatan-ingatan semalam tidak utuh. Namun, cukup untuk membuatnya mengerti sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi dalam keadaan seperti itu. Harsa segera turun dari ranjang dan langkahnya sedikit goyah. Ia memakai kaus dengan tergesa, lalu membuka pintu kamar tamu.
Harsa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya melangkah naik. Entah kenapa langkahnya terasa jauh lebih berat dari biasanya. Sampai di depan kamar Melodi, pintu terbuka sedikit. Dan di dalam Arsyi duduk di dekat boks bayi dan membelakanginya. Tangannya sedang menimang Melodi perlahan sambil bersenandung kecil.
Seolah malam tadi tidak terjadi apa-apa. Namun, justru itu yang membuat dada Harsa semakin sesak.vIa berdiri cukup lama di ambang pintu. Tidak tahu harus masuk atau pergi. Sampai akhirnya pintu kayu berderit pelan saat dia membukanya.
Arsyi berhenti bersenandung tetapi ia tidak menoleh.
Hanya berkata pelan,
“Melodi baru tidur lagi." Nada suaranya tenang.
Harsa menatap punggung wanita itu.
“Arsyi…” Panggilan itu terdengar berat.
Arsyi akhirnya berdiri pelan, masih membelakanginya. Lalu berkata lirih,
“Kalau Kak Harsa mau mandi … air hangat sudah disiapkan Mbak Sari.”
“Arsyi,” panggilnya lagi, kali ini lebih rendah. “Tentang semalam…”
Tubuh Arsyi menegang samar.
"Tidak perlu dibahas," jawabnya pelan.
Harsa mengerutkan kening.
“Aku—”
“Anggap saja Kak Harsa sedang mabuk,” potong Arsyi cepat.
Harsa terdiam, sementara Arsyi perlahan menoleh. Namun, bibirnya tetap berusaha tersenyum kecil.
“Saya tidak apa-apa,” ucap Arsyi lirih.
Padahal jelas dia tidak baik-baik saja. Harsa menatapnya lama. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa kacau.
“Aku…” Harsa kehilangan kata-kata.
Namun Arsyi justru menggeleng pelan.
“Tidak usah merasa bertanggung jawab,” katanya lembut.
Kalimat itu membuat dada Harsa semakin sesak. Arsyi tidak meminta apa pun dan justru itu yang paling menyakitkan. Arsyi kembali mengalihkan pandangannya ke Melodi. Tangannya mengusap lembut kepala bayi itu. Lalu berkata pelan,
“Mungkin … beginilah cara pernikahan kita berjalan.”
Harsa membeku.
Sementara Arsyi tetap fokus pada Melodi. Seolah tidak ingin lagi menatap pria di belakangnya.
Harsa menelan ludah pelan.
Dadanya terasa sesak dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
“Aku … siap-siap ke kantor dulu.”
Arsyi mengangguk kecil.
“Iya.”
“Aku…” Harsa mengusap wajahnya kasar. “Maaf … untuk semalam.”
Harsa kembali ke kamarnya, setelah menunggu tak ada jawaban apapun lagi dari Arsyi.
Di dalam kamar miliknya, tidak ada suara selain napasnya sendiri yang terasa berat.
Ia mengusap wajah kasar dengan kedua tangan, lalu berjalan pelan menuju meja kecil di samping ranjang, langkahnya terasa lemah.
Kacau.
Seolah semalam masih tertinggal di tubuh dan pikirannya. Harsa membuka laci meja.
Dan seperti kebiasaan yang tidak pernah berubah di sana ada foto Nadin. Foto saat istrinya itu tersenyum sambil memegang perut hamilnya.
Jantung Harsa terasa diremas. Tangannya perlahan mengambil bingkai foto itu. Lalu duduk di tepi ranjang. Lama sekali ia hanya menatapnya dalam diam.
“Nadin…” suaranya lirih.
Jemarinya mengusap permukaan foto itu hati-hati.
“Aku minta maaf…” Kalimat itu keluar begitu saja dan setelahnya dadanya terasa semakin sesak. Harsa memejamkan mata, bayangan semalam muncul samar-samar di kepalanya.
“Sial…” gumamnya pelan, tangannya mencengkeram rambutnya sendiri frustrasi.
“Aku nggak bermaksud…” Napasnya memburu.
“Aku nggak pernah berniat nyakitin Arsyi.”
Namun, semakin ia berkata begitu rasa bersalahnya justru semakin besar. Karena ia tahu yang terjadi semalam tetap tidak bisa dibenarkan.
Harsa kembali menatap foto Nadin, tatapannya melemah.
“Maaf…” bisiknya lagi. “Aku sudah melukai adik kamu…” Kalimat itu terdengar begitu berat. Seolah ia sedang mengakui dosa pada seseorang yang paling ia cintai.
“Aku nggak sadar…” lanjutnya lirih. “Aku terlalu mabuk…”
Ia menunduk semakin dalam.
“Dan aku … bahkan nggak ingat semuanya.”
Sunyi.
Harsa menatap wajah Nadin di foto itu lama.
“Lucu ya…” gumamnya. “Aku masih terus nyari kamu…” Matanya mulai berkaca-kaca.
“Padahal yang ada di depan aku sekarang … Arsyi, adikmu...”
lanjut thorrrr