Rania saraswati seorang mahasiswi jenius, membuat riset tentang mati suri. Gadis periang dan tomboi ini mengalami kejadian yang aneh. Tiba-tiba jiwanya tertukar dengan seorang gadis kaya raya yang tertindas
Rania menolong gadis yang telah di siksa dan di perlakukan tidak manusiawi oleh ibu, paman dan saudara tirinya. Rania yang telah bertukar jiwa dengan gadis bernama Clara berusaha melawan orang-orang yang telah menindasnya.
Masalah tidak sampai disitu, Clara telah di jodohkan oleh pria kaya raya bernama Radit manggala putra, pria dingin dan angkuh. Pria ini sulit jatuh cinta dengan lawan jenisnya bahkan menolak mentah-mentah bila di jodohkan oleh sang kakek. Namun, siapa sangka ia tertarik dengan wanita bar-bar bernama Clara, yang telah bertukar jiwa dengan Rania.
Lalu bagaimana kah kehidupan Clara dan Rania setelah tertukar jiwa?'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Rania
Suara teriakan dan tepuk tangan menggema di dalam aula. Pertandingan taekwondo dua orang wanita sedang berlangsung. Tendangan maut bertubi-tubi terus diarahkan pada lawan. Rania berhasil melumpuhkan lawan, dan satu jam kemudian pertandingan usai.
Pertandingan taekwondo internasional di menangkan oleh Rania. Gadis cantik dan pemberani itu selalu menang dalam berbagai kompetisi. Belum lama ini Rania mendapatkan gelar "Queen of Victory." sebab ia tidak terkalahkan, dan selalu menang berturut-turut selama tiga tahun ini.
Gadis itu menerima piagam penghargaan, lalu keluar dari area pertandingan.
"Rania... Kau harus traktir kita." tukas varel sambil memberikan handuk kecil.
"Woww hebat, wonder woman kita ini tak terkalahkan!" puji Roy sambil bertepuk tangan.
"Kamu itu hebat Rania, tiga tahun berturut-turut tidak terkalahkan dan selalu membawa piagam." Sahut Martin
Mereka bertiga adalah teman-teman dekat Rania di kampus. Rania yang tomboy dan cuek jarang akrab dengan teman-teman perempuan. Wanita berusia 21tahun ini, beranggapan kalau bergaul dengan perempuan, terlalu lebay dan banyak tingkah.
Rania melempar handuk yang sudah basah oleh keringatnya kearah Valen. "Nanti saja aku traktir kalian, aku harus segera pergi. Professor Cipto sudah menunggu ku!"
"Rania, jangan terlalu akrab dengan Professor aneh itu." tukas varel
"Iya betul, Professor itu bicaranya kadang suka tidak masuk akal." Martin menimpali
"Itu hanya pikiran kalian saja! Karena kalian tidak bisa memahami isi hati Professor."
Rania berjalan meninggalkan Aula, di ikuti ketiga teman akrabnya
"Rania..." seru seseorang yang baru saja turun dari mobil. pria itu berjalan cepat kearah wanita berparas cantik ini. "Selamat ya, kamu kembali memenangkan kejuaraan taekwondo. Aku bangga setiap tahun Kamu selalu menang."
Rania tersenyum "Terima kasih pak Rakha, semua ini juga berkat didikan bapak. Pak Rakha bukan hanya dosen, tapi guru taekwondo saya.".
Pria itu tersenyum, lalu menatap tiga pria di belakang Rania.
"Kalian ikut bolos di jam pelajaran saya." tukasnya seraya menatap satu persatu.
"Ehh-iya.. Maaf pak, kami hanya ingin melihat pertandingan Rania dan support." ucap Varel, Martin dan Roy mengiyakan.
"Saya tidak mau melihat kalian bolos di jam pelajaran saya lagi."
"Siap pak! Sahut mereka serempak.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Silakan pak!"
Rania naik keatas motor moge, dan memakai helem. "Aku pergi dulu, nanti kita bertemu di kampus."
Ketiganya hanya mengangguk tanpa bisa melarang sahabatnya yang ingin bertemu dengan prosesor Cipto, yang mereka anggap pria paruh baya berkacamata tebal itu sangat aneh.
Motor melaju dengan cepat, menyusuri jalanan beraspal dan gang sempit. 30 menit kemudian Rania sudah sampai di sebuah rumah yang jauh dari keramaian. Ia memarkirkan motornya di depan carport. Dan mengetuk pintu rumah berlantai dua tersebut.
Suara pintu terbuka, muncul pria paruh baya dari dalam rumah. Ia mempersilahkan muridnya untuk masuk. Mereka berdua naik kelantai dua dan masuk kedalam ruangan laboratorium yang di buat oleh profesor.
"Bagaimana prof? apa penemuan tentang mati suri sudah di telusuri? Saya masih penasaran, kenapa orang yang sudah tiada, lalu kembali hidup lagi dan hidup seperti manusia biasa." tanya Rania panjang lebar.
"Manusia akan berpindah alam setelah kematian, tapi berbeda dengan mati suri. Arwah nya tidak kembali pulang pada sang pencipta, tapi masih menggantung. Makanya masih bisa kembali pulang kealam manusia."
Pria berusia 60 tahun itu memperlihatkan alat-alat canggih yang ia buat.
"Alat-alat apakah ini prof?"
"Ini saya menyebutnya, alat pertukaran jiwa."
"Hah pertukaran jiwa?! Maksud prof?' tanya Rania dengan alis bertautan.
"Dua orang jiwa yang akan berukar tempat. Mereka tidak mati sungguhan, tapi hanya bertukar tubuh."
Rania manggut-manggut, sang profesor mulai menjelaskan secara mendetail pengunaan dan cara kerja jiwa' yang di tukar dari alat yang ia buat. Itulah kenapa semua teman-teman Rania mengaggap Professor Cipto pria aneh. Namun, berbeda-beda dengan Rania, yang memiliki sifat petualang dan serba ingin tahu hal-hal di luar nalar manusia
"'Apa Kamu paham?"
"Paham prof!" jawab Rania tegas
"Kalau begitu kapan kamu mau mencobanya?" tanya sang profesor dan membuat Rania menelan salivanya.
"Bukankah kamu begitu penasaran?" sang profesor menatap Rania yang masih terlihat ragu-ragu.
"Disini tidak boleh ragu-ragu, kalau kamu ragu lebih baik urungkan niat mu untuk mencari tahu tentang mati suri."
Rania mengigit bibir bawahnya, sebenarnya ia ingin mencobanya, tetapi masih sedikit ragu. Namun, rasa penasarannya begitu menggebu.
"Berapa persen kegagalannya, bila jiwa kita yang tertukar? lalu berapa lama jiwa kita akan kembali ke tubuh kita lagi."
"Aku tidak bisa menjabarkan kegagalannya. Sebab ini adalah karya pertama ku dalam menukar jiwa dua orang manusia. Tapi saya yakin, tidak akan ada kendala, walaupun ada sangatlah kecil."
"Baiklah Prof, akan saya pertimbangkan lagi.'
"Oke, kabarin saya bila sudah siap."
"Kalau begitu saya permisi prof."
Rania keluar dari rumah profesor cipta, memakai helem di kepalanya lalu melajukan motornya dengan cepat.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Rania membuka pintu gerbang dan memarkirkan motornya di depan rumah. Dari dalam rumah terdengar suara pintu di buka, wanita paruh baya menyambut kedatangan anak gadisnya dengan penuh kehangatan.
"Ibu.." sapa Rania seraya mencium punggung tangan wanita yang melahirkannya.
'Bagaimana kompetisinya nak?" tanya sang ibu sambil mengusap lembut punggung Rania.
"Alhamdulillah bu, aku menang lagi." Rania mengeluarkan sebuah piala dari tas ranselnya dan menyerahkan pada sang ibu.
'Ini hadiah untuk ibu." kata Rania sambil memeluk sang ibu
"Syukurlah kamu bisa meneruskan keinginan ayahmu. Dengan begitu Kamu bisa jaga dirimu sendiri.'
"Iya bu.."
"Ayo masuk, ibu sudah buatkan makanan kesukaan mu."
Rania mengangguk dan masuk kedalam rumah. Sang ibu menyiapkan hidangan di atas meja dengan penuh kebahagiaan. Ibu dan anak itu menikmati makan bersama.
(Author hanya mengingatkan saja, kisah ini hanyalah fiksi dan pikiran author sendiri. semata-mata untuk menghibur para Readers. Dikisah nyata tidak ada jiwa manusia yang tertukar, cuma ada hanya di kisah novel ini. Jadi tolong jangan di perdebatkan ya All...😍
💜💜💜💜💜💜
Terima kasih
lg seru soalnya 🤣🤣😍