NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:633
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 3

Di dalam ruangan, Sarah masih terus mengejan. Berkali-kali menarik nafas sesuai dengan arahan dokter, lalu mendorongnya sekuat tenaga. Keringat sebesar biji jagung sudah membasahi tubuhnya yang lemas. Sementara tangannya mencengkram lengan sang suami setiap kali dia merasa kesakitan.

"Ayo coba sekali lagi ibu. Sesuai arahan saya. Tarik nafas yang dalam, lalu dorong."

Sarah melakukannya lagi, dengan nafas tersengal-sengal. Ditengah kondisi tubuhnya yang lemah, rasa putus asa itu datang. Perasaan ingin menyerah itu hadir perlahan-lahan. Namun bayangan wajah lucu seorang bayi perempuan menghiasi angan-angannya, juga bisikan penuh cinta dan semangat dari sang suami membuat ia kembali dalam kesadaran penuh.

"Ibu kepala bayinya sudah keluar, ayo sedikit lagi." Kata sang dokter.

Mendengar itu, semangat Sarah semakin membumbung tinggi. Ia mengejan sekali lagi. Dengan kuat. Hingga beberapa saat kemudian, bayi Lily berhasil keluar dengan tangisan yang kencang.

Air mata bahagia mengalir ditengah rasa lelah yang melanda. Senyum merekah. Kebahagiaan itu terasa nyata, diiringi rasa syukur yang tak ada habisnya. Dokter memotong tali pusar Lily, lalu meletakkannya diatas dada Sarah.

"Makasih sayang, sudah berjuang selama ini." Ucap Chandra.

Satu kecupan mendarat tepat di dahi, lalu perlahan turun ke hidung dan kedua pipi. Sudut bibir Sarah tertarik keatas, menampilkan senyum lemah. Sementara sebelah tangannya perlahan terangkat, kemudian mendarat tepat ditubuh Lily, berusaha memegangi.

Kini tatapan keduanya terarah pada bayi mungil diatas dada yang terus bergerak-gerak gelisah, seolah ingin meraih dunia, lalu perlahan-lahan menjadi tenang dengan sendirinya. Matanya terbuka, jernih dan berkilau seperti mutiara. Hidungnya mancung. Bibirnya mungil, selalu tersenyum. Bayi itu seperti keajaiban yang membawa kebahagiaan.

"Dia cantik, kaya kamu." Kata Chandra sembari menatap Sarah penuh cinta.

Tak ada balasan, namun rona merah yang tercipta di kedua pipi cukup untuk menjadi jawaban.

Sayang, ketenangan dan kebahagiaan itu tak bertahan lama saat tubuh Lily tiba-tiba mengalami kejang. Semua orang panik. Tangis Sarah pecah. Dokter Hartati segera berlari, lalu membawa Lily bersamanya untuk melakukan pemeriksaan.

"Dia kenapa dok? Kenapa tiba-tiba seperti itu?" Tanya Sarah cemas. Berusaha bangkit. Matanya terus menatap tak berkedip, nafasnya tercekat, jantungnya berdetak terlalu cepat. Sementara air mata sudah mengalir deras membasahi pipi. Disampingnya, Chandra mencoba untuk menenangkan. Memeluk dan menggenggam tangannya dengan erat.

"Bayi anda mengalami Asfiksia yaitu kekurangan oksigen saat lahir yang disebabkan oleh cairan ketuban yang tertinggal di paru-paru. Hal ini ditandai dengan detak jantung yang melambat, kesulitan bernafas, lemah dan tidak responsif serta warna kulit yang membiru."

Dokter Hartati segera melakukan penanganan cepat. "Bawa dia ke NICU untuk incubator."

"Baik dok." Perawat dengan sigap membawa bayi itu keluar. Tak lupa ia membungkus tubuhnya dengan selimut hangat.

Dokter kembali menghampiri Sarah. "Bapak dan ibu tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja. Kami akan melakukan penanganan yang terbaik."

Chandra mengangguk. Sementara Sarah masih dalam tangisnya. Tak mampu menjawab.

"Tolong dok..."

***

Diluar ruangan, Jeffrey seketika terjaga dari tidurnya saat mendengar suara pintu terbuka. Seorang perawat keluar dengan tergesa-gesa. Langkahnya cepat. Dalam gendongan, seorang bayi terlihat meringkuk nyaman, matanya terpejam. Di hidungnya terdapat kantung oksigen yang terpasang.

Jeffrey melihatnya, Andra juga melihatnya, tapi keduanya tak berpikir apa-apa. Hanya pikiran polos anak-anak yang mengira Lily akan dibawa pergi atau diculik. Sebaliknya, dua orang dewasa di kanan dan kiri mereka sudah merasakan perasaan tidak enak, aneh dan mengguncang.

"Tante, adik Andra mau di bawa kemana?" Tangan kecilnya terkepal dipangkuan, sementara tatapannya tak lepas dari perawat itu. Sangat waspada.

Mona menggeleng. "Tante juga nggak tahu."

Tidak sepenuhnya. Bagaimanapun ia tidak sebodoh itu untuk melihat keadaan. Mona yakin ada sesuatu yang tidak beres tentang kondisi Lily tapi ia tidak tahu pasti. Mona hanya bisa menduga-duga dalam hati. Dan kegelisahan itu, tidak bisa ia katakan pada Andra. Anak itu pasti akan sangat khawatir nantinya.

Teringat kembali pada saat mereka di mobil tadi. Saat Mona mengatakan bahwa Sarah tengah dirawat di rumah sakit, anak itu begitu panik.

"Om..." Panggil Andra dengan raut putus asa. Tangan kecilnya menarik-narik ujung baju Rama.

Rama menatapnya hampa. Tak tahu harus menjawab apa. "Om juga kurang tahu."

Tepat pada saat itu, Chandra keluar. Dengan tubuh lemas nya yang bersandar pada pintu. Wajahnya terlihat sangat lelah. Sementara matanya menatap kosong ke depan. Mona dan Rama yang melihat itu segera mendekat.

"Gimana keadaan Sarah?"

"Bagaimana kondisi Sarah sekarang?"

Keduanya kompak bertanya. Seolah mereka memang ditakdirkan bersama sejak lama. Bahkan mungkin dalam kehidupan sebelumnya.

"Papa, Lily mau dibawa kemana?" Andra juga ikut mendekat. Tangan kecilnya melingkari pinggang ayahnya. Kepalanya mendongak, meminta jawaban.

Chandra menatap satu demi satu orang disekelilingnya. Lalu senyum samar terbit meski tak sampai mata. Satu tangannya membelai kepala sang putra, sementara tangan yang lain memijat kepala.

"Sarah baik-baik saja. Dia sedang di bersihkan. Tapi anak kami..." Ucapannya terhenti. Ia tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Dadanya sesak, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Ada apa dengan bayi kalian? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Mona khawatir. Dilihatnya Andra dibawah sana. Anak itu sedang tidak fokus dengan pembicaraan mereka. Netranya sedang tertuju kearah lain. Mungkin Jeffrey sedang melakukan sesuatu yang membuatnya penasaran. Saat itu ia baru merasa tenang.

Tapi tidak, dugaan Mona salah besar. Andra mendengarnya. Bahkan dengan sangat jelas. Fokusnya memang tidak kesitu, tapi ia punya telinga. Dan itu berfungsi dengan baik.

Ditariknya nafas panjang, lalu dihembuskannya secara perlahan. Setelah lebih baik, Chandra kembali melanjutkan ucapannya sesuai dengan apa yang di katakan dokter tadi. Dengan rinci tanpa terlewati. Tentu saja dengan suara lirih dan tidak dimengerti anak-anak.

Tanpa mereka sadari, Jeffrey perlahan-lahan menghilang dari pandangan. Meninggalkan tas sekolahnya diatas kursi. Andra yang melihat itu, segera melepaskan pelukannya di kaki sang ayah, lalu mengikutinya dari belakang.

Setengah berlari, Andra mencoba menyamakan langkah. Nafasnya terengah-engah. Kakinya sakit dan pegal, tetapi tak menyerah. Setelah dirinya berhasil sampai di samping Jeffrey, ia segera meraih seragamnya. "Kamu mau kemana Jeff?"

Jeffrey berhenti. Menatap Andra lalu menatap perawat yang membawa Lily pergi, yang kini jaraknya semakin jauh. Tak ingin kehilangan jejak, ia segera berkata. "Nggak usah banyak tanya, kamu ikut aja."

Andra kebingungan, tetapi tak menolak. Akhirnya mereka berlari bersama, beriringan. Menyusup diantara orang-orang. Kaki-kaki kecil itu bergerak cepat, lincah, menghindari tabrakan. Saat perawat itu berbelok ke kiri, mereka akan ke kiri. Saat perawat itu berbelok ke kanan, mereka juga akan ke kanan. Hingga saat perawat itu masuk ke dalam sebuah ruangan, langkah keduanya tertahan.

"Kalian mau apa?" Tanya seseorang dengan galak. Alisnya terangkat tinggi.

Kedua anak itu mundur satu langkah, lalu mendongak. Andra ketakutan melihat orang itu. Ia merasa seolah akan dimakan hidup-hidup. Tubuh kecilnya ia sembunyikan dibalik tubuh Jeffrey sembari memegangi ujung bajunya.

"Kita mau lihat Lily sus." Balas Jeffrey tenang. Suaranya mantap dan tegas. Tak terlihat gentar sedikitpun. Seakan ketenangan itu memang bagian dari dirinya.

Orang itu menyipitkan mata. Merasa tak mengerti tentang Lily yang dimaksud. Tetapi karisma yang dimiliki anak itu berhasil membuatnya terpesona.

"Siapa itu Lily?"

Jeffrey memiringkan kepala. Kemudian menunjuk sesuatu di balik punggung orang itu. Yang membuat orang galak bernametag Susan itu akhirnya menoleh. Tatapnya jatuh pada seorang perawat yang tengah menaruh bayi ke dalam box incubator.

"Bayi itu?" Nadanya telah berubah. Tak segalak tadi.

Jeffrey mengangguk. Disampingnya, Andra baru menyadari alasan dibalik Jeffrey yang terus lari-lari. Ternyata untuk ini. Untung saja dirinya terus mengikuti. Jika tidak, ia akan melepaskan kesempatan untuk bertemu adiknya, Lily.

"Kenapa dia di taruh disitu sus?" Tanya Jeffrey.

Susan membawa anak-anak itu kepinggir, lalu menutup pintu. Merasa apa yang akan mereka bicarakan akan menganggu bayi-bayi di dalam. Dari balik jendela kaca yang rendah, ia mulai menjelaskan sesuatu.

"Bayi itu mengalami Asfiksia, jadi harus ditaruh disana. Dia akan dirawat oleh kami, supaya cepat sembuh. Jadi kalian tidak perlu khawatir." Suaranya melembut.

Mata Jeffrey berkedip-kedip, tetapi wajahnya tak setegang tadi. Sementara Andra tertunduk lesu. Ia tak paham apa itu Asfiksia, juga tak mengerti. Tapi satu hal yang pasti, adiknya sedang sakit dan perlu diperiksa dokter. Hal itu membuatnya sangat sedih.

"Apa kita boleh lihat Lily sus?"

Susan mengangguk. Senyumnya terukir indah. "Boleh, tapi dari sini saja. Bukankah masih keliatan? Liat tuh, dia lagi tidur."

Jeffrey dan Andra menempel pada kaca, sedikit berjinjit. Lily terlihat sangat kecil. Tubuhnya kecil, tangan dan kakinya juga kecil. Bahkan jika Jeffrey menggenggam tangan itu dengan tangannya sendiri, masih ada ruang yang tersisa. Begitu lucu, begitu mungil. Sesekali Lily akan bergerak dalam tidurnya, lalu kembali tenang. Entah apa yang telah mengganggunya.

Di dalam ruangan, setelah perawat meletakkan Lily ke dalam box, kemudian ia melakukan pemeriksaan, mengatur suhu dalam incubator, memberikan oksigen dan mengatur kelembaban. Saat dirasa tak ada yang terlewat, ia berbalik. Kemudian menjerit dengan keras. "AAAaaaa!!!!"

Perawat itu segera menutup mulutnya. Menyadari tindakannya tak dibenarkan. Langkahnya pelan tapi pasti. Mengelilingi setiap box tanpa terlewati. Untungnya semua masih tenang. Perawat itu menghela nafas lega.

Dengan kesal, dengan kaki yang menghentak keras, perawat itu segera keluar. Lalu menatap tajam pada tiga orang yang masih menempel pada jendela layaknya cicak.

"Kalian sedang apa?!!" Tanyanya lantang. Dengan kedua tangan berada di pinggang. Memberikan kesan galak yang menakutkan.

Ketiganya menoleh serempak. Tetapi hanya sejenak. Karena sedetik kemudian tatapan mereka kembali terarah pada Lily. Susan kembali menjawab saat anak-anak bertanya.

Merasa semua orang mengabaikannya, perawat itu mendekat. Lalu menarik lengan rekannya sedikit kasar. "Kamu lagi ngapain sih disitu?"

Susan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa bersalah. "Ohh ini, lagi nemenin anak-anak ini lihat adiknya, sama jelasin sesuatu ke mereka."

"Kamu nggak ada kerjaan?" Tanya perawat itu.

Susan melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Kemudian mendesah panjang. "Tentu saja ada. Tapi..."

"Ayo pergi, bisa kena tegur kamu." Perawat itu memperingatkan.

"Tapi anak-anak itu gimana?"

"Udah biarin aja. Nanti aku bilang bagian informasi biar orangtua mereka jemput kesini."

Dengan pasrah, Susan pun pergi dari sana setelah diseret paksa.

***

Kembali pada orangtua Jeffrey dan Andra.

Mona yang sedari awal hanya menyimak obrolan, mengedarkan pandangan. Awalnya ia tidak merasakan apapun. Netranya melihat dengan asal kemana saja. Namun semakin lama, perempuan itu merasa ada sesuatu yang janggal.

Diperhatikannya lagi area sekitar, dan... Jantungnya mencelos saat ia tak melihat Jeffrey dimanapun. Mona mengalihkan tatapnya untuk bertanya pada Andra tentang keberadaan putranya, namun bocah itu juga tak ada.

Mona mundur perlahan, mencoba tak menarik perhatian. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sebisa mungkin mengontrol diri agar tak panik.

Di bukannya pintu kamar mandi, berharap Jeffrey ada disana sedang buang air kecil atau sedang melakukan apapun. Namun tak ada. Tempat itu kosong. Dalam keadaan lampu yang mati. Mona juga mencoba mencarinya disekitar. Sayangnya di tempat itu tak ada siapa-siapa. Hanya ada keluarga pasien atau tenaga medis yang sesekali lewat.

Kemana mereka?

Kali ini ketenangan sudah tidak bisa Mona dapatkan. Ia panik. Tangannya berkeringat dingin. Kakinya dengan cepat kembali menghampiri sang suami yang masih setia berbincang, lalu menarik-narik ujung bajunya. Membuat Rama merasa heran melihat tingkah istrinya.

"Kenapa Na?"

"Mas anak-anak nggak ada." Kata Mona dengan suara bergetar. Padahal ia yakin Jeffrey masih tertidur tadi. Dan ia masih melihat Andra bergelayut manja. Tapi kenapa sekarang tidak ada?

"Hah?"

Chandra yang sadar lebih dulu, langsung bereaksi. "Apa maksudnya Na?"

"Anak-anak menghilang. Mereka nggak ada dimanapun mas."

"Ini..." Kalimatnya menggantung di udara saat dirinya tak lagi merasakan pelukan hangat sang putra di pinggangnya. Sejak kapan? Kenapa dia tidak sadar?

"Bukannya Jeffrey lagi tidur." Kata Rama.

"Nggak ada mas, lihat." Tunjuk Mona pada kursi panjang dari besi khas rumah sakit yang tadi mereka duduki.

Tatapan Rama secara otomatis tertuju kesana. Dan benar saja, kursi itu kosong. Hanya ada barang-barang mereka yang tertinggal.

"Aduh gimana ini?"

"Sekarang kamu tenang dulu. Aku yakin mereka masih di sekitar rumah sakit ini. Anak-anak biar aku sama Chandra yang cari." Ujar Rama menenangkan.

Chandra mengangguk. "Kamu di sini aja, jagain Sarah."

"Ingat!! Jangan panik. Terlihatlah biasa. Jangan sampai Sarah cemas." Peringat Rama.

Mona mengangguk. Ia cukup tahu bagaimana kondisi emosional perempuan yang habis melahirkan karena pernah merasakannya.

Sesuai kesepakatan, akhirnya kedua pria itu pergi meninggalkan Mona di depan ruang bersalin. Rama ke sisi barat, sedangkan Chandra ke sisi timur.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!