NovelToon NovelToon
My Boyfriend Is Daddy'S Friend

My Boyfriend Is Daddy'S Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Cintapertama
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Disinilah Sintia berada sekarang, di depan gerbang tinggi yang masih tertutup rapat. Ini hari Minggu, kuliah libur. Jadi ia memutuskan untuk ke rumah Arga menjelaskan semua tentang hubungan ia dengan Arga di depan Ara nanti. Setelah memencet bel beberapa kali seorang satpam tampak membuka gerbang.

Dengan tersenyum ramah satpam itu bertanya. "Temen non Ara, ya?"

Sintia mengangguk kemudian dipersilahkan masuk. Halaman rumah Ara begitu luas, disekelilingnya dipenuhi pohon dan bunga. Namun, tampak tidak terawat. Satpam itu juga membukakan pintu rumah agar Sintia bisa masuk. Di dalam rumah pun tak kalah menakjubkan. Ada lukisan-lukisan besar yang menempel di dinding. Juga foto Ara, Arga dan keluarga mereka.

Saat Sintia dengan asyik memandangi sekeliling terdengar suara Arga menuruni tangga.

"Kok nggak chat aku kalo mau kesini?" tanyanya.

Sintia memandangi pria itu, ia mengenakan setelan santai tapi rapi untuk ukuran orang yang tidak mau kemana-mana.

"Udah. Mungkin kamu gak baca. Mau kemana?"

"Ada urusan."

Jawaban Arga itu membuat Sintia mendelik. Jadi, maksudnya dia ditinggal.

"Aku belain kesini kamu malah mau pergi."

"Kamu nggak bilang."

Ingin rasanya Sintia meremas kepala Arga kalo bisa.

"Ara dimana?"

Tujuan ia kesini selain bertemu Arga juga agar ia bisa menjelaskan tentang hubungan ia dengan papa sahabatnya itu.

"Diatas," jawabnya singkat kemudian menyuruh Sintia duduk di sofa sembari ia memanggil Ara.

Lima menit setelahnya barulah Ara keluar disusul Arga dan juga tampak ada Mama Arga.

"Ra, aku—"

Ucapan Sintia terpotong karena Mama Arga langsung menamparnya saat itu juga. Sintia yang tidak siap dengan itu reflek terhuyung ke belakang. Melihat itu Arga membantu Sintia untuk berdiri.

"OH, JADI KAMU CEWEK YANG JADI PACARNYA ARGA!!"

"Ma, udah." Arga memberi peringatan untuk ibunya.

"Jadi sejak kapan kalian ngejalanin hubungan ini tanpa gue ketahui, Sin?"

Ara menatap sahabatnya nanar, ada perasaan marah, kecewa, terkejut campur jadi satu di dalam raut mukanya.

Sintia bersimpuh didepan Ara. Gadis itu ingin menangis namun ia tahan.

"Gu-gue kenal bokap lo 3 bulan setelah kita kenal," jawabnya.

"Siapa yang ngedeketin duluan?"

"Papa," jawab Arga cepat.

Jawaban itu membuat Ara menoleh ke arah papa. Ia menaikkan alis.

"Serius, Papa. Udah lupa sama Mama, ya?"

Arga menggeleng. "Engga. Mama kamu yang lupain kita."

Saat itu juga Arga mulai menceritakan awal ia bertemu dengan Sintia sampai mereka bisa berpacaran.

****

*Flashback

Hari itu Sintia baru saja selesai bekerja part time di salah satu STAN es tak jauh dari rumah. Ia pulang dengan berjalan kaki sebab tidak punya kendaraan pribadi. Dari kejauhan ia melihat seorang laki-laki tampak meminta pertolongan. Laki-laki itu merintih sembari memegangi perut yang sudah berlumuran darah. Sintia panik. Ia segera mendekat. Dalam pikiran ia saat itu adalah membawa laki-laki itu ke rumah sakit dengan cara menyetop pengendara mobil yang lewat.

Untung saja ada salah satu mobil yang kebetulan lewat dan mau mengantarkan Sintia. Selama seminggu lebih Arga dirawat di rumah sakit dan dalam keadaan koma. Ara saat itu dilarang nenek untuk ke rumah sakit karena ia harus fokus dengan kuliah. Jadilah tidak ada yang menjenguk Arga.

Sintia yang selalu menyempatkan waktu untuk melihat kondisi Arga. Sampai akhirnya pria itu siuman dan melihat Sintia. Ia sangat berterima kasih kepada gadis itu. Sejak saat itulah Arga mulai mencari tahu segalanya tentang Sintia. Dan berujung jadi cinta.

****

"Ra, maafin gue, ya," pintanya. Sintia mencoba menggenggam tangan Ara, namun selalu ditepis.

"Sintia nggak salah, Ara. Papa yang salah."

"Kalian berdua sama aja!"

Ara berdiri kemudian berlalu ke kamar disusul sang nenek.

Sintia menghela nafas bener-bener plek ketiplek Arga kalau sedang marah.

"Aku anterin?" Arga bertanya pada Sintia, perempuan itu bersiap-siap ingin pergi.

Sintia menggeleng, ia butuh sendirian hari ini. "No. Aku ada kerjaan."

"Kamu kerja?" tanya Arga.

Sintia mengangguk, ia mengeluarkan cermin di dalam tas kecil miliknya. Memoles sedikit wajahnya dengan make up. Melihat itu Arga tidak suka dan merebut bedak cewek itu.

"Nggak usah dandan. Aku nggak suka."

"Bodo, ih. Siniiin." Sintia berusaha merebut bedaknya. Namun, nihil Sintia kalah tinggi dari Arga. Pria itu memasukkan bedak Sintia ke dalam saku kemeja, hal itu buat Sintia membututi Arga dari belakang.

"Arga! Balikin nggak!"

"Masuk," suruhnya. Ia membuka pintu mobil.

Sintia pun segera menurut, padahal tadi ia bilang tidak ingin diantar. Dasar, cewek.

"Kerja dimana?"

Arga mulai menjalankan mobil, Sintia bersandar pada kursi penumpang. Pipinya masih memerah akibat tamparan dari mama Arga.

"Di club," jawabnya singkat.

Arga spontan mengerem mendadak, membuat Sintia mengaduh.

"Arga. Pelan-pelan dong!"

"Kamu kerja di club? Ngapain? Jadi LC?"

Pertanyaan beruntun itu seketika membuat Sintia mengeryit, sejak kapan pria didepan muka ini jadi cerewet.

"Kepo."

Jawaban Sintia sukses membuat Arga marah. Pria itu menyuruh ia keluar dari mobil.

"Keluar," ucapnya dingin.

"Kamu yakin nyuruh aku jalan kaki ke tempat kerja?"

"Iya."

"Astaga Argaaa!!! Ya mana mungkin aku jadi LC di club. Aku jadi tukang bersih-bersih. Serius, deh!"

Raut muka Arga kembali normal. Pria itu mengatur nafas dan menjalankan mobil kembali. Sesampai di Club Arga tidak langsung pulang, ia malah ikut memasuki ruangan Club. Katanya sih mau memantau Sintia barangkali ada pria genit disana.

Benar saja, gadis itu sekarang sibuk membersihkan minuman yang sudah kosong juga mengelap meja dan menyapu beberapa bagian yang kotor.

Sampai saat ada seorang pria yang tersenyum ke arah Sintia dan mengajak gadis itu ngobrol. Mereka tampak cukup dekat. Melihat hal itu spontan Arga berdiri dari duduknya dan mendekati Sintia.

"Kalau udah selesai ketawanya kita pulang."

Raut muka Arga sudah sangat serius membuat Sintia tampak takut. Arga selalu begini, cemburu tidak tau situasi.

"Ini bos aku Arga, kenalin Tommy," ucapnya berharap Arga mau berkenalan.

"Aku nggak butuh kenalan."

"Dia siapanya kamu, Arum?" tanya Tomi penasaran.

Ya, Arum. Nama belakang Sintia. Sintia Arumanissa.

"Arum?" tanya Arga datar.

"Iya, Arum. Itu panggilan khusus saya untuk Sintia," jawab Tommy.

Arga terdengar tidak suka. Pria itu mengepalkan tangan. "Sintia pacar saya."

Tommy tidak percaya. Arga pria dewasa dan Sintia masih umur 21 tahun.

"Kamu omnya kan pasti? tanyanya lagi.

Sintia refleks terkekeh, Arga melihat itu segera melototi pacarnya.

"Dia bener pacar saya, pak."

Jawaban itu sukses membuat Arga tersenyum penuh kemenangan.

****

Arga mode cemburu rawrr banget ya, haha. Jangan lupa like+ komenn

1
Ekasari0702
kenapa lama sekali up nya
Nadhira Ramadhani: nanti malam insyaallah up kak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!