Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 KHSC
Perjalanan Nares dari kedamaian Gunung Kidul ke hiruk-pikuk Jakarta terasa seperti pergantian musim yang ekstrem. Di dalam bus, Nares menutup mata, mencoba mengingat kembali aroma tanah basah dan lantunan adzan subuh yang lembut di desanya, sebagai penenang hati yang gelisah. Ia akan menikah besok, sebuah janji suci dalam Islam, tetapi ia merasa hatinya tidak siap untuk menjalani peran sebagai istri dari seorang pria yang asing dan dingin.
Mereka tiba di Jakarta, disambut oleh sopir pribadi keluarga Bhaskara. Hotel bintang lima yang mewah itu terasa asing, seperti istana yang terlalu megah untuk mereka tinggali. Malam itu, setelah shalat Isya dan berdo’a bersama, Pak Harjo mendapat telepon.
“Nak Nares, Arjuna ingin bertemu denganmu malam ini,” kata Pak Harjo setelah menutup telepon, wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan. “Ia ingin memastikan kau paham betul perjanjian yang ia sebut ‘garis batas’ sebelum prosesi Akad Nikah besok. Katanya, agar tidak ada kesalahpahaman setelah Ijab Kabul.”
Nares merasakan kekecewaan. Pernikahan, yang seharusnya menjadi momen penuh berkah dan kesakralan, diperlakukan Juna layaknya penandatanganan dokumen bisnis yang krusial.
“Baik, Yah. Nares akan menemuinya,” jawab Nares pasrah. Ia mengenakan satu-satunya gaun katun biru mudanya, memastikan dirinya terlihat sopan dan sederhana, tanpa ada niat sedikit pun untuk mencoba menarik perhatian sang CEO.
Pukul delapan malam, Nares tiba di lobi hotel. Suasana temaram dan elegan itu sangat kontras dengan kediaman Juna, Arjuna Bhaskara. Pria itu sudah menunggu di sofa kulit, sibuk menatap tabletnya. Aura kekuasaan yang ia pancarkan membuat Nares merasa seperti pengunjung tak diundang.
Juna mengangkat wajahnya, tatapannya yang tajam langsung mengunci mata Nares. Tidak ada kehangatan, hanya formalitas yang menusuk.
“Kau datang tepat waktu,” kata Juna, tidak menawarkan basa-basi, salam, atau bahkan mempersilakan duduk. “Duduklah.”
“Selamat malam, Juna,” sapa Nares, berusaha bersikap sopan dan tenang.
Juna menyodorkan map kulit tebal, di dalamnya terdapat salinan perjanjian tertulis.
“Ini adalah perjanjian tertulis yang menyertai pernikahan kita. Aku ingin kau tahu, meskipun besok kita akan melaksanakan Akad Nikah di Kantor Urusan Agama sesuai rukun dan syarat Islam, secara emosional dan praktis, pernikahan ini adalah sebuah kontrak,” jelas Juna, nadanya dingin dan tegas.
Nares membuka map itu, membaca poin-poin yang sungguh detail. Juna menjelaskan rincian keuangan, fasilitas, dan ketentuan tempat tinggal (kamar terpisah—kamar tamu utama).
“Poin-poin ini, Nareswari, harus kau pahami. Aku telah memenuhi kewajiban agama dan hukumku sebagai seorang suami, termasuk nafkah lahir. Namun, yang paling penting adalah Garis Batas Emosional.”
Nares mendengarkan, hatinya mencelos. Garis batas itu, yang disampaikannya seolah sedang berbicara tentang batasan hak paten.
“Kita menikah karena janji kakekku dan demi menenangkan orang tua kita. Bukan karena perasaan. Dan aku tegaskan, tidak akan pernah ada perasaan yang terlibat,” tekan Juna, matanya menatap Nares dengan intensitas yang kejam. “Kau bebas melanjutkan kuliahmu, menjalin pertemanan di kampus, asalkan kau menjaga kehormatanmu dan nama baik keluarga. Sebagai balasannya, kau tidak akan mencampuri urusan pribadiku, jam kerjaku, atau dengan siapa aku berinteraksi di luar rumah.”
Juna mengambil jeda, mencondongkan badannya sedikit, suaranya merendah, tetapi lebih mengancam. “Aku sudah pernah kecewa dalam hal emosi, dan aku tidak akan mengulanginya. Aku sudah membangun hidupku di atas logika, dan aku tidak butuh dramatisasi yang akan menghancurkan fokusku. Singkatnya, Nares, di luar ikatan syar'i yang akan kita lakukan besok, kita adalah dua orang asing di bawah satu atap.”
Nares merasa seperti ditampar. Ia tidak marah, tetapi sedih melihat betapa dalamnya luka di hati pria ini hingga membuatnya membangun benteng sekuat ini.
“Aku paham, Juna. Aku tidak datang ke Jakarta untuk mencari drama, apalagi mencari cinta dari orang yang sudah kecewa,” balas Nares, berusaha menahan emosinya. “Aku datang untuk beasiswa. Aku akan menepati semua janji dalam kontrak ini, dan juga janji akad nikah besok. Aku akan menjagamu sebagai seorang istri di depan Ayah dan Ibumu, dan Ayah dan Ibumu.”
Juna menunjukkan sedikit reaksi tak terduga: ia terkejut. Ia mungkin mengharapkan tangisan, atau perdebatan, tetapi Nares hanya meresponsnya dengan ketenangan yang matang.
“Bagus. Di halaman ini, ada persetujuan tertulismu bahwa kau memahami dan menerima garis batas ini sebelum kita melaksanakan ijab kabul. Tanda tangani.”
Nares meraih pulpen Juna yang berkilauan. Saat ia mulai menulis, tangannya sedikit bergetar, bukan karena takut pada Juna, tetapi takut pada masa depan yang ia goreskan di atas kertas itu.
Saat Nares menuliskan namanya, tangan Juna tiba-tiba terulur dan menyentuh punggung tangan Nares yang memegang pulpen. Sentuhan itu cepat dan tak disengaja, tetapi Nares merasakan lonjakan listrik yang mengejutkan. Juna cepat-cepat menarik tangannya, wajahnya kembali formal, seolah sentuhan itu adalah sebuah kesalahan kalkulasi.
“Tanda tanganmu… sangat rapi,” komentar Juna, matanya menatap huruf-huruf di kertas, bukan Nares.
“Aku selalu diajarkan Ayah untuk menghargai setiap goresan pena, Juna. Karena setiap goresan memiliki tanggung jawab dan janji yang harus dipegang teguh, baik di mata hukum, maupun di mata Tuhan,” jawab Nares.
Juna terdiam lama. Kalimat Nares, yang menyinggung Tuhan, tanggung jawab, dan janji, tampak mengusik benteng logikanya. Ia menutup map itu dengan bunyi ‘klik’ yang tajam.
“Baik. Besok pagi, pukul sembilan, sopir akan menjemputmu dan orang tuamu untuk menuju Kantor Urusan Agama. Aku akan menyelesaikan semua formalitas. Setelah itu, kita langsung ke apartemen. Aku sudah memberitahu wali yang akan menikahkanmu,” kata Juna, beranjak berdiri.
Nares ikut berdiri. “Juna,” panggilnya, sedikit ragu. “Apakah kau tidak pernah berpikir, mungkin saja kebahagiaan itu bisa datang dari ketulusan, bukan dari kendali?”
Juna menoleh, wajahnya dingin seperti pahatan es. “Kebahagiaan itu konsep yang mahal dan boros, Nareswari. Aku mencari ketenangan dan kekuasaan. Dan aku sudah mendapatkannya. Kembali ke kamarmu. Aku ada rapat online dengan tim di Eropa.”
Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Nares sendirian di lobi mewah itu. Nares tahu, tugasnya jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Ia tidak hanya harus berjuang di bangku kuliah; ia juga harus berjuang untuk tidak membiarkan hatinya jatuh pada pria yang dengan jelas menolaknya, meskipun besok ia akan menjadi istrinya di bawah ikatan suci Ijab Kabul.
Ia hanya bisa berdo’a agar Allah memberinya kekuatan untuk menjalani ujian pernikahan kontrak ini dengan sabar dan tawakal.
Bersambung....